My Love Teacher

My Love Teacher
Memaafkan


__ADS_3

"Aaauuww! Kepalaku." keluh Aroon sambil memegangi kepalanya yang terasa berat. "Dimana ini?" gumamnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar. Ia memutuskan untuk keluar kamar. "Oh ternyata aku ada di rumah pertamaku."


Aroon menuju dapur dan mengambil air putih. Kepalanya sudah tidak begitu sakit. Ia berjalan dan mau duduk di Sofa dan dikagetkan dengan seseorang yang sedang tidur di sana.


Ia melihat Cyra yang tertidur pulas. "Heh, dimana saja tidurnya bisa pulas." Aroon tersenyum sambil membetulkan selimutnya.


Merasa ada yang bergarak.membuat Cyra terbangun.


"Tuan?" tanyanya sengan suara aerak.


"Kamu bangum?"


Cyra merubah posisinya menjadi duduk dan memgucek matanya. Ia menguap sebentar.


"Kalau masih ngantuk tidurlah lagi."


Cyra melihat jam di handohonenya. "Sudah jam empat oagi. Lebih baik saya bangun aekalian terua memasak." jawab Cyra. "Oya, Gio tidur di kamar sebelah."


"Oya, pantas aku tidak melihatnya." Aroon beberapa kali masih memegang peluois kepalanya.


"Tuan, masih pusing?"


"Sedikit."


"Sebentar saya buatkan aur madu. Biar awdikut enakan."


Arokn hanya mengangguk saja.


Cyra bergegas pergi ke dapurp. Tak berapa lama ia kembali lagi demgan membawa segelas air madu hangat. "Diminum dulu tuan."


"Terima kasih." Aroon segera meminum air madu itu hingga habis. "Bagaimana aku bisa ada di sini?"


"Semalam tuan mabuk, teriak - teriak memanggil Gio."


"Kenapa tidak membawaku oukang?"


"Tuan sudah tertidur, dan juga mana bisa saya sendirian membawa tuan pulang. Bisa - bisa saya cidera."


"Maksudmu?"]


Cyra menghela naoas. "Tuan pikir, badan tuan itu seringan kapas?" gerutu Cyra. "Badan tuan itu sebesar banteng."


"Menghina atau.memuji?"


"Heheheh.. Memuji tuan."


Terjadi keheningan karena Cyra bingung harus mulai dari mana. Bagaimana tanggapan Aroon jika ia memintanya untuk.berdamai dengan Gio. Dan juga ia sangat penasaran kenapa saat itu Aroon marah sekali.


"Sepertinya kau ingin menanyakan sesuatu?" pertanyaan Aroon yang tiba - tiba memecah keheningan.


"Tuan tahu?"


"Hmmm, terlihat dati raut wajahmu."


"Baiklah karena tuan menanyakan tentu saja saya tidak akan sungkan lagi."


"Kau ingin tanya apa?"


"Kenapa semalam tuan sangat marah?"


"Waktu aku pertama kali datang ke Indonesia, aku tidak memiliki apa - apa. Orang tuaku di thailand sangatlah keras. Ia.mendidik.anaknya untuk berusaha memcari uang sendori. Pernah aku tidak makan seharian dan terkadang hanya satu kali. Pak Uo mu tahu perjuanganku." kenang Aroon. "Jadi aku sangat menghargai makanan yang tuham berikan. Jangan sampai.kita membuang makanan itu. Jadi ketika Gio melakukan itu tentu saja aku sangat marah. Kenapa anakku tidak memghargai makanan. Walauoun aku tahu saat itu ia sedang marah denganku. Tapi membuang makanan bukanlah suatu tindakan hang bagus."


"Iya, Gio.juga sudah memyadati kesalahannha."


f


"Dan kau tahu kedatangan Denisha dinsini juga membuatku sangat pusing. Kau pasti sudah mendengar banyak cerita negqtif tentangnya. Tapi Davira berpesan agar aku membimbingnya." ucap Aroon. "Seharusnya aku tidak marah besar terhadap Gio."


"Iya tuan benar, Gio tidak tahu apa - apa. Dan saya juga merasa bersalah belum bisa menvajarnya tentang kesopanan."


