
Cyra segera kembali ke rumah untuk membereskan semua barang - barangnya. Syamsudin datang dari belakang.
"Apa yang terjadi?"
"Aku di berhentikan Pak Uo."
"Iya aku tahu tapi apa alasannya?"
"Alasannya karena Gio sudah tidak membutuhkan aku lagi." Cyra mengelap dengan cepat air mata yang hampir saja jatuh ke pipinya. Ia tidak mau Pak Uo nya itu melihatnya menangis.
"Ini aneh. Bukankah hubungan kalian baik - baik saja."
Cyra mengangguk. Ia sambil menata baju - bajunya ke dalam koper.
"Tika cerita padaku, tadi sempat ada perdebatan di ruang tengah. Kau membuat kesalahan apa lagi Cyra. Bekerja disini sudah sangat enak. Kenapa mencari masalah?"
"Entahlah Pak Uo, mungkin aku tidak cocok bekerja disini. Banyak sekali masalah yang timbul." dalam hati Cyra menangis. Ia yang justru menjadi korban disini banyak hal yang dirugikan. Karena lelah jika harus berdebat dengan Pak Uo nya ia lebih memilih diam. Itu lebih baik.
"Bagaimana aku harus menjelaskan pada kedua orang tuamu." ucap Pak Uo. "Apalagi besok mereka akan berkunjung kemari."
"Ayah dan Ibu mau ke bogor? Kenapa tidak memberitahuku?"
"Mereka awalnya ingin membuat kejutan untukmu."
Cyra sudah hampir selesai menata pakaiannya, tapi terhenti sejenak setelah mendengar perkataan Pak Uo. Tiba - tiba saja kelapanya terasa berat seperti tertimpa batu ribuan ton.
"Kasihan ya, jika orang tuamu mendengar berita ini. Lebih baik kau beritahu sekarang dari pada pingsan." ucap Billy yang tiba - tiba datang ke rumah.
Cyra yang sudah geram harus memendam emosi merasa tersinggung dengan perkataan Billy. "Apa maksudmu membawa - bawa orang tuaku. Mulutmu itu tidak pantas menyebut mereka!"
"Terserah aku mau bilang apa! Yang penting aku senang kau angkat kaki dari sini." cibir Billy. "Salah siapa jadi buruh di sini malah kegatelan dengan majikan."
Cyra menatap tajam ke arah Billy. Matanya memerah, tangannya mengepal karena emosi.
"Kenapa? Marah? Itu kan kenyataan."
Tanpa menunggu lama Cyra melangkah cepat menghampiri Billy dan Plak!
"Hei apa yang kau lakukan!" teriak Billy sambil memegang pipinya yang memerah akibat tamparan Cyra.
"Itu tamparan karena kau membawa - bawa nama orang tuanku!" Plak!
"Itu tamparan karena kau menghinaku!" Plak!
"Itu tamparan karena sudah menuduhku dengan hal yang tidak aku lakukan! Ingat tuan Aroon yang memaksa menciumku!" Plak!
"Itu tamparan karena selalu mencari masalah denganku!" Plak!
Syamsudin segera berlari dan menarik tubuh Cyra Karena melihat bibir Billy yang sudah mengeluarkan darah. "Cyra sudah! Hentikan!"
"Lepaskan aku Pak Uo! Biar aku beri pelajaran pada banci laknat seperti dia!" teriak Cyra sambil terus meronta dan kakinya berusaha menendang Billy.
"Tenangkan dirimu! Aku mohon. Dari pada masalahnya tambah besar. Pikirkan kedua orang tua mu."
Mendengar penjelasan Syamsudin, Cyra langsung berubah menjadi lebih tenang. Napasnya memburu karena penuh emosi. Ia melihat Billy yang sudah tidak berdaya sambil memegang pipinya.
__ADS_1
"Awas! Akan aku adukan ke tuan dan nona ku." ancamnya.
