My Love Teacher

My Love Teacher
Mengumpulkan Bukti


__ADS_3

Pagi itu Cyra terbangun dengan kepala pusing.


"Kamu kenapa?"


"Tidak tahu. Kepalaku tiba - tiba pusing."


Aroon memeluknya dari belakang. "Kamu jangan terlalu stres dengan masalah ini. Percayalah padaku aku pasti akan menyelesaikannya segera."


"Aku hanya berpikir siapa sebenarnya Davira? Kalau memang itu benar Denisha, aku justru khawatir dengan keselamatan anak - anak."


"Sayang, kamu konsentrasi saja dengan kesehatanmu. Untuk urusan Davira biar aku yang urus."


Cyra tiba - tiba menutup hidungnya.


"Kenapa sayang?"


"Ya tuhan Aroon kenapa dari kemarin tubuhmu sangat bau? Kau belum mandi?"


"Sudah sayang."


"Hah.. Tolong menjauhlah dariku. Aku mual dan mau muntah."


Aroon merasa keheranan. Ia mencium tubuhnya sendiri dan merasa tidak ada bau busuk di tubuhnya. "Aku akan mandi." Aroon segera menuju ke kamar mandi. Cukup lama ia di dalam sana. Ia keluar sudah menggunakan parfum juga.


"Bagaimana?"


"Nah, ini baru wangi. Aku suka." ucap Cyra manja. Ia memeluk tubuh suaminya dan mencium aroma wangi itu dalam - dalam. Tapi berbeda dengan Aroon yang justru pusing karena parfum yang ia kenakan sangat banyak.


"Jadi periksa ke rumah sakit?"


"Jadi?"


"Jam berapa?"


"Dokternya praktek di jam sepuluh. Kenapa?"


"Aku hari ini ada meeting sebentar, terus janji temu dengan pihak kepolisian sekaligus zoom meeting dengan kepolisian dari Singapore. Kita akan bertukar informasi. Menurut mereka ini terlalu berbahanya jika memang itu Denisha. Itu artinya ia seorang psikopat."


"Kamu benar sayang. Itulah yang aku takutkan. Dia terobsesi padamu."


"Kamu jangan khawatir aku akan melindungi keluarga ini."


"Aku percaya."


"Jadi kamu ke dokter di antar Fahri dulu. Tidak apa - apa kan?"


"Tidak apa - apa sayang. Mungkin aku hanya lelah dan stres."


"Baiklah aku ke perkebunan dulu."


"Hati - hati."


Cyra segera bersiap pergi ke rumah sakit. Untuk sementara ia menitipkan Arthit dengan bik Tika.


Sesampainya di rumah sakit Cyra harus bersabar menunggu dokter karena mungkin berangkat agak terlambat. Karena bosan ia akan menunggu di cafe sambil menikmati segelas jus yang segar. Cyra melewati lorong. Banyak juga pasien yang datang hari ini. Tapi matanya tertuju pada sesuatu yang membuatnya penasaran.


Ia melihat Davira sedang antri di dokter spesialis tapi spesialis apa Cyra tidak tahu. Dari kejauhan Cyra mengawasi gerak gerik Davira yang tampak tidak tenang. Tak lama kemudian ia mengenakan masker untuk menutupi wajahnya. Cyra membatalkan niatnya untuk pergi ke Cafe dan lebih memilih mengawasi Davira.


Giliran Davira masuk. Cyra segera mendekat dan menanyakan pada suster penjaga.


"Maaf, ini dokter spesialis apa ya?"

__ADS_1


"Ini spesialis bedah plastik ibu. Apa ibu juga mau ikut mendaftar?"


"Oh tidak saya kira dokter spesialis kulit."


"Kalau dokter spesialis kulit ada di ruang empat belas lantai dua."


"Oh maaf. Terima kasih informasinya." Cyra segera permisi. Davira pergi ke dokter spesialis bedah plastik itu artinya besar kemungkinan itu Denisha yang operasi plastik menjadi Davira pikir Cyra. Ia jadi teringat bahwa semalam wajahnya terdapat ruam - ruam merah. Tangannya gemetar. Ia segera menghubungi Aroon.


"Halo Aroon."


"Ada apa Cyra? Kau tidak apa - apa kan?"


"Tidak, aku baik - baik saja. Kau harus tahu siapa yang aku temui di rumah sakit."


"Siapa?"


"Davira."


"Davira? Mungkin dia general cek up seperti yang rutin ia lakukan."


"Ternyata ia tidak general cek up seperti yang biasanya ia ceritakan ke kita tapi ia pergi ke dokter spesialis bedah plastik."


"Gila. Ini gila."


"Jika kita bisa mendapat informasi dari dokter itu kita bisa tahu di rumah sakit mana awal ia operasi plastik. Jika kita sudah tahu rumah sakitnya tentu saja kita akan mudah mengetahui apakah itu Denisha atau orang lain."


"Kamu benar, tapi data tentang pasien menjadi kerahasian pihak dokter dan rumah sakit."


"Kamu bisa minta pihak kepolisian menggunakan surat penyelidikan."


"Kamu benar. Aku akan segera meminta surat itu." ucap Aroon. "Cyra aku harap kau segera pulang. Aku tidak mau Davira tahu kalau kamu di rumah sakit. Itu bisa membahayakan nyawamu. Dan ingat jangan bertindak sendirian apalagi gegabah. Kita tunggu surat penyelidikan dari kepolisian."


