My Love Teacher

My Love Teacher
Berani Kau Syamsudin


__ADS_3

"Kamu sudah tidak bekerja di sana lagi? Apa yang terjadi Cyra?"


Cyra menghela napas. "Panjang ceritanya."


"Apa kamu sudah siap bercerita dengan kami. Kalau belum, kami tidak akan memaksa." ucap ayah.


"Pak Uo mu tahu?" tanya ibu. Tersirat rasa prihatin di wajahnya.


"Iya."


"Syam pasti tahu dong bu. Yang membawa Cyra ke sini kan juga Syam."


"Jadi awalnya begini. Tuan salah paham terhadapku karena kedatangan Aryo ke perkebunan."


"Nak Aryo datang ke perkebunan?"


"Ya bu. Dia di pindah tugaskan ke Tangerang jadi dia mampir." jawab Cyra.


"Kok ibu baru tahu ya."


"Bu.. Penjelaaan Cyra jangan di potong dulu. Kita dengarkan sampai selesai." ayah memperingatkan ibu.


"Iya.. Iya.." ibu terlihat sangat kesal. Rasa ingin tahunya mengalahkan segalanya.


"Teruskan Cyra."


"Baik ayah. Tuan Aroon tidak suka dengan kehadiran Aryo jadi dia memperingatkanku bahwa orang di luar perkebunan jika masuk harus ijin tuan terlebih dahulu." Cyra berhenti sebentar. "Entah bagaimana ceritanya ketika ada acara makan malam Aryo bisa datang. Tuan salah paham padaku mengira bahwa aku yang mengundangnya."


"Lah memang siapa yang mengundangnya?" ibu lagi - lagi menyela membuat ayah kesal.


"Bu!" tegur ayah.


"Tidak apa - apa ayah." Cyra berusaha membuat suasana menjadi tidak tambah panas. "Yang menelepon adalah nona Denisha. Jadi nona Denisha ini adalah adik dari almarhum istri tuan Aroon."


"Oh.. Ya.. Ya.." ibu manggut - manggut.


"Nah saat itu tuan marah besar dan membawaku keluar dari acara makan malam. Kami berdebat hingga____."


"Hingga apa?" tanya ayah dan ibu bersamaan.


"Hingga tuan menciumku." jawab Cyra.


"Kok bisa? Apa hubungannya marah dengan mencium? Tak paham aku dengan jalan pemikirannya tuan Aroon. Maklum orang kaya." ucap ibu.


"Bisa. Dan aku paham."


"Paham bagaimana maksud ayah?" tanya ibu


"Bu, aku ini seorang pria. Jadi aku tahu dengan apa yang terjadi di dalam hati tuan Aroon."


"Memang apa?"


"Cemburu."


"Nggak mungkin ayah. Tuan itu sangat mencintai istrinya." Cyra memyangkal pernyataan ayah.


"Itu dulu Cyra. Hati orang tidak ada yang bisa menebak."


"Aduh aku jadi semakin tidak mengerti." ibu mengeleng - gelengkan kepala. "Sudah lanjutkan saja ceritamu."


"Baiklah. Jadi kejadian tuan menciumku di lihat oleh Gio. Padahal aku sudah berjanji pada Gio tidak akan berusaha merebut perhatian ayahnya."


"Lah kamu kan memang tidak merebut perhatian ayahnya. Dia sendiri kan yang memaksa menciummu."

__ADS_1


"Gio masih kecil bu. Dia masih polos yang dia tahu kami berciuman. Dan itu tanda bahwa kami saling mencintai. Tapi tidak seperti itu ceritanya." jelas Cyra. "Setelah melihat itu Gio sama sekali tidak mau bertemu denganku. Bahkan ia memutuskan untuk masuk aekolah dan tidak membutuhkan jasaku lagi. Sesuai dengan perjanjian awal jika Gio sudah tidak membutuhkan aku lagi. Maka aku akan keluar."


"Kenapa juga kau membuat perjanjian seperti itu. Cinta itu datang di saat yang tak terduga." ibu kelihatan sewot.


"Padahal sebenarnya Gio itu anak yang menyenangkan. Sungguh sangat di sayangkan." ucap ayah sambil.menyeruput kopi di depannya.


"Tapi yang ibu heran. Tuan Aroon itu memecatmu atau tidak?"


"Ya, dia tidak memgatakan apa - apa. Sikap diamnya itu aku artikan sebagai persetujuan atas permintaan Gio. Apalagi dia anaknya, apalah arti diriku."


"Siapa tahu saja tuan Aroon baru memikirkan solusi."


"Nggak mungkin lah bu."


Mereka bertiga terdiam sejenak.


"Ya sudahlah. Mungkin tidak bekerja di sana adalah jalan yang terbaik. Ayah yakin ada sesuatu dibalik ini semua. Ayah lebih memilih kau keluar dari pada harus di sakiti terus menerus."


"Iya ayah."


"Cyra."


"Ya bu."


"Ibu mau bertanya. Apa kamu cinta dengan tuan Aroon."


Cyra tampak terkejut dengan pertanyaan ibu. Tapi segera ia sembunyikan. "Cinta? Hahahahh... Enggaklah bu."


