
"Kamu yakin ini tempatnya, Syam."
"Saya yakin tuan. Ini alamat yang diberikan pak Sapto." jawab Syamsudin sambil memperlihatkan isi percakapannya dengan pak Sapto beberapa hari yang lalu.
"Kalau melihat, memang benar ini tempatnya."
Aroon melihat ke sekeliling rumah itu akan tetapi sepi tidak ada satu orang pun.
Tak berapa lama datang sebuah mobil BMW warna hitam. Aroon segera mengambil sikap waspada, demikian juga dengan Syamsudin.
Keluarlah seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun mengenakan sebuah kemeja hitam.
"Biantara?"
"Selamat malam Aroon."
"Bagaimana kau___?"
"Bisa ada disini kan?" potong Biantara. "Tanyakan saja pada pak Sapto." ucapnya sambil tersenyum.
Tampak dari dalam keluar pak Sapto dengan beberapa anak buahnya.
"Maaf tuan - tuan semua menunggu lama." sapa Sapto. "Mari saya persilahkan tuan - tuan semua datang ke gubug saya." anak buah Sapto mempersilahkan mereka untuk masuk.
Walaupun itu sebuah rumah sederhana akan tetapi di dalamnya sangat mewah dengan fasilitas lengkap. Bahkan terdapat juga sebuah mini bar. Aroon duduk di kursi yang telah disiapkan untuknya. di sebelah kirinya ada Biantara dan kemudian Sapto. Syamsudin berdiri di belakang Aroon untuk menjaganya.
"Baiklah kita mulai meeting kita pada malam hari ini." ucap Sapto memulai pembicaraan. "Jadi saya akan menyampaikan permintaan maaf pada tuan Aroon karena saya memutuskan untuk tidak menjual tanah saya pada anda."
"Apa?! Tidak bisa seperti itu pak. Anda telah berjanji untuk menjual tanah itu pada saya dan juga penawaran harga yang saya berikan sudah sangat tinggi."
"Hahahahhhh.. Harga segitu kau bilang tinggi." Biantara berusaha memprovokasi.
"Diam kau! Ini bukan urusanmu!" teriak Aroon.
"Kamu salah, ini menjadi urusanku karena tanah ini telah jatuh ke tanganku."
Aroon menatap tajam ke arah Sapto. "Benarkah itu pak Sapto?" tanyanya geram
Sapto tersenyum. "Tenang, jangan salah paham tuan Aroon."
"Tenang? Anda sudah bermain di belakang saya!"
"Begini tuan Aroon, memang harga yang anda tawarkan sangat tinggi dan diantara kita belum ada perjanjian hitam di atas putih." Sapto berusaha menjelaskan. "Dan tuan Biantara berani memberikan harga yang jauh lebih tinggi dari anda. Saya penjual dan tentu saja akan memilih pembeli yang mau membeli produk saya dengan harga yang paling tinggi."
"Seharusnya anda bisa pengatakan pada saya jika ada penawar yang lain. Tentu saja saya akan mempertimbangkan harga belinya!"
"Maaf tuan Aroon, saya membutuhkan uang itu dengan segera. Kemarin anda mengatakan akan memberi uang itu tiga hari lagi."
"Iya tapi itu kan wajar karena pengambilan uang sebanyak itu saya harus konfirmasi dengan pihak bank." ucap Aroon. "Saya rasa ini memang anda sengaja untuk tidak mau menjual tanah itu pada saya. Alasan yang anda sampaikan terlalu di paksakan. Entah apa yang sudah dikatakan oleh Biantara licik itu pada anda."
"Hei! Jangan bicara seperti itu! Kalau kalah bilang saja kalah!" teriak Biantara tersulut emosi.
Aroon berdiri dari tempat duduknya. "Saya rasa urusan kita sudah selesai dan terus terang saya menyesal berbisnis dengan anda. Selamat malam." Aroon dan Syamsudin segera meninggalkan tempat itu. Tersirat senyum penuh kemenangan di wajah Biantara.
"Maafkan saya tuan." ucap Syamsudin. "Kelalaian saya membuat anda tidak mendapatkan tanah itu."
"Bukan salahmu Syam. Memang Biantara orang yang licik. Aku yakin dia bermain kotor."
"Tapi tuan sangat menginginkan tanah itu."
"Sudahlah mungkin belum hak ku memiliki tanah itu. Ayo kita pulang."
🍀🍀🍀🍀
Setelah sarapan bersama yang lainnya. Cyra segera menuju ke ruang belajar dan disana telah menunggu Gio, Omar, Olif.
