My Love Teacher

My Love Teacher
Syukurlah Kamu selamat


__ADS_3

"Bu Cyra, bangun."


"Ada apa Olif, ini masih pagi?" tanya Cyra dengan suara parau khas orang bangun tidur. Semalam ia baru bisa memejamkan mata setelah tengah malam.


"Katanya mau mandi di danau."


"Ini jam brp?" Cyra melihat handphone nya. Dan waktu menunjukkan pukul lima. "Ini terlalu pagi, Olif. Airnya dingin."


"Tapi sepi bu. Nanti kalau sudah bangun kita nggak bisa menikmati segarnya air." Olif mengguncang - guncang tubuh Cyra.


"Bik Tika sudah bangun?"


"Sudah, tapi dia menyiapkan sarapan."


Cyra bangun, ia duduk sebentar sambil mengucek - ucek matanya. Ia menguap beberapa kali.


"Jam berapa sih ibu tidur? Kok masih mengantuk."


Cyra hanya diam, jika mengingat kejadian tadi malam akan membuat wajahnya memanas. "Ayo keluar." Cyra mengalihkan pembicaraan.


Mereka berdua keluar dari tenda. Kabut menyelimuti daerah itu. Angin dingin yang menyegarkan membuat Cyra mengeratkan jaketnya.


"Bik Tika masak apa?"


"Omelet dan nasi goreng."


"Aku bantu nyalakan apinya."


"Memang kamu bisa?"


"Bisa. Waktu dulu kami memasak menggunakan kayu." Cyra menyalakan api dan menghangatkan badannya di sana. "Bik Tika ikut kami mandi?"


"Aku tadi sudah. Kalau kalian mau mandi sekarang saja mumpung mereka belum bangun."


"Baiklah, ayo Olif."


Cyra dan Olif menuju danau yang letaknya tidak terlalu jauh. Mereka mencari tempat yang aman untuk mereka mandi. Setelah berkeliling mereka memutuskan mengambil ke sisi yang sebelah kiri karena terdapat beberapa pohon dan batu yang bisa dijadikan penutup untuk mereka. Walaupun letaknya jauh dari tempat camping tapi itu tempat yang paling aman untuk mereka mandi.


"Brrr, airnya dingin bu."


"Kita kepagian ini, Lif." ucap Cyra yang memang merasakan dinginnya air membuatnya malas mandi. "Kita nggak usah berenang lama - lama daripada masuk angin."


"Iya bu, sepertinya aku juga tidak tertarik untuk berenang. Kayak air es."


Cyra tersenyum melihat Olif yang mulutnya pucat setelah membasuh mukanya dengan air danau.ย  Akhirnya mereka memutuskan untuk menyudahi kegiatan mereka. Cyra mengganti bajunya bergantian dengan Olif untuk mengawasi sekitar. Takutnya tiba - tiba ada orang yang datang.


"Sudah bu?"


"Sebentar lagi."


Setelah mengenakan celana Cyra segera bergantian berjaga. Akan tetapi sayup - sayup ia seperti mendengar sebuah suara. Percakapan seseorang


Tempat camping ini terpisah kenapa bisa ada orang disekitar sini pikir Cyra. Setelah mendengar dengan seksama sepertinya orangnya lebih dari tiga orang, sekitar empat atau lima orang. Apa ya yang mereka lakukan pagi - pagi disini tanya Cyra dalam hati.


"Ini barangnya, coba kalian lihat. Ini kualitas terbaik." kata seorang pria.


"Kau benar, ini yang terbaik. Bos pasti suka dengan barang ini." jawab pria yang satunya lagi. "Kalau bos suka, uang langsung kita tranfer." lanjutnya.


Cyra mendengar percakapan itu. Waduh barang apa itu pikirnya.


"Bu Cyra kok melamun?" tanya Olif.


"Ssstt, jangan keras - keras." bisik Cyra. "Ada orang lain disini selain rombongan kita."


Wajah Olif berubah panik. Ia mendekati Cyra dan bersama - sama mendengar percakapan mereka. "Siapa mereka?"


"Aku tidak tahu." jawab Cyra. "Kita harus lapor tuan."

