My Love Teacher

My Love Teacher
Demi Bu Cyra


__ADS_3

Cyra masih tidak percaya dengan keputusan Aroon menskorsing dirinya. Tapi memang dia juga bersalah dalam hal ini. Cyra sangat menyesal kenapa ia mengabaikan Gio dan menerima telepon dari Biantara. Tapi yang lebih aneh lagi, kemarin lampu itu baik - baik saja kenapa hari ini bisa mati. Apakah ada sesuatu di balik ini. Bagaimana aku bisa membuktikan? Dan siapa yang berusaha menyingkirkanku? Apakah Denisha? Tapi jika memang kerusakan lampu itu disengaja oleh Denisha sepertinya aku harus lebih hati - hati dan waspada terhadapnya. Ia sudah banyak membuat masalah denganku pikir Cyra. Ia duduk termenung di teras depan rumah yang sekarang di tempatinya. Pikirannya saat ini tertuju dengan kasusnya.


"Bu Cyra melamun apa?"


"Olif, kau mengagetkanku."


"Dari tadi aku perhatikan bu Cyra banyak melamun."


"Bagaimana aku tidak melamun, tuan Aroon menskorsing ku. Jadi untuk sementara waktu tidak boleh dekat dengan Gio dulu karena dianggap membahayakan. Ini sudah hari ketiga aku tidak bertemu dengan Gio."


"Jangan sedih bu Cyra, paling tuan hanya bercanda."


"Sepertinya kali ini serius." ucap Cyra. "Aku memang salah karena kelalaianku aku membahayakan Gio. Apalagi itu semua gara - gara aku terima telepon dari Biantara."


"Tuan Biantara telepon apa?"


"Ia mau menagih biaya kerusakan mobilnya."


"Aneh, bukankah cukup lama. Malah aku pikir tuan Biantara tidak menuntut karena kasihan melihat kita yang hanya pegawai kecil."


"Oh iya.. ya. Aku bahkan sampai melupakan." ucap Cyra.  "Kau ingat kan bahwa tuan akan mengurusnya, aku pikir sudah beres. Duh bodohnya aku."


"Sudah ini namanya bu Cyra baru kena apes. Lain kali kalau ada telepon tidak di kenal abaikan saja bu."


"Benar juga katamu Olif."


Omar datang dengan membawa tiga gelas teh hangat. Ia menaruhnya di meja. "Memang saat itu bu Cyra lalai, tapi mulut berbisa wanita itu dan Billy si hitam legam yang membuat tuan Aroon semakin marah." Omar mengemukakan argumentasinya. "Waktu tuan muda memasang lampu bukankah listrik dalam keadaan padam jadi sama sekali tidak membahayakan. Dan kenapa juga bu Cyra tidak mengatakan hal itu pada tuan."


"Kejadian ini begitu mendadak, Omar. Dan terus terang aku panik karena tahu Gio mau naik meja itu untuk mengganti lampu. Pikiranku kemana - mana, kalau dia jatuh bagaimana." jawab Cyra.


"Tapi perkataan nona Denisha membuat yakin kalau bu Cyra benar - benar bersalah."


"Jadi menurutmu nenek sihir itu memprovokasi tuan Aroon?" tanya Olif.


"Yah benar." jawab Omar sambil menggigit pisang goreng. "Bu Cyra tenang hanya seminggu bu Cyra tidak boleh bertemu dengan Gio."


"Terus selama seminggu itu aku ngapain disini, Omar?"


"Kita membuat taman saja di sini, Biar tidak kelihatan gersang. Kita tanam beberapa bunga, kan jadi segar kelihatannya."


"Hmm.. menarik juga ide kamu." puji Cyra. "Kalau begitu besok aku akan meminta beberapa tanaman pada Pak Uo."


"Asyik, aku akan membantu bu Cyra." ucap Olif. Setelah mereka bertiga selesai bercengkerama Omar dan Olif pamit kembali ke rumah utama. Sampai sekarang Denisha tidak tahu di mana Cyra sekarang tinggal.


"Eh Omar, kamu ada rencana tidak membantu bu Cyra?"


"Ada lah. Sudah banyak ide di kepalaku ini untuk membuat nona Denisha dan Billy kapok sudah mengganggu bu Cyra. Mulut berbisa mereka itu lo yang membuatku geregetan."


"Tuan muda sudah tahu?"


"Sudah." jawab Omar.


"Kau jahat, kenapa tidak memberitahuku?"