"Selamat pagi semuanya." sapa Cyra.
"Selamat pagi bu Cireng." jawab mereka secara bersamaan dengan suara lemah.
"Kenapa kalian tidak bersemangat? Masih ngantuk?"
"Iya bu, semalam kami tidak bisa tidur?" jawab Omar
"Kenapa? Kalian sakit?" tanya Cyra. Dalam hati ia ingin tertawa terbahak - bahak dengan wajah mereka saat ini yang letih dan mata panda.
"Ada hantu." jawab Gio sambil memejamkan mata.
"Hantu? Jangan mengada - ada di rumah ini tidak ada hantu. Terbukti dengan semalam aku tidur sangat nyenyak."
"Kami tidak bohong bu." jawab Olif.
"Baiklah, tapi perlu aku tekankan bahwa dengan doa dan mendekatkan diri pada tuhan akan membuat kalian terhindar dari itu semua." Cyra berusaha memberikan penjelasan. "Mulai nanti malam sebelum kalian tidur harus membaca doa dulu."
"Baik bu Cireng." jawab mereka bersamaan.
"Jadi kita keluar hari ini untuk mempelajari tentang alam luar?"
"Jadi bu." jawab Gio dengan antusias.
"Hmmm, kalian punya sepeda?"
"Punya bu. Buat apa?"
"Kita akan bersepeda keliling perkebunan dan ibu akan menjelaskan bagaimana proses alam itu terbentuk. Bagaimana tumbuhan bisa tumbuh dengan subur."
"Wow menarik. Ayo kita bersepeda." teriak Gio senang.
Ekspresi itu yang membuat Cyra semakin bersemangat. Sedikit demi sedikit Gio pasti akan memberikan respon baik terhadap ajaran yang dia berikan.
Mereka bersepeda di sekitar kebun, Cyra memberikan penjelasan bagaimana tanaman bisa tumbuh, apa saja yang dibutuhkan. Ia juga memberi penjelasan tentang binantang - binatang yang ada disekitar perkebunan.
"Bagaimana Gio, kamu sudah mengerti tentang alam?"
"Yah aku sudah banyak tahu."
__ADS_1
"Nah bagaimana kalau kita selingi dengan permainan tebak - tebakan. Yang tidak bisa menjawab pertanyaan dariku harus menari. Bagaimana?"
"Aku setuju!" teriak Omar.
"Aku juga." ucap Olif.
"Aku juga setuju." jawab Gio.
"Baiklah kalau begitu akan kita mulai." Cyra memulai dengan Gio. "Oke Gio, selain Matahari apa yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh?"
"Hmm air dan oksigen."
"Good job seratus untuk Gio." Cyra memberinya tepuk tangan. "Sekarang giliran Omar."
"Waduh, jangan yang sulit bu Cireng."
"Hahahahh.. tidak sulit jika tadi kau mendengarkan penjelasanku." jawab Cyra. "Oke ini pertanyaan yang sangat mudah. Tadi kau melihat ada kambing bukan? Nah kambing memakan rumput atau tumbuhan jadi ia termasuk hewan apa?"
"Hmmm gampang." ucap Omar sambil mencibir. "Pasti jawabannya karnivora."
"Gio, apakah jawaban Omar benar?" tanya Cyra.
"Hahahahah.. kau salah Omar. Yang benar Herbivora." jawab Gio
"Yah harus menari deh." Omar segera berdiri dan bersiap untuk menari.
"Tunggu aku stelkan musiknya." Cyra mengambil handphone dan memilih lagu dangdut yang cocok untuk bergoyang.
Omar menggoyangkan pantatnya sesuai dengan irama lagu, bahkan dia mengajak Olif untuk bergoyang. Gio yang melihat tertawa dengan gembira.
"Ayo kita ikut bergoyang Gio." ajak Cyra sambil mengulurkan tangannya. Gio mengangguk dan bergabung bersama mereka.
Sementara itu...
Tampak Aroon dari kejauhan melihat mereka yang sedang bergoyang. Tampak seulas senyuman di sudut bibirnya, baru kali ini ia melihat Gio mau belajar dan gembira tertawa seperti itu. Sepertinya aku akan memberimu bonus Cyra ucapnya dalam hati.
"Tampaknya tuan muda sudah mau menerima kehadiran Cyra." Syamsudin datang bersama Sulaiman dan berdiri dibelakang Aroon.
"Kamu benar Syam. Mudah - mudahan seterusnya akan seperti itu."