__ADS_1


Olif mengangguk setuju. Mereka berjalan pelan - pelan agar tidak menimbulkan suara yang bisa membuat mereka curiga. Baru saja mereka beberapa langkah meninggalkan danau, Olif menjatuhkan peralatan mandi mereka.


"Hei! Siapa itu!" teriak pria yang memiliki brewok.


"Waduh bu Cyra kita ketahuan." ucap Olif ketakutan.


"Ayo lari!" teriak Cyra. Ia menarik tangan Olif.


"Peralatan mandinya bu."


"Sudah tinggal saja."


Mereka berdua berlari tanpa tentu arah. Bahkan menjauh dari tempat camping. Yang ada dipikirannya adalah segera melarikan diri untuk keselamatan. Pria yang berjumlah empat orang itu dengan cepat mengejar mereka.


"Hei! Berhenti!" teriak mereka.


"Mereka banyak bu."


"Sudah jangan pedulikan mereka banyak atau tidak. Kita harus lari secepatnya."


Cyra dan Olif menambah kecepatannya dalam berlari.


"Door!!" suara tembakan terdengar.


"Bu Cyra mereka bawa senjata." ucap Olif sambil terus berlari.


"Tidak perlu takut, kita tetap lari. Selama mereka menambak ke atas kita masih aman." Cyra berusaha menenangkan Olif yang ketakutan. Ya tuhan apa yang harus aku lakukan. Tuan Aroon tolong kami doa Cyra dalam hati.


"Aauww!!!" teriak Olif. Ia terpelosok dalam lubang yang membuatnya terjatuh.


"Kamu tidak apa - apa?"


"Kakiku sakit bu."


Dengan segera Cyra memeriksa kaki Olif. "Kamu terkilir. Bagaimana ini?"


"Tidak. Tidak bisa seperti itu. Kita berdua harus selamat." ucap Cyra. "Mudah - mudahan tuan mendengar suara tembakan itu." Cyra berusaha membuat Olif tenang. "Ayo aku bantu berdiri, kita sembunyi disana." Cyra membantu Olif berdiri. Dengan menuntunnya mereka bersembunyi di balik batu yang besar.


"Dimana mereka! Ayo cepat cari!" perintah seseorang. "Kalau ketemu langsung bunuh!"


"Baik!"


"Ingat jangan sampai ada saksi, semuanya harus bersih."


Cyra dan Olif sampai menahan napas takut kalau mereka mendengarnya. Olif memegang tangan Cyra dengan erat. Wajahnya tampak pucat. Ia menutup mulutnya menggunakan tangan. Ia menahan rasa sakit karena kakinya terkilir.


"Cepat cari! Kalau tidak ketemu, kalian yang akan aku bunuh!"


Cyra dan Olif masih bertahan di tempat persembunyiannya. Tapi tak disangka di dekat batu itu ada rumah semut yang mulai mengigit kaki Olif. "Aauuww!" teriak Olif.


"Siapa disana! Keluar!" teriak pria itu.


"Maaf bu Cyra." Olif menangis. "Semut - semut ini menggigitku."


"Kamu tenang saja disini. Biar aku yang keluar." ucap Cyra.


Olif menggelengkan kepalanya, ia menggenggam tangan Cyra dengan erat. "Jangan bu. Kita keluar bersama."


"Tidak, biar aku saja. Salah satu dari kita harus keluarย  Olif, atau kita berdua akan mati konyol."


"Tapi bagaimana jika mereka membunuh ibu."


"Mudah - mudahan bantuan segera datang, saat ini berdoa lebih kita butuhkan." jawab Cyra. "Ingat apapun yang terjadi jangan keluar." pesan Cyra.


"Baik bu." jawab Olif berlinang air mata. "Hati - hati."


"Ayo cepat keluar!" teriak pria itu dan menembakkan senjatanya ke atas sebanyak dua kali. Dooorr!!! Dooorr!!!

__ADS_1


Cyra keluar dari persembunyiannya.


"Angkat tanganmu!" perintah pria itu.


Dengan patuh Cyra segera mengangkat tangannya. Dua pria yang lainnya langsung membawanya dengan kasar kehadapan pria brewok itu. Salah seorangnya menendang kaki Cyra hingga mau tidak mau ia bersimpuh di bawah.


