My Love Teacher

My Love Teacher
Berusaha Melindungimu


__ADS_3

"Di culik?"


"Iya kita di culik." jawab Aroon. "Kita sekarang di berada di dalam mobil entah mau di bawa ke mana kita."


Cyra berusaha melepaskan ikatan tali di tangannya.


"Percuma, mereka mengikat kita sangat kuat."


"Iya tangan saya sampai sakit."


"Sudah jangan di paksa, yang ada malah tanganmu terluka." sara Aroon. Ia diam tampak berpikir keras. "Balikkan badanmu."


"Untuk apa tuan?"


"Sssttt jangan keras - keras nanti mereka tahu kalau kita sudah sadar." Aroon memperingatkan. "Aku akan melepas ikatan tanganmu pakai gigi."


"Tuan yakin bisa?"


"Sudah turuti saja perintahku."


Cyra dengan gerakan perlahan membalikkan tubuhnya, ia lakukan agar tidak menimbulkan suara. Setelah posisinya sempurna dengan menggunakan gigi Aroon berusaha melepas ikatan tali. Cukup lama dan tentu saja membutuhkan kesabaran dan akhirnya tangan Cyra terbebas dari ikatan.


"Berhasil tuan."


"Lepaskan dulu ikatan di kakimu. Setelah kamu benar - benar bebas baru kau lepas ikatanku."


"Baik tuan." Cyra bergerak cepat, dan dalam sekejap ia terbebas sempurna. Ia berbalik. "Bibir tuan berdarah."


"Tidak apa - apa, cepat lepaskan ikatan taliku."


"Baik tuan." dengan cepat Cyra melepas ikatan tali di tangan Aroon. Akhirnya semua terbebas.


"Sepertinya kita di bawa jauh dari perumahan warga." ucap Aroon yang sempat melihat sebentar ke arah jendela. "Kita diam dulu di sini. Nanti jika mobil berhenti, kita melarikan diri."


"Baik tuan."


Dan benar saja, tak lama kemudian mobil berhenti.


"Tuan mobilnya berhenti."


"Ssssttt.. Tunggu komandoku, begitu pintu mobil terbuka kita tendang kuat - kuat. Setelah itu kita lari."


"Baik tuan."


Aroon dan Cyra menunggu pintu mobil di buka dengan suasana tegang. Terdengar sayup - sayup suara mereka sedang merencanakan sesuatu.


"Kita bunuh gadis itu di sana.'


"Bagaimana dengan yang laki - laki?"


"Bunuh saja sekalian, yang penting gadis itu kita bereskan dulu."


"Sudah kau kirim foto mereka."


"Sudah tapi di sini susah sinyal."


"Tidak apa - apa yang penting foto mereka sudah kita kirim, tinggal terima bayarannya."


"Ya sudah ayo segera kita eksekusi."


Pria itu membuka pintu mobil damana Aroon dan Cyra menunggu dengan tegang. Aroon segera memberi kode pada Cyra agar bersiap. Braaakkk!!! dengan sekuat tenaga Aroon dan Cyra menendang yang membuat pria itu terpental kebelakang.

__ADS_1


"Hei! Jangan lari." teriak pria yang satunya dan berusaha menghadang mereka. Dengan cepat Aroon memberi tendangan akan tetapi pria itu bisa menghindar. Mereka terlibat perkelahian, sedangkan pria yang terpental tadi berhasil bangun dan menarik tangan Cyra.


Cyra dengan gesit bisa menghindar bahkan bisa meninju perut pria itu.


"Bro keluar, tawanan melarikan diri!" ternyata masih ada satu lagi pria yang berada di dalam mobil, ia sebagai sopir. Bergegas keluar dengan membawa senjata tajam.


Pria yang melawan Aroon sudah berhasil di lumpuhkan. Ketika Aroon sibuk menghujani pria itu dengan pukulan - pukulan, pria yang bertugas sebagai sopir melayangkan senjata tajam dari belakang.


"Tuan! Awas!" Cyra berlari ingin mencegah pria itu menghunuskan pisau ke tubuh Aroon tapi keburu pria yang satunya lagi menarik tangannya.


Aroon menoleh karena panggilan peringatan dari Cyra. "Aaarrgghhh!!!" teriaknya. Terlambat, walaupun Aroon bisa sedikit menghindari tapi ia tetap mendapatkan luka walau tidak terlalu dalam.


"Tuan!" teriak Cyra cemas. Ia kemudian menendang pria yang menarik tangannya tadi. Lepaslah genggamannya, Cyra melihat ada batu berukuran sekepalan tangannya. Dengan cepat ia mengambil dan menghantamkannya ke kepala pria tadi sebanyak tiga kali. Seketika pingsanlah pria tadi.


Cyra berlari menghampiri Aroon dan membantunya mengalahkan pria yang menusuknya tadi. "Tuan tidak apa - apa?"