"Saya benar - benar bersyukur Cyra berhasil mengambil hati tuan muda. Saya benar - benar merasa kasihan dengannya."
"Kasihan?"
"Betul tuan, dia dulu bekerja menjadi guru kontrak sekolah dasar, akan tetapi ia di berhentikan karena ada guru tetap yang menggantikan posisinya."
"Tapi aku melihat ia gadis yang enerjik, cerdas dan pantang menyerah." ucap Sulaiman.
"Kau benar Sulaiman. Oleh sebab itu aku berani merekomendasikan ke tuan Aroon."
"Akan aku pegang kata - katamu, Syam." ucap Aroon.
"Siap tuan."
"Oya, bagaimana dengan pesanan Sawi dari perusahaan Korea. Apakah sudah siap panen?"
"Bagus. Aku akan kembali memeriksa sayuran dan buah yang lain."
"Baik tuan." jawab Syamsudin dan Sulaiman bersamaan.
Sebelum pergi ia menyempatkan melihat Cyra yang sedang asyik bermain sambil belajar. Aku tidak bisa meremehkanmu Cyra pikir Aroon sambil tersenyum smirk.
🍀🍀🍀🍀
Saat hampir makan siang Cyra melihat bik Tika dan Jono yang disibukkan dengan banyaknya masakan.
"Ada pesta bik?"
"Eh Cyra, nggak ada."
"Kenapa masaknya banyak sekali?"
"Hari ini tuan mau panen sawi besar - besaran. Katanya sih mau di ekspor ke Korea. Jadi ya ada tambahan pekerja karena besok harus dikirim."
"Kalau begitu aku bantu bik."
"Tuan muda bagaimana?"
"Sedang istirahat dan nanti sore kita mulai pelajaran lagi."
"Oke kalau kamu tidak capek. Kebetulan sudah hampir jam makan siang masakannya masih kurang."
Cyra segera memakai apron dan membantu bik Tika. Kira - kira hampir satu jam mereka berkutat di dapur dan akhirnya masakan selesai.
Mereka segera membawanya ke kamp pekerja dan membagikannya disana.
"Wah bu Tika punya asisten baru ya?"
"Bukan, ini gurunya tuan muda."
"Wah bu guru cantik banget. Sudah punya pacar bu?" goda para pekerja.
"Eh sudah jangan bikin bu Cyra malu. Ayo makan terus lanjut kerja lagi." ucap bik Tika.
Cyra membantu bik Tika membagikan makanan. Pekerja memuji masakan Cyra yang ternyata enak. Setelah selesai Cyra membantu membereskan semuanya.
"Cyra kamu istirahat saja, bukankah nanti sore kamu mengajar tuan muda."
"Tapi ini piringnya masih berserakan."
"Tenang saja, kan ada Jono. Biar dia yang bereskan semua."
"Ayo kita kembali ke rumah besar."
Cyra dan bik Tika meninggalkan kamp pekerja. Mereka berdua duduk bersama sambil menikmati segarnya jus Jambu disiang hari yang panas ini.
__ADS_1
Namun tiba - tiba Jono datang tergopoh - gopoh.
"Bu.. Gawat bu!"
"Ada apa Jono? Kenapa kamu lari - lari seperti itu?"
"Itu bu.. Itu.. Itu.."
"Itu.. Itu Apa? Yang jelas?"
"Itu bu. Para pekerja semua sakit perut setelah memakan masakan kita." jawab Jono dengan napas terengah - engah.
"Apa?!" teriak bik Tika tidak percaya.
"Kita lihat kesana saja bik." ucap Cyra.
"Ayo Cyra kita kesana."
Dengan setengah berlari Cyra dan bik Tika kembali ke kamp pekerja. Dan disana sudah ada Aroon yang tampak sangat marah.
"Siapa yang masak makan siang?!" teriaknya.
"Ssa.. Ssaya tuan." jawab bik Tika.
"Apa yang sudah kamu lakukan?! Kamu sengaja membuat pekerjaku sakit!"
"Mmaaf ttuan___." ucap bik Tika dengan tubuh gemetar.
"Tuan Aroon, tunggu sebentar." sahut Cyra.
"Jangan ikut campur!"
"Saya harus ikut campur karena saya juga membantu bik Tika memasak."
Mata Aroon tampak berkilat penuh dengan kemarahan. Ia mendekati dan dengan satu gerakan ia mencengkeram rahang Cyra. "Kau! Tugasmu adalah mengajar anakku! Kenapa kau membantu Tika memasak di dapur?!"
