
Syamsudin membawa koper Cyra masuk ke dalam kamar Aroon.
"Aku harus tinggal disini?"
"Kau ini lupan atau bagaimana? Sekarang kau istri tuan. Aku harus memanggilmu nyonya."
"Jangan begitu Pak Uo. Aku masih Cyra yang dulu."
"Mungkin kau bisa begini bersamaku, tapi tidak jika dengan pekerja yang lain."
"Iya.. Iya.."
"Cyra."
"Ya Pak Uo."
"Apakah kau benar - benar mencintai tuan?"
Cyra terdiam. Ia mengalihkan pandangannya dari tatapan Pak Uo nya itu. "Tentu saja Pak Uo. Aapa Pak Uo meragukanku?"
"Sejak kapan?"
"Hmmm.." Cyra tampak berpikir keras mencari alasan yang tepat. "Setelah penculikan itu terjadi. Aku menjadi tahu bahwa tuan mencintaiku."
"Kau tidak bohong?"
"Tidak Pak Uo. Ayah dan Ibu tahu kok."
"Baiklah aku percaya. Tapi ada beberapa hal yang harus kamu tahu."
"Apa itu?"
"Musuh tuan banyak jadi aku harap kau harus berhati - hati terutama dengan Biantara dan nona Denisha. Menjauhlah dari mereka. Aku tidak ingin terjadi apa - apa denganmu."
"Terima kasih sudah perhatian denganku. Aku akan bernati - hati dan aku minta Pak Uo tenang saja. Ada suami yang akan selalu melindungiku."
"Iya.. Iya.. Aku percaya." Syamsudin membelai lembut rambut Cyra. "Kalau begitu aku pamit dulu."
"Terima kasih Pak Uo."
Sepeninggal Syamsudin, Cyra segera membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Aroon. Kamar itu masih sama kondisinya dengan waktu terakhir dia ke sana. Kamar ini terkesan maskulin karena Aroon yang lama menduda. Tidak ada sentuhan romantis. Warna - warna yang di pilihpun terkesan netral Hitam, Abu - Abu, Coklat.
Cyra mengedarkan pandangannya, ada sebuah tempat tidur ukuran king size. Meja kerja, wardrobe, sofa dengan sebuah televisi besar dan kamar mandi dalam. Aku nanti bisa tidur di sofa. Sofa itu lumayan besar pikirnya dalam hati. Cyra meletakkan koper dia atas meja. Ia membukanya, baju yang ia punya tidak banyak jadi semuanya cukup masuk dalam koper ukuran besarnya.
Cyra melihat wardrobe, ia membuka tempat baju yang bisa ia gunakan untuk menaruh bajunya. Ia jadi teringat bahwa dulu ia menemukan satu almari penuh dengan lingerie. Yah almari yang pojok itu. Karena penasaran apakah lingerie itu masih ada di sana makan Cyra membukanya pelan - pelan dan ternyata kosong.
"Kosong." gumamnya.
"Lingerie itu sudah aku singkirkan." tiba - tiba Aroon sudah berada di belakangnya.
"Tuan." Cyra berbalik dan melihat Aroon yang sudah berdiri di depan pintu. Ia tertunduk malu seperti maling yang ketahuan.
"Lingerie itu milik Davira. Tika sudah aku suruh menyimpannya. Dan itu bisa kau pakai untuk menaruh baju - bajumu."
"Iiiya.. Terima kasih tuan."
"Sampai kapan kau akan memanggilku tuan?"
"Sampai saya terbiasa."
Aroon bergerak maju mendekati Cyra langkah demi langkah. Cyra mengimbangi dengan mundur perlahan. "Sampai kapan?"
"Enngg.. Sampai___. Saya tidak tahu tuan." Cyra tidak meneruskan perkataannya
"Kalau tidak kamu biasakan, sampai kapan pun tidak akan terbiasa." ucap Aroon. "Sekarang coba kau panggil aku Aroon."
"Tidak sopan tuan."
"Aku suamimu bukan majikanmu lagi." jawab Aroon. "Ayo.. Coba kau panggil aku Aroon."
