My Love Teacher

My Love Teacher
Kau Pamer Padaku


__ADS_3

Setelah kejadian yang bisa di bilang sangat lucu, akhirnya Cyra bisa kembali lagi mengajar Gio. Denisha terus merengek pada Aroon karena ketakutan. Tapi Aroon bersikukuh bahwa tidak ada hantu dan pak Cokro itu meninggalnya sudah lama sekitar dua tahun yang lalu. Jadi tidak mungkin gentayangan.


Merasa seperti ada yang sengaja membuatnya takut membuat DenishaΒ  pergi liburan ke Bali untuk menenangkan diri akibat kejadian hantu jadi - jadian bikinan Omar. Ia perlu pikiran yang jernih untuk menyusun strategi.


Sore itu Gio berada di rumah bersama Cyra, ia berencana untuk tidur di sana dan Aroon juga mengijinkannya.


"Aku senang ibu bisa mengajarku lagi."


"Kenapa?"


"Aunty Denis tidak bisa menjawab semua pertanyaan dariku."


"Itu karena aunty bukan seorang guru, tapi seorang model."


"Terus kenapa Phoo menyuruhnya untuk mengajarku kalau ternyata dia bodoh."


"Jangan seperti itu Gio, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Aunty Denisha kan pintar beberapa bahasa. Dan ayahmu sendiri sudah mengakui kepintarannya."


Gio memeluk Cyra. "Aku tidak peduli dengan apapun, aku mau ibu yang mangajariku mengenal semua yang ada di dunia ini."


Cyra membalas pelukan Gio dengan penuh kehangatan.


"Mau makan apa buat nanti malam?" tanya Cyra.


"Hmm, bagaimana kalau telur dadar spesial buatan ibu."


"Kenapa telur terus? Bagaimana kalau menunya kita ganti dengan Ayam?"


"Dibuat apa?"


"Sudah kamu tunggu saja di sini pasti enak."


"Baiklah."


Cyra segera pergi ke dapur dan mulai berkutat membuat masakan berbahan dasar Ayam. Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit jadilah sebuah masakan spesial bua Gio.


"Apa ini?"


"Chicken Katsu isi keju mozarella." ucap Cyra. "Ayo makan, aku jamin kau pasti suka."


Gio mulai mencoba sesuap dan "Hmmmm.. enak." pujinya. "Aku suka."


"Makanlah yang banyak. Habis itu ibu akan menceritakan sebuah cerita yang pasti kamu suka."


Setelah makan malam dengan masakan berbeda. Cyra duduk di sebuah sofa panjang. "Duduklah disini."


Gio naik ke pangkuan Cyra. "Cerita apa?"


"Ini mengenai masa kecil Albert Einstein, seorang anak yang dulu tidak mau bersekolah tapi karena ketekunan, kasih sayang dan perjuangan orang tuanya ia bisa menjadi anak yang jenuis."


"Aku mau seperti itu."


"Baiklah, kamu dengarkan cerita ibu." Gio bersandar pada Cyra dengan penuh kelembutan Cyra mulai bercerita, bahkan terkadang ia membelai rambut Gio. Tak berapa lama Gio tertidur dan Cyra juga mengantuk. Mereka berdua tidur di sofa.


Seorang pria mendekati mereka. Dengan perlahan menggendong Gio dan memindahkannya di kamar. Tak lama kemudian pria itu memandangi Cyra.


"Setelah sekian lama akhirnya aku melihatmu lagi. Aku merindukanmu Cyra." gumam Aroon. Dengan perlahan Aroon menggendong Cyra dan membawanya masuk ke dalam kamar. Meletakkan tubuhnya dan menyelimutinya.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Pagi itu Cyra terbangun dengan perasaan tidak percaya, sepertinya tadi malam ia dan Gio tertidur di sofa kenapa sekarang bisa pindah di kamar. Apa mungkin dia lupa kalau sudah pindah ke kamar sendiri karena tubuhnya sangat lelah.


