My Love Teacher

My Love Teacher
Aku Bersedia Menikah Dengan Anda


__ADS_3

Pagi itu Cyra bangun dengan sakit kepala yang luar biasa. Semalam ia baru bisa tidur sekitar jam tiga pagi. Ini jam lima pagi ia sudah harus bangun untuk menyiapkan sarapan buat ayah dan ibunya.


Ia bergerak berlahan sambil memegangi kepalanya yang sakit. "Aduh kenapa semuanya tampak berputar." gumamnya. Ia berjalan pelan sambil berpegangan pada tembok. Cyra menuju kamar mandi dengan harapan setelah mandi sakit kepalanya akan berkurang.


Tapi itu semua percuma. Kepalanya masih terasa sakit. Cyra mengabaikan rasa sakit itu dan segera ke dapur.


"Ibu sudah bangun?"


"Sudah, ibu pengen merasakan udara segar di pagi hari ini."


Cyra mulai membantu ibu membuat nasi goreng dengan telur mata sapi. Ia tidak lupa membuat kopi untuk ayahnya. "Ayah sudah bangun bu."


"Sudah, mungkin baru mandi."


"Oya aku mau ke pasar dulu."


"Eh nggak usah, biar ayah sama ibu saja yang ke pasar. Kami mau jalan - jalan pagi."


"Baiklah." ucap Cyra. Ia segera mengambil nasi goreng dengan porsi sedikit dan segera minum obat.


"Kamu sakit?"


"Sedikit pusing bu."


"Mikir lamaran tuan Aroon?"


"Iya."


"Nggak usah terlalu di pikirkan. Kami berdua akan sangat mendukung keputusanmu." ucap ibu.


Mendengar hal itu Cyra malah tambah bersedih. Ia melihat ibu berusaha menutupi kegundahan dalam hatinya. Cyra tahu mereka juga sama dengannya terjebak dalam situasi membingungkan ini. "Iya aku tahu itu. Oleh sebab itu aku maunya memberi suatu keputusan yang terbaik untuk semua." jawab Cyra.


"Ibu sama ayah tahu. Kamu sangat dewasa dan bijak dalam mengambil keputusan."


Ayah keluar dari kamar dan terlihat segar karena habis mandi. Tapi tampak wajah lelahnya yang tidak bisa disembunyikan. "Ngobrol apa sih? Kok kelihatannya asyik."


"Aku tadi baru tanya - tanya Cyra soal makanan khas bogor. Buat oleh - oleh orqng kampung."


"Bagus itu." ayah mengambil nasi goreng dan menyuapkannya ke dalam mulut. "Aku nanti sama ibumu mau jalan - jalan pakai motor. Motor Pak Uo mu ada kan?"


"Ada ayah. Aku siapkan dulu."


Cyra beranjak dari meja makan menuju ke garasi. Ia dengan perlahan mengeluarkan sepeda motor. Udara pagi ini begitu dingin hingga terasa menusuk ke dalam sumsum tulangnya.


Sekelebat ia melihat ada seseorang yang memperhatikannya. Ia mengedarkan pandangan tapi bayangan itu sudah menghilang. Ia berjalan sampai keluar halaman siapa tahu orang itu ada di luar halaman. Tapi hasilnya nihil.


"Ada apa Ra?"


"Tadi kayak ada orang di sini. Aku pikir tamu ternyata bukan."


"Mungkin kamu salah lihat, efek kurang tidur."


"Kayaknya nggak deh bu."


"Sudah jangan terlalu banyak dipikir."


Cyra kembali mendekati ibu. "Bu pakai jaket, udaranya dingin."


"Iya. Tuh sudah di bawa ayahmu." tunjuk ibu pada ayah yang sedang membawa jaket.


"Cyra, ayah sama ibu jalan - jalan dulu."


"Hati - hati. Ini kuncinya."


Cyra melambaikan tangan ketika ayah dan ibu sudah pergi dengan mengendarai motor. Ia segera masuk dan membereskan piring - piring kotor. Sayup - sayup ia mendengar dering handphone miliknya dari dalam kamar. Cyra segera mengambilnya tapi dering itu audah berhenti. Ia membuka data panggilan tak terjawab.


"Bik Tika. Ada apa ya? Sepuluh panggilan?" gumam Cyra. Ia melakukan panggilan balik.


"Halo bik."

__ADS_1


"Aduh Cyra kenapa kau lama sekali mengangkatnya."


"Maaf bik, tadi aku ke depan rumah mengantarkan ayah dan ibu jalan - jalan. Ada apa bik? Kelihatannya penting?"


"Kau sudah pulang Surabaya?"


"Belum. Aku masih di sini."


"Bagus, kita harus bertemu. Ada yang mau aku ceritakan."


"Waduh bikin penasaran bik."


"Kau pasti tidak akan percaya dengan apa yang aku dengar. Sekarang kirim lokasimu."


"Aku tinggal di rumah Pak Uo yang lama."


"Baiklah, aku akan kesana sekarang."


Panggilan diakhiri.


Cyra sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh bik Tika. Kira - kita tentang apa ya.


Cyra menunggu kedatangan bik Tika. Tak lama kemudian ada suara motor yang berhenti di depan rumah. Cyra dengan setengah berlari pergi untuk menyambut bik Tika.


"Ada apa sih bik?"


"Sssttt.. Kita masuk ke dalam saja."


Cyra mempersilahkan bik tika duduk dan tidak lupa menutup pintunya. Ia membuatkan bik Tika segelas teh hangat.


"Diminum dulu bik."


Bik Tika menyeruput teh hangat buatan Cyra. "Aku senang kau masih ada di sini Cyra. Perkebunan sepi setelah kamu pergi. Dan tuan muda lebih banyak di kamar."


