My Love Teacher

My Love Teacher
Aku Tidak Percaya


__ADS_3

Davira menemui Cyra.


"Aroon sudah bercerita padamu?"


"Sudah."


"Aku minta maaf karena datang di saat yang tidak tepat."


"Aku yang justru minta maaf padamu. Aku masuk ke dalam kehidupan Aroon dan Gio."


"Tidak apa - apa. Kita di permainkan oleh takdir. Aku sangat menyesal kenapa dulu tidak menghadapi ini bersama suamiku. Aku justru memilih pergi. Jika akhirnya kau masuk ke dalam kehidupan kami itu bukan salahmu."


"Terima kasih sudah mau mengerti aku." ucap Cyra. "Mari aku tunjukkan kamarmu."


Davira mengikuti Cyra dan menunjukkan kamarnya.


"Ini kamarmu."


"Cyra, terima kasih kau sudah merawat Aroon dan Gio."


"Aku justru yang merasa sangat bahagia di pertemukan dengan mereka."


Davira memeluk Cyra. "Cyra aku mohon kau membantuku mendekatkan Gio denganku. Walaupun sebenarnya kami adalah ibu dan anak. Tapi kami terpisah cukup lama."


"Baiklah akan aku bantu."


"Terima kasih."


"Istirahatlah, jika perlu apa - apa ada bik Tika dan Jono."


"Bik Tika masih bekerja disini?"


"Iya, masih. Kami sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Dan juga bik Tika yang dulu pertama kali menerimaku di sini."


"Maksudnya?"


"Aku dulu bekerja di sini sebagai guru home schooling buat Gio. Awal aku bekerja mendapat penolakan dari Gio, karena ia takut perhatian Aroon akan teralihkan pada wanita lain."


"Oh anak itu ternyata begitu membelaku."


"Iya, dia sangat mencintaimu." ucap Cyra.


Bik Tika datang tergopoh - gopoh. "Maaf nyonya, Arthit menangis."


"Iya bik." jawab Cyra. "Maaf, Davira aku tinggal dulu." Cyra segera pergi untuk menyusui anaknya. Tinggallah bik Tika dan Davira sendiri.


"Nyonya Davira, syukurlah anda sehat." bik Tika memandangi Davira dengan mata berkaca - kaca.


"Iya bik. Tapi ternyata kebahagiaan karena kesembuhanku ini tidak sama dengan rumah tanggaku."

__ADS_1


"Maafkan tuan, nyonya. Tuan tidak tahu kalau nyonya masih hidup. Begitu juga dengan kami. Tapi nyonya Cyra adalah wanita yang baik. Dia sangat mencintai tuan dan tuan muda."


"Aku tahu. Dan aku juga berterima kasih padamu sudah menjaga Gio."


"Sama - sama nyonya." bik Tika memeluk Davira dengan erat. "Nyonya."


"Ya bik." Davira melepaskan pelukannya dan memandang bik Tika. "Ada apa?" tanyanya sambil tersenyum.


Bik Tika memandang Davira jauh ke dalam matanya. "Eh tidak apa - apa. Nyonya istirahat saja. Saya permisi."


"Iya bik."


Bik Tika bergegas meninggalkan Davira sendiri. Wajahnya sedikit pucat. Ia bergegas ke dapur dan minum air dingin dari dalam almari es.


"Kenapa bu? Kayak habis lihat hantu saja."


"Memang kayak lihat hantu."


"Siapa?"


"Sudah anak kecil jangan banyak tanya."


"Ya sudah aku pergi dulu belanja sayur."


Bik Tika duduk di kursi, lama ia termenung hingga tanpa di sadari Syamsudin masuk dan duduk di dekatnya.


"Melamun apa Tik?"


"Kamu itu berlebihan, baru di kagetkan sedikit saja sudah pucat. Kamu sakit?"


"Syam, mungkinkah orang yang sudah meninggal bisa hidup lagi."


"Bisa. Nyatanya nyonya Davira hidup lagi dan membuat geger seluruh perkebunan."


"Aku serius."


"Sama. Aku juga serius." jawab Syamsudin. "Sudah jangan terlalu banhak di pikir yang namanya sudah takdir dari yang di atas, apa saja mungkin bisa terjadi. Kita sebagai manusia hanya menjalankan saja."


"Syam, boleh tidak kita curiga?"


"Boleh itu hak kita. Tapi kamu curiga sama siapa?"


"Ada. Nanti kalau sudah pasti akan aku ceritakan."


"Ya sudah terserah kamu saja. Aku sendiri juga bingung dengan nasib keponakanku. Kira - kira Cyra di ceraikan oleh tuan Aroon tidak ya?"