"Tidak apa - apa. Ayo kita pergi dari sini."


Aroon dan Cyra segera berlari dan pergi dari tempat itu. Mereka berlari dan terus berlari. Akhirnya setelah menjauh dari para penculik itu mereka menemukan sebuah gubuk tua yang sudah tidak dihuni lagi.


"Tuan kita berhenti di gubuk itu dulu." ucap Cyra. "Kita tutupi dulu luka tuan." Cyra melihat banyak darah yang keluar dan muka Aroon juga sudah pucat.


"Baiklah, apalagi ini sudah sore. Kita istirahat dulu."


Cyra memapah tubuh Aroon yang terlihat lemah. "Duduk sini dulu tuan." Cyra segera berkeliling gubuk itu untuk melihat kondisi. Ternyata ini semacam gubuk yang dulunya pernah ditinggali oleh seseorang, tapi sekarang di tinggalkan. Banyak sekali kayu yang sudah rapuh. Bila ada hujan badai di jamin rumah itu sudah pasti ambruk. Cyra melihat ada bale - bale (Tempat tidur dari kayu), beberapa perkakas dan juga pompa air yang terhubung ke sumur.


"Mudah - mudahan saja airnya bersih." gumamnya. Ia memompa dengan sekuat tenaga dan keluarlah air yang lumayan bening. Air itu akan ia rebus untuk membersihkan luka dan badan Aroon. Setelah menyalakan tungku api, Cyra kembali menghampiri Aroon. "Bagaimana lukanya tuan?"


"Tidak apa - apa, lukanya tidak terlalu dalam."


"Iya tapi darah yang keluar sangat banyak." Cyra dengan hati - hati melihat luka Aroon. "Bagaimana kalau bajunya tuan lepas dulu, saya akan membersihkan lukanya."


Aroon hanya menjawab dengan anggukkan.


Dengan cekatan Cyra melepas baju Aroon, Ia kemudian mengambil air yang telah ia rebus tadi dan membersihkan luka Aroon dengan hati - hati. Cyra juga terpaksa merobek baju Aroon untuk dipergunakan sebagai membalut luka agar darah tidak keluar.


"Cyra."


"Ya tuan."


"Sudah tugas saya, apalagi tuan sudah banyak membantu saya." jawab Cyra. "Istirahatlah sebentar tuan, saya akan membuat api biar kita tidak kedinginan." Cyra meninggalkan Aroon sendiri. Ia mencari kayu yang ada di dekat sebuah tungku. Beruntung ia menemukan sebuah korek api.


Karena dulu ia sering membantu ibu menyalakan kompor kayu jadi itu bukanlah hal yang sulit untuknya. Setelah api menyala sempurna Cyra segera menggunakan air sisa rebusan untuk membasuh muka dan badannya yang berkeringat akibat berlari.


Cyra kembali mengecek kondisi Aroon.


"Cyra kenapa begitu dingin."


"Dingin? Apinya sudah saya nyalakan apakah kurang besar." Cyra melihat tubuh Aroon yang menggigil, itu artinya ia benar - benar kedinginan. Cyra memegang kening Aroon. "Tuan demam."


Cyra mengambil air di belakang yang akan dia pergunakan untuk kompres. Sisa robekan pakaian Aroon ia gunakan untuk mengompres.


"Cyra."


"Ya tuan."


"Mendekatlah."


Cyra menuruti perintah Aroon ia duduk di sampingnya. "Ya tuan."


"Kalau nanti aku meninggal, tolong jaga Gio untukku. Ia begitu menurut padamu.'

__ADS_1


"Tuan jangan berkata seperti itu, kita akan baik - baik saja. Dan berkumpul seperti dulu."


"Badanku terasa lemas Cyra, dan rasa dingin ini sampai menusuk ke tulangku."


"Sebentar saya carikan kain atau selimut siapa tahua ada tuan."


"Jangan tinggalkan aku." pinta sambil terus menggenggam tangan Cyra.


"Tidak saya tidak akan meninggalkan tuan, saya pergi hanya sebentar." dengan cepat Cyra ke belakang, ia mencari apa ada kain yang bisa ia gunakan untuk menyelimuti tubuh Aroon. Dan ia menemukan sebuah kain yang tidak terlalu tebal, tapi lumayan membuat tubuh Aroon hangat. "Saya menemukannya tuan, mudah - mudahan tuan tidak kedinginan lagi."


"Bagaimana?"


"Masih dingin Cyra." tubuh Aroon masih terlihat mengigil.


Aduh bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? pikir Cyra. Apa aku peluk saja. Biasanya para pendaki gunung jika kedinginan akan berpelukan satu sama yang lain. Cyra kemudian memberanikan diri memeluk tubuh Aroon. "Maaf tuan saya terpaksa." gumamnya lirih. Aroon hanya diam saja ia masih memejamkan mata.


