
"Ggrrrr.. Gggrrrr.. Guuk! Guuk!" anjing Pit Bull itu terus menyalak dan tiba - tiba saja berlari ke arah mereka.
"Lari Gio!!!" teriak Cyra.
Cyra menarik tangan Gio dan membawanya lari secepat mungkin. Anjing Pit Bull itu juga terus mengejar mereka seperti anjing gila. Saat berlari Cyra berpikir keras dan akhirnya ia mendapatkan ide untuk naik ke atas pohon yang tadi mereka pergunakan untuk menggambar.
"Gio kita ke pohon itu." tunjuk Cyra.
"Baik bu."
"Ayo kita lari lebih cepat."
Gio mempercepat langkahnya lagi begitu juga dengan Cyra. Ia berlari sekuat tenaga. Tapi entah kenapa anjing itu larinya begitu cepat hingga jarak beberapa meter dari mereka.
Tampak dari kejauhan Omar dan Olif terkejut melihat Cyra dan Gio berlari.
"Bu Cyra kenapa lari?" teriak Omar.
"Omar! Omar! Kami di kejar anjing gila!"
"Apa?!" teriak Omar lagi. Karena jarak mereka agak jauh. Apalagi Cyra berteriak sambil berlari. Tenaganya sudah hampir habis.
"Kami dikejar anjing gila!"
Olif terkejut mendengar teriakan Cyra. "Omar! Mereka di kejar anjing gila."
"Benarkah?" sayup sayup mereka mendengar suara anjing yang terus menyalak. 'Iya kamu benar." Omar mulai panik.
"Omar panggil Aroon!"
"Bbaik! Bbaik!" jawab Omar. Ia segera menarik Olif dan berlari kembali ke rumah besar. "Kita harus cepat Olif, kau dengar suara anjing tadi kan. Begitu menakutkan."
"Iya ayo cepat."
Belum sampai mereka ke rumah besar, tampak Aroon sedang berbincang dengan Syamsudin dan Sulaiman.
"Tuaaannn!!!" teriak Omar sekencang - kencangnya.
"Woi! Jangan berisik Omar." teriak Sulaiman karena itu dianggap tidak sopan.
"Tuuaannn!!! Bu Cyra dan Gio di kejar anjing gila!!!"
"Apa?! Jangan mengada - ada. Mana Ada anjing gila di perkebunan!"
"Benar tuan, kami melihat sendiri." sahut Olif yang sudah berlinang air mata. "Kasihan Bu Cyra dan tuan muda kalau sampai di gigit anjing itu." Olif menangis tersedu - sedu.
"Syam dan kau Sulaiman bawa senapan."
"Baik tuan."
"Aku akan kesana dulu bersama Omar dan Olif." perintah Aroon. Ia menyahut pisau belati di pinggang Syamsudin. "Aku pinjam dulu." Aroon segera berlari mengikuti Omar dan Olif.
Sementara itu..
"Bu Cyra kita sudah hampir sampai pohon."
"Kau naik dulu."
"Tapi bu."
__ADS_1
"Ikuti perintahku. Aku akan membantumu. Ayo cepat!"
Gio mulai memanjat tapi terjatuh lagi karena ia kesulitan meraih dahan yang paling rendang.
"naik ke punggungku cepat!"
"Baik." dengan cepat Gio naik ke punggung Cyra tujuannya agar ia lebih mudah memanjat. Dengan susah payah ia berhasil meraih dahan yang paling rendah dan segera memanjat ke atas.
"Lebih tinggi lagi Gio."
"Bagaimana dengan ibu?"
"Jangan pikirkan aku! Aku akan menyusulmu ke atas!" perintah Cyra. "Panjat yang tinggi, Gio!"
Dengan cepat Gio memanjat hingga di perkirakan anjing itu tidak bisa menggigitnya. Cyra bersiap untuk memanjat tapi ia urungkan.
"Gggrrrr... Gggrrrrr.. Gggrrrr.." suara anjing itu terdengar sangat dekat. Dengan perlahan Cyra berbalik matanya membelalak tidak percaya bahwa anjing itu ada di hadapannya hanya berjarak sekitar tiga meter saja. Cyra dengan napasnya yang memburu berusaha untuk tenang.
"Bu Cyra!" teriak Gio.
"Tetap di atas Gio apapun yang terjadi. Kalau terjadi apa - apa denganmu Phoo akan sangat sedih!"
"Ayo naik bu!" teriak Gio. Ia menangis melihat Cyra berjuang sendiri melawan anjing itu.
"Sudah tidak ada waktu lagi Gio. Kau tetaplah di atas. Ibu akan menghalau anjing ini sampai Phoo mu datang."
"Tidak bu! Ayo naik bersamaku."
"Gio tenanglah. Aku tidak apa - apa. Kita jangan membuat anjing ini semakin panik"
"Gggrrrr... Gggrrrrr.. Gggrrrr.. Guukk! Guukk!" anjing itu menyalak lagi. Bahkan air liurnya bisa Cyra rasakan mengenai tangannya. Anjing itu seperti bersiap menerkamnya.
