
Cyra pulang dengan mengayuh sepeda. Walaupun itu sudah siang tapi karena mendung tak terasa panas. Dia menyapa beberapa orang yang dia kenal yang sedang ada di sawah. Perasaannya sangat lega, berbeda jauh dari pertama kali ia pulang. Ternyata masih banyak orang yang sayang dan perhatian dengannya. Hidup harus terus berlanjut. Ia tidak mau terrus terpuruk dengan kejadian yang sudah menimpanya. Benar dengan apa yang dikatakan ibu, jika orang itu benar - benar mencintainya tentu saja ia akan menerima apa adanya.
"Kok lama?"
"Tadi mampir di sungai sebentar bu. Terus tadi ketemu Aryo yang baru dinas penjagaan acara tadi."
"Bagaimana kabarnya nak Aryo?"
"Baik bu. Kami hanya bicara sebentar karena tadi ada kejadian lucu di balai desa."
"Apa?"
"Tadi ada hidangan rujak cingur. Para bule nggak tahu dan mereka makan dengan lahap, bilang kalau rasanya unik. Mereka bertanya padaku daging apa ini. Ya aku bilang saja itu hidung sapi dan beberapa dari mereka muntah."
"Aduh kasihan sekali bule - bule itu." ucap ibu. "Ya sudah cuci muka dulu sana. habis itu kita ngobrol."
"Soal apa bu? Jangan bilang soal Aryo ya."
"Nggak. Bukan masalah Aryo. Sudah kamu cuci muka dulu, habis itu temui ibu di teras."
Setelah membawa sepedanya masuk ke dalam Cyra segera cuci muka dan menemui ibu di teras.
"Ada apa sih bu?"
"Duduk dulu." perintah ibu. "Ibu mau berbicara sesuatu yang penting."
"Biasanya kalau penting selalu berdua sama ayah."
"Ayahmu masih belum bisa berbicara. Biasalah laki - laki butuh waktu meredam emosinya."
"Ayah emosi soal apa?"
'Ini yang mau ibu bicarakan." ibu menarik napa panjang sebelum mulai bicara. "Kamu tadi ke sungai hanya bertemu dengan nak Aryo?"
"Iya. Cuma sama Aryo. Lagian warga kan berbondong - bondong ke balai desa."
"Tadi tuan Aroon kesini?"
"Tuan kesini? Sama Gio bu?"
"Sendiri."
"Tadi dia juga ke sungai?"
Ibu mengangguk.
"Darimana ibu tahu?"
"Tetangga sebelah tadi yang bilang. Ada seorang pria tampan gagah datang ke balai desa menanyakan keberadaanmu. Siapa lagi kalau bukan tuanmu itu."
"Buat apa?" Cyra tampak penasaran.
"Hanya melihat keadaanmu dan juga bilang kalau Gio kangen." jawab ibu. "Ayahmu tadi sempat emosi melihatnya, walau hal itu bukan sepenuhnya kesalahannya tapi sebagai orang tua pasti masih emosi."
"Mereka bertengkar?"
"Tidak. Cuma ayahmu berbicara dengan nada tinggi. Kamu kesayangan kami." jawab ibu. "Ayahmu mengatakan kalau kau butuh waktu untuk sendiri dulu. Dan juga mengatakan kalau - kalau kau ingin berhenti dari pekerjaan itu. Jadi yang mau kami tanyakan apakah kamu mau lanjut bekerja atau berhenti."
"Tadi tuan bilang gimana?"
"Yah dia hanya bilang bagaimana dengan Gio." ibu membelai rambut Cyra. "Dari sorot matamu ibu tahu kamu ingin kembali ke sana."
Cyra tertunduk. "Aku memang tidak bisa bohong dengan ibu." ucap Cyra. "Kemarin - kemarin aku memang masih ragu. Tapi setiap habis telepon dengan Gio rasa kasihan akan anak itu membuatku ingin kembali ke sana."
"Ya sudah kembalilah. Kamu berhak menentukan hidupmu sendiri Cyra."
"Tapi bagaimana dengan ayah?"
"Tentu saja dia ingin kamu berhenti dan lebih baik di sini membantu kami di sawah. Wajar Cyra setelah kejadian itu ayahmu menjadi khawatir jika hal itu terjadi lagi. Tapi aku tahu kamu itu berjiwa bebas kamu tidak bisa mengekangmu."
"Apakah ayah akan menerima keputusanku?"
"Pasti bisa. Ibu nanti yang akan bicara dengannya."
"Terima kasih bu." Cyra memeluk ibu.
"Cyra ibu hanya berpesan jaga dirimu di sana."
