
"Apa tuan memecat saya?"
"Ya! Kemasi barangmu dan angkat kaki dari sini!"
"Tidak bisakah saya tahu dulu apa yang terjadi?"
"Tidak perlu!"
"Minimal ijinkan saya membela diri?"
"Masih berani kau berkata seperti itu! Setelah apa yang terjadi!"
"Saya berhak untuk tahu!"
"Berhak?!" Aroon mencengkeram lengan Cyra. "Akan aku tunjukkan letak kesalahanmu dimana." dengan kasar Aroon menarik tangan Cyra menjauh dari kerumunan.
"Phoo, lepaskan bu Cyra!" teriak Gio.
"Diam kau!" teriak Aroon. "Omar bawa Gio masuk! Tidak ada yang boleh mengunjunginya dan jangan biarkan ia keluar! Bubarkan acaranya!"
"Baik tuan." Omar segera menyerahkan souvenir ulang tahun Gio pada tamu yang datang. Beruntung kejadian ini terjadi saat acara hampir selesai.
Cyra melihat Gio yang menangis ketika ia dibawa pergi oleh Aroon. Cyra memberinya tanda agar dia tidak menangis dan tetap tenang.
Aroon yang seperti orang kesetanan menghempaskan Cyra ketika masuk keruangan hingga ia tersungkur. Aroon segera menutup pintunya.
Syamsudin dan Sulaiman yang dari tadi mengikuti Aroon, khawatir ia akan berbuat nekat pada Cyra harus rela menunggu di luar pintu.
"Aku menggajimu untuk mengajarkan Gio menjadi anak yang baik bukan malah jadi berandalan seperti ini!"
"Berandalan apa tuan? Saya benar - benar tidak mengerti."
"Itu karena kau terlalu asyik menggoda pria!"
"Menggoda pria? Saya semakin tidak mengerti."
"Aku menyuruhmu menjaga Gio selama perayaan ulang tahunnya, tapi aku lihat kau mengabaikannya dan justru malah asyik menggoda pria."
"Saya tidak menggoda pria manapun."
"Yakin? Aku melihatmu berdua dengan teman sekolahmu."
"Kami tidak bermesraan tuan! Kami hanya mengobrol biasa!" bantah Cyra tak kalah emosinya.
"Dasar pembohong!"
"Dan menurut saya itu bukan urusan tuan, saya mau dekat dengan pria manapun yang saya mau."
"Jadi urusanku jika itu menyangkut anakku!" Aroon menggebrak meja. "Ia berkelahi dengan tamu seperti berandalan! Dan itu karena kelalaianmu! Mengerti!"
"Pasti ada alasan Gio melakukan itu tuan. Kenapa tuan tidak mendengarkan penjelasan dari Gio?"
"Penjelasan apa! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri mereka berkelahi!"
"Iya betul mereka memang berkelahi, tapi tentu ada pemicunya."
"Tidak dibenarkan seorang pria melakukan kekerasan!"
"Lantas apa bedanya dengan yang tuan lakukan sekarang. Tuan menyakiti saya."
"Diam!"
"Tuan, Gio itu membutuhkan kasih sayang dari anda sebagai ayahnya. Selama beberapa tahun ini tuan terpuruk dengan kematian nyonya Davira hingga ia tumbuh dengan kekurangan kasih sayang. Seharusnya anda juga ikut berperan dalam mendidiknya." ucap Cyra sambil menghela napas. "Saya hanyalah orang luar, berbeda dengan tuan yang merupakan ayahnya."
"Jangan mengguruiku."
"Saya tidak menggurui tuan, saya hanya melihat perkembangan Gio. Dia sering melakukan tindakan diluar nalar karena ingin perhatian dari anda. Saya mohon rubah sikap anda sebelum terlambat."
"Diam kamu!" ucap Aroon geram. "Aku memecatmu Cyra. Jangan injakkan kakimu disini lagi! Pergi!" Aroon mendorong tubuh Cyra hingga membentur pintu masuk.
Cyra sempat meringis kesakitan. Awalnya ia berniat berdebat lagi, tapi itu ia urungkan karena akan buang - buang tenaga.
"Baiklah saya permisi."
