My Love Teacher

My Love Teacher
Mengambil Apa Yang Menjadi Milikku


__ADS_3

Pagi ini saat sarapan hanya ada keheningan. Aroon tidak seperti biasanya, hanya diam dan menjawab setiap pertanyaan seperlunya. Cyra sendiri juga takut untuk bertanya. Jika saat Aroon emosi ada Gio di sana.


Setelah mengantar Gio sekolah. Cyra bertekad menemui Aroon. Tapi langkahnya terhenti karena melihat Davira ada di sana sedang ngobrol dengan suaminya. Bahkan diselingi dengan gelak tawa.


Cyra menarik napas panjang. Masalah ini harus ia selesaikan oleh sebab itu ia bertekad tetap menemui Aroon.


"Aroon bisa kita bicara?"


"Bicaralah."


Cyra memandang Davira. "Aku mau bicara berdua tanpa adanya orang lain."


"Davira bukan orang lain."


Cyra menghela napas. Sepertinya suaminya ini benar - benar marah padanya. Tapi masa bodoh dengan keberadaan Davira. Tekadnya sudah bulat untuk menyelesaikan masalah ini tanpa menundanya. "Baiklah kalau itu maumu." jawab Cyra. "Kau masih marah padaku?"


Aroon hanya diam tanpa menjawab.


"Cyra, kau harusnya tahu kalau saat ini Aroon tidak mau membahas masalah itu." sahut Davira. "Kamu kan menikah dengannya sudah cukup lama harusnya kamu bisa tahu kapan dia mau berdiskusi kapan tidak."


Cyra berusaha menahan emosi mendengar jawaban Davira. Memangnya kamu siapa ikut campur dalam masalah rumah tanggaku umpat Cyra dalam hati. "Dia tahu masalah kita? Kau cerita padanya?"


Lagi - lagi Aroon terdiam tanpa menjawab.


"Cyra aku tahu karena saat itu aku juga sedang di rumah sakit." sahut Davira. "Aku tahu persis yang terjadi disana."


"Kau membuntutiku?" tanya Cyra dengan nada tinggi. Tangannya mengepal erat menahan emosi.


"Kau siapa sampai aku membuntutimu. Aku datang ke rumah sakit karena harus general check up secara rutin." jawab Davira.


Cyra terdiam dan ia merasa jengkel dengan sikap Aroon yang tidak tegas. "Aroon aku mohon bicaralah agar kesalah pahaman ini tidak melebar. Aku minta maaf jika aku sudah tidak jujur padamu. Aku berani bersumpah bahwa aku sama sekali tidak ada hubungan dengan Aryo. Kau bisa menanyakan hal itu padanya." dengan modal nekad Cyra me gatakan semuanya pada Aroon. Ia tidak peduli di situ ada Davira.


"Aroon, aku mohon bicaralah denganku. Aku tidak bisa kau diamkan seperti ini. Bba.. Bbagaimana caranya agar kau mau memaafkan aku?"


Aroon masih tetap terdiam. Dia berdiri. "Aku tidak tahu." ucapnya sambil meninggalkan Cyra.


Bibir Cyra bergetar, ia berusaha menahan agar airmatanya tidak jatuh. Tapi apa daya sikap Aroon yang memaksanya untuk menangis. Sakit sekali rasanya.


"Cyra, sebagai orang yang sudah lama mengenal Aroon boleh aku memberi nasehat?"


"Apa?" tanya Cyra dengan suara serak.


"Aroon kalau sudah seperti itu pasti akan sulit memaafkanmu dan yang ada nantinya dia akan meninggalkanmu. Aroon tidak suka dengan orang yang tidak jujur dan mengkhianati kepercayaannya. Jadi menurutku mulai sekarang kamu harus mempersiapkan mentalmu karena aku yakin Aroon akan meninggalkanmu."


Cyra menatap tajam ke arah Davira. Giginya gemeretak menahan emosi. Ingin sekali ia gampar mulut wanita yang katanya terkenal dengan kelembutan. Ternyata hatinya sama busuknya dengan adiknya.


