My Love Teacher

My Love Teacher
Pulang Kampung


__ADS_3

Waktu cuti Cyra telah tiba. Pagi ini ia bersiap akan pulang ke Surabaya. Sesuai dengan perjanjiannya dengan Aroon dan Cyra menganggap tidak perlu berpamitan. Kali ini ia benar - benar pulang sendiri tanpa Gio, Omar maupun Olif. Yah memang terasa sepi, apalagi kepulangannya membawa kekecewaan. Siapa tahu dengan pulang ke kampung halamannya ia bisa mengumpulkan kekuatannya untuk lebih berani lagi.


Setelah selesai mengecek semua barang yang akan dibawanya pulang, Cyra segera keluar.


"Aku mau ikut." rengek Gio.


"Ayahmu tidak mengijinkannya Gio, aku tidak mau kena marah lagi."


"Dari mana bu Cyra tahu kalau ayah tidak mengijinkan aku ikut?"


"Ayahmu sedang sibuk. Ketika aku ijin mau pulang kampung dia tida bereaksi apa - apa Gio."


"Hayo jujur, bu Cyra tidak ingin aku ikut kan?"


"Bukan seperti itu Gio, situasinya sedang tidak kondusif. Ayahmu sering marah padaku. Dan aku tidak ingin kena masalah lagi." ucap Cyra. Ia berusaha menjelaskan sehalus mungkin agar Gio mengerti apa yang sedang dialaminya sekarang. "Kalau ayahmu sudah tidak sibuk, kita pergi bersama lagi, oke?"


"Baiklah."


"Bu Cyra sampaikan salam kami untuk ibu dan tetangga - tetangga disana." ucap Omar.


"Oya bu jangan lupa, bawa jenang yang banyak." sahut Olif. "Ah aku sebenarnya ingin berenang di sungai itu lagi, airnya jernih dan dingin."


Cyra tersenyum. "Iya.. Iya pasti." jawab Cyra.


Pak Uo nya sudah menunggu di depan. Kali ini Cyra benar - benar pulang dengan naik Bus. Jauh di lubuk hatinya ia berharap ada kejutan dari tuannya itu. Tapi sepertinya itu tidakakan terjadi.


"Kamu sudah siap?"


"Sudah." jawab Cyra yang sudah membonceng dan mengenakan helm. "Kita berangkat Pak Uo."


Dengan berlahan Syamsudin mengendarai laju motor, Cyra melampaikan tangannya pada Gio, Omar dan Olif. Tampak raut kekecewaan ada di mata mereka. Sebenarnya Cyra juga tidak tega meninggalkan mereka, tapi apa daya ia butuh ketenangan. Dengan perlahan Cyra mengusap air matanya


"Kalau tidak mau pulang ya tidak usah pulang." ucap Syamsudin tiba - tiba seakan tahu ia sedang mengalami masalah berat.


"Aku tidak apa - apa."


"Aku hanya berpesan hati - hati dengan nona Denisha. Aku perhatikan ia sering membuat masalah denganmu. Ada apa?"


"Entahlah aku juga tidak habis pikir, kenapa dia sering membuat masalah denganku."


"Nona Denisha selalu iri dengan perempuan yang dekat dengan tuan. Dan kau saat ini memang dekat dengan beliau."


"Tapi tuan tidak menaruh perhatian padaku."


"Memang tidak tapi tuan percaya padamu. Sulit orang mendapatkan kepercayaan dari tuan."


Cyra hanya diam. Ia menelaah perkataan Pak Uo nya.


"Pak Uo, pernahkah nona Denisha membuat masalah seperti saat ini?"


"Pernah, terutama ketika tuan menjalin hubungan dengan nyonya."


"Tapi Nyonya adalah saudara nona Denisha, nggak mungkin kan dia bermusuhan dengan saudaranya sendiri."


"Nona Denisha itu keras kepala dan sombong, oleh sebab itu tuan lebih memilih nyonya Davira. Dan terbukti kan kalau nona Denisha sama sekali tidak berubah. Pesanku hati - hatilah Cyra. Jauh - jauh darinya."


"Baik Pak Uo."


Tanpa terasa mereka sudah sampai diterminal.


"Nanti kalau sudah sampai sana kabari aku."


"Baik Pak Uo."


'Oya kirim salam buah ayah dan ibumu."


