My Love Teacher

My Love Teacher
Apakah Kau Menciumku Cyra


__ADS_3

"Tuan mau pakai shampo yang mana?"


"Terserah kau saja."


"Baiklah saya pakai yang ini." Cyra menunjukkan shampo pilihannya dan Aroon menjawabnya dengan anggukan. Cyra mulai menyalakan shower dan mengatur suhu air. "Apa ini terlalu panas tuan?"


"Tidak, ini pas."


"Baiklah saya teruskan tuan." setelah semua rambut basah Cyra menuangkan shampo ke rambut Aroon. Ia memijit - mijit kepala untuk relaksasi.


Aroon begitu menikmati hingga memejamkan matanya, ia benar - benar merasa relaks dan sangat menyukai pijatan Cyra.


"Tuan."


"Hmm.."


"Rambut tuan sudah agak panjang, apa rambutnya mau saya potong?"


"Kau bisa?"


"Bisa, sedikit. Kalau hanya meratakan saja saya bisa."


"Kau dulu kerja di salon?"


"Tidak tuan. Awal saya bisa memotong rambut dari ayah saya. Dulu kehidupan kami sangat pas - pasan. Pergi ke salon atau tukang cukur saja harus berpikir berulang kali. Akhirnya ayah sering memotong rambut saya sendiri. Dari situ saya melihat dan belajar. Akhirnya saya bisa memotong seperti sekarang ini." Cyra mulai membilas rambut Aroon hingga bersih.


"Baiklah, aku percaya padamu. Potong saja rambutku."


Cyra mengambil handuk dan mulai mengeringkan rambutnya. Ia memapah Aroon keluar dari kamar mandi dan mendudukkannya di sebuah sofa. "Saya siapkan dulu kursi dan guntingnya tuan." Cyra keluar dari kamar Aroon dan lagi - lagi harus meminta bantuan Omar yang saat itu masih menemani Gio bermain.


"Buat apa kursi?" tanya Gio.


"Aku mau memotong rambut ayahmu. Kalau panjang dia akan seperti preman." ucapan Cyra menbuat Gio tertawa.


"Aku mau ikut ke sana."


"Baiklah ayo." Cyra menggandeng tangan Gio menuju ke kamar Aroon.


Billy yang melihat kedekatan mereka sepertinya perlu melaporkan hal itu pada Denisha. "Berani - beraninya gadis udik itu dengan leluasa keluar masuk kamar tuan Aroon." gumamnya geram.


Sesampainya di kamar Aroon, Gio menghambur ke dalam pelukan Aroon. Dengan cepat ia menarik tangan Gio.


"Kenapa?" protesnya


"Ayahmu lukanya masih basah, pelan - pelan saja."


"Baiklah."


"Hei kemari nak, aku tidak apa - apa. Phoo mu ini kuat."


Dengan perlahan Gio memeluk Aroon. "Aku mau membantu bu Cyra memotong rambut Phoo."


"Hati - hati, yang ada nanti rambut phoo jadi gundul." Aroon berusaha melawak.


"Sudah - sudah ayo kita mulai." ucap Cyra. Ia kemudian menutupi tubuh Aroon dengan kain seperti yang ada di salon - salon. Cyra mulai memotong rambut Aroon dengan hati - hati.


"Bu Cyra aku mau coba."


"Iya sebentar." jawab Cyra. "Boleh tuan?"


"Biarkan saja dia."


"Yeayyy." teriak Gio.


"Aku yang memegangi rambut Phoo nanti kamu yang potong, oke?"


"Oke."


Aroon membiarkan Gio memotong rambutnya. Melihat anak itu bahagia itu sudah cukup baginya.


"Nah sudah selesai tuan." ucap Cyra. Ia membersihkan sisa - sisa rambut hingga tidak ada yang menempel lagi. Gio juga sangat puas dengan hasil karyanya.


"Phoo sangat tampan."


"Terima kasih nak. Bukankah Phoo tampan sejak dulu."


"Aku lebih tampan."


"Iya.. iya kamu lebih tampan." Aroon mencium pipi Gio dan bersiap mau menggendong putra semata wayangnya itu.


"Jangan dulu tuan, nanti lukanya berdarah lagi. Tunggu tiga hari lagi."

__ADS_1


"Kau dengan itu Gio, bu Cyra melarangku menggendongmu."


"Tidak apa - apa. Aku tidak keberatan, yang penting Phoo bisa sembuh."


"Gio setelah bu Cyra membereskan disini, kita akan mulai belajar."


"Baiklah aku akan ke ruang belajar bersama Omar dan Olif."