"Sssttt pelan - pelan. Takut kalau ada mata - mata. Bisa gagal ini rencana." jelas Omar. "Sini aku bisikin." Olif mendekatkan telinganya dan tampak mulut Omar yang komat kamit. Tak lama kemudian Olif tersenyum geli.


"Siiip! Bagus. Aku setuju dengan rencana itu."


'Waktu makan siang kau mulai beraksi."


"Siap." jawab Olif sambil pergi meninggalkan Omar. Ia pergi ke ruang belajar menemani Gio belajar. Sejak Cyra diskors oleh Aroon, Denisha menggantikan posisinya mengajar Gio pelajaran bahasa dan beberapa pelajaran yang dia bisa. Tapi Denisha tidak sepintar Cyra yang menguasai semua mata pelajaran.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk."


Olif masuk ke dalam.


"Kenapa kamu disini?"


"Tuan Aroon meminta saya untuk selalu mendampingi tuan muda."


"Ya sudah duduk sana dan ingat jangan ganggu Gio yang sedang belajar."


"Baik nona." jawab Olif patuh.


Olif kemudian mengambil buku catatannya dan pura - pura mencatat. Gio yang melihatnya tersenyum karena tahu gelagat pura - pura dari Olif. Setelah hampir dua jam Olif bertahan dalam kebosanan akhirnya pelajaran hari ini selesai juga. Gio tampak menguap beberapa kali.


"Tuan muda sini sebentar." panggil Olif.


Denisha dan Billy yang juga mendengarnya jadi sedikit penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Denisha bahkan menyuruh Billy mencuri dengar pembicaraan mereka.


"Ada apa Olif?"


"Nanti malam tuan muda sebaiknya banyak - banyak baca doa deh."


"Kenapa?"


"Kalau saya cerita yang sesungguhnya janji ya tidak takut?"


"Nggak. Cepat ada apa? Jangan membuatku penasaran."


"Tuan muda ingat nggak dengan pak Cokro yang orangnya gemuk dan ada kumisnya?"


"Oh ingat, ia salah satu pekerjanya Phoo kan?"


"Kemarin dia meninggal tuan."


"Hah meninggal?"


"Iya dan kabarnya ia gentayangan."

__ADS_1


"Hah jadi hantu? Kok bisa!"


"Ssssttt... jangan keras - keras. Bisa - bisa dia kesini nanti."


"Kenapa musti takut? Hantu kalah dengan manusia."


"Aduh ini beda cerita tuan. Tali pocong pak Cokro lupa dilepas. Dan menurut keterangan beberapa pekerja, pak Cokro mendatangi mereka dan meminta mereka satu persatu untuk melepas pocongnya."


"Ah yang benar, kau jangan membuatku takut Olif?"


"Saya tidak bohong tuan muda, apalagi tadi pagi saya mendapati jejak lumpur ada di dalam rumah. Apa itu pak Cokro ya?"


"Ah sudah jangan bercerita seperti itu, kau membuatku takut."


"Nanti malam saya dan Omar akan menemani tuan muda."


"Ya sudah ayo kita makan siang." ajak Gio. "Jangan cerita soal hantu lagi, itu akan membuat selera makanku hilang."


"Baik tuan muda." Mereka berdua keluar dari ruang belajar menuju ruang makan.


Sementara itu Billy yang mencuri dengar pembicaraan mereka menjadi pucat pasi, tangannya dingin dan keringat membasahi dahinya.


"Aduh aku takut hantu." gumamnya. "Aku harus memberi tahu nona agar selalu waspada." Billy bergegas menuju ke kamar Denisha


Tok! Tok! Tok! "Nona cepat buka!" Tok! Tok! Tok!


Tak berapa lama kemudian pintu terbuka, tampak raut wajah tidak senang Denisha. "Ada apa sih?"


"Ssssttt... Ayo masuk ke dalam nona."


"Aduh jangan mendorongku Billy, kau tidak sopan."


"Aduh, abaikan dulu masalah kesopanan nona. Ini lebih penting."


"Oh, kau sudah dengar apa yang mereka bicarakan?"


"Sudah nona." jawab Billy, ia tampak berusaha menenangkan degupan jantungnya. "Jadi begini nona, tadi saya dengar mereka membicarakan hantu."


"Hahahahhh.. Billy.. Billy.. Kau pasti salah dengar. Hantu apa? Ini jaman milenial."