Mata Cyra seketika redup karena ketakutan menghadapi amarah Aroon.
"Selama Tika bekerja disini tidak pernah ada kejadian seperti ini! Setelah kau datang ini semua terjadi. Siapa yang menyuruhmu?! Katakan!"
"Sakit tuan." ucap Cyra lirih sambil matanya berkaca - kaca.
Aroon segera melepas cengkeramannya. Cyra bisa bernapas dengan lega. "Saya tidak melakukan apa - apa, saya benar - benar tidak tahu bagaimana hanya karena sebuah masakan semua pekerja bisa sakit perut. Dan makanan yang kami masak sama sekali tidak pedas." Cyra berusaha menjelaskan.
"Tuan.. Tuan.." Sulaiman datang dengan membawa sebuah kertas. "Di dalam makanan itu ada obat cuci perut."
"Apa! Bagaimana bisa?!" teriak Aroon. Ia melihat Cyra. "Jelaskan ini!" ia membuang kertas itu ke muka Cyra.
"Saya benar - benar tidak tahu dan saya berani bersumpah bahwa saya tidak melakukan itu." jawab Cyra.
"Tuan jangan hanya menyalahkan Cyra, saya juga salah." ucap bik Tika.
Aroon mendengus kesal. "Kamu tahu, panen sawi harus segera selesai hari ini dan kamu telah mengacaukan semuanya! Kita rugi ratusan juta!"
Aroon menghela napas. "Sebenarnya bukan itu intinya. Yang aku pikirkan adalah nasib pekerja yang sakit, mereka memiliki keluarga dan membutuh uang. Jika tidak ada pembayaran dari Korea mereka tidak akan terima upah! Kamu tahu itu!"
"Maafkan saya tuan, saya akan bertanggung jawab."
"Tanggung jawab?!" Aroon kembali mencengkeram rahang Cyra. "Kamu tahu arti kata tanggung jawab? Itu tidak semudah yang kamu ucapkan nona?!" Aroon menghempaskan wajah Cyra.
"Saya yang akan memanennya."
"Hahahahhhh.. Bodoh! Pergi kau dari sini!" usir Aroon.
Syamsudin yang berada disana segera menarik Cyra dan berusaha menghentikan tindakannya agar tidak memicu kemarahan Aroon lagi.
"Aneh sekali kenapa kejadian ini bersamaan dengan proyek besar kerjasama tuan dengan perusahaan Korea." ucap Syamsudin. Semua pekerja rumah utama berkumpul di dapur.
"Aku akan tanggung jawab Pak Uo." ucap Cyra.
"Caranya?"
"Aku akan memanen sisa sawi yang belum di panen."
"Kau gila! Masih separuh yang belum di panen."
"Tidak masalah yang penting aku bertanggung jawab terhadap pekerja yang sakit dan juga membuktikan bahwa aku tidak bersalah."
"Kami akan membantumu Cyra." ucap bik Tika
"Ya kami juga akan membantumu." sahut Surti
"Baiklah kita lakukan sekarang. Aku akan membantumu Cyra. Saat ini tuan Aroon sedang pergi ke kota untuk mencari pekerja serabutan." ucap Sulaiman
Syamsudin, Sulaiman, Fahri, bik Tika, Jono, Surti, Asih dan sepuluh pekerja yang tidak sakit siap untuk membantu Cyra.
Mereka bersiap mengenakan caping, sabit, keranjang dan kaos tangan.
"Ayo kita mulai." perintah Sulaiman.
"Tunggu!"
Semua menengok. Dan terlihat Gio bersama dengan Omar dan Olif.
"Aku akan ikut memanen."
"Tapi tuan muda."
"Tidak apa - apa, aku bisa." Gio memaksa. "Bu Cyra aku ingin ikut." Gio memohon.
Mata Cyra berkaca - kaca karena Gio memanggil namanya dengan benar. Ia berjongkok dan memegang pundak Gio. "Baiklah kau boleh ikut, tapi kalau capek istirahat ya."
Gio mengangguk - angguk tanda setuju. Cyra tersenyum bahagia. Ia bisa merasakan kehangatan disini. Saling bahu membahu jika teman ada kesulitan. Mereka semuanya kompak.
Ya tuhan bantu aku menyelesaikan misi ini dengan baik, sehingga aku bisa memanen sawi ini tepat pada waktunya dan membuktikan bahwa aku tidak bersalah doa Cyra dalam hati.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