Cyra keluar dari pintu. Diluar Syamsudin, Sulaiman, Omar dan Olif sudah menunggu. Mereka khawatir dengan Cyra.
"Bagaimana? Tuan menyakitimu?"
"Tidak Pak Uo. Aku tidak apa - apa."
"Apa yang tuan katakan?"
"Aku dipecat.
"Dipecat?"
"Iya Pak Uo."
"Kenapa tidak memohon pada tuan, minta maaflah."
"Tidak karena aku tidak sepenuhnya bersalah, aku sendiri tidak tahu dengan yang sebenarnya terjadi." jawab Cyra. Pandangannya beralih ke Omar. "Mana Gio?"
"Di kamar bu Cyra."
"Antar aku kesana, aku mau ketemu."
"Baik, mari silahkan."
Cyra mengikuti langkah Omar menuju ke kamar Gio.
"Maaf bu Cyra, tuan tidak memperbolehkan siapapun masuk ke dalam kamar tuan muda."
"Berikan ini pada Gio. Dan suruh dia membuka jendela. Aku akan melihatnya dari kamar seberang." pinta Cyra.
"Baik bu." Omar segera membuka pintu kamar. Terlihatlah seorang anak laki - laki yang tampan dengan wajah murung. Omar memberikan talkkie walkkie pemberian Cyra.
"Tuan muda bu Cyra meminta anda ke jendela." Omar membimbing Gio. Dan membuka jendela. dari seberang Gio bisa melihat Cyra.
"Hai Gio." sapa Cyra. "Kamu marah padaku, ganti."
__ADS_1
Gio tampak bingung karena mainan ini bisa berbunyi dan berkomunikasi. Terus terang ia tertarik dengan mainan yang dibawa oleh Cyra. "Apa ini?"
Cyra memberi kode agar alat itu taruh di depan mulutnya dan menyuruhnya berbicara. Gio menuruti isyarat Cyra.
"Bu Cyra."
"Ya Gio, kau harus mengucapkan ganti setiap selesai. Ganti."
"Aku tidak bersalah, ganti."
"Ceritakan bagaimana itu bisa terjadi. Ganti."
"Aku sangat menyukai kue buatan bu Cyra. Aku membagikannya ke Sheila temanku sekolah dulu. Tiba - tiba datang Edo dia merebut kue itu, membuangnya dan bahkan menarik rambut Sheila hingga kesakitan. Aku tidak bisa tinggal diam. Ganti."
"Kau bertengkar karena membela Sheila yang sedang dirundung Edo? Ganti."
"Iya, bukankah sebagai laki - laki kita tidak boleh menyakiti seorang wanita. Ganti."
"Yah kamu benar. Apa yang kamu lakukan itu menurut ibu bukan suatu yang salah. Ganti."
"Ibu di pecat oleh Phoo? Ganti."
"Iya."
"Aku tidak mau bu. Phoo tidak adil. Ganti"
"Kamu tenang saja Gio, ibu tidak apa - apa. Dan ibu yakin jika kebenaran pasti akan terungkap. Kita pasti menang. Ganti."
"Iya bu. Ganti."
"Jadi ibu mohon, selama ibu tidak ada kamu harus tetap belajar seperti biasa. Jadi anak laki - laki harus kuat dan tegar. Ganti."
"Iya bu. Akan aku ingat selalu. Ganti."
"Ibu pamit Gio." Cyra mematikan walkkie talkkie. Airmatanya jatuh ke pipi, tapi segera ia hapus.
"Omar jaga tuan mudamu baik - baik. Kau bisa berkonsultasi padaku jika terjadi apa - apa."
"Baik bu Cyra. Jaga diri ibu."
"Terima kasih Omar."
"Bu Cyra." Olif menghambur ke pelukan Cyra. "Jangan pergi bu."
"Tidak bisa Olif. Tuan sudah memecatku."
"Kami sayang ibu. Kami akan memohon agar tuan tidak memecat ibu."
"Tidak bisa Olif. Saat ini tuan Aroon sedang marah dan emosi. Semua hal yang akan kalian sampaikan pasti akan sia - sia, yang ada malah nanti kalian yang akan terkena masalah. Ingat kau dan Omar harus menjaga tuan muda."