"Saya berani bersumpah nona dengan apa yang saya dengar. Memang ada hantu." Billy berusaha meyakinkan Denisha. Melihat wajah Billy yang serius, pucat dan ketakutan membuat Denisha percaya dengan apa yang dikatakan asistennya itu. "Jadi di perkebunan ini ada pekerja namanya Cokro dan dia meninggal."


"Cokro." gumam Denisha. Ia berusaha mengingat - ingat. "Memangnya kenapa kalau dia meninggal?"


"Tali pocongnya lupa di lepas dan sekarang dia gentayangan minta tolong pada orang - orang untuk melepasnya."


"Hah, mana ada cerita seperti itu." Denisha meremehkan. "Itu hanya isu yang disebarkan untuk menakut - nakuti."


"Nona jangan menganggap remeh. Karena tadi malam ada jejak lumpur di dalam rumah, bisa jadi itu tanah kuburan."


Denisha terdiam. Ia mulai merespon cerita Billy, tapi rasa takutnya ia sembunyikan. "Sudah tidak perlu membahas hal tidak penting seperti itu. Apalagi kita tidak mengenal Cokro."


"Silahkan kau berdoa, aku mau menemui Aroon." Denisha keluar dari kamarnya. Akan tetapi baru saja ia membuka pintu kamarnya, ia di kejutkan dengan adanya lumpur di depan kamarnya. "Aaaacchhh!!!" teriaknya.


"Ada apa nona?"


"Iiittuuu.. Iituu.." tunjuknya ketakutan.


"Hah tanah kuburan!" teriakan Billy tidak kalah kerasnya. Mereka berdua saling berpegangan ketakutan dan kembali menutup pintunya.


"Bbenarkah iituu tanah kuburan?' tanya Denisha, wajahnya yang putih bertambah pucat karena ketakutan.


"Sssepertinya benar nona." jawab Billy. "Apa perlu kita lihat lagi?"


Denisha mengangguk. "Kkamu buka." perintahnya. Dengan tangan gemetar Billy membuka lagi pintu itu dan lagi - lagi teriakan kerasnya membuat Denisha kaget.


"Hhi.. Hhhilang!"


"Apanya yang hilang?"


"Tanah kuburannya nona." jawab Billy. Denisha segera melihat untuk memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Dan benar di depan pintu mereka bersih tanpa ada kotoran sedikitpun. "Apa yang harus kita lakukan nona?"


"Temani aku menemui Aroon, aku harus minta perlindungannya."


Denisha dan Billy bergegas menemui Aroon, mereka melewati dapur sebelum ke ruang kerja Aroon. Mereka mendengar bik Tika yang sedang berbicara pada Fahri. Denisha dan Billy memutuskan untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


"Jadi benar isu itu?" tanya bik Tika.


"Benar bik." jawab Fahri sambil mengunyah nasi. "Bik Tika tahu kan Yanto satpam depan?"


"Tahu."


"Kemarin dia baru saja di temui pak Cokro."


"Ah jangan membuat aku ketakutan."


"Bener bik. Jadi bik Tika harus waspada. Jika siang atau sore hari bik Tika melihat ada lumpur atau tanah kuburan di dekat kamar bik Tika itu tandanya nanti malam pak Cokro akan datang meminta tolong untuk membukakan tali pocongnya."


"Sudah.. Sudah.. Ceritamu membuatku merinding. Jangan di bahas, lanjutkan saja makanmu."


Denisha dan Billy saling berpandangan seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Jika ceritanya seperti itu berarti nanti malam hantu pak Cokro akan menemui mereka nanti malam.


"Ayo kita cari Aroon. Aku benar - benar ketakutan." Denisha mempercepat langkahnya. Tapi sepertinya ia harus menelan kekecewaan karena Aroon sedang pergi dengan Gio. Mereka memutuskan untuk berada di kamar sepanjang malam.


Omar dan Olif merasa puas karena sampai saat ini rencana awalnya berjalan dengan lancar.


Sementara itu...


"Kenapa kau mengajak Phoo jalan - jalan? Tumben."


Gio terdiam, ini sebenarnya bagian dari rencana, menjauhkan ayahnya dari Denisha agar auntynya itu tidak meminta bantuan. Bisa gagal rencananya. "Aku rindu bu Cyra." jawab Gio.

__ADS_1


Aroon terdiam. Jauh di lubuk hatinya ia sebenarnya juga merindukan Cyra. Entah kenapa hatinya tidak tenang jika sehari tidak melihat batang hidung gadis itu. Ia menjadi tidak bersemangat, tidak konsentrasi dalam bekerja. Entah karena terbiasa bertengkar dengannya atau karena ada faktor lain.