"Baik nanti aku sampaikan." Cyra segera mencium tangan Pak Uo dan pergi naik bus.


Jika menggunakan Bus, jarak tempuhnya lumayan lama sekitar lima belas jam. Tapi semua itu dinikmati oleh Cyra.


Sementara itu...


"Sudah tuan muda nggak usah sedih." ucap Omar berusaha menghibur.


"Belum ada setengah hari aku sudah kangen dengan bu Cyra."


"Di buat belajar saja tuan, biar lupa."

__ADS_1


'Justru aku kalau belajar malah ingat bu Cyra terus."


"Kita buat permainan saja yang seru. Bagaimana?" usul Olif.


"Nggak aku nggak mau."


Gio masih murung di teras depan.


"Hei jagoannya Phoo. Sedang apa?"


"Sedang kangen dengan bu Cyra tuan? Omar mewakili Gio yang sedang malas untuk ditanya.


"Memang bu Cyra tidak pamitan pada ayah?"


"Tidak."


"Bohong, bu Cyra bilang padaku ia pamitan pada Phoo tapi Phoo tidak memperdulikannya."


"Benarkah ia berkata seperti itu." Aroon berusaha mengingat - ingat kembali.


"Phoo terlalu sibuk dan tidak perhatian dengan bu Cyra."


"Maafkan Phoo. Akhir - akhir ini banyak pengiriman hasil kebun kita ke luar negeri. Phoo harus benar - benar memastikan sendiri kualitas barang kita." ucap Aroon. "Lantas apa yang harus Phoo lakukan agar membuatmu senang kembali."


Mendengar perkataan Aroon, Gio lamgsung tersenyum. "Kita susul bu Cyra."


"Setuju." teriak Omar dan Olif bersamaan.


Aroon hanya diam, sejujurnya ia ingin menyusul sendiri ke sana. Ingin menikmati waktu sendirinya bersama Cyra yang akhir - akhir ini selalu membuatnya tidak tenang. Ia ingin menjalin kedekatan lagi setelah beberapa kesalah pahaman terjadi di antara mereka. Tapi demi anak semata wayangnya mau tidak mau ia harus menuruti keinginannya. "Baiklah besok kita berangkat."


"Yeayy!" teriak Gio yang langsung memeluk Aroon. "Terima kasih Phoo."


🍀🍀🍀🍀


Sore hari Cyra sudah sampai di rumah, ayah dan ibu menyambutnya dengan gembila. Kebetulan ayah sudah sembuh dan sudah bisa beraktivitas kembali di sawah.


"Loh, kamu datang sendiri to?"


"Ya iyalah bu. Memang siapa yang mau ikut aku pulang kampung."


"Waduh ibu harus meralat di grup WA."


"Waktu kamu mau bilang pulang kampung, ibu pikir tuan Aroon dan keluarganya juga ikut ke sini. Jadi ibu sudah woro - woro ke ibu - ibu kalau tuan ganteng mau kesini."


"Aduh, ibu jangan membuat masalah dong."


"Di grup WA sampai geger, banyak ibu - ibu yang pergi ke salon."


"Nah kan, pasti jadi masalah deh."


"Gimana ini?" tanya ibu kebingungan.


"Ibumu itu di bilangin nggak percaya." sahut ayah sambil menyeruput secangkir kopi di depannya. "Aku ini juga di protes bapak - bapak."


"Kok bisa."


"Mereka semua resah karena ibu - ibu yang sedang sibuk berdandan, efeknya bapak - bapak tidak ada yang melayani."


"Hahahahah.. Masak sih Yah?" Cyra geli sendiri mendengar cerita ayah dan ibunya.


"Tuh kamu lihat bapak - bapak pasti semuanya jajan di warung."


"Ya sekali - sekali dong Yah, ibu - ibu diberikan kesempatan buat memanjakan diri. Kalau cantik yang senang juga kan bapak - bapaknya." ucap ibu membela diri.


Cyra mengambil pisang goreng buatan ibu.


"Ra."


"Ya bu."


"Ayah sama ibu mau bicara."


"Lah ini tadi kan kita sudah bicara - bicara."


"Maksud kami pembicaraan yang serius."


"Wah jadi deg - deg an nih aku. Ada apa sih?"

__ADS_1


Ayah dan Ibu saling berpandangan. "Kamu saja yah." pinta ibu.


