
Untuk beberapa bulan ini terpaksa Aroon harus tidur terpisah dengan Cyra. Karena istrinya akan merasa muntah jika ia tidak wangi.
"Kenapa tuan?"
"Heh.. Keponakanmu itu Syam. Ia tidak mau dekat denganku karena badanku bau. Sudah berapa kali aku mandi tetap saja dia bilang bau."
"Sabar tuan, biasanya itu hanya berjalan selama tri semester pertama."
"Hah sehari saja terasa lama."
"Sekarang berapa usia kehamilan nyonya?"
"Mau tiga bulan."
"Sabar tuan. Sebentar lagi."
"Bagaimana kalau itu berlanjut sampai nanti ia melahirkan? Bisa mati berdiri aku."
"Hahahahhh.. Itulah seni dalam berumah tangga tuan. Apalagi istri sedang hamil. Pasti ada cerita lucu di balik itu semua. Dulu waktu istri saya hamil, ia benci dengan saya. Melihat wajah saya saja terasa muak baginya. Dan ternyata anak saya malah mirip dengan saya."
"Semoga saja hanya tiga bulan."
Aroon kembali memeriksa pekerja dan hasil panen. Karena hasil panen kali ini kurang dari tahun sebelumnya Aroon harus ekstra kerja keras mengevaluasi lagi kadar kesuburan tanah perkebunannya sehingga ia bisa menggunakan pupuk yang sesuai.
Dari kejauhan tampak Cyra mengenakan gaun dengan motif floral berwarna hijau. Ia mencari keberadaan suaminya.
"Pak Uo lihat Aroon?"
"Tuan ada di sana." jawab Syamsudin. "Ia tampak frustasi karena kau tidak mau dekat dengannya."
"Hahahha.. Iya.. Entahlah hanya dengan aroma dia saja aku merasa mau muntah. Nyatanya saat ini aku dekat dengan Pak Uo tidak ada masalah apa - apa kan."
"Yah istilah jawanya gawan bayi."
"Iya ibu juga bilang begitu." ucap Cyra. "Ya sudah aku cari Aroon dulu."
Cyra kemudian menuju ke arah yang di tunjukkan oleh Pak Uo nya. Ia melihat suaminya itu sedang mengarahkan beberapa pekerja. Keringatnya yang mengucur justru membuatnya semakin seksi.
"Sayang." panggil Cyra. Ia tersenyum manis dengan suaminya.
"Cyra." Aroon menoleh ke arah istrinya. Dengan segera ia mundur beberapa langkah. Takut aroma tubuhnya akan membuat istrinya muntah.
"Kenapa mundur?"
"Aku berkeringat dan belum mandi. Aku takut jika kamu muntah."
"Hahahahh.. Iya.. Iya.. Terima kasih ya kamu sudah mau menerima itu dengan ikhlas." Cyra melangkah mendekati Aroon. Dengan spontan Aroon langsung mundur. "Kau menghindariku sayang."
"Aku takut kamu muntah Cyra."
"Diam di tempat dan jangan bergerak. Ini permintaan dari anakmu." ucap Cyra sambil mengelus perutnya yang sudah tampak membuncit. Aroon dengan terpaksa menurutinya.
Cyra berjalan ke arahnya hingga mereka tidak berjarak lagi. Cyra memegang baju Aroon dan menariknya untuk mendekat. Ia mencium tubuh Aroon. "Aku suka aroma ini."
"Kkau.. Kkau___."
"Iya sayang aku sudah tidak muntah lagi mencium aromamu." Cyra tersenyum sambil mencium pipi suaminya.
"Yesss!!!" teriak Aroon sekeras - kerasnya. "Sejak kapan?"
"Dua hari yang lalu."
"Apa? Dua hari yang lalu? Dan kau tidak mengatakannya padaku."
"Maaf aku hanya mau memastikannya dulu. Takutnya tiba - tiba saja aku kembali muntah. Tapi setelah aku observasi ternyata selama dua hari ini aku sama sekali tidak muntah mencium aromamu."
"Ya tuhan. Syukurlah." tampak rona bahagia memancar dari wajahnya.
