My Love Teacher

My Love Teacher
Perjanjian Dengan Gio


__ADS_3

Pagi ini Aroon membuka matanya perlahan. Ia mengumpulkan kesadarannya terlebih dahulu sebelum beralih ke Cyra. Ia melihat gadis itu tampak tidur dengan nyenyak hingga tidak sadar dengan apa yang telah dilakukannya. Tangan Aroon memegang kening Cyra.


"Sudah tidak demam." gumamnya, dengan perlahan ia memindahkan Cyra yang tertidur di atas tubuhnya. Ia kemudian menyelimuti dan membiarkan Cyra tetap terlelap.


Aroon meregangkan ototnya sebentar sebelum akhirnya melangkah keluar. Akan tetapi ia dikejutkan oleh sesuatu ketika membuka pintu.


"Syam?"


"Tuan?"


Mereka berdua sepertinya sama - sama terkejut.


"Apa yang kau/tuan lakukan disini?" ucap mereka bersamaan.


"Aku menjaga Cyra. Kau harusnya berterima kasih padaku, karena aku menggantikan tugasmu menjaganya. Aku tahu kau sudah tua pasti akan lelah menjaga orang sakit." Aroon memberi penjelasan. "Kau sendiri?"


"Saya juga ingin memastikan keadaan keponakan saya tuan. Dia adalah tanggung jawab saya."


"Dia tidur."


"Akan saya bangunkan karena ia harus mengajar tuan muda." Syamsudin mau melangkah masuk.


"Tidak perlu, biarkan ia istirahat."


"Tapi tuan___."


"Apalagi ini hari Minggu dan aku berjanji memberinya libur."


Syamsudin berusaha melongok untuk melihat kedalam. Untuk memastikan kalau keponakannya baik - baik saja seperti yang dikatakan Aroon


"Mau apa? Kau tidak percaya ucapanku?"


"Eh ttidak tuan. Saya percaya."


"Lebih baik kau urus pengiriman sawi kita ke Korea."


"Eh baik tuan." jawab Syamsudin. Ia kembali melongok ke kamar Cyra karena masih penasaran. Hal itu membuat Aroon kesal dan berusaha menghalangi pandangannya.


"Sudah sana pergi." usirnya.


"Iiiya tuan."


Syamsudin segera membalikkan badan meninggalkan Aroon. Tapi ada yang aneh dibenaknya tumben tuan Aroon memberikan perhatian yang berlebihan pada pekerjanya. "Jangan - jangan tuan mau memecatnya, perhatian itu itung - itung sebagai pesangon." gumam Syamsudin. Ia terdiam sejenak merasa khawatir dengan nasib keponakannya. Karena tuan malam itu sangat marah sekali. "Ah sudahlah sepertinya aku terlalu berpikir berlebihan."


Hari semakin siang akan tetapi Cyra masih tertidur dengan lelap. Sementara itu bik Tika masuk ke dalam membawakan makan siang dan obat untuknya sesuai perintah tuan Aroon.


"Hmmm." Cyra bergerak pelan ketika bik Tika meletakkan makanan di mejanya.


"Cyra." panggilnya pelan.


Perlahan Cyra membuka matanya. Berkali - kali ia mengerjapkan matanya. "Dimana ini bik?"


"Ini di kamarmu."


"Apa yang terjadi?"


"Semalam kamu pingsan." jawab bik Tika sambil membantu Cyra bangun dan duduk bersandar.


"Siapa yang membawaku ke mari?"


"Tuan Aroon."


"Apa?!"


"Eh teriakanmu keras amat. Tidak seperti orang sakit."


"Badan ku sudah enakan bik Tika." ucap Cyra. "Tunggu.. Tunggu. Jadi tuan Aroon yang sudah membawaku kesini? Bukankah ia.. ia marah - marah terus teriak - teriak."


"Iya awalnya seperti itu, karena kamu berani menyuruh tuan muda ikut bekerja."


"Hei.. aku tidak menyuruh Gio membantuku memanen sawi ya. Itu keinginannya sendiri."


"Kamu tenang saja tuan muda sudah menjelaskannya."


"Benarkah?"


"Benar. Dan kau tahu perbuatan tuan muda membuat tuan Aroon terharu. Bahkan ia langsung memeluk dan mencium tuan muda karena bangga."


"Ah, syukurlah aku lega." ucap Cyra. "Oya jam berapa ini?"


"Jam satu siang." bik Tika membuka gorden dan sinar matahari langsung masuk ke dalam.


"Waduh, aku terlambat mengajar Gio." Cyra bergegas beranjak dari tempat tidurnya.


"Heh, ini hari minggu Cyra. Kata tuan Aroon hari ini kamu libur, jadi ia melarang kami membangunkanmu."


"Hari Minggu? Yah. Gagal dech." tampak kekecewaan di wajah Cyra.


