My Love Teacher

My Love Teacher
Syarat Itu


__ADS_3

"Tidak bisa!!!" jawab seseorang dengan suara keras dari belakang.


Dan itu suara Aroon. Wajah Cyra pucat seketika. Ia tahu suaminya itu pasti sedang marah. Padahal ia sendiri kaget dengan kedatangan Aryo yang tiba - tiba. Siapa yang sudah mengijinkan dia masuk. Ini pasti jebakan agar ia bertengkar dengan Aroon.


Siang itu Cyra berusaha menemui Gio, ia sudah membuat skenario dengan Omar dan Olif. Ia sengaja berdiri di depan pintu kamar Gio, agar pembicaraannya terdengar oleh Gio.


"Selamat sore tuan." sapa Aryo.


"Sore. Apa yang kau lakukan disini?"


"Saya hanya ingin mengunjungi Cyra."


"Siapa yang mengijinkanmu masuk?" tanya Aroon sambil melirik Cyra. Cyra menggeleng - gelengkan kepala.


"Penjaga depan. Mereka bertanya keperluan saya dan terus mengijinkan saya masuk."


Aroon beralih pandangan ke Cyra. Ia menatap dengan tajam. "Kamu." tunjuknya.


"Bukan aku Aroon. Aku nggak tahu apa - apa. Tahu - tahu pak Aryo sudah disini." Cyra berusaha menjelaskan agar tidak terjadi kesalah pahaman. "Kau bisa menanyakan ke penjaga depan."


Aryo tampak kaget kenapa Cyra berbicara dengan Aroon tanpa bahasa yang formal. "Cyra, aku rasa kau harus lebih sopan dengan atasanmu. Kau menggunakan bahasa yang tidak formal." Aryo berusaha memperingatkan karena takut jika Cyra kena marah tuannya.


"Untuk apa dia menggunakan bahasa yang formal denganku. Dia istriku." ucap Aroon dengan nada yang penuh penekanan.


"Istri?" mata Aryo terbelalak tidak percaya. "Cyra kau harus menjelaskan padaku." Aryo menarik tangan Cyra. Cyra berusaha menariknya.


"Lepaskan tangan istriku. Anda sudah bertindak tidak sopan dengan nyonya rumah ini." ucap Aroon.


"Apakah tuan tidak tahu kalau Cyra sudah di jodohkan dengan saya?"


"Kau yakin itu perjodohan?" tanya Aroon


"Bapak saya sudah ke rumah Cyra dan bertemu dengan orang tuanya. Hubungan kami juga baik."


"Pak Aryo." panggil Cyra.


"Kenapa kau memanggiilku pak. Kita seusia Cyra." sahut Aryo jengkel.


"Aku menghormati suamiku, jadi aku memanggilmu dengan sebutan pak." Cyra menjelaskan. "Untuk soal perjodohan aku rasa bapakmu salah paham terhadap kami. Orang tuaku tidak pernah menerima perjodohan ini. Mereka hanya membiarkan kau mengenalku. Untuk urusan suka atau tidak itu terserah dengan aku."


"Oke.. Oke..! Anggap saja orang tuaku salah paham. Tapi aku tanya satu hal, hubungan kita selama ini baikkan? Lancar kan?"


"Hubungan kita memang baik, tapi itu sebagai teman."


"Aku tidak percaya!" Aryo mulai meninggikan nada suaranya.


"Hei! Jaga kata - katamu! Jangan membentak istrku! Jika berani kau akan berhadapan denganku."


Aryo menghela napas. Ia mengacak rambutnya karena frustasi. Aaaarrgghh!!!" teriaknya kesal. Ia tiba - tiba memeluk Cyra. Cyra yang tidak siap karena itu sangatlah tiba - tiba hampir saja terjatuh. Aroon tidak bisa tinggal diam. Ia segera menangkap istrinya dan melayangkan sebuah tinju ke wajag Aryo.


"Anda bisa di tuntut karena memukul aparat!"


"Silahkan kamu buat laporan. Kau juga akan kena karena sudah membuat keonaran di perkebunan ini." ucap Aroon tak mau kalah.


"Sudah Aroon." Cyra berusaha meredam kemarahan suaminya itu. "Dan kau pak Aryo, pulanglah. Pergi dari sini." usir Cyra.


"Tidak sebelum aku mendapatkan jawaban yang pasti darimu."


"Jawaban apa? Aku tidak mengerti.'


"Aku mencintaimu Cyra."


