My Love Teacher

My Love Teacher
Mulai Luluh


__ADS_3

Pagi itu Aroon mandi dengan suasana gembira karena ia akan menerima pelukan dan ciuman dari istrinya. Yah walaupun harus menggunakan nama Gio untuk mendapatkan kesenangan itu.


Sementara itu Cyra tampak mondar - mandir di dalam kamar. Ia menunggu Aroon keluar dari kamar mandi. Karena sesuai perjanjian pelukan dan ciuman itu di lakukan pagi hari sebelum Aroon berangkat bekerja.


"Gugup?" perkataan Aroon mengagetkan Cyra


"Eh tuan." Cyra menghentikan langkahnya dan memilih duduk di sofa.


"Kapan kau tidak memanggilku tuan lagi. Ayolah Cyra. Itu.. itu seperti atasan dan bawahan."


"Iya.. Iya aku akan mencoba. Tapi setiap yang keluar dari mulut ku cuma panggilan tuan."


"Biasakan dong."


"Baiklah akan aku coba, Aroon."


"Bagus." ucap Aroon. "Mana pakaianku?"


"Itu sudah aku siapkan di sana."


"Tolong ambilkan, aku baru mengeringkan rambut."


Cyra beranjak dari duduknya dan mengambulkan pakaian untuk Aroon. "Nih."


"Pegang dulu. Rambutku belum kering."


Cyra berdiri di belakang Aroon. Tak lama kemudian Aroon meletakkan handuk dan berbalik. Mereka saling berhadapan. Aroon mengambil baju dari tangan Cyra dan memakainya.


"Tolong kancingkan." Aroon meminta Cyra mengancingkan bajunya. Cyra segera mengerjakan perintah dari suaminya itu. Dan tiba - tiba saja. Aroon menarik pinggangnya ke dalam pelukannya.


"Aaacchh!!! Aroon." teriak Cyra kaget.


"Kapan kau akan memelukku?"


"Sssebentar lagi."


"Wajahmu merah, kau malu?"


"Tentu saja. Ini pengalaman pertama aku berinteraksi begitu dekat dengan seorang pria."


"Aku akan mengajarimu jika kau tidak keberatan." Aroon memeluk tubuh Cyra dengan perlahan dan penuh kelembutan. "Tubuhmu jangan kaku. Rileks saja."


Gimana mau rileks. Ini pelukan darimu tuan, aku begitu gugup ucap Cyra dalam hati. Ia berusaha rileks dengan menarik napas panjang dan mengeluarkannya pelan - pelan.


"Nah ini kamu lebih rileks." bisik Aroon. "Kau bisa memejamkan matamu dan rasakan saja pelukanku." perintahnya.


Cyra memejamkan matanya dan benar saja ia lebih bisa merasakan pelukan hangat dari Aroon. Ia merasa terlindungi oleh tubuh kekar milik Aroon.


"Sekarang kau bisa membalas pelukanku."


"Apa?" ucap Cyra kaget.


"Kau bisa mulai membalas pelukanku. Lakukan seperti yang kulakukan padamu."


"Bbbaik." Dengan perlahan ia membalas pelukan Aroon. Kedua tangannya berada di punggung Aroon. Kedua tangannya bisa merasakan betapa keras dan liatnya tubuh suaminya itu. Cyra kembali memejamkan mata, ia benar - benar merasakan sensasi yang berbeda. Tubuhnya menjadi hangat. Perlahan Cyra membelai punggung Aroon dan mempererat pelukannya.


"Bagaimana? Enakkan berpelukan?"


Ucapan Aroon seolah menyadarkannya dari rasa nyaman yang penuh kehangatan. Aroon melepas pelukannya, dan ada rasa kecewa di hati Cyra. Kenapa cuma sebentar.


Maaf Cyra aku sudah tidak bisa menahan lagi. Jika tidak aku lepas aku takut akan lepas kendali. Aku tidak mau memaksamu, aku ingin kau dengan suka rela menyerahkan dirimu padaku ucap Aroon dalam hati. Ia berulang kali menarik napas untuk membuat sesuatu yang di bawah sana tertidur kembali.


"Aroon."


"Hmmm."


"Kkau mau di cium di mana?"


"Bibir. Boleh?"


"Bbi.. Bbi.. Bbisakah yang lain dulu. Aak.. Aaku belum siap." jawab Cyra terbata - bata.


"Baiklah."


Cup.. Aroon mencium kening Cyra. "Aku ke kamar Gio dulu." pamitnya.


"Eh, iya." balas Cyra.