"Wow, larimu cepat juga cantik. Dimana temanmu yang satunya?"


"Dia sudah melarikan diri."


"Jangan bohong."


"Aku tidak bohong." tatap Cyra dengan tajam.


"Hahahha.. Ternyata kau di jadikan korban olehnya. Hmmm kasihan, cantik - cantik harus mati di tanganku."


"Aku tidak takut."


"Oh punya nyali juga kamu!" Pria brewok itu menodongkan pistolnya ke wajah Cyra. "Kau belum tahu rasanya peluru ini menembus wajahmu yang cantik ini."


Cyra berusaha tenang mendengar ancaman itu, walau sejujurnya ia ketakutan setengah mati.


"Itu tidak akan terjadi, aku yakin pertolongan akan segera datang."


"Hahahahahhh!!! Pertolongan dari mana cantik. Hahahahahhh!!! Kau jangan membuat lelucon." para pria itu tertawa bersama - sama.


"Pertolongan dari aku bodoh!" teriak seseorang dengan tiba - tiba. Ia menembakkan pistol ke salah satu kaki pria - pria itu. Dooorrr!.


"Tuan." gumam Cyra. Ia sangat lega. Ketakutan yang menghantuinya sirna perlahan - lahan.


"Kurang ajar! Serang mereka!." perintah pria brewok itu.


Terjadilah pertengkaran yang sangat sengit. Tuan Aroon datang bersama dengan Syamsudin, Sulaiman. Jumlah mereka sangat imbang. Kalau untuk duel seperti ini kemampuan Aroon sudah tidak diragukan lagi.


Dengan mudah ia melumpuhkan pria - pria itu.


Cyra juga tidak menyangka kalau ternyata Pak Uo nya sangat mahir berkelahi dan memainkan senjata.


"Ikat mereka!" perintah Aroon. Dengan segera Syamsudin dan Sulaiman mengikat mereka. "Syam, hubungi pihak berwajib."


"Baik tuan."


Aroon segera mendekati Cyra yang masih terduduk lemas. Tubuhnya masih gemetar. Ini pertama kalinya ada sebuah pistol ditodongkan di depan matanya. Biasanya ia hanya melihat film melalui televisi tapi sekarang ia mengalami sendiri.


"kamu tidak apa - apa?" tanya Aroon sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi Cyra.


Cyra hanya mengangguk saja. Ia tidak bisa berkata apa - apa. Mulutnya masih gemetar.


"Syukurlah kamu selamat." peluk Aroon. Seketika itu membuat Cyra menangis. "Sudah tenanglah, kamu aman sekarang." Aroon membiarkan Cyra menangis tersedu - sedu di dadanya. Ia bahkan membelai rambutnya untuk memberikan ketenangan dan rasa aman.


Setelah puas menangis Cyra melepaskan pelukannya. "Terima kasih tuan, sudah datang menyelamatkan kami." ucapnya sambil mengusap air matanya. "Olif ada disana, kakinya terkilir." tunjuk Cyra.


"Sulaiman cepat tolong Olif, ia ada disana."


"Baik tuan."


Sulaiman segera berlari ke arah yang ditunjuk oleh Aroon dan benar saja ada Olif yang masih lemas karena menahan kesakitan akibat kakinya yang terkilir. Sulaiman dengan sigap menggendongnya di belakang.


"Bu Cyra." Olif memanggil Cyra sambil menangis.


Cyra berdiri dengan dibantu oleh Aroon ia menghampiri Olif. "Kita selamat Olif."


"Iya bu Cyra, syukurlah."


Tak berapa lama polisi hutan yang berada di sekitar tempat camping datang dan membawa empat pria tadi. Olif juga segera mendapatkan pertolongan pertama. Cyra bisa bernapas lega karena mereka telah selamat. Ini pengalaman pertamanya dan tentu saja seru. Ia menjadi kagum dengan tuannya yang setiap saat datang untuk melindunginya."


"Terima kasih tuan." ucapnya. Aroon hanya tersenyum mendengar ucapan tulus yang keluar dari mulut Cyra.

__ADS_1


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


__ADS_2