
Aroon hanya diam dan terus menarik tangan Cyra membawanya kesuatu tempat.
"Tuan lepas!"
Aroon hanya diam dan terus berjalan tanpa memperdulikan teriakan Cyra. Ternyata Aroon membawanya ke rumah pertamanya. Begitu sampai dia langsung melepas tangan Cyra.
"Kau tahu aku tidak suka dengan pria itu tapi kenapa kau malah membawanya kemari!"
"Bukan saya yang membawanya tuan."
"Bohong!"
"Tuan bisa tanyakan sendiri pada mas eh pak Aryo."
"Berani - beraninya dia!"
"Disini dia tidak bersalah tuan, dia datang karena diundang."
"Siapa?!"
"Nona Denisha."
"Jangan menuduh orang lain untuk membenarkan perbuatanmu Cyra." Aroon menunjuk Cyra.
"Tidak tuan, memang itu kenyataannya."
"Itu tidak mungkin, Denisha tidak mengenalnya sama sekali, dari mana dia menghubungi pria itu."
"Saya juga tidak tahu. Tuan bisa menanyakan sendiri hal itu padanya."
"Aku tidak sudi."
Cyra menarik napas panjang. "Kenapa tuan membencinya?" pertanyaan Cyra penuh dengan penegasan.
"Bukan urusanmu!" teriak Aroon.
"Itu menjadi urusan saya, karena dia teman saya!" suara Cyra tak kalah tingginya dengan suara Aroon. Ia betul - betul emosi karena lagi - lagi Aroon bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. "Jawab tuan Aroon!"
Dengan kasar Aroon menarik pinggang Cyra hingga tidak ada jarak diantara mereka. Matanya menatap tajam jauh ke dalam mata Cyra. "Karena kau hanya milkku! Tidak boleh ada orang lain yang dekat dengan dirimu! Mengerti!" dengan gerakan sangat cepat Aroon mencium bibir Cyra.
Cyra meronta - ronta tapi tangan Aroon lebih kuat.
"Apa yang Phoo dan bu Cyra lakukan!" tiba - tiba Gio ada di depan mereka bersama dengan Denisha dan Billy.
Mendengar teriakan Gio,Β Aroon segera melepaskan Cyra dari dekapannya.
"Gio." gumam Cyra lirih. Matanya terbelalak tidak percaya bahwa dengan tiba - tiba Gio sudah berdiri disana. Itu artinya ia melihat Cyra dan ayahnya berciuman. "Ibu bisa jelaskan." Cyra melangkah mencoba menenangkan anak laki - laki itu yang tampak sangat syok melihat mereka.
Gio berjalan mundur seolah tidak mau Cyra mendekatinya. Ia menggeleng - gelengkan kepalanya. "Apa yang ibu lakukan?" tanyanya sekali lagi. Tampak sorot matanya yang bening basah penuh dengan air mata. "Bu Cyra membohongiku."
"Tidak Gio, ibu tidak membohongimu. Kemarilah, ibu akan menjelaskan."
"Tidak! Aku tidak mau dengar!" Gio menjerit menumpahkan kekesalannya.
"Gio! Bersikap sopan pada bu Cyra!" bentak Aroon.
Cyra menarik napas panjang. "Tolong tuan tenang dulu, saya sedang berusaha membujuknya." Cyra memohon agar Aroon lebih bersabar.
"Ibu melanggar perjanjian kita. Ibu berjanji tidak akan merebut Phoo dariku. Tapi ternyata ibu bohong! Ibu sama dengan wanita lain yang hanya ingin mengejar harta Phoo!"
"Tidak Gio, ini tidak seperti yang kau kira." ucap Cyra. 'Aku tidak akan merebut Phoo darimu."
"Kau membuat perjanjian konyol seperti itu dengan anak kecil?!" tanya Aroon penuh emosi.
"Tuan tolong jangan memperkeruh suasana. Nanti akan saya jelaskan. Sekarang biarkan saya menyelesaikan masalah Gio terlebih dahulu."
"Terserah aku tidak habis pikir dengan jalan pemikiranmu. Membuat perjanjian yang sangat tidak masuk akal."
Cyra tidak memperdulikan ucapan Aroon, ia lebih takut dengan penolakan Gio. "Gio kemarilah, ayo dekat dengan ibu. Kita bicara baik - baik."
"Tidak! Aku tidak mau denganmu bu Cyra!" Gio berlari dalam pelukan Denisha. dan dengan penuh kepura - puraan denisha memeluk lembut tubuh mungil Gio.
"Gio, dengarkan dulu bu Cyra." ia pura - pura membujuk.
__ADS_1
"Tidak aunty! aku tidak mau dekat dengannya! Aku tidak mau di ajar lagi olehnya!"
