My Love Teacher

My Love Teacher
Serangan Balik


__ADS_3

Cyra terduduk di gazebo sambil memandangi pekerja yang sedang memeriksa hasik panen. Syamsudin datang mendekat.


"Tadi ibumu telepon."


'Eh Pak Uo." Cyra terhenyak dari lamunannya. "Siapa yang telepon?"


"Ibumu." Syamsudin melepas sepatunya dan duduk dengan kaki bersila.


'Ibu? Kok tumbentidak telepon aku."


"Kalau ibumu telepon aku itu artinya ia mau menyelidiki tentang sesuatu."


"Memang ibu mau menyelidiki apa. Kayak detektif saja."


"Pake nanya lagi. Pasti tentang kamu lah."


"Hahahahhh.. Buat apa menyelidiki aku Pak Uo. Disini aku baik - baik saja."


"Memang kamu baik - baik saja, tapi apa kamu bahagia?"


Cyra terdiam. Ia mengalihkan pandangannya. "Aku bahagia. Tuan begitu mencintaiku."


"Itu tidak perlu aku ragukan lagi. Tapi bagaimana dengan dirimu? Apa kamu benar - benar mencintainya? Terus bagaimana dengan orang di sekitarnya, apa mereka mau menerimamu? Terutama tuan muda."


Cyra kembali terdiam.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Karena tidak biasanya kamu menjawab dengan lambat. Ada keraguan dalam hatimu kan?"


"Sebenarnya bukan keraguan Pak Uo."


"Oke, tapi apa?"


"Aku punya alasan tersendiri kenapa aku memilih menikah dengan tuan."


"Oke. Kalau kau belum siap bercerita denganku tidak apa - apa. Aku akan menunggu sampai kamu siap. Yang penting jangan sampai itu mengganggu pikiranmu dan juga keselamatanmu."


"Terima kasih Pak Uo mau mengerti. Aku masih berusaha mengambil hati Gio agar kami kembali seperti dulu lagi. Aku akan membuktikan dengan adanya keberadaanku tidak akan membuat cinta tuan pada Gio berkurang."


"Ya sudah kalau begitu aku pergi kerja lagi." pamit Syamsudin


Cyra akhirnya ikut nberanjak dari gazebo, ia menuju ke kamar Gio untuk memastikan apakah anak itu sudah membaca buku yang di berikannya.


"Omar.. Omar.." panggil Cyra dengan suara pelan.


"Ssssstttt.." Omar menaruh telunjuknya di depan bibir. Ia memberi tanda agar Cyra tidak mendekat. Terdengar sayub - sayub teriakan Gio.


"Aku tidak mau makan, tidak mau belajar! Aku tidak mau apa - apa!"


"Jangan begitu, nanti tuan muda bisa sakit." bujuk Olif.


"Aku tidak peduli!" teriak Gio. "Phoo sudah tidak memperdulikan aku lagi."


"Eh siapa bilang? Tuan aroon selalu kesini setiap malam untuk melihat kondisi tuan muda." ucap Omar


"Bohong!"


"Saya berani sumpah tuan. Bahkan bu Cyra selalu kesini menemani tuan sampai tuan tertidur."


"Bohong!" teriak Gio. "Pergi kalian semua!" usirnya. Terpaksa Omar dan Olif keluar. Mereka berdiri di depan pintu. Cyra mendatangi mereka.


"Apa yang terjadi?" tanya Cyra.


"Kami tidak tahu bu. Tahu - tahu tuan muda marah, tidak mau makan bahkan mandi pun ia tidak mau." lapor Olif.


"Wah kalau di biarkan ia bisa sakit."

__ADS_1


"Mungkin tuan muda mau oerhatian dari tuan Aroon."


"Bisa jadi." jawab Cyra. "Memang akhir - akhir ini Aroon disibukkan dengan pekerjaannya di perkebunan. Sejak bekerja sama dengan perusahaan dari Korea waktunya bersama dengan Gio jadi berkurang."


"Apa bu Cyra punya cara agar mood tuan muda kembali lagi."


"Hmmm.. sebentar." Cyra tampak berpikir keras. Ia teringat sesuatu dan akhirnya "Aku ada ide, kalian ikuti saja pembicaraanku."


"Baik bu." jawab mereka berdua.


"Omar, Olif kalian tahu tidak kuda yang ada di kandang belakang?" tanya Cyra dengan suara keras. Ia sengaja melakukan itu agar perhatian Gio beralih padanya.


"Tahu dong bu."


"Kemarin Aroon bilang ada kuda poni yang dia beli untuk Gio."


"Wah pasti tuan muda senang sekali mendengar itu."


"Bagaimana kalau kita lihat kudanya sekalian kita latihan?"


"Saya setuju bu."


Mereka bertiga pergi pelan - pelan dari kamar Gio. Dan benar saja tak lama kemudian Gio menyusul mereka dari belakang.


"Bagaimana?" tanya Cyra dengan suara berbisik.


"Berhasil bu, tuan muda mengikuti kita."


"Bagus."


"Tapi bagaimana dengan kuda poni nya?"


"Ada. Beberapa waktu lalu Aroon memangs engaja membeli kuda poni untuk Gio. Sebenarnya kuda itu ia beli agar Gio mau berbaikan denganku."