"Maaf, aku tidak mencintaimu." tolak Cyra. "Kita teman yang baik dan tidak lebih dari itu."


Aryo terdiam cukup lama. Badannya lemas, ia terduduk di kursi. Matanya juga memerah. "Aku yakin kau mencintaiku." ucapnya lirih. Aroon hampir saja maju lagi untuk meninju Aryo.


"Kalau aku mencintaimu tentu saja saat ini aku akan menikah denganmu bukan dengan Aroon." Cyra menjelaskan panjang lebar. "Perasaan tidak bisa kita paksakan dan juga tidak bisa memilih di hati siapa kita berlabuh. Aku mencintai suamiku."


Aryo menutup wajahnya dan menangis tersedu.


"Aku yakin kau akan menemukan wanita lain yang lebih hebat dariku."


Setelah meratapi nasibnya, Aryo memilih untuk pulang. "Aku permisi dulu dan aku butuh waktu untuk menyendiri dulu."

__ADS_1


Aryo meninggalkan perkebunan dengan hati yang galau, gundah gulana.


Aroon meninggalkan taman dan berjalan menuju rumah besar. Cyra mengejarnya, memang agak kewalahan karena langkah Aroon yang lebar.


"Aroon.. Aroon.." panggil Cyra berulang kali.


Aroon menghentikan langkahnya dan berbalik. "Tumben tidak panggil tuan. Merasa bersalah atau memang salah." ucapnya. Kemudian ia pergi lagi.


Cyra tidak kehabisan akal, ia berlari dan kemudian menarik tangan Aroon.


"Hei mau dibawa kemana?"


"Ke kamar." jawab Cyra. Ia tidak mau pertengkarannya menjadi konsumsi publik. Hal itu bisa membuat pihak - pihak tertentu tepuk tangan.


Cyra dengan cepat membuka pintu kemudian menutupnya kembali. Itu membuat Aroon menjadi heran.


"Kenapa ke kamar?"


"Aku tidak mau pertengkaran kita menjadi konsumsi publik."


Aroon tersenyum mendengar perkataan Cyra.


"Duduk tuan."


"Kau memanggilku tuan lagi. Jangan membuatku menjadi bingung Cyra." ucap Aroon.


"Dengarkan sa____."


"Sekarang jujurlah padaku, memang kamu kan yang membiarkan pria itu masuk ke perkebunan. Kalau kau jujur aku tidak akan marah." Aroon memotong perkataan Cyra. Itu membuat Cyra menarik napas panjang karena kesal. Suaminya itu menuduhnya sembarangan.


Dengan gerakan cepat Cyra mendorong tubuh Aroon ke sofa.


"Hei!" teriak aroon kaget.


Cyra dengan cepat menekan kedua pundak Aroon dengan kedua tangannya. Tujuaannya agar Aroon tidak pergi kemana - mana dan fokus mendengarkan penjelasannya.


"Dengarkan penjelasanku dulu." ucap Cyra. "Aku tidak menyuruhnya datang ke mari bahkan membiarkan dia masuk. Sekali kamu tidak suka aku tidak akan melakukannya lagi. Aku tahu kau pasti marah, tapi aku berani bersumpah aku sama sekali tidak tahu kedatangannya. Kau bisa tanyakan hal itu pada penjaga di sana." Cyra menatap tajam jauh ke dalam mata Aroon.


"Kamu percaya kan padaku."


"Aaauuww!!! tuan lepas!"


"Hahahahh.. Kau panggil aku tuan lagi. Tapi tidak apa - apa aku suka kau panggil apa saja."


"Tuan lepaskan saya."


"Tidak akan, kalau kau marah sangat menggemaskan."


"Itu karena tuan tidak percaya denganku."


Aroon menarik lagi pinggang Cyra hingga mereka tak berjarak. "Aku cemburu Cyra, apa kau tahu itu." Aroon meletakkan keningnya di lengan Cyra. "Aku cemburu." ucapnya nya lagi. "Apa kau tahu, cemburu itu menguras tenagaku."


"Tuan tidak perlu cemburu. Aku tidak ada hubungan apa - apa dengan Aryo. Aku tidak mencintainya."


"Kalau kau tidak mencintainya, itu artinya kau mencintaiku?"


Cyra terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. "Tuan tolong lepaskan aku." Cyra memohon dengan suara lirih.


Aroon mendongakkan kepalanya dan memandang Cyra dengan tatapan sayu. Perlahan ia mengendurkan tangannya dari pinggang Cyra. "Aku akan ketemu klien." ucapnya.


