My Love Teacher

My Love Teacher
Tertangkapnya Biantara


__ADS_3

"Kita ini di mana Mae?" bisik Gio.


"Mae juga tidak tahu."


"Aku sudah menekan tom___."


"Sssttt.." Cyra memperingatkan agar Gio tidak berbicara keras - keras.


Seorang pria menengok di belakang. "Hei! Jangan berisik!"


"Maaf anakku sedang bosan."


"Hahahhhh.. Setelah ini ia tidak akan bosan. Karena jiwanya akan tenang di tangan tuan Biantara."


Cyra tidak begitu terkejut karena ia sudah mengira bahwa Biantara lah yang menyuruh Asih untuk menculiknya. Mendengar apa yang di katakan oleh pria tadi sepertinya Biantara ingin melenyapkan orang yang dekat dengan Aroon. Saat ini hanya dirinya dan Gio.


"Asih."


"Ada apa?" jawab Asih ketus.


"Aku bosan, bisa kita ngobrol."


"Sebentar saja."


"Terima kasih." ucap Cyra selembut mungkin. Ia tidak ingin membuat emosi penculik itu meningkat. "Bagaimana kandunganmu? Hasan sering cerita betapa bahagianyanya ia sekarang sudah memiliki keluarga dan sebentar lagi di karunia momongan."


Asih terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan Cyra. Tapi hal itu tidak menyurutkan Cyra untuk terus mengajaknya berbicara. Biasanya wanita yang sedang hamil hormonnya akan berubah mereka akan lebih melankolis. Mungkin dengan berbicara seperti ini Asih akan sedikit berbalas kasihan pada Gio.


"Hasan selalu memujimu, masakan yang berikan padanya selalu dia habiskan. Kamu juga dianggap sebagai wanita yang nggak neko - neko, tulus, penurut. Hasan begitu mencintaimu."


"Benarkah?"


"Iya benar, apalagi saat ini ia bekerja di daerah yang baru. Ia banyak membutuhkan dukungan dan itu ia dapat darimu." Cyra melanjutkan ceritanya. Ia sepertinya sudah sedikit berhasil mengusik hati nurani Asih. "Beberapa waktu lalu ia sedih."


'Kenapa?"


"Karena kamu flek dan mengalami morning sickness. Ia khawatir jika terjadi apa - apa dengan kamu." jawab Cyra. "Bahkan ia meminta tolong padaku untuk mencarikanmu pembantu, walaupun gaji yang ia terima sedikit tapi ia berusaha untuk membahagiakanmu."


Cyra bisa melihat jika Asih sedang menangis. Tangannya tampak menghapus airmata yang mengalir di pipinya.


"Apa ia tahu jika hari ini kamu pergi?"


"Tidak, ia tidak perlu tahu dengan apa yang kulakukan."


"Maaf aku hanya kasihan melihatnya mengkhawatirkanmu."


"Stop! Berhentilah berbicara Cyra!" teriak Asih yang membuat salah satu pria itu menodongkan senjata ke arahnya.


"Diam nyonya Aroon! Atau aku buat mulut anda tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun!"


"Oke, Maaf!" Cyra berhenti berbicara. Sepertinya apa yang dikatakan sudah cukup menyentuh perasaan Asih. Ia berharap Asih masih memiliki hati nurani untuk mau melepaskan Gio.


Mereka menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dan akhirnya sampai di sebuah gudang rongsokan.

__ADS_1


"Turun!"


Cyra dan Gio turun mengikuti perintah mereka. Ia berharap suaminya sudah mengetahui sinyal yang ia kirimkan. Dua orang pria mengikat tangannya.


"Kenapa di ikat?"


"Agar kamu tidak melarikan diri cantik."


"Ikat saya saja, jangan anak saya. Ia masih kecil, apalagi bisa lari kemana dia."


Dua pria itu saling berpandangan, sepertinya membenarkan perkataan Cyra. Akhirnya mereka hanya mengikat tangan Cyra. Di sana sudah menunggu Biantara bersama dengan enam orang pria berbadan tegap yang berada di belakangannya.


"Kerja yang bagus Asih."


"Tugas saya sudah selesai, saya akan pulang."


"O..o..o.. Tunggu dulu. Kenapa kau terburu - buru. Kau harus menyaksikan pembantaian keluarga Aroon. Bukankah kau sangat membenci perempuan ini."


"Saya tidak mau suami saya khawatir tuan. Silahkan tuan bersenang - senang."


"Hahahahhh.. Tidak semudah itu Asih. Semua kendali ada di tanganku. Aku yang bisa memutuskan kau pulang atau tinggal di sini."


Asih terkejut mendengar perkataan Biantara. Tapi apa boleh buat ia lebih baik menurut demi keselamatannya dan bayinya. "Baik tuan." Asih lalu duduk di atas tumpukan besi sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Hai Cyra. Kita ketemu lagi." Biantara menghampiri Cyra yang duduk di bawah. "Sungguh sangat di sayangkan, pertemuan kita ini tidak dalam suasanya yang menyenangkan."


Cyra hanya diam, ia menatap tajam Biantara.


"Lepaskan Mae!" teriak Gio dan memukul kepala Biantara dengan besi yang ada di sekitar.


"Siapa yang membiarkan anak ini tidak di ikat!" teriak Biantara geram. Kepalanya berdarah. Ia melayangkan pukulan ke arah Gio tapi Cyra dengan cepat menghadangnya. Darah segar keluar dari mulutnya.


"Mae! Mae!" teriak Gio. Ia kembali berusaha menyerang Biantara.


"Gio jangan Gio!" teriak Cyra.