"Apanya yang gagal?" tiba - tiba Aroon masuk ke dalam kamar Cyra untuk mengecek keadaannya.


"Tuan?!" teriak Cyra dan bik Tika hampir bersamaan.


Aroon mendekati Cyra dan memegang kening Cyra. "Tidak demam."


"Saya sudah sembuh tuan."


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Gagal apa?"


"Tuan memberi saya libur kalau hari minggu, dan saya baru bangun siang hari. Seharusnya dari tadi pagi saya sudah bisa jalan - jalan menikmati masa libur saya."


"Kau bisa jalan - jalan nanti sore."


"Kurang lama." gerutu Cyra dengan suara pelan.


"Memang apa rencanamu?"

__ADS_1


"Pertama saya ingin ke perpustakaan milik tuan. Saya akan mengambil beberapa buku yang saya suka. Hmmm terus yang kedua mau berbelanja beberapa barang. Yang ketiga apa ya." Cyra terlihat berpikir. "Ah ya, kata Pak Uo ada pasar malam."


"Pak Uo?"


"Oh Pak Uo itu panggilan paman untuk orang Minang."


"Syam maksudmu?"


"Ia benar tuan."


Aroon diam memperhatikan Cyra yang matanya berbinar ketika mengatakan rencananya. "Habiskan makanmu, biar Fahri yang akan mengantar kemana kau ingin pergi."


"Benarkah tuan?" mata Cyra membelalak tidak percaya.


Aroon mengangguk. "Jangan lupa obatnya."


"Siiaappp." ucap Cyra senang. "Bik Tika kemarikan nasinya akan aku habiskan."


Bik Tika yang tersenyum melihat tingkah Cyra, ia segera membawakan sepiring nasi dan air putih. Dengan cepat Cyra menghabiskan makanannya hanya dalam hitungan menit. Ia segera meminum obat sesuai dengan perintah Aroon.


"Tuan, nasi sudah saya habiskan dan obat juga sudah saya minum. Jadi tuan bisa keluar dari kamar saya."


"Kau mengusirku?!"


"Bukan, saya mau mandi. Saya tidak leluasa kalau tuan menunggu saya disini."


"Oh." hanya itu yang keluar dari mulut Aroon, ia merasa malu dan segera keluar dari kamar Cyra.


🍀🍀🍀🍀


"Bu guru mau kemana?" tanya Gio ketika tahu Cyra akan pergi.


"Ibu hari ini libur mengajarmu Gio. Dan rencananya ibu akan keluar belanja ke pasar malam."


"Apa itu pasar malam?"


"Hmmm seperti pasar tapi buka di malam hari. Hanya saja mereka tidak menjual kebutuhan bahan pangan tapi pusat hiburan dan permainan."


"Boleh aku ikut?"


"Boleh tapi ijin tuan Aroon dulu."


Cyra bersama Gio pergi ke ruang kerja Aroon.


"Phoo." panggil Gio


"Ya Gio."


"Hari ini aku akan ikut bu guru ke pasar malam."


"Tidak."


"Ayolah tuan, hanya sebentar saja." Cyra merajuk.


"Tapi ada Omar dan Olif, mereka bisa membantu saya menjaga Gio."


Aroon diam tampak berpikir mempertimbangkan usulan Cyra. "Baiklah kalian boleh pergi."


"Terima kasih Phoo." Gio memeluk Aroon dan memberi ciuman ringan di pipinya.


"Baiklah tuan kami permisi dulu."


"Jaga dia, jangan sampai kenapa - napa."


"Siap tuan."


Cyra menggandeng tangan Gio dan mereka pergi bersama.


Tak berapa lama mereka sampai ke pasar malam.


"Wow ramenya." teriak Omar. Ia berlari kesana kemari bersama Olif. Setelah puas mereka menghampiri Gio.


"Tuan muda mau main apa?"


"Hmm tembak - tembakan."


"Ayo." Omar menarik tangan Gio.


"Jangan cepat - cepat Omar. Ingat pesan tuan Aroon."


"Iya.. Iya bu Cyra." Omar kembali berjalan seperti biasa. Mereka bermain tembak - tembakan dan itu hal yang mudah bagi Cyra. Ia dengan cepat memenangkan permainan.


"Wah.. Wah bu Cyra hebat. Tuan harus tahu ini." puji Olif.


Cyra tersenyum bangga. "Ini hal yang mudah bagiku Olif. Di tempat aku tinggal hampir tiap bulan ada pasar malam."


"Bu Cyra jangan sombong dulu. Kau tidak akan bisa mengalahkan Phoo." ucap Gio.


"Hmm kapan - kapan bisa di coba." ucap Cyra menantang.


"Pasti dan aku akan menjadi wasitnya." teriak Omar.


"Oya Gio, karena aku memenangkan permainan ini, kamu ingin hadiah apa?"