Cyra tampak gugup. lidahnya kaku. Entah kenapa ia bisa segugup ini. Padahal biasanya di depan Aroon ia sering bicara lancar bahkan saling berdebat. Apa karena staus mereka sekarang yang berbeda. Cyra mencoba mengeluarkan suara. "Aroon." ucapnya lirih.
"Nah itu kamu bisa." Aroon tersenyum. "Sekarang coba lagi."
"Aroon." Cyra memanggilnya dengan suara lirih. Dengan sekali gerakan aroon mengangkat tubuh Cyra dan mendudukkannya di meja. "Ap.. Apa yang tuan lakukan?"
__ADS_1
"Lagi - lagi kau memanggilku tuan."
"It.. It.. Itu karena saya terlalu gugup." Jawab Cyra. "Minggir dulu tuan saya mau turun."
"Panggil Aroon dulu nanti aku akan mengijinkanmu turun." godanya.
"Iya.. Iya.." Cyra menarik napas panjang. "Aroon.. Aroon.. Aroon. Sudah puas!" ucap Cyra dengan kesal.
Aroon tertawa terbahak - bahak. "Baiklah, kau boleh turun. Aku tidak akan menggodamu." Aroon menurunkan Cyra dari atas meja.
"Terima kasih." ucap Cyra malu - malu.
"Aku akan ke perkebunan sebentar. Kau bisa menata pakaianmu dengan tenang tanpa takut aku ganggu." ucap Aroon. "Hmmm.. lebih baik 36C kamu sembunyikan baik - baik. Membuatku travelling kemana - mana." Aroon pergi sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Tuaannn!!!" teriak Cyra kesal.
Setelah kepergian Aroon Cyra segera meletakkan baju - bajunya di almari yang sudah di siapkan untuknya. Seperti saran Aroon ia menyembunyikan 36C di tempat yang orang lain tidak bisa melihat. Ia takut dengan perkataan Aroon yang tadi. Walaupun pernikahan ini belum di dasarkan pada rasa cinta, tapi ini tetaplah malam pertama.
Cyra sudah selesai menata baju - bajunya. ia segera mandi dan akan membantu bik Tika memasak di dapur.
"Bik."
"Cyra eh Nyonya."
"Jangan panggil aku seperti itu bik. Cyra saja."
"Tidak bisa nyonya, sekarang posisi nya sudah lain."
'Ini kan tidak ada orang, bik Tika bisa memangilku Cyra kalau di tempat yang ramai baru panggil nyonya tidak apa - apa."
"Baiklah." jawab bik Tika. 'Oya apakah ini bagian dari rencanamu waktu itu."
'Iya, bibik benar."
"Pesanku hanya satu. hati - hati. Ini terlalu berbahya."
'Bik Tika tenang saja." jawab Cyra. "Oya bik mau masak apa untuk makan malam?"
"Macam - macam. Ada tumis sayur, ayam goreng, telur kesukaan tuan muda."
'Eh jangan kalau tuan tahu ia bisa marah. Bagaimana mungkin nyonya besar masak di dapur."
"Nggak apa - apa bik. Bukankah memasak kewajiban seorang istri atau ibu.'
"Baiklah jika kau memaksa."
Mereka berdua asyik memasak di selingi dengan obrolan - obrolan ringan.
"Cyra."
"Ya bik."
"Ini nanti malam adalah malam pertamamu. Jangan lupa mandi dulu biar wangi, biar tuan klepek - klepek."
"Ah bik Tika ini ngomong apa sih."
"Nggak usah malu. Kita sudah sama - sama saling dewasa."
"Bik, sudah ah." ucap Cyra malu. Wajahnya merah padam.
"Kamu malu ya. Kan dulu sudah pernah lihat," goda bik Tika.
"Bik Tikaaa... Aku mau menata meja dulu." Cyra menghindari. Karena terus terang itu yang ia takutkan. Ia belum siap. Ia belum memastikan perasaannya pada tuannya itu. Bahkan meminta waktu sampai satu tahun.
Cyra menata meja makan, ia melihat Gio menghampirinya.
"Kau mau makan?"
"Kalau ada bu Cyra aku tidak selera."