Dua orang pria datang dan menarik tubuh kecil itu. Mereka mengikatnya di sebuah kursi. Gio meronta - ronta sekuat tenaga. Tapi tenaganya tidak kuat menghadapai dua orang pria besar.


"Gio.. Gio.. Tenanglah." ucap Cyra. Ia berusaha menenangkan anaknya agar semua rencananya tidak berantakan. Kalau sampai para penjahat itu tahu bahwa dia mengenakan smart watch bisa kacau semuanya. Oleh sebab itu dari tadi Cyra menghindari orang - orang itu mengikat tangan Gio.


"Kenapa anak ini tidak di ikat, siapa yang bertanggung jawab?!"


"Saya tuan." salah seprang yang di bawa Asih maju dan Dooorrr! Dooorrr! tembak Biantara dua kali ke tubuhnya. dan ia mati seketika.


Cyra merangkak menghampiri Gio, Ia menghalangi pandangan Gio dengan tubuhnya. "Jangan di lihat.. Jangan di lihat, oke?"


Gio hanya mengangguk sambil memejamkan matanya. Tapi Cyra tahu tubuh anaknya itu gemetar ketakutan, ia tidak ingin ini menimbulkan trauma yang berkepanjangan. Asih yang masih berada di sana terus memegangi perutnya. Ia juga syok dengan apa yang di lihatnya.


"Seret Cyra kemari!"


Dua orang pria menyeret tubuh Cyra dan menaruhnya di hadapan Biantara. "Hahahahhh... Sebentar lagi kamu tidak akan mengalami siksaan dan kepedihan ini Cyra. Maaf jika aku harus membunuhmu." Biantara memainkan pistolnya di sepanjang tubuh Cyra.


Cyra memejamkan mata dan terus berdoa. Ya tuhan selamatkan aku dan Gio. Jika memang aku harus meninggal aku mohon selamatkan Gio. Jangan buat dia mengalami kesakitan seperti ini. Aroon aku mencintaimu.

__ADS_1


Tiba - tiba.. Doorrr! sebuah tembakan mengenai lengan Biantara.


"Angkat tangan! Anda sudah kami kepung!"


Cyra bernapas lega, suara itu bagaikan setetes air di padang gersang. Ia benar - benar lega karena terselamatkan.


"Cyra! Kamu tidak apa - apa sayang!"


"Aroon." ucapnya lirih. Aroon segera membawa Cyra dan Gio ke tempat aman. Terjadi tembak - tembakan antara pihak Biantara dengan kepolisian. Pihak polisi tidak akan memberi kesempatan Biantara untuk melarikan diri. Disamping ia seorang pengedar obat terlarang, ia juga melakukan serangkaian pembunuhan, jual beli binatang langka secara ilegal.


"Cyra mana Asih?"


"Hasan? Kau disini?"


"Aku di beritahu oleh suamimu. Mana Asih?"


"Tadi dia duduk di sana. Mungkin sedang sembunyi?"


Hasan segera berlari mencari istrinya di tengah - tengah hujan peluru. "Asih! Asih!"


"Mas Hasan." gumam Asih lirih, Mendengar suaminya sedang mencarinya ia akhirnya keluar dari persembunyiannya. "Mas! Aku disini!" dengan tertatih Asih keluar, ia terlihat memegangi perutnya, dari kedua kakinya sudah mengeluarkan darah.


Hasan berbalik mendengar panggilan istrinya ia segera berlari menghampirinya tapi belum sampai Asih sudah di tarik oleh Biantara menjadi sandera.


"Berhenti semuanya! Atau ia akan mati!"


Pihak kepolisian segera menghentikan tembakan. Karena tersangka membawa sandera.


"Buang senjata kalian! Cepat!" teriak Biantara yang menodongkan pistol itu ke kepala Asih.


"Biantara tenang." ucap komandan polisi berusaha bernegosiasi. "Kita bisa bicarakan ini. Jika kau mau menyerahkan diri, hukuman akan diperingan."


"Hahahahhh... Kau kira aku bodoh!"


"Asih." Hasan menangis melihat istrinya jadi sandera.


"Mas Hasan maafkan aku." ucap Asih. Darah segar terus keluar dari kedua kakinya. Sepertinya ia mengalami keguguran.


"Diam! Atau aku percepat kematianmu!" teriak Biantara. Ia membawa Asih berjalan mundur berusaha keluar dari gudang besi itu. Biantara bergerak dengan cepat, ia hampir sampai di pintu dan mungkin berhasil keluar.


Asih memandang hasan dengan tatapan bersalah. "Maafkan aku mas Hasan"


"Kau tidak salah Asih, aku yang salah."


'Tidak.. Aku sudah membohongimu. Ini bukan anakmu, aku tidak layak menerima cinta yang besar darimu. Maafkan aku."


Hasan terkejut dan tidak bisa berkataย  apa - apa. Ia hanya memandangi Asih dengan derai air mata. Ia tahu istrinya itu merasa bersalah jadi ia memutuskan untuk mengorbankan dirinya.


Dengan gerakan yang cepat Asih mengendalikan tangan Biantara yang menodongkan pistol di kepalanya. Ia menaruh pucuk senjata itu di dadanya dan Dooorr!!! Dooorr!!! Dooorr!!! tiga tembakan di dadanya dan tembus mengenai Biantara. Asih terkulai lemas dan terjatuh. Biantara memegangi dadanya yang terkena tembakan. Pihak kepolisian tidak menyia - nyiakan hal itu mereka langsung memberondong Biantara dengan tembakan - tembakan hingga ia terjatuh tanpa perlawanan.


Aroon memeluk Cyra dan Gio dengan erat, ia sangat bersyukur keluarganya bisa selamat.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€

__ADS_1


__ADS_2