"Syukurlah kalau kudanya ada."


"Kuda poni makannya apa bu?"


"Rumput, jerami bahkan ada juga yang memberinya wortel."


"Sama ya dengan kuda biasa."


"Iya pada dasarnya semua sama, yang membedakan adalah besar kecilnya." Cyra menjelaskan sambil mengelus - elus kuda poni. Sebenarnya ini pertama kalinya ia bisa memegang kuda. Biasanya kalau di Surabaya itu sapi, kerbau atau kambing.


"Apakah kuda itu untukku?" tanya Gio dari belakang.


Cyra tersenyum melihat rencananya berhasil. "Yah kuda ini untukmu. Phoo yang membelikannya. Kamu suka?"


Gio mengangguk. Walaupun hanya sekilas tapi itu merupakan kemajuan yang bagus.


"Kau mau naik?" tanya Cyra.


"Boleh?"


"Tentu saja boleh, kuda poni ini milikmu." jawab Cyra. "Pak tolong pasangkan pelananya, tuan muda mau naik."


"Baik nyonya." dengan cekatan para pekerja di sana segera memasang pelana kuda. "Sudah nyonya."


"Terima kasih." ucap Cyra. "Nah Gio kau bisa naik sekarang."


Gio dengan antusias naik ke atas pelana kuda. Salah satu pekerja memegang tali kekang dan mulai mengajak Gio berkeliling dengan naik kuda poni. Senyum Gio mengembang terus itu artinya ia senang mendapatkan hadiah kuda poni. Cyra bersyukur dan mudah - mudahan interaksinya dengan Gio akan semakin baik.


"Kalian naik kuda." tiba - tiba ada suara Aroon dari belakang.


"Iya, Gio sangat menyukainya."

__ADS_1


"Syukurlah."


"Oya, tuan sibuk hari ini?" tanya Cyra dengan suara lirih.


"Saat ini tidak. Nanti sore mungkin sibuk, aku harus menemui klien baru."


"Bermainlah sebentar dengan Gio. Dia merajuk tadi."


"Baiklah. Demi permintaan istri tercinta." goda Aroon.


"Gombal." cibir Cyra.


Aroon naik kuda engan Gio, tampak wajah Gio yang bahagia.


"Kita berhasil bu." ucap Omar dan Olif. Cyra menjawab dengan anggukan. Tak hentinya senyumnya mengembang di wajahnya.


"Cyra, ayo naik kuda."


"Tidak.. Aku tidak bisa."


"Tidak apa - apa, ada aku."


Omar dan Olif mendesaknya, bahkan para pekerja di sana juga melihatnya. Mau tidak mau ia menuruti perkataan Aroon. Cyra naik ke atas kuda dengan posisi di depan Aroon. Kedua tangan Aroon seperti memeluknya karena ia harus memegang tali kekang.


"Rileks saja, jangan kaku nanti kamu bisa cidera."


"Hah, kenapa menaktkan begitu. Aku turun saja." ucap Cyra lirih.


"Jangan penakut, lihat semua orang menunggumu naik kuda. Ikuti saja perintahku."


"Bbbaik."


"Rilekskan punggungmu. Kau bisa bersandar di dadaku. Menurutku itu lebih aman."


"Bbbaiklah." Cyra mulai bersandar di dada Aroon. Memang bersandar di tubuh kekar suaminya itu sangat nyaman. Ia merasa terlindungi.


Aroon mulai menjalankan laju kuda dengan tempo pelan. Setelah di rasa Cyra nyaman baru ia menambah tempo kuda menjadi agak cepat.


Hampir tiga puluh menit Aroon menikmati momen kebersamaan antara dia dengan Cyra.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Nona kita harus balas perbuatan Cyra."


"Itu pasti dan harus Billy! Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, ia harus menderita."


"Hmm.. Bagaimana kalau kita datangkan polisi itu. Kita buat tuan cemburu sehingga mereka menjadi bertengkar. Kita serang balik Cyra dengan kedatngan Aryo."


"Sepertinya idemu kali ini lumayan." ucap Denisha. "Oke kau hubungi Aryo secepatnya."


"Siap nona." Billy segera melakukan panggilan dan tentu saja itu di sambut baik oleh Aryo yang memang sudah ingin bertemu dengan Cyra.


Waktu yang ditentukan tiba. Sore itu Cyra duduk sebentar di taman setelah mengantar kepergian Aroon untuk meeting dengan klien.


"Cyra." panggil seseorang.


"Aryo. Eh mma.. mmaksudku pak Aryo."


"Aku ingin bertemu denganmu. Kau tahu kan, setelah kejadian malam itu kau tidak pernah menghubungiku."


"Maaf."


"Tidak perluΒ  minta maaf, aku hanya ingin mengetahui kabarmu. Bisa kita pergi keluar."


"Tidak bisa!!!" jawab seseorang dengan suara keras dari belakang.

__ADS_1


Dan itu suara Aroon. Wajah Cyra pucat seketika. Ia tahu suaminya itu pasti sedang marah. Padahal ia sendiri kaget dengan kedatangan Aryo yang tiba - tiba. Siapa yang sudah mengijinkan dia masuk. Ini pasti jebakan agar ia bertengkar dengan Aroon.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


__ADS_2