"Benarkah? Aku masak telur kesukaanmu." Cyra memperlihatkan telur masakannya. Dan itu tampak menggoda. Berulang kali Gio menelan ludah. Cyra tahu Gio mau, hanya saja dia gengsi. Persis seperti Aroon ayahnya.
"Tidak! Aku tidak mau makan!" Gio pergi meninggalkan Cyra sendiri. Cyra menghela napas. Ia harus mulai dari awal lagi. Tapi sepertinya ini lebih sulit dari yang dulu. Ia harus ekstra sabar.
Aroon datang dan melihat Gio pergi.
__ADS_1
"Ada apa dengannya? Ia tidak mau makan?"
"Hmm.. Gio tidak enak badan."
"Jangan bohong, ia tadi baik - baik saja." ucap Aroon. "Aku akan ke kamarnya."
"Tunggu." Cyra menarik tangan Aroon. "Tidak perlu. kita beri dia ruang untuk sendiri dulu. Saya akan membawakannya makan."
"Baiklah kalau itu maumu." Aroon duduk sambil menunggu Cyra menyiapkan makanan untuk Gio. Cyra segera menuju ke kamar Gio. Disana ia bertemu dengan Omar dan Olif.
"Bu Cyra."
"Omar, Olif aku titip makan malam ini untu Gio. Ia belum makan."
"Kalau dia menolak Bu?"
"Bilang saja bik Tika yang masak, dia pasti mau."
"Baiklah." jawab Omar.
Cyra kembali ke meja makan dan melayani Aroon makan. Mereka terlibat obrolan kecil seputar perkebunan. Ternyata Aroon sangat suka bercerita. Entahlah Cyra merasakan kalau Aroon itu berbeda. Lebih ramah, murah senyum, lebih sabar dan ternyata romantis.
Setelah selesai makan Aroon menuju ke kamarnya, Cyra menyusulnya dari belakang. Aroon sedang mandi sedangkan Cyra mondar mandir ke sana kemari karena gugup. Ia sudah menata bantal dan selimutnya di atas sofa. Saat ini ia tidak bisa jika harus tidur berdua dalam satu ranjang.
Ceklek.. Aroon membuka pintu kamar mandi. Mendengar itu degup jantungnya semakin tak karuan.
"Belum tidur?"
"Hmm.. Eengg.. Belum tuan." jawab Cyra.
Aroon yang masih mengeringkan rambutnya tersenyum melihat wajah Cyra yang menegang. "Oh aku tahu."
"Tahu apa tuan?"
"Kau menungguku kan. Ini malam pertama kita."
Deg.. Deg.. Deg.. jantung Cyra serasa lepas.
"Ttttii.. Tttii.. Tttiidak tuan. Sssaya malah akan tidur di sofa." Cyra menunjuk ke arah sofa yang di atasnya terdapat bantal dan selimut.
"Hahahhh.. Kau begitu takut padaku."
"Sssaya belum siap tuan. Bukankah tuan memberi saya waktu satu tahun."
"Iya.. Iya.. Aku ingat." Aroon berjalan dan duduk di atas sofa.
"Iiittu tempat saya tuan."
"Tidurlah di tempat tidur, aku tidak mau kamu nanti sakit."
"Terus tuan?"
"Aku akan tidur diatas sofa. Terima kasih kamu sudah menatanya."
"Jangan tuan, biar saya saja yang tidur di sana."
"Sudah kamu saja yang diatas tempat tidur."
"Tapi tuan___."
"Atau jangan - jangan kamu mau kita tidur bersama."
"Tidaakk!" jawab Cyra cepat.
Aroon kembali tersenyum. "Ya sudah tunggu apa lagi."
"Bbbaikk." Cyra segera naik ke atas tempat tidur.
"Selamat malam nyonya Aroon. Istirahatlah."
"Selamat malam tuan." balas Cyra.
Yah sepertinya aku harus bersabar untuk bisa merasaknmu Cyra. aku ingin dengan sukarela kamu menyerahkan semuanya padaku pikir Aroon. Dan tak lama kemudian ia memejamkan matanya.
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1