
Cyra mengerjap - erjapkan matanya, ia melihat ke atas langit - langit yang sepertinya bukan di rumah. ia merasakan seseorang telah menggenggam tangannya.
"Aroon." panggilnya lirih.
"Kau sudah bangun?"
"Dimana ini?"
"Rumah sakit sayang." jawab Aroon. "Kamu tadi pingsan."
"Aku sakit apa? Apa kata dokter?"
Aroon berkaca - kaca, ia menggenggam tangan Cyra dan menciumnya berulang kali, ia tidak bisa berkata - kata.
"Aroon.. Ada apa? Aku sakit apa? Kau jangan membuatku semakin cemas."
"Kamu tidak sakit sayang."
"Tidak sakit? Jangan bohong. Nyatanya kamu nangis dan aku terbaring di sini."
Aroon menarik napas panjang. "Keluarga kita akan bertambah."
"Bertambah?" tanya Cyra keheranan, Suaminya menangis dan bermain tebak - tebakan seperti ini membuatnya berpikir yang tidak - tidak. "Kamu nikah lagi?" tanya Cyra dengan nada tinggi.
"Tidak sayang, mana mungkin aku menikah lagi. Aku sudah punya kamu."
"Lantas tambah keluarga apa?"
"Kamu hamil. Buah cinta kita." Aroon mengusap perut Cyra. Matanya berkaca - kaca.
"Benarkah? Aku hamil? Ada anak dalam perutku ini?"
"Iya sayang. Adiknya Gio. Yah Gio akan menjadi kakak."
Cyra memeluk Aroon dengan erat. Ia menangis bahagia karena mendapat kepercayaan menjadi seorang ibu. Seorang anak akan lahir dari rahimnya sendiri.
"Kenapa kalian berpelukan tanpa mengajakku?" protes Gio.
"Maaf sayang. Kemarilah." ucap Cyra. Mereka bertiga berpelukan bersama.
🍀🍀🍀🍀
Tanpa terasa usia kandungan Cyra sudah menginjak usia tiga bulan. Ia tidak mengalami muntah hanya terkadang merasa pusing di pagi hari, kata dokter itu wajar untuk usia kandungan tri semester pertama. Cyra menikmati proses kehamilan ini dengan bahagia karena suami dan anak laki - lakinya selalu memberikan perhatian ekstra.
Pagi ini Cyra menghampiri suaminya yang sedang memeriksa buah yang akan mereka kirim. Cyra yang melihat buah Apel itu membuat air liurnya menetes.
"Mau?"
"Iya." ucapnya sambil mengangguk. Aroon tahu kalau istrinya itu sedang menginginkannya.
"Tunggu, aku kupas dulu." ucap Aroon. Ia meminta seorang pekerja mengambil pisau. "Kita beruntung, panen Apel kali ini sangat berhasil." ceritanya sambil mengupas Apel.
"Itu karena kamu sayang."
"Benarkah?" Aroon menyerahkan Apel itu pada Cyra. "Cicipilah dan komen."
Cyra mengambil potongan Apel itu dan memasukkannya ke dalam mulut. "Hmmm enak, manis, segar dan juicy."
"Benar kan apa yang kubilang? Kita akan mendapat untung besar."
__ADS_1
Cyra tiba - tiba memeluk Aroon.
"Kenapa?"
"Aku suka bau keringatmu." jawab Cyra sambil terus menciumi suaminya.
"Sayang ada banyak pekerja." ucap Aroon lirih.
"Biar saja." jawab Cyra sambil terus mencium Aroon. Tentu saja bagi Aroon itu membangkitkan sesuatu yang ada di sana.
"Sayang.. Kita pindah."
Cyra menghentikan ciumannya dan melepas pelukannya. "Kau malu? Aku tahu kau pasti sudah tidak cinta lagi denganku kan?"
"Bukan.. Bukan itu maksudku sayang."
"Terus maksudnya apa?"
Belum sampai Aroon mengemukakan alasannya sudah di potong oleh Cyra.
"Nah kan tidak bisa jawab." ucapnya dengan nada tinggi. "Aku tahu kamu pasti malu punya istri aku kan? Kalau malu kenapa kamu mau menikah."
"Sayang.. Sayang.. dengar dulu. Bukan seperti itu maksudku."
Cyra pergi meninggalkan Aroon sambil mengusap air matanya. Aroon yang melihat itu menghela napas. "Ya tuhan kenapa jadi begini. Mood ibu hamil memang berubah - ubah." ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan kemudian berlari menyusul istrinya. "Cyra.. Cyra.. Tunggu sayang." Aroon berhasil memeluk Cyra dari belakang.
"Lepas."
"Nggak sebelum kau memaafkan aku." Aroon memeluk Cyra dengan erat dan menghujani istrinya dengan ciuman - ciuman.
"Iya aku maafkan." ucapnya lirih.
Aroon membalikkan tubih istrinya. Mereka saling berhadapan. "Aku mencintaimu Cyra, apapun kondisimu. Aku tidak pernah malu punya istri sepertimu justru aku merasa bangga, merasa sebagai pria yang paling beruntung karena di cintai olehmu."
"Ya sayang."