"Davira, kamu jangan terlalu percaya diri. Aku yakin suamiku akan memaafkan dan kembali ke pelukanku. Karena apa? Karena dia sangat mencintaiku. Di dalam hatinya hanya ada aku. Jadi jangan bermimpi untuk bisa merebutnya dariku!" ucap Cyra. Ia kemudian pergi meninggalkan Davira sendiri.


"Aaaccchhhh!!! Kurang ajar!!!" teriaknya.


🍀🍀🍀🍀


Sementara ini Cyra mengikuti alur yang diinginkan oleh suaminya.


"Mae."


"Ya Gio."


"Apa kalian marahan?"


"Tidak sayang." jawab Cyra berbohong.


"Kenapa Phoo sekarang pendiam?"

__ADS_1


"Phoo baru banyak proyek jadi capek. Apalagi Phoo bekerja kan juga untuk kita."


"Syukurlah kalau kalian tidak bertengkar. Aku tidak mau kalian bertengkar."


"Tidak sayang, Phoo sangat mencintai Mae, mencintaimu dan juga Arthit."


Cyra memeluk putranya itu, matanya berkaca - kaca. Gio segera masuk ke kamar dan belajar. Cyra kembali ke kamarnya juga untuk menyusui Arthit. Ketika membuka pintu, ia sangat terkejut melihat Aroon sedang menggendong Arthit.


"Dia rewel?" tanya Cyra.


"Tadi." jawab Aroon.


"Maaf, tadi aku baru menemani Gio." ucap Cyra. Ia menghampiri Aroon dan mengambil Arthit dari gendongannya. "Ini waktunya dia minum susu."


"Oh."


Cyra duduk di sofa. Dan segera menyusui Arthit. "Tadi Gio menanyakan apakah kita bertengkar. Aku jawab tidak. Aku terpaksa berbohong karena aku tidak mau sekolahnya terganggu dengan masalah kita."


"Bukan kita, tapi kamu."


"Ayolah Aroon. Sudah dua hari kau mendiamkan aku. Aku bingung harus bagaimana lagi."


"Aku masih kecewa kau tidak jujur padaku. Penting atau tidak penting kau harus bercerita padaku."


"Baiklah aku akan memperbaiki kesalahanku. Beri aku kesempatan, oke?"


Aroon hanya diam dan memilih keluar dari kamar. Cyra menghela napas, airmatanya mengalir lagi dan itu membuat Arthit juga ikut menangis.


"Oh anak Mae, maaf ya sayang." Cyra menggendong dan menenangkan Arthit. Memang perasaan bayi sangat peka. Jika ibunya tidak tenang atau sedih itu pasti akan membuat bayi tidak nyaman.


Sementara itu Aroon melewati lorong akan menuju ke rumah lamanya. Ia bertemu dengan bik Tika.


"Maaf tuan, ada tamu."


"Yang kemarin itu."


"Temannya Cyra?"


"Iya temannya nyonya."


"Baiklah aku akan menemuinya."


Aroon mengepalkan tangannya. Ia segera keluar menemui Aryo. Tapi yang membuatnya terkejut adalah Aryo datang bersama dengan seorang wanita yang tinggi dan gagah.


"Selamat malam tuan Aroon." sapa Aryo.


"Ada apa?"


"Maaf kami mengganggu iatirahat anda." jawab Aryo. Ia kemudian menyerahkan sebuah undangan pada Aroon. "Kami berdua akan menikah. Jika nanti tuan dan Cyra ada waktu, bisa berkenan untuk hadir di pernikahan saya."


"Menikah?"


"Iya." jawab Aryo. "Perkenalkan ini calon istri saya. Kami rekan kerja dari kesatuan yang sama. Namanya Dewi."


Dewi mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Aroon.


"Sebenarnya waktu saya bertemu Cyra di rumah sakit, saya mau bilang kalau saya mau menikah tapi niat itu saya urungkan dan lebih memilih datang ke rumah sekalian memperkenalkan calon istri saya."


Lagi - lagi Aroon terdiam. Ia yang biasanya tampak sangat emosi melihat kedatangan Aryo kali ini terdiam.


"Kau bertemu istriku di rumah sakit."


"Iya, tapi hanya menyapa saja. Saat itu saya sedang menangani kasus." jawab Aryo. "Tuan Aroon tidak cemburu kan?"

__ADS_1


"Emosi." jawab Aroon singkat.