"Silahkan saja! Kalau perlu aku tambah tamparan itu biar kau benar - benar jera berurusan denganku!" Cyra bergerak untuk menghampiri Billy tapi di tahan oleh Syamsudin. Melihat gelagat Cyra yang mau menyerangnya lagi membuat Billy mengambil langkah seribu. "Pergilah ke neraka! Dasar mulut comberan!"
"Cyra. Sudah.. Sudah.. Tahan emosimu." ucap Syamsudin.
Cyra kemudian meneruskan kegiatannya. Melihat Billy membuatnya ingin segera meninggalkan tempat itu.
"Cyra sepertinya kau harus memberikan penjelasan padaku. Apa maksud dari perkataanmu bahwa tuan sudah menciummu?"
Cyra terhenyak, karena emosi ia mengeluarkan kata - katanya yang seharusnya tetap ia simpan tanpa ada orang lain yang tahu. Ia menghentikan kegiatannya lagi dan duduk di pinggir tampat tidur. Ia masih terdiam karena harus mulai dari mana.
"Aku menunggu jawabanmu Cyra." Syamsudin mengambil kursi dan duduk di depan Cyra.
Cyra menarik napas panjang sebelum memulai bercerita. "Aku bingung harus mulai dari mana? Terus terang aku malu harus bercerita pada Pak Uo."
"Tidak perlu malu denganku Cyra. Aku ini kan keluargamu, siapa tahu aku bisa bantu."
Cyra kembali terdiam. "Ayah dan ibu sudah tahu dengan masalah yang akan aku ceritakan nanti." ucap Cyra. "Ini semua bermula ketika aku diculik. Sepertinya penculikan itu bukan karena uang tapi lebih ke jebakan. Entah disini siapa yang di jebak. Tuan atau aku."
"Maksudmu?"
"Ketika aku diculik, aku hanya di bawa ke tempat kosong. Selama satu hari itu mereka hanya mendiamkanku saja. Mengikat tangan, kakai dan sama sekali tidak memberiku makan. Mereka seperti menunggu perintah dari seseorang. Setelah hampir satu hari mereka tiba - tiba membawaku ke sebuah villa. Ada seorang wanita tua yang datang. Dia membersihkan tubuh dan mengganti bajuku. Itu merupakan kesempatanku untuk lari. Akan tetapi kembali di tangkap karena tubuhku terlalu lemah."
"Kejam sekali mereka."
"Mereka kembali mengikatku di atas tempat tidur. Mereka bersiap menunggu kedatangan seseorang karena itu perintah dari orang yang mengyuruhnya. Dan orang yang akan datang itu tuan."
"Aku ingat, tuan memang di telepon oleh seseorang yang menculikmu. Mereka mengatakan agar tuan datang ke tempat yang sudah di tentukan."
"Entah bagaimana ceritanya. Tahu - tahu tuan masuk dalam posisi sudah di suntik obat. Obat itu membuat gairah tuan meningkat. Dan terjadilah." Cyra menunduk malu dan tak sanggup melanjutkan ceritanya.
Cyra mengangguk.
"Tttuan mengambil hal yang selama ini kau jaga."
Cyra kembali mengangguk. Air matanya sudah mengalir. Berulang kali ia mengusapnya.
"Ya tuhan, Cyra. Kenapa kau tidak menceritakan hal ini padaku?" Syamsudin memeluk erat keponakannya. "Maafkan aku Cyra, aku yang salah tidak bisa menjagamu dengan baik." Syamsudin mengeluarkan air mata. "Sungguh kejam orang yang melakukan ini padamu."
"Pak Uo tidak perlu merasa bersalah, memang seperti ini jalan cerita hidupku. Apalagi Pak Uo sudah banyak membantu kami."
"Lantas kejadian tadi malam?"
"Aku juga tidak mengerti. Tuan marah karena pak Aryo."