Aroon takut jika terlalu lama berdua dengan Cyra, ia akan meminta lebih. Cyra memandang suaminya yang pergi keluar kamar. Ia betul - betul menjagaku pikirnya dalam hati.


Aroon menuju ke kamar Gio. Omar dan Olif mempersilahkannya masuk.


"Phoo." Gio tampak terkejut dengan kedatangan Aroon.

__ADS_1


"Sedang apa boy?" tanyanya sambil duduk di tepi tempat tidur.


"Aku sedang membaca."


"Sudah sarapan?"


Gio menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Tidak selera."


"Hmmm bagaimana dengan telur masakan bu Cyra."


"Sekarang aku tidak suka telur." jawab Gio ketus.


"Baiklah, apa yang ingin kau makan. Phoo akan memasak untukmu.


"Benarkah?"


Aroon mengangguk.


"Hmm bagaimana kalau nasi goreng?"


"Boleh, tapi kau harus membantuku memasak."


"Iya, aku mau." sorak Gio kegirangan. Dengan satu tangan Aroon menggendong dan membawa Gio ke dapur. Mereka memasak bersama dan terkadang di selingi dengan gurauan.


"Yeeaayy.. Nasi gorengnya sudah jadi." teriak Gio.


"Ayo kita bawa ke maja makan."


Gio terdiam, ia langsung berubah sikap.


"Kenapa? Tidak mau satu meja dengan bu Cyra."


Gio kembali terdiam.


"Phoo pastikan tidak ada bu Cyra di sana. Ia tahu kalau kau tidak mau bertemu dengannya."


"Baiklah aku mau ke meja makan."


Mereka berdua jalan beriringan. Gio terlihat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama dengan Aroon. Menikmati nasi goreng bersama walau rasanya agak keasinan.


"Benarkah?"


"Benar, Phoo akan belajar memasak lagi. Ternyata kau menyukai masakan Phoo walau keasinan."


"Tidak masalah, aku menyukainya asalkan itu masakan Phoo tetap aku makan."


"Gio."


"Bisa Phoo bicara serius denganmu. Ini pembicaraan antar pria."


"Bisa, tentu saja bisa." jawab Gio antusias


Benar juga yang dikatakan Cyra, Gio suka dengan tantangan, suka dengan teka teki yang membuatnya penasaran pikir Aroon. "Kau dulu sangat menyukai bu Cyra, tapi kenapa sekarang tidak. Bisa Phoo tahu alasannya?"


"Dia merebut Phoo dariku." jawab Gio kesal.


"Merebut? Merebut apa?"


"Banyak, perhatian, waktu, cinta dan juga kasih sayang."


"Siapa yang mengatakan itu padamu?"


"Banyak. Ada aunty, ada Billy."


"Mereka mengatakan itu padamu?"


"Iya. Tidak boleh ada orang yang menggantikan Mae Davira dan aku di hati Phoo."


"Hahahahhh..." Aroon tertawa. Gio melihat dengan rasa heran. "Gio dengarkan Phoo." ucap Aroon. "Kamu masih belum mengerti tentang semua ini. Tidak akan ada orang yang bisa menggantikan Mae Davira dan kamu di hati Phoo. Kalian adalah harta paling berharga yang Phoo punya." Aroon membelai lembut kepala Gio. "Apakah pernah Phoo tidak memperhatikanmu, justru bu Cyra yang menyadarkan Phoo untuk selalu dekat denganmu. Kau pasti bisa merasakan perbedaannya. Sejak bu Cyra datang pertama kali ke perkebunan, Phoo menjadi lebih perhatian denganmu bukan?"


Gio terdiam, ia tampaknya menelaah apa yang dikatakan oleh Aroon karena ia anak yang cerdas. "Tapi Phoo mencintai wanita lain."


"Gio, Mae Davira sudah meninggal. Phoo akan selalu mencintainya dan menaruhnya di hati Phoo." Aroon menepuk - nepuk dadanya. "Tapi Phoo adalah manusia yang juga memiliki cinta. Phoo jatuh cinta dengan bu Cyra karena dia wanita pertama yang sabar dan bisa menghadapimu. Dia banyak mengajarkan arti cinta dan perhatian pada Phoo. Jadi kau tahu kan alasan Phoo menikahi bu Cyra."


Gio mengangguk.


"Phoo harap kau bisa melihat kebaikan - kebaikan bu Cyra selama ini. Jangan hanya karena hasutan orang lain kau jadi membencinya." Aroon memeluk putra semata wayangnya itu. "Ingat Phoo sangat mencintaimu."