🍀🍀🍀🍀
Pagi ini Cyra bersiap - siap. Ia akan naik kereta, sehingga tidak terlalu malam sampai di sana. Semalam mereka sudah bicara bertiga. Walaupun berat akhirnya ayah mengijinkannya kembali bekerja. Cyra merasa memiliki tanggung jawab terhadap Gio. Ia sudah berjanji pada anak itu untuk membuatnya menjadi anak yang lebih baik. Hal itu yang membuatnya harus kembali.
__ADS_1
"Sudah siap semuanya?"
"Sudah bu."
"Sampaikan salam kami untuk Pak Uo mu."
"Iya nanti aku sampaikan."
"Jangan lupa setelah sampai sana segera telepon kami." pesan ayah.
"Iya ayah."
Cyra dengan naik taksi menuju ke stasiun. diperkirakan sampai ke bogor sore hari, jadi masih aman. Pak Uo yang akan menjemputnya di stasiun nanti. Perasaannya tak menentu karena ia akan bertemu dengan tuannya. Ia harus menghadapi dan tidak mungkin untuk menghindar terus. Cyra sangat menikmati perjalanannya. Tak terasa ia sudah sampai di kota Bogor. Sebelum turun dari kereta ia menarik napas berulang kali. Semangat Cyra ucapnya dalam hati. Dengan mendorong kopernya ia keluar dan di sana Pak Uo nya sudah menunggu.
"Siap pulang ke perkebunan?"
"Siap Pak Uo."
"Tidak ada yang ketinggalan?"
"Tidak ada."
"Ya sudah. Ayo naik mobil."
Cyra mengikuti langkah Syamsudin, setelah memasukkan koper ke dalam bagasi mereka segera menuju ke perkebunan.
"Cyra maafkan aku." ucap Syamsudin memulai pembicaraan.
"Untuk apa?"
"Karena sudah lalai menjagamu."
"Tidak apa - apa Pak Uo. Kita kan tidak tahu apa yang terjadi ke depannya. Selama ini Pak Uo sudah menjaga dan membantuku. Itu sudah cukup."
"Cyra, terus terang aku sedikit curiga dengan penculikanmu. Tuan mengatakan itu murni jebakan bukan untuk meminta uang tebusan." ucap Syamsudin. "Jika kamu tidak keberatan, Bagimana awalnya kamu diculik?"
Cyra sempat terdiam dan mengalihkan pandangannya keluar jendela. Tapi kemudian ia mulai bercerita. "Awalnya nona Denisha memintaku menemaninya berbelanja. Aku bilang harus ijin tuan. Awalnya tuan keberatan tapi karena nona denisha bisa meyakinkan akhirnya tuan memperbolehlan dengan syarat tidak boleh sampai sore."
"Nona Denisha mengajakmu belanja?"
"Iya katanya mau membelikan baju untuk Gio, karena tidak tahu selera keponakannya jadi ia memintaku untuk mengantarnya?"
"Billy?"
"Aneh." gumam Syamsudin.
"Apanya yang aneh. Ceritamu ini terkesan memaksa."
"Siapa yang memaksa Pak Uo?"
"Ya nona Denisha. Semua ya serba memaksa dan berusaha membawamu keluar. Ia pernah mengatakan tidak bisa pisah dari Billy."
"Menurut Pak Uo, nona Denisha yang menculikku?"
"Itu hanya dugaan saja. Aku belum memiliki bukti apapun." jawab Syamsudin. Aku harap kamu berhati - hati\, nona denisha itu seperti____." Syamsudin tidak meneruskan perkataannya.
"Seperti apa?"
"Yah, licik, dia berlindung di balik kecantikannya. Dulu waktu nyonya hidup juga sering membuat masalah."
"Aku akan berhati - hati dengannya." jawab Cyra. Ia pun sebenarnya merasakan hal yang aneh dengan penculikannya. Para penculik itu hanya mengikatnya saja. Tidak minta tebusan, tidak melukainya bahkan membunuhnya.
Tanpa terasa ia sudah sampai di depan perkebunan. Pintu gerbang terbuka dan mobil masuk menuju ke rumah utama. Cyra membuka jendela, ia merasakan udara sore hari di perkebunan.
"Sudah sampai." ucap Syamsudin
"Oh sudah ya."
"Kamu sudah siap."
Cyra mengangguk. Ia turun dari mobil. Sedangkan Syamsudin menurunkan kopernya dari mobil. Tampak Gio berlari menyambutnya.
"Bu Cyraaaa!!!" ia berlari ke dalam pelukan Cyra. Dengan penuh kelembutan Cyra menggendongnya. "Aku senang kau kembali."
'Iya aku juga. Hmmm kenapa badanmu terasa ringan sekali?"
"Aku jarang makan."