Cyra turun dari tempat tidurnya segera mandi dan membuat sarapan untuk Gio. Ia membuat sandwich telur dengan mayonise kesukaan Gio. Cyra membangunkan Gio, menunggunya mandi dan kemudian sarapan bersama.


"Bu Cyra! Tuan Muda! Nenek sihir itu sudah kembali!" Omar berteriak dan lari tergopoh - gopoh.


"Nenek Sihir? Siapa?" tanya Cyra.


Omar mengatur napasnya sebelum menjawab pertanyaan Cyra. "Itu.. itu.. nona Denisha."


"Oh nona Denisha aku kira siapa?"


"Bu Cyra tidak terkejut?"


"Buat apa terkejut?"


"Kan dia kembali."


"Omar.. Omar.. Kamu itu lucu. Dia kan bagian dari keluarga ini. Kalau tidak kembali ke sini terus kemana dia akan tinggal."


"Oh, benar juga." Omar menggaruk kepalanya walaupun tidak gatal.


"Ayo kita sambut dia." Cyra menggandeng tangan Gio dan melewati Omar yang masih kebingungan.


Gio dengan tertawa berbisik lirih pada Omar. "Dasar bodoh." cibirnya.


"Saya tidak bodoh tuan muda, hanya belum mengerti."


"Itu sama saja."


Sementara itu...


"Huh akhirnya kita kembali ke sini."


"Iya nona, kita harus lebih waspada agar jangan sampai mereka punya kesempatan menyingkirkan kita." ucap Billy.

__ADS_1


"Kau yang haru waspada tolol. Ingat ini semua terjadi karena ketololanmu, kau penakut."


"Maaf nona, Billy janji akan lebih berhati - hati dengan jebakan mereka."


"Ya sudah ayo kita masuk, tuh Aroon sudah berjalan ke arah sini."


Billy keluar dari mobil diikuti Denisha di belakangnya.


"Bagaimana liburannya?"


"Menyenangkan Aroon. Pikiranku menjadi lebih tenang."


"Baguslah." ucap Aroon. Fahri! Jono! bawa koper Cyra ke kamar." perintahnya kemudian.


"Cyra?" mata Denisha terbelalak seakan tidak percaya bahwa nama itu bisa keluar dari mulut Aroon.


Seakan ketahuan siapa yang ada di dalam pikirannya Aroon segera meralatnya. "Bawa ke kamar nona Denisha."


"Baik tuan." jawab Fahri dan Jono bersamaan.


"Istirahatlah Denis, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Aroon segera meninggalkan Denisha dan Billy sendiri. Denisha memperhatikan kepergian Aroon dengan tatapan tajam. Tampak kekesalan tergambar di wajahnya.


"Tenang nona, kita balas perbuatan mereka." bisik Billy seakan tahu apa yang ada dipikirannya.


"Gadis kampungan itu tidak bisa aku anggap remeh."


"Dia bukan lawan yang sepadan untuk nona, buat apa nona turun tangan sendiri. Itu hanya akan mengotori tangan nona yang lembut ini. Serahkan semua pada Billy."


"Ingat jangan sampai gagal lagi."


"Tidak akan nona." jawab Billy. Mereka segera masuk kedalam kamar.


Aroon berjalan menuju ke perkebunan. Ia sepertinya harus membersihkan namanya dari wanita yang bernama Cyra. Entah kenapa ia selalu salah menyebut nama.


Memang selama Cyra tidak mengajar Gio, Cyra tidak menampakkan batang hidungnya. Terus terang saja Cyra agak marah dengan keputusan Aroon yang menskorsing dirinya. Ia sengaja tidak menampakkan diri dan hanya berdiam diri di dalam rumah. Waktu satu minggu menurutnya waktu yang sangat lama. Tadi malam ia sengaja mencuri lihat keadaan Cyra.


Sepertinya ia tidak terlalu bersedih aku skorsing.