Tanpa terasa air mata Cyra tumpah mendengar penolakan Gio. Entah kenapa rasanya sakit sekali, dadanya terasa sesak. "Kau tidak mau dengan ibu."
"Tidak! Ibu tidak tulus menyayangiku! Semua karena Phoo!"
"Ya tuhan, aku tulus mencintaimu Gio."
"Tidak!" teriak Gio. "Aunty bawa aku kembali ke kamar."
"Baiklah jika itu yang kau minta." Denisha meminta Billy menggendong Gio. "Biarkan dia tenang dulu Cyra, besok kita bicara lagi." ucap denisha dan bergegas meninggalkan Aroon dan Cyra sendiri.
Cyra menutup wajahnya, ia bersimpuh dan menangis se jadi - jadinya. Aroon mendekat ia memegang pundak Cyra berusaha memberikan ketenangan. "Bagaimana kalai Gio tetap menolakku?"
"Jangan berpikiran terlalu jauh."
"Ini semua gara - gara tuan!" Cyra memandang Aroon dengan mata sayu karena basah air mata. Ia seolah - olah tidak percaya perbuatan Aroon berakibat sangat fatal. Dan ia sama sekali tidak membantu atau membelanya.
"Ini sudah terjadi Cyra."
"Harusnya tuan membantu saya untuk membela diri!"
"Gio kalau sedang emosi tidak akan mau mendengar penjelasan dari siapapun. Jadi percuma."
"Itu hanya alasan tuan. Sekarang tuan senang kan Gio marah pada saya!" ucap Cyra. Ia menepis tangan Aroon dan berdiri. "Lebih baik tuan tinggalkan saya sendiri!"
"Kau mengusirku?"
"Terserah tuan mau mengartikan apa. Saya permisi." Cyra berjalan masuk ke dalam kamarnya. Aroon melihat itu dengan tatapan nanar.
ππππ
Cyra berusaha menemui Gio, akan tetapi Gio mengunci diri di dalam kamar belum mau ditemui oleh siapapun. Biasanya jika ada Omar dan Olif Cyra akan meminta bantuan mereka. Tapi hukuman yang diberikan oleh tuan Aroon belum selesai masih ada beberapa hari lagi.
Pagi itu Denisha bermaksud untuk mengambil hati Gio. Ia akan datang sebagai pahlawan kesiangan dimata Gio. Sebenarnya ada maksud terselubung dari Denisha yaitu ingin menambah amarah yanga ada di hati Gio.
Tok! Tok! Tok! "Gio bisa aunty masuk?"
Tidak ada suara dari dalam. Denisha mencoba lagi
Tak lama kemudian anak kecil itu membuka pintu sedikit.
"Ada apa?"
"Boleh aunty masuk? Sebentar saja?"
Gio hanya diam tanpa menjawab tapi dia membuka pintunya menjadi lebih lebar dan itu sebagai tanda bahwa ia mengijinkan Denisha masuk ke dalam.
"Ada apa aunty?" Gio duduk di dekat jendela sambil memandang keluar.
"Kau masih marah pada bu Cyra?"
"Masih."
"Kenapa?"
"Dia berbohong! Dia mau merebut Phoo dariku."
"Hmmm... Aku rasa tidak."
"Darimana aunty tahu ia tidak punya maksud lain terhadap Phoo?"
"Gio. Bagaimana jika mereka ternyata sudah lama saling mencintai? Kasihan kan."
"Jadi bu Cyra dan Phoo sudah menjalin hubungan."
'Bisa saja. Karena sering bertemu dan timbullah rasa saling suka."
"Tapi dia berjanji padaku?"
"Mungkin itu terpaksa dia lakukan agar kamu tidak menyadari kalau mereka ternyata sudah berhubungan. Tujuannya agarΒ dia memiliki kesempatan untuk mengambil hatimu. Dan itu terbukti kan kalau kamu sangat menyukai kehadiran bu Cyra."
"Tidak! Kalau merebut Phoo aku tidak mau melihatnya lagi di sini!"
__ADS_1
Denisha tersenyum bangga dengan hasil kerjanya sendiri. Ia memprovokasi Gio tapi dengan cara yang halus. "Biarkan mereka bahagia Gio."
"Tidak! Tidak akan kubiarkan."
Denisha mendekat dan membelai rambut Gio. "Berpikirlah dengan baik? Kau akan menerima bu Cyra atau tidak. Aku mendukung seratus persen semua keputusanmu." Denisha mengecup pucuk kepala Gio dan meninggalkan anak kecil itu dengan perasaan yang penuh amarah. Denisha menutup pintu, ia tersenyum smirk. "Selamat tinggal Cyra." gumamnya.
Sementara itu..
"Cyra! Cyra!" panggil bik Tika.
Cyra yang sedang di dapur membuat makanan kesukaan Gio tergopoh - gopoh keluar. 'Ada apa bik?"