"Dan sekarang aku menginginkanmu." pinta Cyra tertunduk malu.
"Iya sayang.. Aku juga sudah tidak sabar." Aroon segera membopong tubuh istrinya. "Phoo akan melihatmu baby."
__ADS_1
"Hahahah.." Cyra tertawa geli melihat kelakuan suaminya. Ia sudah tidak malu jika kemesraan mereka di lihat oleh pekerja.
Aroon segera membawa Cyra kembali ke rumah.
Syamsudin yang melihat itu tersenyum bahagia. "Selamat bersenang - senang tuan." gumamnya. Ia kembali fokus pada para pekerja. "Kalian lihat apa? Ayo kembali kerja."
"Baik pak Syam." jawab mereka.
ππππ
Saat ini Cyra sudah berada di ruang bersalin. Ia berjuang melahirkan buah hatinya dengan Aroon. Kali ini ia sedikit lebih tenang karena kehadiran suami yang selalu menguatkannya.
Terdengar tangis bayi yang membuat Cyra bernapas dengan lega. Seorang bayi perempuan telah melengkapi keluarga Aroon.
"Dia cantik sekali. Bayi mungilku." mata Aroon berkaca - kaca. Berkali - kali ia mendekap bayi cantik itu. "Cyra lihatlah dia cantik seperti dirimu." Aroon memberikan bayi itu ke dalam pelukan Cyra.
"Ya tuhan, kamu cantik sekali nak." air mata Cyra menangis.
"Terima kasih sudah berjuang melahirkan bayi cantik ini. Buah hati kita." Aroon mencium kening Cyra.
Cyra segera di pindahkan ke ruang rawat inap. Di sana sudah menunggu Gio, ayah dan ibu yang sedang menggendong Arthit. Di usianya sekarang ini ia baru suka berjalan kesana kemari. Jadi memang butuh pengawasan ekstra.
"Selamat Cyra."
"Terima kasih ayah, ibu."
"Phoo.. Phoo.. Phoo." panggil Arthit. Ia memang sudah bisa memanggil Phoo tapi belum bisa memanggil Mae. Hanya Ma saja yang keluar dari mulut kecilnya.
Aroon segera mengambil alih Arthit dari gendongan ibu. "Hmmm.. Kau membuat nenekmu lelah ya." Aroon dengan gemas mencium pipi bayi gembul itu.
"Na.. Na.. Na.." Arthit menunjuk ke pintu.
"Mau ke sana?" tanya Aroon. Arthit mengangguk.
"Na.. Na.. Na.." ucapnya lagi.
"Iya.. Iya.. Ayo kita kesana." jawab Aroon. "Ayah ibu aku tinggal dulu."
"Iya nak Aroon. Memang Arthit bayi yang aktif." ibu mengusap sedikit keringat di dahinya. "Ibu sampai kewalahan."
"Mana baby nya?" tanya Gio tidak sabar.
"Sabar sayang, sebentar lagi dia di bawa kemari."
"Susternya lama." lagi - lagi Gio mengeluh. Memang dari Cyra masuk ke ruang bersalin dia yang paling tidak sabar ingin melihat adiknya. Tak lama kemudian suster masuk membawa box bayi. "Yeaayy.. Itu adikku." teriak Gio.
"Maaf bu Cyra apa ASI nya sudah keluar?"
"Sudah suster."
"Nah lebih baik bisa langsung di minumkan bayinya."
"Baik."
"Bayi akan kami tinggal di sini sebentar bu Cyra untuk menyusu. Nanti akan kami bawa kembali ke ruang bayi." suster memberi penjelasan. "Besok dokter akan visit pagi. Ada dua yang pertama dokter obgyin dan yang kedua dokter anak."
"Terimakasih suster."
"Mungkin ada yang mau di tanyakan?"
"Sementara tidak ada."
"Kalau begitu saya permisi dulu." suster segera pergi dari ruang rawat inap.
Gio memandangi adiknya tanpa berkedip. "Dia seperti boneka, Mae. Dia sangat cantik." puji Gio tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tentu saja cantik, kakaknya juga tampan - tampan." puji ibu sambil memeluk Gio.