"Baiklah." jawab ayah sambil meletakkan cangkir kopinya di meja. "Begini Cyra, saat ini usia mu sudah cukup matang untuk berkeluarga. Apa saat ini kamu sudah punya calon?"


Cyra menghela napas. "Belum yah? Ayah kan tahu aku tidak ada waktu, yang saat ini ada di pikiranku hutang - hutang keluarga kita lunas."


"Iya Ayah dan ibu tahu. Tapi kamu harus memiliki waktu untuk dirimu sendiri."


"Nanti Yah kalau semua hutang kita sudah lunas."


"Hmmm.. sebenarnya kemarin itu ada orang yang datang ke sini menanyakan apakah kamu sudah punya calon atau belum." ucap ayah ragu.


"Siapa Yah? Apa aku kenal orangnya? Apa maksudnya"


"Itu anak pak Sapto."


"Pak Sapto petugas keamanan kampung ini?"


"Iya, Sapto siapa lagi." jawab ibu. "Namanya nak Aryo, dia itu sudah lulus pendidikan dan sekarang sudah jadi polisi di Surabaya."


"Yah, Bu aku sepertinya belum siap." jawab Cyra.


"Eh kenalan dulu, besok sore mereka mau main kesini."


"Bu, Cyra nggak mau di paksa - paksa."


"Ayah dan ibu tidak memaksamu Cyra, semua keputusan ada di tanganmu. Besok sore itu mereka hanya main ke rumah dan ingin berkenalan denganmu. Setelah kenal, mau kamu terima atau tolak itu terserah padamu." ayah berusaha menjelaskan.


"Kenapa ketika mereka mau kesini tidak ayah larang saja?"


"Itu tidak sopan Cyra. Toh dia ke sini mau kenalan saja. Ayah rasa tidak masalah kan? Apalagi ayah sudah menjelaskan di awal kalau semua keputusan ada di tanganmu. Dan mereka menerima saja. Kalau kamu mau mereka bersyukur tapi kalau kamu menolak dan memutuskan berteman saja mereka juga tidak masalah."


"Baiklah, tapi hanya kenalan saja."


"Iya hanya kenalan saja." jawab ibu. "Ayo masuk rumah sudah mau maghrib."


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah, setelah selesai makan malam Cyra kembali kedalam kamarnya sebenarnya ia ingin menenangkan diri, eh malah ada orang yang mau kenalan juga. Saat ini hati Cyra masih bingung.


🍀🍀🍀🍀


Malam ini Denisha sangat senang, untuk beberapa hari ke depan ia tidak akan di ganggu oleh kehadiran Cyra. Aroon akan menjadi miliknya seutuhnya.


"Halo Bian."


"Malam sayang, kau merindukanmu."


"Jangan mimpi." jawab Denisha dengan ketus.


"Hahahahh.. Ada apa meneleponku malam - malam. Kau mengganggu aktivitas panasku." tanya Biantara.


"Aku sudah melakukan tugasku. Gadis itu sedang pulang kampung ke Surabaya. Kalau kau menyingkirkannya di Surabaya aku rasa akan lebih gampang."


"Baiklah, demi dirimu aku kana melakukan pekerjaan kotor lagi."


"Heh! Jangan pura - pura sok suci di depanku Bian. Aku tahu semua kartumu. Kau orang paling kotor yang pernah aku kenal."


"Hahahahahh.. Aku suka.. Aku suka mendengar pendapatmu tentangku. Aku merasa tertantang."


"Terserah. Aku minta lakukan tugasmu dengan baik, jangan sampai gagal."


"Itu semua tergantung padamu sayang."


"Maksudmu?"


"Imbalan apa yang aku terima."


"Apa maumu?" tanya Denisha.


"Beberapa waktu yang lalu Aroon mendapatkan kontrak kerja sama dengan perusahaan asing."


"Lantas."


"Aku ingin kau mencuri dokumen kerja sama itu dan berikan padaku."


Denisha terdiam cukup lama, ia tampak berpikir. Akan sulit baginya mencuri dokumen itu tapi apa boleh buat demi menyingkirkan Cyra semua hal akan ia lakukan. "Baiklah."


"Bagus sayang, aku suka."

__ADS_1


Panggilan di akhiri. Denisha tersenyum lega. Bye Cyra...


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2