My Love Teacher

My Love Teacher
Ciuman Rahasia Itu


__ADS_3

Karena pikirannya yang kalut Cyra memutuskan untuk pergi ke sungai. Ia ingin menenangkan pikirannya disana. Ia naik sepeda Onta milik ayahnya, walaupun kuno tapi sepeda itu awet dan tidak rusak.


Tak berapa lama ia sampai di sungai setelah menyandarkan sepedanya ia berjalan di atas batu. Ia jadi teringat di tempat ini Aroon melihat tubuhnya yang basah.


What Aroon.. Aroon. Kenapa sih nama itu terlintas lagi di pikiranku. Huh jauh - jauh kesini buat mencari ketenangan yang ada malah nostalgia. Kalau begini pikiranku mana bisa tenang keluhnya dalam hati.


Cyra menongak ke kanan dan ke kiri. Saat - saat seperti ini sungai biasanya sepi karena belum musim tanam. Cyra memutuskan untuk berenang di sungai. "Mungkin akan segar pikiranku setelah mandi air sungai." gumamnya.


Ia mulai melepas kaos dan celananya. Setelah menaruhnya di atas batu ia mulai berenang hanya dengan mengenakan ********** saja yang dulu pernah di sebut 36 C oleh tuannya.


Cyra begitu menikmati suasananya saat menyendiri. Ia memejamkan matanya sambil menikmati segarnya air sungai. Hampir tiga puluh menit ia berendam di sana. Setelah puas Cyra segera keluar dari sungai dan mengenakan pakaiannya kembali.


Kresek! Kresek!


Suara apa itu. Cyra kaget, ia menoleh dan mengedarkan pandangannya ke seluruh sungai. Dan hasilnya sepi tidak ada orang sama dengan pertama kali ia datang. Mungkin itu angin yang meniup daun pohon pikirnya.


Setelah memakai pakaiannya kembali ia segera mengayuh sepeda onta nya pulang ke rumah.


"Gio, Olif, Omar. Kok kalian ada disini?" tanya Cyra terkejut. Mereka menghamburย  ke dalam pelukannya.


"Kami menyusul bu Cyra." jawab Gio


"Kok bisa? Siapa yang mengantar kalian? Memang tuan memperbolehkan."


"Tentu saja bu Cyra." jawab Olif. "Tuh sama pak Syam."


"Pak Uo?" tanya Cyra tidak percaya. Tak berapa lama Syamsudin keluar dari dalam rumah. Cyra segera menyalami Pak Uo nya. "Naik apa tadi Pak Uo?"


"Pesawat." jawab Pak uo. "Tuan muda sudah tidak sabar bertemu denganmu."


"Tumben tuan mengijinkan kalian kesini. Tidak apa - apa tuan Pak Uo tinggal sendiri?"


"Eh siapa bilang tuan kita tinggal sendiri." ucap Omar.


"Terus?"


"Phoo ikut bu Cyra."


"Ikut?" mata Cyra terbelalak tidak percaya. "Dengan nona Denisha?"


"Jangan sebut nenek sihir itu, bisa - bisa ia terbang kesini lagi." ucap Olif.


Yah.. Belum sampai ia tenang pikirannya, orang yang ingin dia hindari malah datang ke sini pikir Cyra.


"Terus dimana tuan?"


"Katanya mau jalan - jalan ke sungai." jawab Syamsudin. "Tapi pergi dengan jalan kaki, katanya juga mau menikmati pemandangan disini."


"Ssu.. Ssungai? Sungai yang dekat sawah?"


"Iya memang ada sungai lain di sekitar sini."


Wajah Cyra berubah menjadi pucat, jangan - jangan tuan tadi melihatku. "Hmm.. apa perginya sudah dari tadi?"


"Baru saja." jawab Syamsudin.


Cyra bernapas dengan lega. Kalau baru saja itu artinya kecil kemungkinan tuannya itu melihatnya mandi di sungai. Mudah - mudahan seperti itu.


Mereka mengobrol bersama diteras di temani segelas teh hangat dan singkong rebus. Tak berapa lama dari kejauhan tampak Aroon berjalan. Duh kenapa tuan makin lama makin matang saja, Cyra kembali terpesona. Tapi tidak bertahan lama ia segera mengembalikan kesadarannya agar kembali ke realita.


"Tuan."


"Kau sudah kembali?"


"Iya."