Cyra akhirnya mengurungkan niatnya untuk periksa. Ia lebih memilih di rumah menjaga keselamatan anak - anaknya.


🍀🍀🍀🍀


Aroon bersama dengan pihak kepolisian segera menuju ke rumah sakit. Ia bertemu dengan dokter Annisa Rahma seorang dokter spesialis bedah plastik.


Karena ada surat penyelidikan dari pihak kepolisian maka mau tidak mau dokter Annisa memberi informasi terkait pasiennya. Ia menyerahkan riwayat pemeriksaan dan treatment apa saja yang sudah di lakukan oleh Davira.


"Apakah dokter tahu di mana dia melakukan operasi untuk yang pertama kali?"


"Di Singapore. Nyonya Davira saat itu bercerita bahwa yang mengoperasi adalah dokter kenalannya."


"Di rumah sakit mana?"


"Mount Elizabeth Hospital. Dia langsung di bedah plastik oleh dokter Marco Facia karena cidera luka bakar yang cukup parah. Beruntung jaringan kulitnya masih bisa di perbaiki dan beradaptasi dengan baik. Tapi entah kenapa beberapa bulan ini kulitnya memerah dan terkadang timbul ruam - ruam. Gejala itu muncul ketika ia kembali ke Indonesia. Atas terkomendasi dari dokter Marco Facia maka ia menemui saya."


"Mohon maaf dokter, sebenarnya Davira itu sudah meninggal dan yang saat ini sering datang kemari memiliki nama asli Denisha. Ia sudah mengganti identitasnya. Denisha adalah seorang buron karena sudah melakukan beberapa tindak kejahatan seperti penculikan dan percobaan pembunuhan." tim penyelidik menjelaskan pada dokter Annisa.


"Ya tuhan. Saya benar - benar tidak tahu karena dia mendaftar dengan nama Davira dan juga memperlihatkan kartu identitasnya."


"Kami maklum dengan ketidak tahuan dokter. Jadi apabila nanti ada informasi yang bisa membantu kami jangan ragu untuk menyampaikannya."


"Baik, siap. Saya akan memberikan semua informasi yang saya tahu."


"Terima kasih atas kerjasamanya dokter. Kami permisi."


"Silahkan."


Aroon dan beberapa tim penyelidik segera keluar dari ruang dokter Anisa. Sekarang dugaannya semakin kuat tinggal mengumpulkan bukti - bukti ia melakukan operasi di Singapore. Setelah itu maka akan dengan mudah pihak kepolisian menangkapnya.

__ADS_1


Aroon sudah mengirimkan data itu pada Sulaiman. Dengan segera Sulaiman melakukan penyelidikan.


Ya tuhan semoga ini segera terungkap.


🍀🍀🍀🍀


Pagi ini Sulaiman segera menghubungi Aroon.


"Selamat pagi tuan?"


"Bagaimana?"


"Ini memang benar nona Denisha tuan."


Tangan Aroon mengepal menahan emosi.


"Bagaimana ia bisa lolos dari kecelakaan itu?"


"Saya tidak tahu tuan. Tapi disini tuan bisa mencari informasi dari temannya tuan John seorang penangkar hewan buas dan langka. Tuan John ini sering bekerja sama dengan tuan Biantara. Jadi memang ia mengenal nona Denisha."


"Aku ingat tuan John itu adalah orang yang menjual Pitt Bull pada Denisha dan mencelakai Cyra."


"Tuan John juga yang membiayai operasi nona Denisha, mengganti semua identitasnya menjadi nyonya Davira."


"Kau sudah mengambil semua bukti dari dokter Marco Facia?"


"Sudah tuan."


"Bagus. Lantas bagaimana dengan perusahaan yang aku kirimkan padamu? Golden Company."


"Nona Denisha bekerja di sana atas rekomendasi tuan John. Ia bekerja dengan identitasnya yang baru. Tapi____."


"Tapi apa?"


"Informasi dari pekerja di sana bahwa nona Denisha itu simpanan dari salah satu CEO di sana. Ia banyak meraup pundi - pundi uang. Mungkin saja ia di manfaatkan oleh tuan John agar bisnisnya berjalan dengan lancar."


"Gila. Denisha sudah bertindak gila." ucap Aroon.


"Hari ini saya akan langsung pulang dengan penerbangan paling awal. Nanti akan sampai di Bogor sekitar jam empat sore."


"Hati - hati. Nanti biar Syam yang akan menjemputmu."


"Baik tuan."


Panggilan diakhiri.


Aroon bernapas dengan lega. Ia segera kembali ke kamarnya dan menceritakan hal itu pada Cyra.


"Jadi kamu sudah menemukan bukti kalau dia bukan Davira."


"Sudah sayang. Kita akan segera menangkapnya." ucap Aroon yakin. "Kau bisa tenang sekarang."


"Syukurlah."


Aroon memeluk istrinya dengan perasaan bahagia dan juga lega.


Tanpa sengaja ada seseorang yang mendengar percakapan mereka. Tubuhnya gemetar hebat, tangannya mengepal, matanya memerah.


Sial, mereka sudah tahu siapa aku sebenarnya. Tapi jangan harap kalian bisa menangkapku. Aku tidak akan mati sia - sia. Kalian juga harus merasakan kepedihan yang sama seperti yang aku alami. Tunggu saja tanggal mainnya. Davira segera pergi dari sana.


🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2