"Phoo." panggil Gio. anak laki - laki yang menggemaskan itu berlari ke arah Aroon. Ia melompat ke dalam pelukan Aroon.


"Hei, anak Phoo."


"Terima kasih sudah membuat bu Cyra menjadi guruku lagi." ucap Gio sambil mencium kedua pipi Aroon. Cyra yang berjalan di belakang Gio hanya tertunduk saja.


"Kalian mau belajar?"


"Belum kami mau melihat aunty Denisha yang baru saja pulang dari Bali."


"Oh." hanya itu yang keluar dari mulut Aroon, ia bingung harus memulai percakapan dari mana. "Eee, kau juga akan menemui Denisha?"


"Bukan kau tapi Cyra."


Cyra mendongakkan kepalanya dan menjawab dengan singkat. "Ya."


"Akan belajar apa nanti?"


"Aku mau matematika Phoo." jawab Gio.


"Bukan kamu Gio tapi ayah tanya pada bu Cyra." Aroon menatap tajam ke arah Cyra seolah menuntut sebuah jawaban.


"Kalau Gio meminta belajar matematika, maka saya akan mengajar matematika."


"Sudah makan?" tanya Aroon lagi. Semua terdiam karena pertanyaan Aroon ini membingungkan. Mau tanya ke siapa sebenarnya. "Sudah makan?" ulangnya.


"Gio dan Bu Cyra sudah. Saya yang belum tuan." Omar akhirnya menjawab. Dia menjelaskan semua agar Aroon tidak mengulang pertanyaannya lagi.


"Kenapa kau suka menjawab pertanyaan orang, Omar?"


"Saya tuan? Oh saya bingung, karena dari tadi tuan tidak menyebut nama. Jadi saya pikir itu pertanyaan untuk umum. Hehehehhh.."


"Cyra ikut aku."


"Tapi saya mau mulai bekerja tuan."


"Kau tidak mau menuruti perintahku?"


Cyra terdiam dan memutuskan untuk menuruti perintah Aroon. "Gio, ibu pergi dengan Phoo mu dulu."


"Baiklah bu Cyra. Ayo Omar." Gio pergi bersama Omar menuju ke rumah utama.


"Apa yang mau tuan bicarakan?" Cyra memulai pembicaraan.


"Kau marah padaku?"


"Tidak tuan, saya tidak berani."


"Sikapmu yang acuh padaku, bukankah itu artinya kau marah?"


Cyra menghela napas panjang. "Sedikit."


"Kenapa?"


"Lagi - lagi tuan tidak memberi kesempatan saya untuk membela diri. Tapi memang saya akui saya lalai dan menyesal kenapa harus menerima telepon dari tuan Bian, saya bersumpah kami tidak bicara banyak karena telepon dari dia. Tapi saya juga sudah mematikan saklar listrik jadi aman untuk Gio." Cyra menjelaskan apa yang sebenarnya mau ia sampaikan sejak lama, tapi sayang sekali saat itu ia tidak diberikan kesempatan untuk bicara. "Saya minta maaf tuan, saya berjanji tidak akan lalai menjalankan tugas dan tanggung jawab saya. Tapi tolong jika ada masalah biarkan saya juga menjelaskan."


Aroon hanya diam mendengar penjelasan Cyra, dari sorot matanya Aroon bisa melihat bahwa Cyra benar - benar menyesal. Ia sangat menyayangi Gio, tentu saja ia akan panik begitu tahu Gio naik meja berusaha memasang lampu. "Itu saja."

__ADS_1


"Yah itu saja tuan. Jika tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya permisi."


"Tunggu."


Cyra mengurungkan langkahnya. "Ya tuan."


"Aku minta maaf." ucap Aroon.


Cyra tersenyum mendengar perkataan maaf dari Aroon.


"Apa? Saya tidak dengar tuan." goda Cyra.


"Aku minta maaf." ulang Aroon.


"Apa tuan?" Cyra pura - pura tidak mendengar.


"Oh kau mengerjaiku rupanya." ucap Aroon gemas. "Mau potong gaji." ancamnya kemudian.