Gio keluar dari kamar Aroon. Cyra segera membersihkan rambut yang terjatuh di lantai hingga bersih. Ia memperhatikan Aroon yang dari tadi menggaruk punggungnya.


"Apa perlu ganti baju tuan? Mungkin gatal karena ada rambut yang menempel di kaos."


"Boleh, ambilkan bajuku di almari."


"Baik." Cyra meletakkkan sapunya dan beralih ke almari baju. Ia membuka pelan - pelan karena ia belum tahu dimana letak baju milik Aroon sedangkan di sana ada banyak almari. "Aaaccchhh!!!" teriaknya. Ia melihat beberapa lingerie yang benar - benar membuatnya miris. Ada hiasan bulu - bulu dan juga berbentuk seperti jaring - jaring.


"Ada apa?"


"Eh.. Nggak tuan."


"Sudah ketemu bajunya?"


"Sssudah." jawab Cyra dan bergegas menutup kembali almari itu. ia mulai membuka lagi almari yang lainnya. Akhirnya ia mengambil sebuah t-shirt untuk tuannya itu. Tanpa sengaja ia menyenggol tumpukan hingga jatuh ke bawah. Lagi - lagi ia di buat terperangah dengan benda itu. Yah ****** ***** milik Aroon. Gila.. ini gila.. ya tuhan mataku ternoda.


Dengan cepat Cyra mengambil dan meletakkan ke tempat semula.


"Ini kaosnya tuan."


"Pakaikan." perintah Aroon.


"Ttapi tangan tuan kan baik - baik saja."


"Buat angkat ke atas terasa sakit Cyra."


"Baiklah."


Dengan tangan sedikit gemetar Cyra membuka baju Aroon. dengan jelas is bisa melihat tubuh kekar itu dari jarak dekat. Ia sempat terdiam melihat tatto yang ada di tubuh Aroon.


"Tidak usah terkesima." ucap Aroon yang tiba - tiba membuyarkan lamunannya.


"Eh.. Hmm." Cyra menjadi salah tingkah. "Sakitkah tuan."


"Awalnya iya. Tapi kalau sudah terbiasa jadi tidak sakit." jawab Aroon.


"Waktu kuliah. Di Thailand seperti ini bukanlah hal yang aneh. Karena ada beberapa dari mereka mentatto tubuhnya sebagai simbol kekuatan, keoercayaan dan pengabdian pada tuhannya."


"Kalau disini terkadang identik dengan preman."


"Hahahahh... sebenarnya tidak juga. Tatto juga dibilang sebagai sebuah seni. Di Jepang banyak juga orang yang mentatto dirinya dengan gambar naga sebagai simbol kekuasaan."


Cyra melihat lebih dekat lagi. "Kalau yang ini gambar apa tuan." tunjuknya pada tatto yang tergambar di dada kirinya.


"Ini namanya tatto Sak yant. Tatto ini ada sejak dari jaman Ayutthaya, yaitu sejak abad ke-14. Sak Yant digunakan oleh para tentara sebagai perlindungan dan kekuatan dalam menghadapi pertempuran. Aku mendapatkan tatto ini setelah kematian Davira. Tujuannya agar aku lebih kuat. Setelah Davira meninggal aku pulang ke kampung halamanku di Thailand. Di sana banyak orang yang menyarankan agar aku membuat tatto seperti ini. Sak Yant ini sangat terkenal, banyak orang yang sengaja datang ke Thailand hanya untuk mendapatkan tato ini. Terlebih pada saat diadakannya festival Wai Kru, sekitar 10.000 orang akan berbondong-bondong datang ke Wat Bang Phra, baik yang ingin ditato, menguatkan kembali tatonya atau sekedar menjadi pengunjung yang ingin menyaksikan acara unik ini."


"Wah sepertinya sangat menarik tuan." ucap Cyra sambil tersenyum. Aroon menatapnya sangat tajam, ia bisa melihat wajah Cyra dari dekat. Dan ada sesuatu yang aneh. Seperti mimpi yang ia dapatkan waktu demam. Ia merasa Cyra sudah menciumnya dengan lembut.


"Tolong kau bersihkan juga bulu yang tumbuh di wajahku."


"Tuan mau bercukur? Tapi tangan tuan tidak kenapa - napa. Seharusnya bisa mencukur sendiri." elak Cyra.


"Aku malas dan juga terasa gatal."


"Heh baiklah." Cyra mulai menggunakan krim cukur dan meoleskannya di wajah Aroon. Dengan perlahan ia mulai mencukur searah tumbuhnya rambut. Antara Aroon dan Cyra tidak ada jarak sama sekali sampai - sampai napas mereka saling beradu. Cyra bisa merasakan hembusan napas yang keluar dari hidung Aroon.