Cyra beranjak dari pangkuannya. Ia sebenarnya tak enak hati melihat wajah Aroon yang penuh kekecewaan.


"Mungkin aku agak pulang malam. tapi ada Sulaiman yang menemaniku. Tidak usah menungguku pulang." Aroon beranjak dan segera keluar dari kamar.


"Maafkan aku tuan. Aku masih perlu waktu untuk memastikan perasaanku." gumam Cyra. Ia duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya.


🍀🍀🍀🍀


"Bagaimana ini bu Cyra, tuan muda tidak mau makan lagi." keluh Omar.


"Mana Olif?"


"Masih membujuk tuan muda. Ia hanya mau makan tiga sendok saja."

__ADS_1


"Iya juga. Sudah berbagai cara kita gunakan untuk membujuknya. Aku juga sudah kehabisan akal." ucap Cyra. "Aduh kenapa aku jadi bebal begini."


"Kayaknya tuan Aroon harus turun tangan." gumam Omar. Cyra terhenyak mendengar perkataan Omar.


"Yah, kamu benar Omar."


"Maksud bu Cyra?"


"Aroon yang akan membujuk Gio. Suamiku itu pasti bisa membujuk Gio."


"Iya.. Iya.. kita coba saja bu Cyra."


"Baiklah aku akan menemuinya."


Cyra segera pergi meninggalkan Omar. Ia mencari suaminya ke segala penjuru ruangan. Dan ia menemukannya ketika ia sedang berbicara dengan pekerja.


"Aroon." Cyra menghampiri dengan napas terengah - engah. Para pekerja berbisik - bisik sambil tersenyum.


"Xixixiii.. Nyonya sudah kebelet itu." bisik mereka. Walaupun pelan Aroon mendengarnya.


"Kalian bubar dulu. Sudah pahamkan dengan apa yang aku sampaikan tadi."


"Sudah tuan." jawab mereka serempak. Mereka segera meninggalkan Aroon dan Cyra.


"Ada apa?"


"Aku mau bicara padamu."


"Tentang?"


"Tentang Gio."


"Kita kesana." tunjuk Aroon pada sebuah bangku. Cyra segera mengikuti langkah suaminya. Ia sangat antusias pagi ini. "Bicaralah."


"Hmmm... Aku mau minta bantuan."


"Bantuanku? Apa ada hubungannya dengan Gio?"


"Iya kamu benar." jawab Cyra. "Kau tahu kan akhir - akhir ini Gio sulit makannya dan aku harus menggunakan berbagai cara untuk membujuknya."


"Termasuk berkuda kemarin?"


"Iya betul. Dan entah kenapa hari ini aku sudah kehabisan akal."


"Itu karena kau sering berkumpul bersama Omar. Hahahahhh.."


Cyra cemberut. "Huh, mau bantu tidak?"


"Iya aku bantu."


"Terima kasih. Nanti kamu setiap pagi harus membujuknya untuk makan dan juga belajar. Ingat masa - masa seperti ini penting untuk pembentukan karakter anak. Kita sebagai orang tua harus sering memberinya perhatian."


"Iya bu guru." goda Aroon. "Semua akan aku laksanakan, tapi ada syaratnya."


"Loh, syarat apa? Ini kan menyangkut anak."


"Kalau dengan Gio tidak, tapi kalau dengan kamu ada syaratnya."


"Memangnya apa syaratnya?"


Aroon terdiam, ia tampak memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian ia tersenyum. "One hug, one kiss, every day."


"Apa?!" Cyra berteriak kaget. "Nggak ah, syaratnya berat."


"Ya sudah, kamu bujuk sendiri Gio."


"Tapi dia kan anak kita."


"Ia dia anak kita, dan kamu istriku. Yang aku minta itu tidak sulit mengingat kita suami istri." ucap Aroon. "Yah itu syarat dariku kalau keberatan aku juga tidak apa - apa. Tapi ya kamu harus bujuk Gio sendiri."


Cyra terdiam, syarat itu memang mudah tapi juga berat. Aduh aku bingung pikir Cyra bimbang. Tapi Gio lebih penting pikirnya kemudia. "Baiklah aku terima syarat itu." ucap Cyra.


"Bagus. It's my wife. Hahahhhh.." Aroon tertawa penuh kemenangan. Berbeda dengan wajah Cyra yang sangat tertekan."

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2