"Aku ingin." ucapnya sambil memainkan baju suaminya.
Aroon tersenyum melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil. Sejak hamil gairah Cyra untuk bercinta sangat menggebu - gebu. Tentu saja itu menguntungkannya.
Aroon segera menggendong istrinya masuk ke dalam rumah dan membawanya ke dalam kamar. "Whatever you want nyonya." goda Aroon. "Mau gaya apa?"
"Aku mau di atas."
"Siap nyonya. Aku siap menjadi budak cintamu."
🍀🍀🍀🍀
Malam itu Cyra terbangun dengan perut yang melilit. Ia merasa sangat lapar. Dengan perlahan ia memakai bajunya dan berjalan ke dapur. Ia tidak mau membangunkan Aroon yang seharian sudah kelelahan mengurus perkebunan.
Ia membuka isi kulkas dan melihat apakah ada yang bisa di makan olehnya. Cyra mulai mengambil buah - buahan dan memotongnya agar mudah di makan. Tapi ternyata itu belum cukup. Tiba - tiba saja ia ingin makan steak daging.
Lagi - lagi ia melihat isi kulkas. Beruntung ia menemukan daging di sana. Tanpa menunggu lama Cyra mulai memasak. Tiba - tiba saja ia merasakan tangan kekar memeluknya dari belakang.
"Lapar?"
"Iya." jawab Cyra. "Kamu mau?"
"Tidak, untukmu saja." Aroon mengusap - usap perut Cyra yang sudah terlihat membuncit. "Hei boy."
__ADS_1
"Boy? Darimana kamu tahu ini laki - laki? Bisa saja perempuan kan."
"Entahlah feeling saja." Aroon mencium leher Cyra.
"Oya bagaimana dulu waktu Gio dalam kandungan."
"Saat itu Davira muntah - muntah terus. Aku bahkan tidak bisa mendekatinya selama hampir lima bulan." jawab Aroon. "Kau tidak cemburu kan aku bicara soal Davira?" tanya Aroon hati - hati. Ia takut mood istrinya akan berubah - ubah.
"Tidak sayang, tenang saja. Aku tidak cemburu. Kita tidak bisa menghilangkan itu bukan. Dan juga ia bagian dari hidupmu, itu artinya juga bagian dari hidupku."
"Terima kasih sudah menerimaku apa adanya." Aroon lagi - lagi mencium leher Cyra dengan lembut. Tangannya kembali mengusap perut istrinya. Bahkan Aroon menggodanya dengan mengusap kedua bokong Cyra yang mulai memadat.
"Tuan Aroon yang terhormat. Jika kau seperti ini terus, aku bisa - bisa memginginkanmu di sini."
"Why not? Let's try." Aroon mematikan kompornya. Ia membalikkan tubuh istrinya dan mendudukkannya di meja marmer dapur. Aroon membuka baju tidur yang di kenakan dan membuangnya ke sembarang tempat.
Ia mencium perut istrinya sambil berbisik. "Sorry boy, kamu harus melihat Phoo lagi."
Cyra tersenyum melihat suaminya berkata seperti itu. Tapi itu yang ia suka. Aroon selalu bisa membuatnya terus bergairah. Melakukannya dengan lembut dan selalu mengistimewakannya.
🍀🍀🍀🍀
"Kamu mau ke mana sayang pagi - pagi begini?"
"Mau pulang?"
"Pulang? Pulang kemana?"
"Surabaya."
Aroon melompat turun dari atas tempat tidur. "Tunggu.. Tunggu.. Pulang ke Surabaya? Kenapa? Kau marah padaku?"
"Tidak?"
"Kenapa mau pulang mendadak?"
"Tidak mendadak aku sudah pesan tiket buat nanti pesawat jam sembilan."
"Cyra ada apa ini? Kenapa tidak bilang tadi malam?"
"Heheheh.. Aku lupa. Semalam kita ke asyikan bercinta."
"Ya tuhan." Aroon menepuk jidadnya. "Kamu kangen ibu? Bagaimana kalau besok saja?"
"Nggak ini cuma sebentar kok."
"Sebentar.. Maksudnya apa? Aku tidak mengerti sama sekali sayang?"
"Aku mau makan rujak cingur. Dari kemarin aku mencari di sini tidak ada yang jual."
"Ya tuhan. Kamu ngidam."
"Iya." jawab Cyra manja. "Nanti kalau sudah makan kita bisa langsung pulang."
"Oke.. Oke.." Aroon berusaha menenangkan pikirannya agar bisa berpikir dengan jernih. "Nggak mampir ke rumah?"
"Nanti sebentar, aku sudah memberitahu ibu kalau aku pulang hanya mau makan rujak cingur."
Aroon menghela napas melihat tingkah istrinya. Memang orang hamil itu ada - ada saja maunya. Terkadang tidak masuk di akal tapi mau bagaimana lagi. Jika tidak dituruti bisa marah besar.
__ADS_1
"Baiklah, aku mandi sebentar." Aroon segera mandi yang terbilang paling singkat yang pernah ia lakukan. Tapi mau bagaimana lagi demi istri dan anak dalam kandungan.
🍀🍀🍀🍀