"Dingin." igaunya.


Cyra semakin mengeratkan pelukannya. "Bertahanlah sebentar tuan." Ya tuhan kenapa malam ini terasa begitu lama pikir Cyra. Ia kembali mengecek kondisi Aroon, tubuhnya sudah tidak menggigil tapi masih demam. Cyra sedikit lega.


Ia masih setia memeluk Aroon menatap pria kekar di depannya yang sekarang tergolek tidak berdaya. Pria yang selalu melindunginya bahkan sampai detik ini. Cyra mengusap bibir Aroon yang terluka karena melepas ikatan talinya, ia sangat iba dan matanya berkaca - kaca. Tanpa sadar ia mendekat dan menempelkan bibirnya pada bibir Aroon, di kecupnya bibir itu pelanΒ  - pelan.


Cyra terhenyak. Ya tuhan apa yang sudah aku lakukan, kenapa aku mencium bibir tuan? Aku sungguh gila! Cyra tampak panik. Berulang kali ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Betapa menjijikkanya diriku, berani mencium tuan dalam keadaan tidak sadar. Apa bedanya aku dengan Denisha pikir Cyra dalam hati. Ia mulai menitikkan air mata, mengusap pelan - pelan dan berguman. "Maafkan aku tuan."


Β πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Pagi ini Aroon terbangun, badannya sudah tidak demam seperti tadi malam. Ia mengerjap - erjapkan matanya. Hah kaki siapa ini, pikirnya. Aroon mendongak ke atas, dilihatnya Cyra yang masih tertidur pulas dengan tangan yang setia memeluknya. Jadi semalam aku tidur di peluk Cyra.


Aroon berusaha bangun akan tetapi gerakannya membuat Cyra terbangun.


"Tuan sudah bangun?"


Aroon mengangguk. Cyra segera memastikan suhu tubuhnya. "Oh syukurlah sudah tidak demam." ucapnya sambil tersenyum lega. "Tuan duduk dulu, saya akan mengambil air untuk membasuh muka." Cyra berdiri dan "Aaawww!!!" teriaknya.


"Kenapa?"


"Maaf, kaki saya kesemutan." jawab Cyra. Ia berusaha berjalan walau dengan tertatih - tatih. Di belakang ia melihat ada sebuah gerobak dorong. Muncullah sebuah ide. "Silahkan membasuh muka tuan, air ini bersih."


"Tidak tuan. Tempat ini jauh dari pemukiman." jawab Cyra. "Tapi tuan jangan khawatir. Saya ada ide."


"Ide?"


"Iya sebuah ide untuk keluar dari sini." jawabnya penuh percaya diri.


"Caranya? Badanku sangat lemah Cyra. Tidak akan kuat berjalan lama, kau mau menggendongku?"


"Tenang, kita pakai gerobak dorong tuan. Di belakang gubuk ini terdapat gerobak dorong yang tidak terpakai, kita bisa memanfaatkannya."


"Baiklah ayo."


Cyra memapah Aroon dan meletakkannya di atas gerobak. Dengan perlahan Cyra mendorongnya. Walau agak berat tapi itu lebik baik dari pada menggendong. Bisa patah tulang - tulangnya.


Mereka berjalan hampir satu jam, Cyra pun sudah tampak kelelahan dan tiba - tiba saja ada sebuah sepeda motor melintas sedang mengangkut jerami. Cyra dengan segera memanggil bapak itu.


"Pak tolong! Tolong pak!" teriaknya yang membuat pengendara itu berhenti. "Pak bisa tolong tuan saya, ia sedang terluka dan butuh segera ke rumah sakit."


"Naikkan ke atas motor saya, sepuluh kilo lagi ada sebuah perkampungan penduduk, di situ ada puskesmas."


"Terima kasih pak." Cyra membantu tuannya naik ke atas motor. Baru ia naik paling belakang. Ia sangat bersyukur bapak tadi mau membantunya. Kira - kira dua puluh menit mereka sampai di puskesmas. Karena tidak ada dokter, petugas puskesmas dengan suka rela mengantar mereka ke rumah sakit terdekat dengan menggunalan ambulance desa.


Sesampainya di sana Aroon segera mendapatkan perawatan. Lukanya harus dijahit dan di sterilkan. Aroon juga mendapat donor darah, itu dilakukan agar tubuhnya tidak lemah karena kehilangan banyak darah. Sedangkan Cyra meminjam telepon untuk menghubungi Pak Uo. Ia menceritakan kondisi yang sebenarnya. Dengan segera Syamsudin menjemput mereka. Ternyata para penculik itu membawa mereka sampai ke Sidoarjo.

__ADS_1


"Kita selamat tuan." ucap Cyra dengan tersenyum bahagia.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


__ADS_2