"Kenapa?"
"Karena aku rindu masakanmu."
__ADS_1
"Benarkah. Baiklah nanti malam aku akan memasak untukmu."
"Yah aku mau." Gio turun dari gendongan Cyra. Sekarang berganti Omar dan Olif berebut untuk memeluknya.
"Aku dulu." ucap Omar.
"Tidak bisa! Aku dulu! Ingat lady first."
"Lady itu yang lembut, bukan urakan kayak kamu."
"Eh kurang ajar kamu ya." Olif menjambak rambut Omar.
"Hei.. Hei kalian ini jadi memelukku tidak?" Cyra menelentangkan tangannya. "Lebih baik bersama - sama, ayo berpelukan."
Akhirnya mereka bertiga berpelukan bersama. Aroon ikut keluar melihat anaknya yang sangat senang dengan kehadiran Cyra. Ingin rasanya ia juga memeluk gadis itu, Perkebunan terasa sepi tanpa kehadirannya.
"Cyra." panggil Aroon.
Omar dan Olif melepas pelukannya. Cyra tampat tertunduk begitu Aroon memanggilnya. Ia belum berani melihat wajahnya.
"Ya tuan."
"Ke ruang kerjaku."
"Baik tuan." Cyra berusaha untuk tidak gugup. Ia segera mengikuti langkah Aroon menuju ke ruang kerjanya.
"Duduk."
"Terima kasih tuan."
Aroon tampak terdiam dan hanya memperhatikan wajah Cyra yang selama berhari - hari ini selalu mengganggu pikirannya. Cyra yang tahu kalau Aroon sedang memperhatikan dirinya bertambah gugup.
"Aku senang kau mau kembali mengajar Gio." Aroon mengawali pembicaraan. "Bagaimana pendapat orang tuanmu?"
"Awalnya mereka tidak setuju saya kembali ke sini. Tapi saya berusaha meyakinkan mereka bahwa ini bentuk tanggung jawab saya terhadap Gio." Cyra menjawab masih dengan wajah tertunduk.
"Kau takut padaku?"
"Tttidak tuan."
"Kenapa wajahmu tertunduk? Cyra aku benar - benar minta maaf."
Cyra memberanikan diri mendongakkan kepala dan berusaha menatap Aroon. "Tidak perlu minta maaf tuan. Mari kita lupakan saja masalah itu."
"Tapi sikapmu berubah padaku?"
"Mungkin saya masih butuh waktu."
Aroon menghela napas, ia bisa maklum jika Cyra masih takut padanya. "Baiklah kamu bisa kembali ke rumahmu."
"Terima kasih tuan saya permisi." Cyra beranjak dari duduknya dan keluar. Ia bisa bernapas dengan lega. Ia memang masih takut dengan Aroon apalagi ketika peristiwa itu terjadi. Bagaimana tubuh kekar itu merenggut kesuciannya.
"Hei!"
Panggilan itu membuyarkan lamunannya. "Eh iya nona Denisha."
"Kamu kembali bekerja di rumah ini?"
"Iya nona."
"Aroon terlalu baik padamu, sudah memberimu cuti yang berlebihan masih juga di beri kesempatan kembali bekerja."
"Iya, saya juga sudah berterima kasih pada tuan atas kesempatan yang diberikan." ucap Cyra. "Saya permisi dulu mau kembali ke kamar saya." tanpa menunggu jawaban dari Denisha, Cyra pergi meninggalkannya.
"Dasar kurang ajar, kau juga sudah merebut kesempatanku bersama dengan Aroon. Aku yang menginginkan pria itu malah kau yang mendapatkannya." gumam Denisha sambil melihat kepergian Cyra.
Denisha masuk ke dalam ruang kerja Aroon.
"Sore Aroon."
"Sore, ada apa?"
"Hmm, aku mau pergi ke Singapore. Ada pemotretan disana." ucap Denisha. "Apakah kau mau ikut pergi ke sana?"
"Tidak Denis, pekerjaanku disini sangat banyak."
"Ayolah Aroon, jangan terlalu disibukkan dengan pekerjaan, kau butuh rileks. Ikutlah."
"Tidak Denis, kalau aku pergi tentu saja banyak yang harus aku ajak dan aku juga belum punya waktu. Gio biar konsentrasi belajar dulu. Ia sudah lama libur karena Cyra ambil cuti. Tolong mengertilah."
"Baiklah, aku tidak akan memaksa." Denisha segera meninggalkan ruang kerja Aroon. Sial aku gagal menjauhkannya dari Cyra umpat Denisha dalam hati. Lebih baik aku menghindar sementara untuk menyusun strategi pembalasan, Aroon harus jadi milikku.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