"Aryo?"
"Iya orang pernah mau dijodohkan denganku."
'Bagaimana ia bisa kemari?"
"Menurut keterangan Aryo itu permintaan nona Denisha. Tapi tuan menuduh aku yang sengaja mengundangnya kemari. Terjadilah perdebatan dan berakhir dengan tuan yang menciumku dengan tiba - tiba. Dan Gio melihatnya. Ia merasa aku merebut ayahnya. Oleh sebab itu dia memintaku untuk berhenti,"
"Banyak yang aneh disini."
__ADS_1
"Maksud Pak Uo?"
"Nona Denisha. Dari mana ia bisa menghubungi Aryo dan tumben sekali ia sangat memperhatikanmu. Aku curiga ia menjebakmu agar diusir oleh Gio."
'Tapi yang aku heran, kenapa dia membenciku. Aku hanya seorang guru miskin yang bekerja membanting tulang untuk membayar hutang. Bukankah itu bukan suatu ancaman."
"Kamu ancaman baginya. Karena sekarang aku tahu alasannya."
"Alasan apa?"
"Alasan untuk menbencimu."
"Memang alasannya apa Pak Uo."
"Karena tuan mencintaimu Cyra."
"Hahahahhh.. Itu tidak mungkin. Pak Uo jangan bercanda disaat - saat seperti ini." ucap Cyra. "Tuan sangat mencintai Nyonya. Dalam hatinya hanya ada dia."
"Itu dulu Cyra, mungkin sekarang sudah ada satu ruang di hati tuan yang terisi kehadiranmu olehmu." jawab Syamsudin. "Aku harap kau lebih berhati - hati. Terutama dengan nona Denisha. Heh aku setuju jika kau tadi menampar Billy. Jika tahu ceritanya seperti ini aku pasti akan membantumu memukulinya hingga aku pastikan ia tidak mengenali wajahnya lagi."
"Hahahhhh.. Terima kasih sudah membelaku."
"Ayo kita segera keluar dari sini. Tinggal sebentar di rumahku sampai orang tuamu datang. Biarkan mereka menginap beberapa hari disini sambil menikmati suasana Bogor."
"Baik Pak Uo." senyum Cyra mulai mengembang, beban berat itu sudah lebih ringan setelah ia bercerita dengan Pak Uo nya.
Syamsudin membawa dua koper milik Cyra. Pakaian dan buku - buku sudah ia bawa.
"Kau mau pamitan? Dengan Gio atau mungkin tuan."
"Tidak perlu Pak Uo. Semua sudah tahu kalau aku pergi."
"Baiklah. Ayo."
Mereka keluar dari rumah utama. Ternyata di sana bik Tika, Fahri dan Jono sudah menunggunya.
"Sering - sering telepon aku. Yang sabar ya." ucap bik Tika.
"Terima kasih bik."
Setelah berpamitan ia memasukkan kopernya ke dalam mobil yang di bawa oleh Syamsudin. Cyra membuka pintu akan tetapi dari kejauhan.
"Bu Cyraaa!" panggil Omar dan Olif. Mereka memeluk Cyra. "Kenapa ini bu?"
"Gio sudah tdak membutuhkanku."
"Mana mungkin?"
"Tanyakan sendiri padanya." jawab Cyra. "Aku pergi dulu ya."
Omar dan Olif terdiam, masih dengan rasa terkejutnya. Kenapa tiba - tiba Cyra pergi. Mereka juga tidak bisa berbuat apa - apa karena masih dalam masa hukuman.
"Siap?"
"Iya, aku sudah siap." jawab Cyra. Ia menarik napas panjang dan melampaikan tangan ke mereka.
__ADS_1
Ada sepasang mata memperhatikan dari jendela. Mata kecil bening milik Gio yang menangis melihat kepergian Cyra dari jendela kamarnya. "Maaf bu Cyra."
🍀🍀🍀🍀