My Love Teacher

My Love Teacher
Ini Baru Permulaan.


__ADS_3

Davira mengusap air matanya dan segera pergi dari depan kamar Aroon. Awalnya ia ingin berbincang dengan suaminya itu tapi ternyata ia mendengar hal yang sangat menyakitkan.


Ia sadar bahwa ini semua adalah kekeliruannya. Wajar jika Aroon menikah lagi karena ia adalah laki - laki normal. Davira memutuskan untuk pergi ke perkebunan. Ia menyapa beberapa pekerja yang sudah lama bekerja di sana dan juga mengenalnya. Bahkan beberapa dari mereka membicarakan kemunculannya.


"Eh itu istri tuan yang dulu?"


"Iya."


"Wah tuan beruntung ya. Istrinya cantik - cantik."


"Kalau aku sih lebih memilih nyonya Davira. Dia orangnya lembut."


"Kalau aku nggak. Aku lebih memilih nyonya Cyra. Ingat ia banyak mengorbankan nyawa demi keluarga ini. Bahkan keputusannya untuk tidak memecat pekerja yang terkena narkoba adalah keputusan yang bijak."


"Tapi dia merebut posisi nyonya Davira." ucap pekerja itu dengan nada tinggi.


"Lah, tahunya kan nyonya Davira sudah meninggal." jawab pekerja yang lain tak mau kalah.


Hingga terjadi sedikit keributan. Datanglah Sulaiman dan Syamsudin melerai mereka.


"Hei..! Jaga sikap kalian." ucap Sulaiman.


"Kalian di sini di bayar untuk bekerja bukan malah membicarakan kehidupan tuan kalian. Mengerti?!"


"Iya mengerti pak Syam."


"Sudah sana pergi bekerja lagi."


"Baik pak."


Syamsudin dan Sulaiman geleng - geleng melihat kelakuan para pekerja.


"Syam."


"Ya."


"Kau tidak mengkhawatirkan status keponakanmu?"


"Khawatir. Tapi aku yakin, Cyra anak yang tegar. Perjuangannya dalam menghadapi cobaan hidup ketika masih sekolah aku rasa bisa menjadikannya bekal sebagai anak yang kuat."


"Tapi ini cinta Syam. Menggunakan hati."


"Tuan Aroon pasti sudah memiliki keputusan. Apapun keputusannya tidak akan merugikan kedua belah pihak."


"Bagaimana bisa? Pasti ada yang di rugikan entah itu Cyra atau nyonya Davira. Memangnya keponakanmu mau tuan Aroon memperistri lagi nyonya Davira." ucap Sulaiman. "Terus terang aku kasihan dengan nyonya Davira. Berjuang sendirian melawan penyakitnya."


"Maaf, Sulaiman kau dulu sangat hormat dengan nyonya dan aku tahu loyalitasmu begitu tinggi terhadap beliau. Tapi dalam hal ini seharusnya ia tidak memalsukan kematiaannya. Tujuannya apa coba? Terus setelah sembuh tiba - tiba muncul?"


"Ah aku juga bingung."


"Menurutmu apa itu nyonya Davira yang asli?"


"Tentu saja asli dari wajah, sorot mata, suara dan juga cara berjalan semuanya itu nyonya Davira. Bahkan pertanyaan - pertanyaan yang bersifat pribadi pun bisa ia jawab."


🍀🍀🍀🍀


Pagi ini Davira sudah memasak di dapur.


"Davira kamu yang masak sebanyak ini?" tanya Cyra.


"Iya. Ini semua adalah makanan kesukaan Aroon. Tom Yum dan aku memasak dengan rasa pedas."


"Oh." ucap Cyra. "Aku bantu bawa ke meja makan."


"Tidak usah biar aku saja. Sudah lama aku tidak melakukan ini."


"Oh baiklah."


Cyra mengikuti dari belakang. Melihat Davira yang bahagia ia lebih memilih untuk diam.

__ADS_1


"Wow kamu masak apa?"


"Tom Yum kesukaanmu."


"Oke aku coba." jawab Aroon. "Cyra tolong ambilkan aku nasi." perintah Aroon.


Cyra beranjak untuk mengambilkan Aroon nasi tapi di cegah oleh Davira. "Biar aku saja." pintanya.


"Maaf Davira, selera makanku dengan yang dulu berbeda. Biar Cyra saja yang ambilkan. Ia tahu takaran nasi buatku."


"Oh, baiklah." Davira sedikit kecewa.


Cyra mengambilkan nasi dan Tom Yum untuk suaminya. Aroon mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Bagaimana rasanya?"


"Lumayan enak."


"Masih sama seperti yang dulu, kan? Aku tahu bagaimana seleramu." ucap Davira bangga. Dan Aroon hanya terdiam tanpa jawaban.


"Oya Cyra ayo di makan. Cobalah masakanku, aku yakin kamu pasti suka." Davira mengambilkan Tom Yum untuk Cyra cicipi. "Kalau kamu mau, aku bisa mengajarkannya padamu."


"Terima kasih." Cyra mulai menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya. "Ini enak." pujinya.


"Terima kasih Cyra, aku bahagia jika kalian menyukainya." ucap Davira. "Oya mana Gio?"


"Tadi aku ke kamarnya. Ia baru siap - siap."


"Oya apa makanan kesukaannya?"


"Telur." jawab Cyra.


"Baiklah kalau begitu aku besok akan memasak telur untuknya."


Tak berapa lama Gio datang ke meja makan dan ikut bergabung bersama mereka. Cyra bersiap mengambilkan nasi untuk anaknya.