Cyra semakin panik. Napasnya mulai terasa sesak lagi. Matanya mencari - cari lagi siapa tahu masih ada sisa barang atau batu. Matanya tertuju pada sebatang kayu yang lumayan besar tapi agak jauh.
Ya tuhan apa yang harus aku lakukan. Kalau aku mengambil kayu itu dan kalah cepat dari anjing itu justru ia akan menjadi mangsa yang empuk. Kenapa Aroon lama sekali.
Cyra kemudian mengambil resiko toh semuanya hasilnya akan sama. Minimal jika ia berhasil mengambil kayu itu ia bisa menghalau anjing gila.
"Apa yang ibu lakukan?"
"Ssssttt.. Diamlah sebentar Gio." ucap Cyra lirih. Dengan perlahan Cyra menggeser tubuhnya mendekat ke kayu itu.
"Gggrrr.. Gggrrrr.." lagi - lagi anjing itu seperti tahu gerakan Cyra. Ia seperti mengawasi gerak geriknya.
Cyra berpikir dengan cepat, ia melompat dan. "Yesss!!!" teriaknya setelah berhasil mendapatkan kayu.
Tapi itu hanya berlaku sementara. Karena anjing itu juga melompat ke arahnya dan berhasil menggigit kakinya.
"Aaaccchhh!!!" jeritnya kesakitan.
"Bu Cyra! Bu Cyra!" teriak Gio. "Anjing bodoh lepaskan bu Cyra!"
Cyra masih bergelut dengan anjing itu. Tapi sepertinya sulit melepaskan gigitannya. Darah mulai banyak yang keluar. Cyra memanfaatkan kayu tadi untuk memukul anjing itu.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Aaacchhh!!!" jerit Cyra lagi karena anjing itu aemakin mengeratkan gigitannya. Celana yang di pakai Cyra pun sudah terkoyak - koyak. Ia menggunakan sisa tenaganya untuk terus memukul. Tiba - tiba saja terlintas di benaknya untuk menusuk mata anjing itu.
"Hah! Rasakan!" teriaknya. Dan benar saja anjing itu melepaskan gigitannya. Cyra bisa bernapas lega. Walaupun sekarang kakinya mati rasa. Ia bersandar pada batang pohon.
__ADS_1
"Bu Cyra.." tangis Gio begitu memilukan.
"Jangan menangis Gio. Aku tidak apa - apa." ucapnya lemah. Cyra memegangi kakinya yang sudah banyak mengeluarkan darah. Tubuhnya terasa lemas.
"Ggrrrr... Ggrrrr.. Gguukkk! Gguukkk!" anjing itu menyalak lagi.
"Ya tuhan." ucap Cyra. Tangannya masih memegang erat kayu itu. Tanpa ia duga anjing itu melompat ke arah kepalanya. Beruntung refleknya sangat cepat hingga ia bisa melindungi terkaman anjing itu sengan kayu.
Anjing itu mengigit kayu. Cyra memeganginya dengan erat. Jarak antar ia dan anjing itu sangat dekat hanya beberapa centi saja.
"Bu Cyraaa!!!" teriak Gio lagi.
Tangan Cyra berdarah terkena cakaran. Dan tiba - tiba.
"Cyraa!!!"
Teriakan Aroon membuatnya lega. Tubuhnya sudah sangat lemah.
"Phoo!!! Cepat ke sini!!!" teriak Gio.
Aroon segera berlari dan dengan satu sabetan pisau di tangannya anjing itu melepaskan gigitannya. Tidak hanya berhenti sampai di situ. Aroon juga menusuk anjing itu beberapa kali hingga akhirnya mati tak bergerak.
"Omar tolong bantu Gio turun."
"Baik tuan."
Aroon segera menghampiri Cyra yang tergeletak bersimbah darah.
"Cyra.. Ya tuhan, kenapa bisa seperti ini." Aroon memeluk tubuh lemah Cyra.
"Tuan.."
"Ya sayang."
"Gio tidak apa - apa kan?"
Aroon menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah." ucap Cyra lirih.
Gio yang berhasil turun segera menghampiri Cyra. "Bu Cyra." panggilnya.
"Syukurlah kamu selamat." tangannya yang lemah memegang tangan Gio. Dan setelah itu Cyra tak sadarkan diri.
"Cyra! Cyra!" Aroon memanggil namanya tapi sama sekali tidak ada respon. "Omar siapkan mobil kita ke rumah sakit sekarang!"
"Baik tuan."
Aroon segera membopong tubuh yang lemah itu. Gio mengikuti dari belakang bersama dengan Olif. Di tengah perjalanan tampak Sulaiman dan Syamsudin datang dan sudah membawa senapan.
"Cyra!" teriak Syamsudin.
"Dia banyak kehilangan darah. Kita bawa ke rumah sakit dulu." ucap Aroon. "Sulaiman kau urus bangkai anjing itu dan aku ingin segera mendapat laporan kenapa anjing itu bisa masuk ke sana. Dan kau Syam, kau ikut aku ke rumah sakit."
"Baik tuan." jawab Syamsudin dan Sulaiman bersamaan.
Mobil sudah tiba. Aroon segera membawa tubuh Cyra ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan ia tidak berhenti memeluk tubuh istrinya. "Please jangan tinggalkan aku Cyra. Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku."
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1