"Aku masuk kamar dulu." pamit Aroon.


Cya bernapas lega, sepertinya tuannya itu tidak melihatnya mandim di sungai.

__ADS_1


Sementara itu dikamar...


Gila, kenapa milikku kembali bereaksi setelah susah payah aku meredamnya. 36 C ini ternyata memiliki tubuh yang menggoda. Aroon berjalan kesana kemari menenangkan sesuatu di bawah sana yang bergejolak. Apa yang harus aku lakukan, kamar ini tidak memiliki pintu. Sunggu sial pikir Aroon.


"Ternyata bu Cyra sudah tahu kalau kami mau kesini." ucap Omar. "Tuh ibu sudah memasak makanan untuk kami."


"Sebenarnya aku tidak tahu kalau kalian mau kesini. Ibu memasak karena mau ada tamu datang kesini."


"Tamu? Siapa bu?" tanya Olif penasaran.


"Itu anaknya pak Sapto." jawab Cyra sambil mengusap mulut Gio yang belepotan.


"Mau apa pak Sapto ke sini?" tanya Omar.


"Bukan pak Sapto, tapi anaknya." sahut Olif. "Huh dasar tuli!"


"Ya maksudku ya itu tadi."


"Heleh bilang saja kamu bodoh pake membela diri segala." siondir Olif


"Aku tidak tuli dan tidak bodoh. Memangnya kamu."


"Eh sudah.. sudah.. jangan bertengkar." lerai Cyra.


"Buat apa anaknya pak Sapto ke sini bu?" tanya Gio.


"Ya tentu saja mau melamar bu Cyra tuan muda!" tebak Olif.


"Siapa yang mau di lamar?" tanya Aroon yang tiba - tiba saja datang dan ikut bergabung bersama dengan mereka.


"Heheheh.. Bu Cyra tuan." jawab Omar.


"Dengan siapa?"


"Itu anaknya pak Sapto yang kumisan tuan." sahut Olif.


"Aku tidak bertanya pada kalian." Aroon memandang tajam ke arah Cyra. "Aku bertanya padamu Cyra."


"Itu sama artinya dengan dilamar bu Cyra, iya kan Omar?"


"Hmm.. Betul." jawab Omarย  dengan mulut yang penuh dengan pisang goreng.


"Cyra!" panggil Aroon.


"Omar, Olif. Ini bukan lamaran." tegas Cyra.


"Apa dia tahu kamu bekerja padaku di Bogor?"


"Siapa tuan?"


"Calonmu."


"Ya tuhan, dia bukan calon saya tuan. Saya saja belum tahu orangnya yang mana. Ini rencana orang tua saya. Jadi saya tidak tahu apa - apa."


"Kamu yakin? Kamu tidak bohong."


"Yakin tuan. Dan saya tidak bohong." jawab Cyra.


"Yah padahal aku ingin kenalan dengan pacar bu Cyra." Olif tampak kecewa.


"Aku tidak mau kenalan!" ucap Gio.


"Kenapa tuan muda?"


"Aku tidak mau kehilangan bu Cyra. Kalau sudah menikah pasti bu Cyra tidak akan menjadi guruku lagi." jawab Gio.


"Bagus Gio." puji Aroon.


Cyra menghela napas panjang. "Tidak ada pernikahan Gio, karena aku belum memiliki calon. Bagaiman abisa punya calon jika setiap hari aku bersamamu."

__ADS_1


"Lebih baik begitu." jawab Gio.


"Eh jangan begitu tuan muda. Cepat atau lambat bu Cyra akan menikah." ucap Olif. "Bagaimana kalau bu Cyra kita perkenalkan pada para pekerja di perkebunan yang masih bujang?"


"Olif! Jangan sembarangan." Aroon berteriak tidak setuju.


"Sudah.. Sudah.. yang belum terjadi jangan terlalu dipikirkan. Biarkan saja nasibku mengalir seperti air." ucap Cyra. "Aku permisi dulu, sebentar lagi tamu ku datang." pamit Cyra dan langsung masuk ke dalam. Hatinya semakin bingung kenapa tuannya tidak mengijinkannya menikah atau mengenal pria. Apa maksudnya? Apa mau membuatku menjadi perawan tua? pikir Cyra kesal. Memang tuan tidak adil.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Sore itu Cyra mengenakan gaun terusan selutut dengan rambut terurai.