"Aebenarnya aku tadi malam datang ke sini ingin meminta maaf padanya. Kau tahukan betapa menyesalnya aku ketika itu. Dia anakku, satu - satunya hartaku yang paling berharga."


"Semalam Gio juga sudah menyadari kekeliruannya tuan. Dan saya sangat bersyukur karena tuan juga menyesali hal itu. Saya tidak.bisa.mendidik Gio.menjadi anak yang berharga jika.tuan tkdak.mendukung saya."


"Ya aku mengerti. Andai saja ada Davira disini aku tentu tidak akan kesulitan mendidik Gio. Ia pasti akan menjadi anak yang penurut."


"Tuhan sudah menggariskan takdir orang masing - masing. Tinggak kita sebagai umat manusia menjalankannya."


"Yang kamu katakan benar Cyra."


"Saya bersyukur tuan sudah bisa mengerti." Cyra tersenyum sambil beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"mau kemana?"


"Buat sarapan tuan, Gio pasti senang kalau sarapan pagi ini omelet."


Tanpa menunggu lama Cyra segera mencuci muka dan berkutat di dapur, Setelah semuanya selesai ia segera membangunkan Gio.


"Hai jagoanku, kau sudag bangun?"


"Sudah, semalam tidurku nyenyak."


"Syukurlah, ayo kita cuci muka dan gosok gigi dulu." Cyra menarik tangan Gio dan membawanya ke kamar mandi. Setelah selesai Cyra mengajak Gio keluar kamar. "Kita sarapan."


"Bu Cyra masak apa?"


"Omelet."


"Ya, aku suka." teriak Gio melompat senang.


"Tapi tunggu dulu."


"Kenapa?"


"Aku punya kejutan untukmu. Ada diruang tamu."


"Kejutan apa?"


"Lihat saja sendiri.'


Gio dengan antusias berlari menuju ke ruang tamu. Akan tetapi langkahnya terhenti karena sesuatu. Cyra langsung mengerti.


"Tidak apa - apa, aku dibelakangmu."


Gio masih berdiam diri memperhatikan Aroon yang sedang duduk di sofa sibuk dengan ipad di tangannya. Akhirnya Aroon menyadari kedatangan putra semata wayangnya yang ragu mendekatinua.


"Gio, kemarilah nak.?


Gio masih terdiam, ia tampak ragu - ragu.


"Gio ayo kemari."


Gio menggeleng pelan.


Cyra mendekati Gio. :Ayo ke sana, Phoo memanggilmu. Aku akan mendampingimu." dengan perlahan Cyra menuntun Gio mendekati Aroon. Setelah jarak mereka sangat dekat dengan segera Aroon memeluknya.


"Maafkan aku juga Phoo, aku berjanji akan menjadi naka yang baik."


"Tidak nak, Phoo yang salah. Phoo hanya tidak ingin kamu menjadi anak pembangkang. Kau jangan lagi menyia - nyiakan makanan. Banyak orang diluar sana yang tidak makan. Aku ingin kamu menjadi lebih bersyukur."


"Aku berjanjiย  Phoo." Gio memeluk Aroon dengan erat. Suatu pemandangan yang bikin hari. Hingga tanpa terasa mata Cyra berkaca - kaca.


Aroon melepaskan pelukannya dan mencium kening Gio.


"Nah karena tuan dan Gio sudah berbaikan lagi jadi lebih baik kita sarapan bersama."


"Setuju!" teriak Omar dan Olif yang datang dari arahย  belakang. "kami akan ikut sarapan."


"hahahahhh..!" semua tertawa dan menikmati sarapan bersama dengan perasaan bahagia.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


"Maaf tuan, saya menghadap pagi - pagi."


Biantara segera bangun, ia memakai celana dan menyelimuti tubuh seorang wanita disampingnya. "Ada apa?"


"Di perkebunan milik tuan Aroon kedatangan seorang tamu."


"Tamu?"


"Yah benar tuan, seorang wanita yang sama yang pernah saya lihat beberapa tahun lalu bersama dengan tuan."


"Seorang wanita? Aku memiliki banyak wanita Leo."


"Dia adik dari kekasih tuan dulu. Nona Davira."


"Adik Davira, maksudmu Denisha?"