"Benarkah nek?"
"Tentu saja benar. Cucu nenek sangat ganteng. Pasti di sekolah banyak yang naksir."
__ADS_1
"Iya." jawab Gio bangga. "Bahkan mereka sering memberiku coklat."
"Hahahahh.." semua tertawa.
Ibu mengambil baby dari box dan memberikannya ke Cyra. Cyra segera menyusui bayinya untuk yang pertama kali.
"Anakmu cantik Cyra."
"Iya. Tapi dari semuanya tidak ada yang mirip denganku. Semua copy paste Aroon."
"Itu artinya, suamimu menyayangi kamu." sahut ayah.
"Ya sayang. Saking sayangnya sampai Arthit masih bayi sudah punya adik lagi." sindir ibu.
"Itu karena aku belum KB bu."
"Ya sudah. Jangan kebobolan lagi kasihan anak - anakmu."
"Iya.. Iya."
Tak lama kemudian Aroon masuk bersama Arthit yang sudah tertidur. "Dia kecapean lari ke sana kemari." ucap Aroon sambil meletakkan Arthit di sofa. Ia kemudian menghampiri Cyra dan duduk di sampingnya.
"Cantiknya." puji Aroon. Ia membelai pipi bayinya.
"Oya kamu sudah siapkan namanya?" tanya Cyra.
"Sudah."
"Siapa Phoo? Nama adikku harus cantik."
"Namany Achara. Yang artinya seorang gadis yang cantik seperti malaikat dan baik hati. Achara Ram Tanawat."
"Nama yang bagus. Ayah setuju." sahut ayah. Ibu mengangguk sambil teraenyum.
"Yah anakku namanya Thailand semuanya." ucap Cyra.
ππππ
Achara sudah bisa di bawa pulang ke rumah. Seperti biasa sore itu Aroon mengadakan acara syukuran atas kelahiran anaknya yang ketiga.
Jika dulu tamu mereka tinggalkan kali ini berbeda. Aroon dan Cyra tidak absen dari acara itu. Kehebohan tingkah Arthit yang membuat Aroon harus ekstra hati - hati. Anak itu tidak mau diam. Berlari ke sana kemari.
"Cyra ikut aku." ajak Aroon.
"Kemana?"
"Sudah ikut saja."
Aroon mengendong Arthit dan juga tangannya menggandeng tangan Gio. Mereka berlima menuju ke perkebunan. Di sana Aroon sudah membuatkan taman bermain untuk anak - anaknya. Tempatnya pun sangat tenang sehingga Gio bisa melukis.
"Wow.. Tempat ini bagus sayang." pujiβΉ Cyra.
"Ini untuk anak - anak. Aku ingin mereka bisa bermain dengan aman. Kamu juga bisa mengawasi mereka bermain tanpa was - was."
"Kau memang selalu mengutamakan aku dan anak - anak. Terima kasih sayang. Aku mencintaimu."
"Aku yang harusnya berterima kasih. Karena kehadiranmu bagaikan embun yang menyejukkan hatiku. Cintamu yang membuatku menjadi Phoo yang lebih baik. Aku mencintaimu Cyra." Aroon mencium bibir Cyra sekilas.
Arthit yang dalam gendongan Aroon meronta minta turun.
"Iya.. Iya.. Sabar Arthit." ucap Aroon. Mereka berlima datang ke sana. Arthit dan Gio mencoba wahana permainan buatan Aroon.
Cyra duduk sambil menikmati kebersamaan itu.
Terima kasih tuhan atas kebahagian yang Kau berikan padaku ucap Cyra dalam hati. Ia tersenyum sangat bahagia.
...ππππ THE ENDππππ...
Hai para pembaca tercinta. Novel My Love Teacher sudah sampai episode terakhir ya. Terima kasih atas dukungan dan juga kritikanya selama ini
Ini akan menjadikan motivasi buat aku untuk membuat karya - karya baru. Jangan lupa dukung juga karyaku yang lain.
__ADS_1
Sampai jumpa di Novel ku yang baru ya.. Ramaikan..
...π₯°π₯°π₯° Neena π₯°π₯°π₯°...