"Maaf tuan ada yang perlu saya luruskan disini. Sejak Cyra menikah dengan tuan saya sudah merelakannya dan juga memang Cyra tidak memiliki perasaan apapun dengan saya. Kalaupun menikah bisa berakhir dengan perceraian. Jadi saya memilih untuk membiarkannya bahagia. Dan bisa tuan lihat sendiri saya mendapat gantinya. Seorang gadis yang begitu mencintai saya." Aryo memandang dengan tatapan mendalam pada Dewi calon istrinya.


"Maaf aku sudah salah paham denganmu."


"Harusnya itu tidak terjadi jika tuan percaya dengan Cyra. Cyra sangat mencintai tuan. Ia banyak berkorban untuk tuan. Jadi jangan takut ia akan berpaling pada pria lain."


"Terima kasih. Kedatanganmu sudah memberi pencerahan untukku."


"Sama - sama tuan." jawab Aryo. "Kalau begitu kami permisi dulu. Salam unyuk Cyra."


Aryo dan Dewi segera pamit. Aroon tampak sangat menyesal. Ia berjalan ke taman samping sambil merenungkan sikapnya yang keterlaluan dengan istrinya. Tapi anehnya kenapa Davira meyakinkannya kalau Cyra memang ngobrol panjang lebar dan melihat Aryo mengantarnya pulang. Kenapa Davira tega membohonginya, pikir Aroon dalam hati.


"Aroon." panggil seseorang.


"Davira."


"Boleh aku duduk?"


"Duduklah kebetulan aku juga mau bicara."


"Oya aku tadi buat jus Apel kesukaanmu. Cicipilah."


"Terima kasih." Aroon meminum jus Apel itu hampir setengahnya.


"Apa yang mau kau bicarakan?"


"Soal pertemuan Cyra dan Aryo di rumah sakit? Apakah kau benar - benar melihat dengan mata kepalamu sendiri kalau Aryo ngobrol dan bahkan mengantar Cyra pulang?"


"Iya aku melihatnya. Aku berani bersumpah. Kau tidak percaya padaku?"


"Davira, aku beri kesempatan satu kali lagi. Apakah kau benar - benar melihatnya?"


"Ii.. Iiya aku melihatnya."


"Jangan bohong!" ucap Aroon dengan nada tinggi. "Aryo tadi kesini dan dia bercerita yang sebenarnya. Dia juga mau menikah!" teriak Aroon. "Cepat katakan! Apa maksud semua ini!"


"Aroon kamu tenang dulu. Dengarkan aku dulu."


"Kau menghasutku Davira!" Aroon beranjak dari duduknya dan akan pergi meninggalkan Davira, tapi tiba - tiba kepalanya pusing. "Aduh kepalaku."


Davira tersenyum. Obat itu berekasi. "Kamu tenang. Jangan marah - marah."


"Kepalaku kenapa tiba - tiba pusing." gumam Aroon.


"Ayo aku antar kau ke kamar." Davira menuntun Aroon yang sempoyongan masuk ke dalam mobil.


"Kemana kita?" tanyanya lirih sambil terus memegangi kepalanya.


"Tenang saja aku akan membawamu ke surga."


Davira membawa Aroon ke sebuah villa yang letaknya tidak jauh dari perkebunan. Ia membawa Aroon ke kamar.


"Ini bukan kamarku."


"Iya. Ini memang bukan kamarmu tapi kamar kita." ucap Davira. Ia meletakkan tubuh Aroon di atas tempat tidur. Ia membuka kancing bajunya satu persatu. Davira segera mengambil beberapa gambar dan mengirimkannya pada Cyra.


Sementara itu Cyra mencari Aroon. Entah kenapa perasaannya sangat tidak enak. "Ya tuhan lindungilah suamiku." doanya. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk ke dalam handphonenya dengan cepat Cyra membuka dan alangkah terkejutnya dengan isi pesan tersebut.


"AKU MENGAMBIL APA YANG SEHARUSNYA MENJADI MILIKKU. MALAM INI SUAMIMU AKAN MENJADI MILIKKU."


Tangan Cyra bergetar hebat setelah melihat isi pesan dan sebuah foto yang dikirim padanya.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2