"Jangan! Iya saya maafkan." jawab Cyra dengan nada sombong.


Aroon tersenyum licik. Ada niat terselubung di balik senyumannya. "Awas Anjing!" teriaknya tiba - tiba. Teriakan Aroon membuat Cyra kaget dan segera berlari dan melompat dalam pelukannya. kakinya mengait di pinggang Aroon,"


"Usir tuan! Usir!" teriaknya ketakutan.


"Hahahahahhh.." Aroon tertawa terbahak - bahak.


"Kenapa tuan? Sudah pergi Anjingnya?"


"Hahahahahh.. tidak ada Anjing, aku hanya bercanda."


Cyra mengedarkan pandangannya, memang tidak ada Anjing. Sialan tuan mengerjaiku pikir Cyra. Ia segera melepaskan tangan dan kakinya turun ke bawah. "Nggak lucu!" ucap Cyra ia segera pergi meninggalkan Aroon yang masih terus tertawa.


"Hei! Aku hanya bercanda Cyra."


Cyra mengacuhkan panggilan Aroon dan pergi menuju ke rumah utama.. Tampak sepasang mata geram melihat kedekatan mereka berdua.


"Nona, ini sudah keterlaluan." ucap Billy.


"Kau benar, kita jalankan rencana berikutnya."


"Baik nona."


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Malam itu Denisha mengajak Aroon makan malam spesial. Billy sudah mempersiapkan meja dengan dua buah kursi di taman dekat perkebunan. Tempat itu disulap menjadi romantis dengan dihiasi lampu - lampu temaram.


"Terima kasih kau mau memenuhi undanganku."


Aroon hanya diam, ia meneguk segelas anggur merah.


"Aroon."


"Ya."


"Maukah kau berdansa denganku?"


"Dansa?"


"Yah sekedar untuk merayakan kedatanganku, boleh?"


"Baiklah."


Billy sudah mempersiapkan semua, bahkan pemain Biola yang sengaja datang untuk mengiringi dansa mereka. Alunan Biola menghanyutkan mereka dalam sebuah tarian.


"Bisakah kita dansa biasa tanpa berpelukan seperti ini? Aku hanya tidak ingin orang berprasangka yang tidak - tidak mengenai kita. Padahal kita adalah satu keluarga Denis."


Denisha hanya diam tanpa menjawab permintaan Aroon, ia masih terus memeluk Aroon.


Sementara itu..


Handphone Cyra berdering. "Siapa malam - malam begini telepon." gumamnya. Dan ternyata Billy.


"Halo Cyra, tuan memanggilmu."


"Tumben tuan mengutusmu untuk menghubungiku, biasanya Omar atau Olif."


"Aku tidak tahu, tuan hanya bicara seperti itu."


"Baiklah aku datang."


"Eh tuan menunggumu di taman samping perkebunan."


"Kamu tidak sedang mengerjaiku kan?"


"Tidak. Nih aku kirim fotonya kalau tidak percaya." Billy mengirim foto yang sebelumnya sudah ia persuiapkan ketika Aroon datang sendiri di taman itu.


"Baiklah, aku kesana."


Panggilan diakhiri. Dengan segera Cyra menuju ke taman samping, Ia melihat tuannya itu dan segera mempercepat langkahnya. Akan tetapi ia terhenti oleh sosok yang bersama Denisha.


"Oh god, jadi dia memanggilku hanya untuk melihatnya berpelukan. Sial!" umpat Cyra pelan. Cyra berencana pergi dari tempat itu tapi ia urungkan niatnya karena melihat Aroon memegang bahu Denisha. Dan tanpa aba - aba Denisha mencium bibir Aroon. Mulut Cyra menganga seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Sepertinya tuan Aroon menikmati ciuman itu pikir Cyra. Ia segera lari dari tempat itu entah kenapa kedua matanya terasa panas. Tuan kau pamer padaku.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€

__ADS_1


__ADS_2