My Love Teacher

My Love Teacher
Aku Suka.. Aku Suka


__ADS_3

"Aroon." panggil Cyra dengan suara lemah lembut. Ia berusaha keras menahan emosinya. Ia harus bersikap bak ibu peri di hadapan wanita itu.


"Cyra." Aroon menoleh, begitu juga dengan perempuan itu.


"Aku membawakanmu makanan, kau kan belum sarapan."


"Ah ya aku sampai lupa."


"Aroon siapa dia?" tanya Syarla.


"Oya kenalkan ini Cyra istriku. Dan Cyra ini Syarla teman Davira."


Cyra mengulurkan tangannya dan di sambut hangat oleh Syarla.


"Kapan kau menikah? Kenapa tidak mengundangku? Aku kira kau akan menduda selamanya." goda Syarla.


"Hahahahh.." Aroon tertawa. "Yah kita tidak bisa tahu kapan kita akan jatuh cinta dan dengan siapa."


"Hahahahhh.. iya.. iya kau benar." mereka berdua tertawa dan tampak akrab sekali. Hal itu membuat Cyra hati bertambah sakit. Mungkin saja saat ini ia tidak bisa menyembunyikan wajah kesalnya.


Tenang Cyra.. Kau harus tenang ucap Cyra pada dirinya sendiri. Ia berulang kali menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan - pelan.


"Cyra ini guru home schooling nya Gio."


"Wow, pasti kamu hebat Cyra. Bisa menaklukkan Gio. Aroon pernah cerita kalau Gio anak yang sulit dekat dengan orang asing. Kau tahu itu seperti siapa?"


"Tidak." jawab Cyra lirih.


"Yah seperti suamimu lah." ucap Syarla.


"Hei kau jangan menjelek - jelekkan aku di depan istriku."


"Tidak.. Tidak.. Aku tidak menjelek - jelekkan mu di depan Cyra. Bukankah itu kenyataan. Arogan, gengsi dan sedikit introvert."


Cyra terhenyak kaget, sepertinya Syarla tahu banyak tentang Aroon. Dan juga satu hal yang baru saja ia sadari adalah Aroon bicara panjang lebar dengan Syarla. Itu yang tidak pernah ia temukan selamai ia mengenal Aroon. Ia hanya bicara seperlunya.


"Oya, mana makanan yang kau bawa?" pertanyaan Aroon mengagetkannya dari lamunan.


"Ini." Cyra memberikan.


"Kenapa hari ini kau sedikit bicara? Sakit?"


"Hmmm.. Tidak. Mungkin kurang tidur."


"Istirahatlah, biar Syarla yang menemaniku makan disini."


Lagi - lagi Cyra kaget. Apa dia mengusirku. Berani - beraninya umpat Cyra dalam hati. Kemarahannya sudah tidak terbendung lagi.


"Iya lebih baik kau istirahat saja Cyra. Aku yakin kau pasti capek melayani bayi besar ini bukan." goda Syrala. Tapi godaan itu malah membuat Cyra bertambah emosi.


Lebih baik aku pergi sebelum amarahku memuncak. "Baiklah aku permisi." Cyra pergi meninggalkan mereka berdua yang sepertinya sedang duduk di gazebo sambil makan makanan yang ia bawa tadi. Aku harus mencari pelampiasan sebelum emosiku tak terbendung lagi.


Cyra mengambil sekop dan beberapa kantong pupuk. Hanya dengan satu tangan ia membawanya sendiri padalah itu cukup berat. Memang emosi bisa membuat orang melakukan hal gila.


Ia mulai mencongkel - congkel tanah dengan sekop membuat suatu lubang. Ia menanam beberapa tanaman di sana. Hingga tanpa terasa hari sudah siang.


"Bu Cyra." panggil Omar


"Ada apa?" jawab Cyra. Ia berusaha mengatur napasnya karena kegiatannya bercocok tanam.


"Jadi kita menjalankan rencana?"


"Nanti saja. Aku sedang sibuk." Cyra kembali menggali tanah. "Olif mana?"

__ADS_1


"Sedang menemani tuan membaca." jawab Omar. "Apa yang ibu lakukan?"