"Tuan memanggilmu. Sekarang."
"Ada apa?"
"Entahlah. Ada tuan muda juga."
"Benarkah?" Cyra terbelalak tak percaya. Ini kesempatan untuknya. "Baiklah aku akan kesana." Cyra bergegas melepas celemeknya. Dengan setengah berlari ia menuju ke rumah utama. Dan benar saja di sana sudah ada Aroon, Gio dan Denisha. "Tuan memanggil saya?"
"Duduk." perintah Aroon. "Sebenarnya Gio yang menginginkan pertemuan ini. Ada yang mau dia bicarakan."
Cyra tersenyum. "Aku senang sekali kau mau bertemu denganku Gio."
"Tolong panggil aku tuan muda." ucap Gio tanpa mau melihat wajah Cyra.
Cyra terkejut mendengar perkataan Gio. Ia seolah tidak percaya bahwa Gio memperlakukannya seperti pertama kali mereka bertemu.
"Gio!" teriak Aroon.
"Tidak apa - apa tuan. Baiklah saya akan memanggil tuan muda."
Gio tampak terdiam matanya yang bening tampak berkaca - kaca. "Phoo, aku mau sekolah."
"Benarkah?" Aroon seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anaknya. "Dimana kau ingin sekolah? Phoo akan mendaftarkanmu kesana."
"Masih aku pikirkan. Aunty Denisah memberiku banyak sekali pilihan."
"Itu tidak masalah. Kau bebas menentukan mana yang akan kau pilih. Bu Cyra akan membantumu nanti."
"Tidak. Itu tidak perlu." jawab Gio tegas. "Karena aku mau sekolah jadi aku pikir kita tidak perlu menggunakan jasanya lagi."
"Tunggu Gi eh maksudku tuan muda. Kau benar - benar sudah tidak menginginkanku?"
"Ya, karena aku memilih sekolah jadi tenaga bu Cyra sudah tidak aku butuhkan lagi. Bu Cyra bisa kembali ke Surabaya."
"Tunggu. Kau masih membutuhkan bantuannya Gio. Kau masih perlu guru tambahan untuk mengejar ketinggalanmu."
"Aku tidak butuh Phoo. Aku bisa mengejar ketinggalan itu."
"Tidak Gio. Pikirkan dulu." Aroon berusaha memberi saran.
"Aku sudah tidak membutuhkan bu Cyra. Mungkinkah Phoo yang membutuhkannya?" Gio memandang ke arah Aroon.
"Apa yang kau katakan?" tanya Aroon.
"Gio. Ibu mohon. Ibu dan Phoo mu tidak ada hubungan apa - apa. Itu hanya kesalah pahaman saja."
"Aku lebih percaya dengan apa yang aku lihat."
Denisha yang dari tadi diam akhirnya ikut berbicara. "Gio, redakan amarahmu. Jika mereka saling mencintai kamu harus memberinya kesempatan."
"Nona Denisha. Kenapa anda tambah memperkeruh suasana." Cyra berkata dengan nada tinggi. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Denisha.
"Lihat Phoo. Ia bahkan berbicara dengan nada tinggi dengan aunty ku sendiri. Apakah masih pantas menjadi guruku. Aku sudah tidak mau." Gio tetap pada pendiriannya.
Aron bingung harus berkata apalagi. Anaknya itu keras kepala. Ia juga sangat menyesalkan kejadian kemarin yang karena menuruti emosinya malah membuat situasi menjadi rumit seperti ini."
Cyra menghela napas. Sepertinya Gio memamng sudah tidak mau dengannya. Kalau ia lebih lama tinggal disini tentu saja malah membuatnya terkesan membenarkan kalau ia ada hubungan dengan tuan Aroon. "Baiklah. Jika itu yang kamu inginkan Gio. Dari awal niatku hanya bekerja disini bahkan itu masih sama sampai saat ini." ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya. "Aku kan pergi dari sini karena kau sudah tidak membutuhkan jasaku lagi. Aku harap kau selalu menjadi anak yang baik, pintar dan tentu saja rendah hati." Cyra berkata dengan suara bergetar. Ia berusaha tegar dan menahan tangisnya. "Kalau begitu saya akan pamit tuan. Terima kasih sudah memberi kesempatan saya untuk bekerja disini. Dan juga saya minta maaf jika banyak melakukan kesalahan."
Cyra beranjak dari tempat duduknya. Ia menyalami Aroon yang masih bingung dengan situasi ini. Kemudian beralih ke Gio yang sama sekali tidak mau menerima uluran tangan dari Cyra. Cyra hanya tersenyum, ia tahu Gio masih marah. Ia kemudian hanya membelai rambut anak kecil itu. Dan terakhir ia menyalami Denisha.
Cyra segera kembali ke rumah untuk membereskan semua barang - barangnya.
__ADS_1
ππππ