"Sedikitpun tidak ada." desak ibu penuh selidik.


"Aku.. Aku.. Cuma kagum saja. Tuan itu seorang pekerja keras, bertanggung jawab walaupun terkadang menyebalkan. Keras kepala."


"Kami berdua mendukung semua keputusanmu Cyra. Jadi kau akan ikut kami pulang?"


"Eh ayah ini. Kenapa ngomongin pulang. Kita belum jalan - jalan."


"Iya maksudku juga begitu bu. Kita jalan - jalan disini dulu terus pulangnya sama - sama."


"Ayah dan ibu sebaiknya istirahat dulu. Besok baru kita jalan - jalan."


🍀🍀🍀🍀


Pesawat yang ditumpangi Aroon mendarat dengan sempurna di bandara internasional Juanda. Ia baru sampai sore hari.


Ia berjalan dengan cepat dan segera masuk ke dalam taksi. Ia lakukan semuanya dengan cepat karena ia harus segera meluruskan sesuatu dengan Cyra.


Hatinya sangat tidak tenang sebelum bertemu dengan gadis itu. Sejak sepeninggal Cyra, ia sering bertengkar dengan Gio.


"Stop di sini pak."


"Baik tuan."


Aroon memberi beberapa lembar uang. Ia segera mengambil koper dan membawanya masuk ke dalam halaman rumah Cyra. Berulang kali ia menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan - pelan.


Tok!Tok! Tok!


"Permisi." ucap Aroon. Tapi sama sekali tidak ada tanggapan. Ia kembali mengetuk pintu berulang kali. "Permisi." kali ini suaranya lebih keras.


Sepi.. Pikir Aroon.


"Tuan Aroon ya?"


Aroon menoleh. "Ya betul." jawabnya pada seorang ibu yang bertubuh gemuk. Aroon ingat ibu itu pernah ikut foto dengannya. Dia tetangga di belakang rumah Cyra.

__ADS_1


"Nyari pak Kusno?"


"Pak Kusno?"


"Ayahnya Cyra."


"Ah ya benar."


"Mereka pergi ke Bogor tuan. Katanya mau ketemu Cyra. Liburan lah istilahnya."


"Liburan ke Bogor? Ketemu cyra?"


"Iya tuan. Tadi pagi berangkat naik kereta."


Aroon melihat ke arah jam tangan. Pasti mereka sudah sampai di Bogor pikir Aroon.


"Hmmm.. Kalau mereka ketemu Cyra itu artinya Cyra tidak pulang?"


"Ya tidak to tuan. Dia kan bekerja lama di Bogor."


Aroon tampak geram. Ia berusaha menahan emosinya. Ia mengepalkan tangannya. Kau menipuku Syam.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi."


"Silahkan tuan."


Aroon segera memesan taksi untuk menjemputnya. Ia berusaha memesan tiket pesawat untuk kembali ke Bogor tapi sepertinya ia harus menelan pil pahit karena yang ada penerbangan untuk besok. Terpaksa ia tidur di hotel.


Setelah membersihkan diri dan berusaha bersikap tenang, Aroon menghubungi Syamsudin.


"Selamat malam tuan."


"Kau menipuku Syam."


"Maafkan saya tuan." ucap Syamsudin. Ia sepertinya sudah siap menerima amukan dari Aroon.


"Dimana dia?"


"Siapa tuan?" Syamsudin pura - pura tidak tahu.


"Cyra, keponakanmu."


"Dia ada di tempat yang aman."


"Syam, kau orang kepercayaanku. Kita sudah melalui banyak hal bersama, dari kesedihan, bahagia dan kerja keras." ucap Aroon. "Sekarang aku tanya sekali lagi. Dimana Cyra?" Aroon masih berusaha menahan emosinya.


"Saya sudah tahu semuanya. Termasuk penculikan itu tuan." ucap Syamsudin dengan suara bergetar.


"Kau tahu." ucap Aroon lirih.


"Ya saya tahu. Saya hanya ingin melindungi keponakan saya. Saya tidak ingin dia selalu mendapatkan masalah ketika bekerja di perkebunan. Nona Denisha selalu mencari masalah dengannya."


"Oke. Aku tahu kau ingin melindungi keponakanmu. Aku hargai itu. Tapi aku mohon beri aku kesempatan bertemu dengan keponakanmu itu. Banyak yang harus aku jelaskan."


Syamsudin kembali terdiam.


"Syam. Aku janji setelah bertemu aku tidak akan mengganggunya lagi."


Syamsudin sama sekali tidak menjawab permintaan tuannya. Ia.berpikir baik dan buruknya. Setelah terjadi pergolakan di dalam batinnya akhirnya ia memutuskan memberitahu Aroon. "Ia ada di rumah lama saya."


"Baiklah. Aku akan pulang besok. Terima kasih sudah memberiku kesempatan."


Panggilan di akhiri. Tampak seulas senyum di sudut bibir Aroon. "Kita akan bertemu besok Cyra." gumamnya. Malam ini ia bisa tertidur dengan pulas.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2