My Love Teacher

My Love Teacher
Galau


__ADS_3

Cyra sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Aroon. Menikah itu bukan hal yang main - main. Ini berjanji di hadapan tuhan. Kenapa dengan gampangnya Aroon kata - kata itu keluar dari mulutnya.


"Menikah? Tuan sadar dengan apa yang tuan katakan."


"Aku sadar. Oleh sebab itu aku mengatakan hal ini di hadapan orang tuamu."


Cyra kembali diam. Pandangannya nefalih kepada kedua orang tuanya yang wajahnya masih bingung. Mereka hanya diam saj dari tadi. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka.


Akhirnya ibu memberanikan diri berbicara. "Tuan Aroon, menikah itu bukan untuk sekedar main - main. Kalian berdua juga baru saja saling mengenal."


Setelah mendengar perkataan ibu, ayah menjadi lebih berani. "Apakah tuan mencintai anak saya? Atas dasar apa tuan memintanya untuk menikah? Apakah tuan bisa menjamin kebahagiaan anak saya? Apakah tuan juga bisa menjamin keselamatannya dan kejadian tempo hari tidak akan terulang?" ayah melontarkan pertanyaan - pertanyaan dengan nada penuh penekanan.


"Saya berani menjamin." jawab Aroon penuh keyakinan. Matanya menatap tajam ke arah ayah seakan menunjukkan keseriusannya.


"Tuan belum menjawab tentang perasaan tuan. Apakah tuan mencintai Cyra anak saya."


Aroon tampak terdiam. Terlihat ia menarik napas berulang kali. Entah karena tidak bisa menjawab atau gugup untuk mengakui perasaannya. "Saya menyukai putri anda."


Cyra tampak tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut tuannya. Sejak kapan tuan menyukainya. Menyukai dan mencintai berbeda artinya pikir Cyra. "Tidak mungkin." sahut Cyra. "Sejak kapan tuan menyukai saya? Kita lebih sering bertengkar."


"Aku perhatian denganmu dan aku ingin melindungimu Cyra."


"Itu bukan cinta tuan."


"Aku cemburu dengan Aryo dan Vano atau pria yang berusaha dekat denganmu."


"Tuan tidak menanhakan perasaan saya ke tuan?"


"Oke. Sekarang aku tanya. Apakah kau juga mencintaiku?"


"Entahlah. Saya tidak tahu dengan perasaan saya terhadap tuan saat ini. Terus terang saya fokus dengan pekerjaan saya."


Aroon kembali terdiam begitu juga dengan Cyra. Semuanya serba mendadak, membingungkan apalagi masalah dengan Gio belum terselesaikan.


"Tuan Aroon. Saya sebagai orang tua merasa senang, ada seorang pria yang menyukai dan ingin melindungi anak saya. Tapi kami meminta waktu untuk berpikir. Karena menikah bukan hal main - main. Ini sangat serius. Kami ingin menyerahkan anak kami pada orang yang tepat. Karena hanya dia satu - satunya harta paling berharga yang kami punya. Menikah sekali untuk seumur hidup tuan." ucap ayah. Cyra yang mendengar perkataan ayah sangat terharu. Matanya berkaca - kaca. Ia menjadi lebih tahu bahwa kedua orang tuanya sangat mencintainya.


"Baiklah. Saya akan menunggu jawaban dari bapak dan ibu." ucap Aroon. "Kalau begitu saya permisi."


Ayah dan ibu mengangguk. Aroon beranjak dari duduknya dan segera pergi dari rumah Cyra.


Sepasang mata memperhatikan gerak - gerik Aroon. Setelah yakin Aroon pergi orang itu segera kembali masuk ke dalam rumah dan melakukan panggilan seperti biasa melaporkan hasil pengamatannya.


Sementara itu...


"Ada apa Billy? Bagaimana?"


"Nona tidak akan oercaya dengan apa yang aku.lihat."


"Memang kau lihat apa?"

__ADS_1


"Tuan tampan anda."


"Aroon?"


"Yes, anda benar sekali nona."


"Untuk.apa dia datang di sekitar kontrakanmu? Setahuku dia tidak.ounya teman di sana."


"Hahahahahh.. Anda juga tidak akan oercaya dengan hal yang akan saya katakan ini. Ckba tebak."


"Jangan main teka teki denganku Billy. Cepat katakan!"


"Itu rumah lama Syamsudin. Dan pasti nona tahu kan siapa yang menempati sekarang."


"Cyra." tebak Denisha.


"Yes, anda benar."


"Sialan!!! Kurang ajar!!! Aku pikir dia sudah pergi dari sini."


"Tuan datang sendiri ke sini. Dan baru saja pulang."


"Apa yang mereka bicarakan?"


"Saya tidak tahu nona. Kalau saya terlalu dekat bisa ketahuan."


"Aaacchh!!! Kenapa pengacau itu masih disini." umpat Denisha. "Billy."