"Hmmm." Gio tampak berpikir. "Aku ingin mobil mainan itu."


"Oke." Cyra meminta sebuah mobil mainan pada penjaga stand dan memberikannya ke Gio. "Ayo kita lanjut mainan lagi."


"Aku ingin naik itu."


"Baiklah ayo kita naik."


"Apa itu namanya."


"Itu Bianglala, biasanya jika kita sampai ke puncaknya kita bisa make a wish."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Itu hanya kepercayaan saja Gio, dan mungkin itu di sebarkan oleh penjaga Bianglala agar banyak peminatnya. Pada dasarnya kita berdoa bisa dimana saja dan tentu saja pada tuhan." Cyra menjelaskan agar tidak ada salah persepsi tentang Bianglala. "Ayo kita naik."


Cyra dan Gio duduk bersama, Sedangkan Omar bersama dengan Olif. Dari sana mereka bisa melihat pemandangan di bawah yang meriah akan gemerlapnya lampu di pasar malam.


"Gio." panggil Cyra.


"Ya."


"Apa makanan kesukaanmu?"


"Aku suka telur. Semua masakan yang terbuat dari telur aku suka."


Cyra mengangguk - angguk. "Aku ingin bertanya, boleh?"


"Apa yang ingin ibu tanyakan?"


"Tentang penolakanmu terhadap para pengajar. Kenapa kau menolak dan juga sering menjebak mereka agar menjadi tidak betah?"


"Mereka jahat."


"Jahat kenapa?"


"Mereka bersedia mengajarku karena ingin mendekati Phoo."


"Kau yakin dengan opinimu? Kau melihat mereka melakukan pendekatan pada ayahmu?"


Gio mengangguk. "Aku melihatnya beberapa kali. Bahkan guru disekolah pun sama. Aku tidak mau memiliki ibu seperti itu. Maae Davira tidak akan tergantikan oleh siapapun!"


"Dan kau melakukan itu padaku karena beranggapan aku juga memiliki niat sama dengan mereka yaitu merebut ayahmu?"


Gio mengangguk.


"Huh siapa juga yang mau dengan pria yang dingin dan arogan." gumam Cyra.


"Bu Cyra tidak menyukai Phoo ku."


"Kalau dalam arti tertarik tidak, aku hanya menghormati ayahmu sebagai orang yang sudah menggajiku." ucap Cyra. "Hmmm, bagaimana kalau kita buat perjanjian?"


"Perjanjian? Perjanjian apa?"


"Kamu bersedia menerima setiap pelajaran dariku dan aku berjanji tidak akan mendekati ayahmu seperti kebanyakan orang. Bagaimana?"


Gio tampak berpikir. "Baiklah aku setuju."


"Bagus, sekarang kita teman." Cyra mengulurkan tangannya.


"Teman." balas Gio.


Setelah menikmati pasar malam, mereka akhirnya pulang dan beristirahat. Cyra tampak sangat lega setelah perjanjian itu ia tidak akan kesulitan lagi untuk mengajar Gio.


Keesokan paginya..


"Masak buat siapa?" tanya bik Tika.


"Buat tuan Aroon dan Gio."


"Dalam rangka?"


"Kemarin kan tuan sudah menolong dan merawatku ketika sakit. Dan juga ini telur kesukaan Gio."


"Ya sudah, kalau jam segini tuan ada di ruang kerjanya."


"Baiklah bik Tika, aku akan kesana. Doakan berhasil."


"Huh kayak mau tes saja." cibir bik Tika.


Cyra segera membawa masakannya ke ruang kerja Aroon.


Sebelum mengetuk ia menarik napas panjang. Tok! Tok! Tok!


"Masuk."


Cyra membuka pintu dan masuk kedalam. "Selamat pagi tuan."


"Pagi. Kenapa kau kemari?"


"Saya ingin memberi ini." jawab Cyra.


"Letakkan disana."


"Hmm.. Saya ingin mengucapkan terima kasih karena kemarin tuan sudah menolong saya dari pingsan."


"Aku lakukan itu karena aku tidak ingin dituduh berbuat semena - mena terhadap pekerjaku."


"Iya saya tahu. Walaupun begitu saya tetap akan mengucapkan terima kasih."


"Sudah itu saja?"


"Eh iya."


"Kalau begitu keluarlah karena aku akan bekerja."


"Baik tuan kalau begitu saya permisi."


Cyra berpamitan akan tetapi ia berbalik lagi.


"Kenapa?"


"Satu lagi tuan." jawab Cyra. "Saya berjanji akan mengajar Gio hingga nanti dia akan menjadi anak yang membanggakan tuan. Dan juga itu masakan telur kesukaan Gio. Silahkan tuan nikmati bersama dengan Gio."Cyra tersenyum dan kemudian pergi meninggalkan Aroon.


Aroon melihat masakan Cyra, ia kemudian tersenyum.


🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2