"Terima kasih Phoo." Gio menangis dalam pelukan Aroon. Aroon tahu apa yang dirasakan oleh anak laki - lakinya itu. Sejatinya ia sangat mencintai Cyra hanya saja egonya yang tinggi mengalahkan segalanya.

__ADS_1


"Belajarlah yang rajin. Phoo akan bekerja di perkebunan." pamit Aroon. "Ingat besok kita memasak lagi, pikirkanlah menu apa yang ingin kau makan, oke?"


"Oke." Gio tersenyum bahagia. Ia kembali ke kamar bersama dengan Omar dan Olif.


"Tuan muda?"


"Apa?"


"Tadi bu Cyra bilang mau memandikan kelinci. Mungkin tuan muda mau ikut."


"Boleh." jawab Gio singkat.


"Yess." teriak mereka berdua. "Tuan muda luluh juga."


🍀🍀🍀🍀


Denisha mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Itu membuat Billy pucat pasi dan menjerit ketakutan.


"Nona! Hentikan nona! Saya takut!!!" jerit Billy.


"Diam kau Billy!! Atau kau kulempar keluar!!"


"Jangannn!!!" Billy kembali histeris.


"Sial!! Kenapa rencana kita gagal terus!"


"Sabar nona. Keberuntungan belum berpihak pada kita."


"Kapan?! Kapan?! Keberuntungan itu akan datang! Siiiaallll!!!" Denisha beteriak - teriak tak karuan. Tangannya mulai gemetar. Tubuhnya mengejang.


"Nona! Nona! Apa yang terjadi padamu!"


Denisha diam. Matanya melotot dan tangannya menjadi kaku tidak bisa lepas dari setir nya. "Ambulkan obat penenangku! Cepat!"


Billy segera menggeledah tas Denisha dan ia menenukan botol kaca warna kuning yang berisi obat penenang. "Anda minum ini?" tanya Billy tak percaya.


"Sudah! Jangan banyak tanya! Berikan padaku."


Billy segera membuka tutup botol. Tangannya tampak gemetar karena takut. Setelah meminum obat itu Denisha berangsur - angsur membaik. Ia bisa kembali fokur menyetir dan tidak kaku seperti tadi. "Sudah berapa lama anda mengkonsumsi itu?"


"Sejak kakakku pacaran dengan Davira. Aku tidak bisa mengontrol emosiku dan dokter memberiku obat penenang."


"Tolong kurangi nona. Ini obat berbahaya jika di gunakan jangka panjang." ucap Billy. "Kita ke psikiater saja, bagaimana?"


"Kau kira aku ini gila!"


"Bukan.. Bukan seperti itu. Psikiater itu bisa menyelesaikan masalah anda. Dan aku jamin anda bisa lebih tenang dan nyenyak tidurnya."


"Tidak perlu mengguruiku. Aku tahu apa yang gterbaik untuk diriku." ucap Denisha kesal.


Billy seolah tahu bahwa nona nya itu kesal, ia berusaha mengalihkan pembicaraan. "Kita mau kemana?"


"Jalan - jalan." jawab Denisha singkat. Mereka berdua menuju ke pusat perbelanjaan. Setelah puas berbelanja Denisha dan Billy duduk santai di cafe. Billy memesan dua kopi expresso, akan tetapi ada hal yang menarik perhatiannya.


"Nona.. Nona.. lihat itu siapa?" tunjuk Billy.


Denisha melihat dua orang laki - laki juga sedang menukmati kopi di situ. Itu adalah Jono anak bik Tika bersama Fahri.


Billy berusaha mencuri dengar pembicaraan mereka.


"Habis ini kita kemana?" tanya Jono


"Tadi nyonya Cyra minta dibelikan burung parkit."


"Buat apa?"


"Katanya sih buat tuan muda."


"Kenapa nggak anjing saja. Kan lebih lucu." saran Jono.


'Ehh jangan bawa - bawa anjing ke perkebunan ya."


"Lah memang kenapa?"


"Kau tidak tahu kalau nyonya Cyra trauma terhadap anjing."


"Kok bisa. Anjing itu kan lucu."


"Entahlah aku tidak tahu persisnya, yang aku tahu dulu waktu kecil temannya nyonya digigit anjing hingga meninggal. Oleh sebab itu tuan marah besar apabila ada anjing di perkebunan."


"Oh, pantas saja ada pekerja yang kena marah karena tidak sengaja anjingnya ke bawa di perkebunan."


Billy tersenyum penuh arti. Mampus kau Cyra ancamnya dalam hati.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2