"Kau tidak menyukai aunty Denisha?"


"Tidak seperti itu Phoo. Aunty Denisha tidak bisa menjawab pertanyaan - pertanyaan dariku. Belajar jadi membosankan. Dia selalu memberiku soal - soal tanpa menjelaskannya padaku."


"Aunty mu bukan seorang guru."


"Terus kenapa Phoo menyuruhnya mengajariku?"


Aroon terdiam, ia seperti di skak mat dengan pertanyaan Gio. Ia akui putra itu semakin pintar dan tentu saja itu berkat Cyra. Emosi Gio sekarang juga lebih stabil. "Auntymu pintar dalam pelajaran bahasa."


"Iya. Bahasa Perancis. Bahasa inggrisnya sering salah." protes Gio. "Ayolah Phoo, maafkan bu Cyra. Dia tidak bersalah."


"Dia mengabaikanmu demi telepon yang tidak penting."


"Tidak seperti itu Phoo. Bu Cyra sudah melarangku, tapi aku sangat penasaran bagaimana cara memasang bohlam lampu. Bu Cyra juga sudah mematikan saklarnya sebelum keluar."


"Benarkah?"


"Iya benar, itu artinya ia benar - benar menjagaku. Tidak ingin aku kenapa - napa."


Aroon terdiam mendengar penjelasan Gio.


"Aku rindu masakan bu Cyra, aku bosan masakan bik Tika." keluh Gio.


"Baiklah akan Phoo pertimbangkan."


"Benarkah?" tanya Gio dengan mata berbinar - binar. "Terima kasih Phoo, aku sangat mencintaimu." Gio memeluk Aroon dengan erat. "Bolehkah nanti malam aku tidur di rumah bu Cyra."


Aroon lagi - lagi mengangguk. Beberapa hari ini ia melihat Gio selalu murung. Begitu mendengar ia boleh menemui Cyra raut wajahnya berubah menjadi bahagia, tentu saja ia akan mengabulkannya.


"Ayo pulang."


"Kau tidak ingin bermain lagi?"


"Tidak, ini sudah malam. Aku ingin segera menemui bu Cyra."


🍀🍀🍀🍀


Denisha berbaring di tempat tidurnya, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Akan tetapi ia tidak bisa memejamkan matanya.


Tok!


Suara apa itu tanyanya dalam hati. "Bil.. Billy kau sudah tidur?"


"Belum nona."


"Kau dengar suara itu?"


"Suara apa?"


"Suara tadi."


Tok! Tok! Sreekk!


"Tuh, dengar kan suaranya."


"Iya suara apa ya itu?"


"Mana aku tahu."


Tiba - tiba tercium bau harum.


"Kau pakai parfum?" tanya Denisha lagi.


"Tidak nona."


"Terus bau apa ini?"


"Saya tidak tahu, jangan - jangan ini kembang kuburan."


"Diam kau Billy! Jangan singgung hal itu lagi!"


"Tapi ini wangi bunga nona."


Denisha segera mendekati Billy, ia berpegangan erat. Tangannya sangat dingin.


Tok! Tok! Tok! "Buukaaaa." terdengar suara serak dan berat meminta mereka membuka pintu.


"Dengar itu Billy, siapa yang diluar?" Denisha ketakutan hingga suara yang keluar dari mulutnya tercekik.


Tok! Tok! Tok! "Buukaaaa." suara itu kembali meminta.


"Ayo kita cek nona, siapa tahu itu bukan hantu."


"Kau yang buka, aku dibelakangmu."


Dengan perlahan mereka berdua memberanikan diri membuka pintu itu. Dan terkejutlah dengan apa yang ada di depan pintu. Pocong dengan wajah yang hitam membusuk dengan kapas ada di hidung dan katanya. "Toolooonggg, lepaskan talikuuuu."


"Acccchhhh setannn!!!" teriak mereka berdua. Dan langsung pingsan seketika.


Setelah mengetahui mereka pingsan Olif, bik Tika dan Fahri keluar dari persembunyiannya. "Hahahahahh.." mereka tertawa bersama.


"Hei lepaskan baju ini." Omar meminta tolong, ternyata ia adalah pocong jadi - jadian itu.


Segera Olif membantunya melepaskan kain putih yang membalut tubuhnya. Ia tampak sangat puas berhasil membuat dua orang itu pingsan.


"Rasakan! salah siapa membuat bu Cyra di skorsing."


 🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2