"Kau tidak lihat aku sedang menanam sawi."


"Tttapi kenapa disini bu. Ini kan taman." Omar mengingatkan.


Cyra seakan sadar dengan peringatan Omar. Ia menghentikan kegiatannya. Ia mulai sadar dan melihat sekelilingnya. Dan ternyata benar apa yang disampaikan Omar. Ini taman, Aduh kenapa bisa seperti ini. Memang kalau emosi kita tidak bisa berpikir jernih.


"Hmmm, tapi taman ada sawinya sangat cocok Omar." jawab Cyra menyanggah. Ia akan malu kalau ketahuan cemburu sama dosen itu.


"Ya enggaklah bu. Mana ada sayuran dibuat taman?"


"Makanya ini aku mau buat inovasi baru." jawab Cyra asal - asalan. "Ya sudah sana kau temani Gio. Nanti sore kita mulai melancarkan kegiatan kita."


"Baik bu Cyra kalauΒ  begitu aku pergi dulu."


Sepeninggal Omar, Cyra kembali berpikir ia akan mengembalikan taman itu seperti semula dan mencabut tanaman sawi itu. Huh sekarang ia menyesal kenapa juga tadi dia emosi. Akhirnya begini kan harus kerja dua kali. Tapi karena sudah terjadi maka ia harus bertanggung jawab.


Ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya. Cyra ini aneh habis menanam malah langsung di cabut. Benar - benar gila pikir Billy. Aku harus melaporkannya pada nona Denisha.


Dengan langkah cepat Billy ke kamar Denisha.


"Nona.. Nona.. Aku ada berita."


"Apa? Jangan sampai berita itu mengganggu mood ku."


"Tidak akan. Nona pasti senang mendengarnya."


"Cepat katakan."


"Saya melihat Cyra sedang menanam sawi dan tak lama kemudian ia mencabutnya lagi. Dan yang aneh ia menanam sawi di taman."


"Benarkah?"


"Ayo kita lihat." Denisha beranjak dari duduknya.


"Ayo." mereka berdua dengan cepat menuju ke taman samping. Tampak Cyra yang agak kelelahan sedang mencabut sawi yang tadi dia.


"Wow.. Menjadi gila kau rupanya? Strees menikah dengan Aroon?" sindir Denisha.


Cyra dengan perlahan meletakkan sekop di tanah. Ia melihat ke arah Denisha yang berdiri di depannya. Cyra berdiri untuk mengimbangi lawannya itu. Heh sepertinya kau datang di saat yang tepat Denis, aku perlu pelampiasan untuk emosiku ini.


"Stres kamu bilang?"


"Iya. Kamu seperti orang gila."


"Bagaimana mungkin aku stres? Suamiku sangat perhatian. Hampir setiap malam ia memanjakanku di ranjang. Ia selalu bisa membuatku berteriak dan bahkan menjerit keasyikan." jawab Cyra.


Denisha tampak geram. "Tidak mungkin Aroon memanjakanmu seperti itu."


"Kenapa tidak? Dia sangat mencintaiku. Dia bahkan berjanji akan membahagiakanku. Bagaimana? Merasa panas?"


"Kau!" Denisha mengayunkan tangannya untuk menampar Cyra. Tapi dengan sigap Cyra menangkisnya.


"Jangan berani menamparku Denis atau kau tahu akibatnya."


"Berani kau sekarang! Billy! Bantu aku."


Cyra menatap tajam ke arah Billy. "Jangan berani mendekat." Cyra mengambil pupuk kandang yang tadi di bawanya. Pupuk yang berasal dari kotoran hewan.


Billy perlahan mundur ke belakang, ia juga jijik dengan pupuk itu.


"Cyra kau benar - benar gila!"

__ADS_1


"Hahahahhh.. Yah aku memang gila. Gila dengan suamiku. Kau tahu ciumannya benar - benar memabukkan." Cyra kembali memanas - manasi Denisha. Dan ia rasa itu berhasil. "Aku sungguh kasihan padamu, aku yakin kau sudah lama mendambakan ciuman dari kakak iparmu itu kan."