"Ya benar tuan."


"Untuk apa dia kesini?"


"Saya belum mendapatkan informasi yang baru tuan. Tapi kedatangannya menimbulkan kehebohan di perkebunan tuan Aroon. Karena ia sangat arogan."

__ADS_1


"Hahahahh... Kamu benar. Denisha wanita yang arogan dan angkuh. Ia juga berdarah dingin."


"Maksud tuan?"


"Kau tidak berhak mengajukan pertanyaan padaku, Leo."


"Maafkan saya tuan." ucap Leo menunduk.


"Aku maafkan karena kau membawa berita besar untukku. Aku akan punya rekan bisnis yang menguntungkan." terlihat jelas raut bahagia di wajah Biantara. "Pergilah."


"Baik tuan, saya permisi."


Hanya dengan menggunakan celana Biantara segera mengambil handphone miliknya dan berjalan menuju ruang kerjanya. Ia seperti ingin menghubungi seseorang.


"Halo, masih ingat aku sayang?" tanya Biantara dalam percakapannya dengan seseorang.


"Kenapa meneleponku? Bukankah aku bilang jangan menghubungi aku lagi."


'Oh common Denis, jangan menolakku. Kau tahu akibatnya kan."


"Apa maumu?"


"Kenapa kau pulang? Ingin mendapatkan hati Aroon? Atau kau kehabisan uang di Perancis?"


"Bukan urusanmu.! jawab Denisha ketus.


"Hei! Hei! aku yakin kau akan membutuhkan bantuanku."


"Tidak akan."


"Oya kita lihat saja nanti. Sampai kapan kau akan mengacuhkanku. Kau terlalu percaya diri." panggilan di akhiri. Biantara tersenyum smirk. "Kau akan segera menghubungiku Denis. Tunggu saja kehancuranmu Aroon." gumam Biantara.


Sementara itu...


"Dasar brengsek!" umpat Denisha. Ia membanting beberapa barang yang ada di dekatnya.


"Auuww! Tenang nona Denisha sayang. Ada apa?" Billy berusaha menenangkan Denisha.


Setelah puas membanting barang - barangย  Denisha berbaring di atas tempat tidurnya. Pikirannya menerawang jauh. "Kenapa dia ada disini?"


"Siapa nona?" tanya Billy sambil memijat kaki Denisha.


"Kau tidak perlu tahu."


"Baiklah, Billy akan tutup mulut." ucap Billy. "Bagaimana kalau kita jalan - jalan di perkebunan, siapa tahu si keker itu sudah ada disana?"


"Sepertinya idemu bagus juga." Denisha segera merapikan pakaian dan dandanannya. Setelah dirasa pas ia segera dari kamar.


Dengan ditemani ia mencari Aroon dari kamar, ruang kerja, ruang makan ia tetap sama sekali tidak menemukannya. "Billy ini aneh, kenapa mereka tidak ada semua, kemana mereka?"


"Siapa tahu ada di perkebunan?"


"Baiklah ayo kita kesana."


Denisha dengan ditemani Billy mencari keberadaan Aroon di perkebunan, tapi hasilnya juga nihil. Ia kemudian beristirahat di Gazebo. Beberapa pekerja memperhatikannya karena pakaian yang dia pakai sangat kurang pantas.


"Billy setelah ini kau selidiki, kemana mereka semua."


"Baik Nona."


"Ayo kita kembali ke rumah utama. Disini terlalu panas."


"Mari nona." ucap Billy sambil terus memayungi Denisha.


Hampir mereka masuk, Denisha melihat Cyra berjalan menuju ke dapur.


"Hei!" panggilnya. Tapi Cyra tetap sambil lalu. "Hei!" panggilnya lagi dengan suara yang lebih keras dan penuh penekanan.


"Memanggil saya?"


"Ya."


"Nama saya bukan Hei tapi Cyra nona."


"Jangan bgerlagak disini." ancam Denisha. "Dari mana?"


"Saya dari kamar saya nona?"


"Oh sudah punya tempat baru rupanya. Pantas sombong." ucap Denisha. "Dimana kamu tinggal sekarang gembel?"


Cyra hanya diam dia mengeratkan tangannya..

__ADS_1


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


__ADS_2