"Omar dan Olif selalu mendampinginya kan?"


"Iya. Setelah kejadian itu, tuan menarik hukumannya. Tujuannya agar Gio tidak kalut dengan kepergianmu."


"Tuan muda itu masih kecil. Belum tahu dengan apa yang dia lakukan. Tapi aku sangat yakin di dalam hatinya ia selalu memikirkanmu."


"Aku disini juga selalu kepikiran bik. Bagaimana dengan belajarnya? Anak seumuran dia harusnya sudah banyak peningkatan. Kalau belajarnya terhenti seperti ini akan membuatnya semakin terlambat."


"Tuan juga bingung dalam hal itu. Segala hal sudah tuan lakukan. Tapi Gio sama sekali tidak merespon. Sama seperti sebelum kedatanganmu."


Cyra tampak sangat sedih dan juga prihatin terhadap perkembangan Gio. "Oya bik, katanya mau ada yang di bicarakan denganku. Ada apa?"


Bik Tika terdiam cukup lama. "Cyra mulai sekarang aku mohon berhati - hatilah. Jagalah dirimu baik - baik."


"Ada apa bik? Jangan membuatku menebak - nebak."


"Semalam aku mendengar pembicaraan nona Denisha dengan Billy di telepon."


"Ditelepon? Billy tidak di perkebunan lagi?"


"Dia diusir oleh tuan karena sering memprovokasi dan membuat suasana semakin panas."


"Apa yang mereka bicarakan?"


"Sepertinya Billy tahu kalau kamu masih di Bogor. Ia kemudian melaporkan hal itu oada nona. Aku mendengar nona mengumpat berulang kali dan tanpa sengaja menyebut____."


"Menyebut apa bik?"


"Ternyata dia dalang dari penculikan terhadapmu." jawab bik Tika lirih.


"Apa? Benarkah itu bik?" wajah Cyra menegang karena terkejut. Tangannya mencengkeram sofa dengan kuat menahan emosi.


"Benar Cyra. Aku mendengarnya dengan cukup jelas. Dia yang sudah menculikmu. Dia bekerja sama dengan seseorang. Harusnya kamu dibunuh tapi entah kenapa kamu masih hidup."


Cyra terdiam, ia mendengarkan perkataan bik Tika sambil ingatannya kembali ke penculikan itu. Siapa tahu ia menemukan petunjuk.

__ADS_1


"Cyra, aku juga mendengar bahwa nona akan merencanakan penculikan dan pembunuhanmu lagi."


"Bik Tika merekam atau memvideo perkataan nona Denisha?"


"Aku mendengarnya secara kebetulan jadi aku sama sekali tidak ada persiapan. Mendengar itu saja tubuhku gemetar."


"Kita tidak punya bukti yang kuat untuk memenjarakannya."


"Kalau saranku, lebih baik kamu menjauh saja dari sini. Kembalilah ke Surabaya dan buka lembaran baru."


"Tapi bik, kalau kita diam saja kejahatan nona Denisha pasti tidak akan terungkap." ucap Cyra. "Bik Tika tadi bilang yang melaporkan kalau aku masih di Bogor adalah Billy?"


"Iya benar."


"Hmmm.. Pantas saja aku merasa ada yang memperhatikan dan memata - matai rumah ini."


"Hah! Yang benar?"


Cyra mengangguk.


"Kamu harus hati - hati Cyra. Jangan pergi sendirian."


"Aku harus menguak kejahatan nona Denisha."


"Tapi bagaimana caranya?"


Cyra terdiam cukup lama. Sepertinya ini jawaban dari doaku atas lamaran yang tuan ajukan. "Nanti bik Tika juga akan tahu."


🍀🍀🍀🍀


Pagi itu Aroon bersiap ke rumah Cyra karena sebuah pesan di handphone nya. Sebenarnya ia sangat gugup tapi tidak ia perlihatkan karena menjaga image nya sebagai seorang pria yang matang.


Dengan mengendarai mobil sampailah ia di depan rumah Cyra. Ayah dan Ibu yang sedang menanam bunga tampak terkejut dengan kedatangan Aroon.


"Loh tuan?"


"Selamat pagi pak, bu."


"Pagi tuan, mari silahkan masuk." ibu mempersilahkan. "Silahkan duduk tuan."


Aroon duduk di sofa.


"Hmm, sebentar kami tinggal dulu. Mau ganti baju, tadi kotor kena tanah."


"Silahkan."


Ayah dan ibu masuk ke dalam.


"Kok tuan sudah datang ke sini? Bukankah kita sudah minta waktu."


"Iya juga Yah. Ini baru dua hari lo. Mana ada orang kasih waktu untuk menerima lamaran cuma dua hari."


"Tapi bisa juga tuan ke sini bukan masalah itu."


"Ya sudah kita temui saja dulu." ucap ibu. Mereka berdua keluar bersama. Dan duduk di Sofa berhadapan dengan Aroon.


"Maaf ada apa ya tuan pagi - pagi datang ke sini?" ayah membuka percakapan.


"Hmm____."


"Aku yang memintanya datang kemari." sahut Cyra dari belakang sambil membawa minuman teh hangat. Ayah dan ibu saling berpandangan. Mereka bingung dan sama sekali tidak tahu alasan Cyra mengundang tuan Aroon ke sini.


Cyra meletakkan minuman di atas meja. "Ayah, ibu aku yang meminta tuan Aroon datang kemari. Itu karena ada hal yang harus aku sampaikan pada tuan dan juga ayah, ibu."


"Eengg.. Soal apa Cyra? Jangan membuat kami bingung." tanya ayah yang tampak gugup.


"Ayah ibu, aku akan menikah dengan tuan." ucap Cyra. "Tuan Aroon aku bersedia menikah dengan anda."


"Apa?!"

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2