"Apa perlu dia kita culik lagi seperti kemarin. Kali ini kita tidak usah meminta bantuannya. Kita bekerja sendiri. Cyra harus kita musnahkan."


"Jangan nona. Kita gunakan cara halus dulu."


"Cara halus, cara kasar semuanya tidak mempan. Punya sembilan nyawa dia." ucap Denisha geram. "Kau awasi mereka terus. Aku harus tahu apa tujuan Aroon datang ke sana."


"Baik nona."


Panggilan di akhiri.


Tanpa Denisha sadari ada seseorang yang mendengar semua pembicaraan mereka. Tangannya gemetar ketika mendengar itu. Bahkan nampan di tangannya hampir saja jatuh. Seketika tubuhnya terasa kaku hingga sulit bergerak. Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk melangkah segera pergi sebelum ketahuan oleh Denisha.


Ia bernapas dengan lega setelah berhasil kembali ke dapur. "Besok pagi aku harua menemui Cyra, ia harus tahu segalanya." gumam bik Tika.


🍀🍀🍀🍀


Malam itu Cyra tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia terngiang - ngiang dengan perkataan Aroon yang mengajaknya untuk menikah.


Kenapa tiba - tiba tuan bisa mempunyai pemikiran aneh seperti itu. Benarkah tuan mencintaiku. Ini seperti tidak masuk akal pikir Cyra. Bisa saja dia mengatakan seperti itu agar aku mau kembali ke perkebunan dan mulai mengajar Gio lagi. Ia sebenarnya tidak bisa merawat Gio sendiri. Kalau memang itu alasannya aku akan menolaknya pikir Cyra lagi.


Karena hatinya tidak tenang dia memutuskan untuk keluar kamar agar tidak terasa sumpek. Ia akan duduk sebentar di ruang tengah sambil menonton televisi.

__ADS_1


Baru saja beberapa langkah ia melewati kamar ayah dan ibunya, sayup - sayup terdengar mereka sedang membahas masalah yang sama dengannya.


"Gimana yah?"


"Gimana apanya?"


"Itu tadi lamaran tuan Aroon."


"Entahlah bu. Terus terang aku bingung."


"Sama yah, aku juga bingung."


"Sisi lain aku senang ada yang melamar anak kita, tapi sisi lain aku takut jika kehidupan Cyra di perkebunan penuh dengan kesulitan. Sekarang saja dia sudah banyak menemui dan tidak menutup kemungkinan setelah menikah akan menemui lebih banyak masalah."


"Aku juga kepikiran hal yang sama. Masih ragu kalau tuan Aroon menyukai Cyra."


"Kalau soal itu aku yakin ada sedikit perasaan cinta di hati tuan Aroon. Tapi untuk membangun rumah tangga sedikit cinta itu kurang kokoh."


"Pak bagaimana kalau kita terima saja."


"Kenapa tiba - tiba bilang begitu?"


"Kamu ingat kejadian penculikan yang menimpa Cyra?"


"Ingat."


"Bukankah di situ tuan sudah mengambil sesuatu yang berharga pada diri Cyra."


"Terus."


"Ayah, di kampung kita pemikirannya masih kuno. Semua masih mempertanyakan tentang keperawanan. Jika orang tahu kalau Cyra sudah tidak memiliki itu. Siapa yang mau menikah dengannya?"


"Kau berpikir terlalu jauh."


"Aku tidak berpikir terlalu jauh, sebagai seorang ibu aku hanya prihatin dengan masa depan anakku. Bagaimana jika nanti ia jadi perawan tua. Tidak punya keturunan. Padahal dia anak kita satu - satunya." ibu menjelaskan dengan berlinang air mata. "Ini mumpung ada yang melamar. Mungkin ini bentuk tanggung jawab tuan Aroon pada Cyra karena kejadian itu. Dan juga tuan Aroon sudah mapan. Jadi aku berpikir terima saja lamarannya."


Ayah tampak diam dan berpikir. "Benar juga yang kau katakan." ayah menghela napas. "Tadi sempat terlintas di pikiranku hal yang sama denganmu. Tapi itu akan tidak adil untuk Cyra."


"Kok bisa tidak adil?"


"Bisa. Kalau dia tidak mencintai tuan Aroon dan kita memaksanya untuk menikah itu sama saja kita membuatkan penjara untuknya." ayah mengeluarkan pemikirannya pada ibu. "Malam ini lebih baik kita minta petunjuk pada tuhan yang maha kuasa. Mudah - mudahan kita mendapat jalan keluarnya."


"Iya yah."


"Sudah jangan menangis. Pasti ada jalan keluarnya. Tidurlah."


Cyra mengusap airmata yang tiba - tiba saja membasahi pipinya. Ia sangat sedih karena kedua orang tuanya menyimpan kesedihan yang mendalam. Tapi itu semua tidak pernah mereka perlihatkan padanya.


Cyra berjalan dan duduk di sofa depan televisi. Apakah aku terima saja lamaran tuan Aroon pikirnya kalut. Ya tuan beri aku jalan keluar doanya.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2