"Bu Cyra cantik sekali."


"Terima kasih Olif."


"Kayaknya tamunya sudah datang."


"Oya, kenapa ibu tidak memberitahuku?"


"Itu karena ada tuan Aroon di sana, mungkin ibu sungkan untuk meninggalkan nya sendiri."


"Tuan Aroon? Mau apa dia ikut nimbrung."


"Mana aku tahu bu."


"Ya sudah aku keluar dulu." Cyra bergegas keluar sambil membawa segelas teh hangat. Dengan perlahan ia meletakkan minuman itu tepat di depan Aryo. "Silahkan diminum."


"Terima kasih Cyra."


Cyra kemudian duduk di samping ayah dan ibunya.


"Oya nak Aryo, bapak sama ibu tinggal dulu ya. Silahkan ngobrol dengan Cyra." ayah dan ibu beranjak dari duduknya, mereka melihat Aroon yang tidak mau beranjak dari sana. "Tuan Aroon." ibu memberi kode agar ia ikut masuk.


"Maaf, saya disini saja."


"Tapi____."


"Sudah bu tidak apa - apa. Biarkan saja tuan Aroon disini. Tidak boleh kan dua orang laki - laki dan perempuan berduaan sendiri karena yang ketiga adalah setan." ucap Cyra sambil melirik Aroon.


Sial dia menganggapku setan pikir Aroon kesal.


"Baiklah, silahkan kalian ngobrol bertiga." ucap ayah sambil menarik tangan ibu untuk masuk ke rumah.


Mereka bertiga mengobrol bersama, walaupun terjadi kecanggungan tapi kesan awal cukup lancar. Aryo sebenarnya orang yang enak di ajak ngobrol tapi Cyra tidak memiliki perasaan apa - apa di kesan awal ini. Apalagi di tambah dengan pernyataan tuan Aroon kalau Cyra masih terikat kontrak kerja dengannya dan tidak boleh menikah sampai Gio bisa mandiri nanti. Itu membuat raut muka Aryo yang kecewa. Cyra juga menegaskan kalau mereka bisa berteman.


Akhirnya Aryo pulang, itu membuat Aroon lega. Ia segera masuk ke dalam kamarnya. Tubuh Cyra sangat capek. Setelah bersih - bersih rumah Cyra menemani Gio tidur, Omar dan Olif sedang jalan - jalan ke pasar malam bersama dengan Pak Uo.


"Ceritakan seperti kemarin." pinta Gio sebelum tidur.


"Baiklah, kali ini aku akan menceritakan seorang yang sangat cerdik. Karena kepintarannya dia terkenal di jamannya sampai raja oun mengakui kepintarannya."


"Siapa dia?"


"Abunawas."


"Aku mau mendengarnya."


"Baiklah, ayo bersandar di sini. Kenakan selimutmu."


Gio mengikuti perintah Cyra, Dia segera memulai ceritanya. Tak butuh waktu lama Gio tertidur. Cyra yang juga sangat capek ikut tertidur di sebelahnya.


Aroon masuk ke dalam kamar Gio, ia tersenyum melihat dua orang yang tertidur bersama. Aroon membetulkan posisi Gio agar tidur dengan lebih nyaman. Dan perlahan membawa tubuh Cyra masuk ke dalam kamar yang dipersiapkan untuknya. Dengan perlahan Aroon meletakkan tubuh Cyra di atas tempat tidur.


Tiba - tiba Cyra mengalungkan tangannya di leher kekar milik Aroon. "Gio, selamat malam." gumamnya dengan mata terpejam. Ia menarik kepala Aroon mendekat ke arahnya dan memberikan ciuman kecil. "Mmmuah, tidur yang nyenyak ya."


Kejadian itu begitu cepat membuat Aroon tertegun. Tapi Aroon tersenyum senang dengan apa yang dilakukan Cyra padanya.


"Selamat istirahat bu Cyra." bisiknya di telinga Cyra. Ia memberanikan diri mencium bibir Cyra yang sudah lama ia damba. Sekali.. Dua kali.. Dan yang terakhir cukup lama. Tanpa sadar ada sepasang mata yang memperhatikan apa yang telah ia perbuat. Aroon tidak memperdulikan karena kebahagiaan telah menjalar dalam tubuhnya. Entah kenapa ia merasa sangat tenang dan damai.

__ADS_1


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


__ADS_2