"Iya juga. Kasihan kalau akhirnya tuan memilih nyonya Davira."


"Kita hanya bisa berdoa."

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀


Cyra yang duduk di sofa sambil menyusui Arthit. Dia kagetkan dengan kedatangan Aroon.


"Mau." ucapnya sambil tangannya menyusup ke dalam bukit kembar Cyra.


"Aroon jangan ganggu Arthit. Dia sudah mau tidur lagi."


"Baiklah. Cepatlah tidur Arthit, Phoo mau bicara dengan Mae. Good boy."


Cyra hanya bisa menghela napas melihat kelakuan suaminya. Aroon duduk di depan Cyra sambil memeriksa email atau pesan masuk. Biasanya datang dari rekan bisnisnya. Sekarang ini sejak tidak ada Biantara bisnisnya semakin maju tanpa ada penghalang lagi.


Arthit sudah tertidur lagi, Cyra segera meletakkannya di box bayi.


"Arthit sudah tidur. Apa yang mau kau bicarakan?"


"Sebentar." Aroon menutup email dan meletakkan ipad nya di meja. "Duduklah disini." perintahnya sambil menepuk - nepuk sofa kosong di sebelahnya.


"Sini saja. Nanti yang ada kau macam - macam. Aku belum KB."


"Aku mau bicara serius sayang." Aroon memasang wajah serius. "Percayalah aku tidak akan macam - macam denganmu." Cyra tahu arah pembicaraan Aroon pasti mengenai Davira. Cyra berpindah dan duduk di sebelah Cyra. Aroon segera merebahkan kepalanya di pangkuan Cyra. Dengan lembut Cyra membelai rambut suaminya.


"Mau bicara apa?"


"Soal Davira." jawab Aroon. "Kau tahu kan aku sampai saat ini masih bingung. Menurutmu statusku bersama Davira sudah berakhir bukan karena dulu dia meninggal?"


"Kalau secara hukum negara aku tidak tahu. Begitu juga dengan hatimu." ucapan Cyra seperti menyindir.


"Maksudmu?"


"Aku sempat berpikir beberapa hal karena Davira saat ini masih hidup. Aku merasa menjadi pihak ketiga yang masuk dalam kehidupan kalian. Aku juga berpikir untuk mundur demi kebahagiaan Gio dan kamu."


"Hei, kau ini berkata apa? Aku tidak akan meninggalkanmu walaupun Davira masih hidup."


"Apa kamu masih mencintainya?"


Aroon bangkit dari rebahan. Dia menatap Cyra dengan tatapan mendalam. "Kamu itu berkata apa. Dulu aku akui mencintai Davira. Tapi itu sudah aku tutup dalam - dalam. Dan saat ini aku sangat mencintaimu." Aroon mengecup singkat bibir Cyra.


"Mungkin itu hanya ketakutanku jika kau kembali jatuh cinta dengannya. Aku takut kau meninggalkan ku Aroon. Kau tahu aku begitu mencintaimu." Cyra dengan suara bergetar dan mata berkaca - kaca.


Aroon memeluk Cyra. "Aku juga tidak mau kau meninggalkan aku. Davira hanya bagian dari masa laluku. Kau adalah masa depanku Cyra. Bersama Gio, Arthit dan juga anak - anak kita yang lain." ucap Aroon. "Inilah yang membuat pikiranku menjadi berat, aku takut kamu tidak bisa menerima ini dan meninggalkanku."


Aroon mencium bibir Cyra dalam - dalam. "Please jangan tinggalkan aku." ucapnya di sela - sela ciumannya. "Aku mencintaimu Cyra, sangat mencintaimu." Ciuman Aroon yang begitu mendalam membuat Cyra lupa akan beban pikirannya. Ia mengimbangi permainan suaminya. Ciuman itu turun ke telinga, leher dan bahkan dua bukit kembarnya.


Cyra hanya diam dan menikmati perlakuan suaminya. Dengan sekali tarikan Cyra sudah berada di atas pangkuan Aroon. Ia mulai melepas kaos yang di pakai suaminya. Membalas apa yang sudah suaminya perbuat.


Kegiatan panas itu mereka lakukan hingga mencapai puncaknya. Aroon memindahkan Cyra ke atas tempat tidur. Mereka tidur bersama dalam balutan selimut.


"Jangan tinggalkan aku Cyra, oke." ucap Aroon lagi sambil memeluk istrinya dari belakang. Ia mencium punggung Cyra dengan lembut dan tertidur bersamanya.

__ADS_1


Sementara itu di balik pintu ada seseorang yang menitikkan air mata dan memegangi dadanya. Ia mendengar lenguhan dan ******* mereka berdua. Hal itu membuat hatinya sangat pedih.


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2