Cyra mengangguk tanda setuju.


"Berapa banyak nasimu Gio? Biar Mae Davira yang ambil."


"Aku maunya Mae Cyra." tolak Gio sama seperti Aroon.


Davira tampak kecewa. Ia kemudian menatap Cyra.


"Eh Gio, kita tidak boleh menolak kebaikan orang bukan apalagi ini ibu kandung kita, yang melahirkan kita."


"Tapi Mae Davira tidak tahu seleraku. Sudah bertahun - tahun dia tidak bersamaku."


"Kamu bisa mulai mengenalnya bukan?" ucap Cyra sambil membelai lembut rambut Gio.


"Baiklah."


Tampak Davira tersenyum dan ada rona bahagia di wajahnya. "Kamu mau seberapa?" Davira menunjukkan piringnya. "Segini?"


"Iya cukup." jawabnya. Davira kemudian menaruh sepiring nasi di depannya. "Mae mana telurku?"


"Maaf Gio, tadi Mae Davira sudah masak Tom yum jadi aku tidak memasak telur untukmu. Kita nikmati masakan Mae Davira, oke?" jawab Cyra.


"Baiklah." jawab Gio dengan wajah kesal.


"Maafkan Mae, Gio. Besok Mae akan memasak telur yang enak untukmu."


Gio mengangguk dan memakan masakan yang sudah di siapkan oleh Davira. Davira tersenyum bahagia. "Kau lihat Cyra mereka melahap masakanku, aku bahagia sekali suami dan anakku menyukai masakanku."


Cyra sempat terhenyak dengan perkataan Davira tapi ia tahan karena Davira melakukan itu dengan spontan.


Akhirnya makan pagi yang canggung menurut Cyra selesai. Gio berangkat ke sekolah sedangkan Aroon pergi ke perkebunan.


"Aroon." panggil Davira.

__ADS_1


"Ya."


"Boleh aku ikut ke perkebunan. Aku ingin melihat perkebunan yang kita rintis bersama dari nol."


Aroon memandang Cyra. "Kamu ikut." jawab Aroon.


"Nanti aku menyusul. Aku akan membawa Arthit. Dia butuh sinar matahari pagi." jawab Cyra.


"Baiklah." Aroon pergi lebih dulu bersama Davira. Banyak pekerja yang memperhatikan mereka. Inilah yang Aroon tidak mau menjadi bahan perbincangan di antara pekerja. Ia sangat menghargai perasaan Cyra.


Aroon duduk di gazebo dan Davira duduk di sebelahnya.


"Kamu semakin sukses ya. Perkebunan ini berkembang dengan sangat pesat."


"Iya. Aku bersyukur sejak ada Gio dan Cyra bisnisku semakin maju. Mereka keberuntunganku."


"Kau sangat mencintai Cyra?" tanya Davira hati - hati.


"Iya." jawab Aroon lirih.


"Bagaimana denganku? Masihkah ada perasaan cinta yang tersisa untukku?"


"Aku mohon jangan tanyakan itu." Aroon menolak menjawabnya. "Kamu sudah ada pandangan mau tinggal di mana?" Aroon berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Belum. Aku sudah bilang ke Cyra kalau aku ingin dekat dengan Gio."


"Dia mengijinkan?"


"Iya. Dan itu harus. Karena Gio adalah anak kandungku."


"Aku mohon kau harus menghargai istriku."


"Aku juga masih istrimu, Aroon." Davira bersandar di bahu Aroon.


"Davira, aku mohon jangan seperti ini. Hargailah istriku." Aroon memperingatkan dengan pelan karena semuanya butuh proses untuk membiasakan diri.


"Sebentar saja. Please."


"Ayolah Davira. Jangan seperti ini."


Davira masih belum mau mengikuti perintah Aroon. Dan____.


"Aku mengganggu?" tanya Cyra sambil membawa Arthit di stroller.


"Oh maaf Cyra, aku tadi sedikit pusing. Jadi bersandar di bahu Aroon sebentar. Kau tidak keberatan bukan?"


"Tidak." jawab Cyra menunduk. Ia mengalihkan pandangannya dari Aroon yang sedang menatap tajam. "Hmm sebentar, topi Arthit ketinggalan. Aku takut dia kepanasan."


"Tinggalkan dia di sini bersamaku."


"Oh, baiklah." jawab Cyra ragu tapi akhirnya ia mengiyakan. Cyra bergegas pergi, sebenarnya ia takut kalau Aroon dan Davira akan tahu kalau matanya berkaca - kaca. Jadi ia memutuskan untuk menenangkan diri sebentar.


Aroon melihat hal yang aneh. "Aku temani Cyra sebentar."


"Bagaimana dengan Arthit?"


"Tolong jaga sebentar untukku."


Aroon sete gah berlari mengejar Cyra.


Sementara itu Davira berdua dengan Arthit. Ia menatap tajam bayi itu.


"Kau merebut perhatian Aroon dari Gio anakku." gumam Davira. Ia mendekat, tangannya membelai bayi itu perlahan. "Bagaimana caranya aku bisa kembali lagi dengan suamiku jika ada kamu?" Davira tersenyum. Belaian itu berhenti dan dengan cukup keras ia mencubit paha bayi yang tidak tahu apa - apa hingga menangis cukup keras.


Davira tersenyum dan memandangi Arthit yang menangis. Ia perlahan mengambil dan kemudian menggendongnya.


"Cup.. Cup.. Ini baru permulaan anak manis, baru permulaan." ucap Davira sambil menenangkan bayi itu dalam dekapannya.


🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2