"Cyra."


"Ya tuan."


"Apakah kau pernah menciumku, saat aku demam."


Plethak!!! Cyra menjatuhkan alat cukur karena terkejut dengan pertanyaan Aroon.


"Ttidak tuan.. Saya tttidak berani."


"Benarkah? Kenapa aku seperti tidak asing melihat bibir ini?" tanya Aroon.


Cyra segera mengatupkan bibirnya dan mengambil alat cukur yang terjatuh di lantai. "Saat itu tuan kan demam, orang demam kan biasanya suka mengigau." Cyra berusaha memberikan alasan yang tepat. Ya tuhan jangan biarkan tuan tahu aku menciumnya diam - diam. "Bisa saya teruskan lagi tuan. Karena saya ditunggu Gio untuk belajar."


Aroon mengangguk. Cyra mempercepat kerjanya sehingga bisa segera selesai. Takutnya kalau lebih lama lagi tuan akan melontarkan pertanyaan - pertanyaan yang aneh lagi.


"Sudah tuan." ucap Cyra sambil menyerahkan sebuah kaca. "Sudah bersihkan?"

__ADS_1


"Ya, sudah bersih."


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan." Cyra bergegas meninggalkan kamar Aroon.


Sementara itu Billy sudah melapor semua kejadian yang dia lihat dengan mata kepala sendiri.


"Telepon Bian."


"Jangan nona, mari kita atasi sendiri Cyra ini."


"Tidak, gadis itu terlalu kuat, bahkan lebih kuat dari kakakku." jawab Denisha. "Cepat telepon Bian, aku harus menuntut pertanggung jawabannya. Dia sudah menerima informasi dari kita."


'Baiklah nona." Billy segera menelepon Biantara. "Tidak diangkat nona."


"Ah kau lamban. Sini."


Billy menyerahkan teleponnya pada Denisha. Denisha mencoba menghubungi Biantara.


"Halo sayang."


"Jangan panggil aku sayang." bentak Denisha. "Mana janjimu, aku sudah memberimu informasi yang sangat penting, tapi kenapa gadis itu masih berkeliaran disini."


"Oke.. Oke.. Jangan mendesakku terus Denis."


"Tentu saja ku akan terus mendesak, itu hak ku."


"Baiklah, kau pancing dia keluar dan aku akan segera menyingkirkan gadis iyu."


"Bagus, aku ingin segera!"


Panggilan diakhiri. Denisha membanting handphone Billy ke atas tempat tidur.


"Nona."


"Apa!"


"Tadi aku melihat Syamsudin masuk ke sebuah pintu."


"Aneh pintu yang mana?"


"Akan saya tunjukkan nona."


Denisha mengikuti langkah Billy ke suatu lorong yang terdapat pintu yang baru kali ini Denisha sadari. Awalnya ia mengira itu adalah pintu gudang ternyata itu sebuah pintu menuju ke tempat yang lain.


"Rumah? Rumah siapa ini?"


"Saya juga tidak tahu nona."


'Ayo kita masuk." perintah denisha. Ia berkeliling melihat sekitar rumah itu. "Rumah ini bersih dan juga terdapat bunga segar yang terawat, itu artinya ada yang menempati rumah ini."


"Iya nona benar. Lihat ini tanpa debu sama sekali."


Denisha mulai masuk ke dalam ia membuka kamar dan akhirnya tahu siapa yang sudah tinggal di sana.


"Sialan!"


"Kenapa nona?" Billy menghampiri Denisha.


"Ternyata gadis itu tinggal disini."


"Maksud nona Cyra?"


"Iya dia, siapa lagi." jawab Denisha. "Lihat ini baju - bajunya." denisha memperlihatkan isi almari pada Billy. "Aku ingat sekarang, dulu Davira pernah bercerita bahwa sebelum mereka berdua membangun rumah, Aroon pernah memiliki sebuah rumah. Apakah rumah ini?"


"Mungkin saja nona. Ini rumah yang cukup besar dan bagus."


"Kurang ajar, pantas saja dia berani keluar masuk kamar Aroon, ternyata Aroon memberikan rumah pertama ini untuknya."


"Nona jangan mau kalah, kita harus bertindak cepat."


"Oya Billy, apakah ada orang yang tahu kalau kita disini?"


"Tidak ada nona."


"Bagus." Denisha melepas perhiasannya dan meyerahkannya pada Billy. "Masukkan ke dalam almari Cyra."


"Untuk apa nona?"


"Ini merupakan peringatan untuknya agar jangan berani melawanku. Kita buat dia seolah mencuri perhiasanku."


"Ide yang sangat bagus nona, saya suka sekali."

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2