"Kurang ajar!!!" teriak Denisha. Ia vwrisaha mendorong Cyra tapi dengan cepat Cyra menghindar hingga ia tersungkur ke depan. Tubuhnya kotor oleh tanah dan juga kotoran hewan.


"Nona!" teriak Billy. "Kurang ajar kau Cyra!" Billy juga ikut menyerang Cyra tapi dengan cepat Cyra mengambil pupuk dan melemparkannya ke tubuh Billy. "Aaaccchhh! Bau!!!" ia menjerit sejadi - jadinya.


"Hahahahhh..." Cyra tertawa terbahak - bahak. Ia sangat puas dengan itu semua. Apalagi emosi yang ada di hatinya hilang seketika. Huh ternyata enak juga bisa meluapkan emosi dengan orang yang tepat pikirnya. Ia segera meninggalkan dua orang yang kotor yang sedang menjerit - jerit histeris.


Cyra kembali ke kamarnya. Setelah mandi ia segera menuju ke perpustakaan untuk memilihkan beberapa buku untuk Gio. Ia mau anak itu menjadi tambah pengetahuannya.


Cyra asyik memilih buku hingga ia tidak sadar bahwa Aroon ada di sana.


"Sibuk?"


"Eh tuan." Cyra menoleh. "Tidak, saya sedang memilih buku untuk Gio baca."


"Mau aku bantu?"


"Tidak usah, bukankah tuan ada tamu. Urus saja Syarla." walaupun perkaraan Cyra sangat pelan tapi penuh penekanan.


"Hahahahhhh.."


"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?"


"Ada.. Ada.." jawab Aroon. "Kamu yang lucu."


"Saya?" Cyra mendekat.


"Iya kamu." Aroon menghentikan tawanya. "Kamu lucu jika cemburu."


"Saya? Cemburu? Hahahahh.. Nggaklah tuan." Cyra memalingkan muka. Takut ekpresi wajahnya bisa jelas terbaca oleh Aroon.


"Sudah mengaku saja kalau kau cemburu? Aku bisa membaca ekspresi wajahmu yang tidak biasa itu Cyra. Tapi tidak apa - apa, aku suka." ucao Aroon. "Yah minimal kau ada perhatian denganku. Dan aku rasa tidak perlu waktu satu tahun untuk mendapatkanmu."


"Huh, jangan terlalu percaya diri tuan." cibir Cyra.


"Kau itu aneh, di depan orang kau oanggil aku Aroon tapi ketika kita berdua kau panggil aku tuan dan menggunakan bahasa formal. Ayolah Cyra, kapan kita bisa santai."


"Nanti." jawab Cyra.


"Kau tadi berkebun?"


"Iya."


"Meluapkan emosi ya?"


"Iya." jawab Cyra. "Eh bbukan.. Bbukan meluapkan emosi, saya memang ingin berkebun."


"Oh.. Baguslah kalau begitu." Aroon melangkah maju mendekati Cyra. "Aku lihat tadi ada Denisha dan Billy yang ikut bergabung."


"Tuan melihatnya?"


"Tidak hanya melihat tapi juga mendengar dengan jelas."


Wajah Cyra berubah menjadi pucat. Jantungnya berdetak tak beraturan. Tubuhnya terasa lemas. "App.. Aappa yang tuan dengar?" tanya Cyra lirih.


"Banyak." jawab Aroon sambil terus mendesak Cyra mundur. "Setiap malam aku memanjakanmu di ranjang, kau menjerit dan berteriak keasyikan. Hmmm kau juga menyebut bahwa ciumanku memabukkan. Benarkah? Mau di coba?" Aroon tersenyum nakal. Ia tahu istrinya itu sedang mati kutu.


Cyra menggelengkan kepalanya sambil mengatupkan kedua bibirnya ke dalam.


"Senang sekali seandainya itu benar - benar terjadi Cyra. Aku rasa tidak akan lama." ucap Aroon. Wajahnya mendekat ke wajah Cyra. "Walaupun itu hanya omong kosong, tapi aku suka.. Aku suka." bisik Aroon. Ia kemudian pergi meninggalkan Cyra sambil tertawa lepas penuh kebahagiaan. "Hahahahahhh...


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€

__ADS_1


__ADS_2