"Baik bu."
Cyra melepas pelukan Olif dan menghampiri Syamsudin yang selalu mendampinginya.
"Kamu tidak apa - apa?"
"Aku tidak apa - apa Pak Uo. Tunggu aku akan berkemas."
Dengan segera Cyra membereskan pakaian dan barang - barangnya. Terus terang ia sakit hati dengan tuduhan yang dilontarkan oleh Aroon. Ah seandainya tadi ia tidak berbincang dengan Vano sesal Cyra dalam hati. Dimana menurutnya itu pembicaraan yang tidak penting.
Setelah selesai Cyra segera keluar dan kembali menemui Syamsudin.
"Kamu tidak usah pulang dulu ke Surabaya. Tinggallah di rumahku."
"Kenapa Pak Uo?"
"Tuan Aroon saat ini sedang emosi. Sulaiman juga baru menyelidiki masalah ini. Jadi siapa tahu setelah tahu kejadian yang sebenarnya tuan menarik kata -katanya kembali."
Cyra terdiam, banyak sekali yang bersliweran di kepalanya hingga ia tidak bisa berpikir jernih. Ia butuh waktu untuk sendiri dulu. Dan menurutnya saran dari Pak Uo itu lebih baik. "Baiklah, sementara ini aku akan tinggal di rumah Pak Uo dulu."
Dengan mengendarai mobil strada Syamsudin mengantar Cyra ke rumahnya.
"Istirahatlah dulu, tenangkan pikiranmu."
"Baik."
"Hmm, Cyra aku rasa lebih baik kau jangan mengatakan apa - apa dulu pada ayah ibu mu."
"Tidak, aku belum siap."
"Baiklah, aku kembali ke perkebunan dulu."
☘️☘️☘️☘️
Sudah dua hari setelah kejadian di perayaan ulang tahun Gio. Untuk sementara ini Gio di kunci dalam kamar, tidak boleh bermain keluar sebagai hukuman dari Aroon karena perbuatannya sampai ia menyadari kesalahannya.
"Maaf tuan, ada tamu."
"Siapa?"
"Katanya orang tua dari temannya Sheila."
"Siapa Sheila?"
"Temannya tuan muda."
"Suruh masuk."
Jono segera mempersilahkan orangtua Sheila masuk ke dalam.
"Selamat pagi tuan Aroon. Perkenalkan kami orang tua dari Sheila temannya Gio."
"Ada perlu apa?"
"Kami ingin mengucapan terima kasih atas pertolongan Gio pada putri kami. Apa jadinya jika Gio tidak datang menolongnya. Sampai saat ini Sheila putri kami masih trauma."
"Pertolongan apa?"
"Saat perayaan ulang tahun, tuan pasti ingat kan ketika Gio berkelahi dengan seorang anak laki - laki? Itu dikarenakan dia menolong putri kami. Kami sangat salut atas didikan yang anda ajarkan pada Gio, sehingga dia mau menolong sesama."
__ADS_1
Aroon terdiam, dalam hati ia sangat terkejut bahwa kali ini ia telah salah membaca situasi.
"Ini ada coklat dari putri saya untuk Gio sebagai tanda terima kasih."
"Saya terima. Nanti akan saya berikan ke Gio."
"Baiklah tuan Aroon kalau begitu kami permisi dulu."
Aroon mengantar orang tua Sheila sampai ke pintu, kemudian ia terduduk dikursinya sambil memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian ia membawa coklat pemberian Sheila ke kamar Gio.
"Buka pintunya Omar."
"Baik tuan."
Aroon segera masuk ke dalam kamar, ia melihat Gio sedang membaca. Sekarang ini ia menjadi anak yang patuh tanpa membangkang.
"Apa yang sedang kau lakukan, Gio?"
"Aku belajar Phoo. Bu Cyra yang menyuruhku untuk selalu belajar agar menjadi anak yang membanggakan Phoo."
Aroon memeluk Gio. "Maafkan Phoo, Gio."
"Ada apa Phoo?"
"Aku telah salah paham padamu. Kau tahu Phoo bangga padamu."
"Benarkah?"
"Benar, Phoo sangat bangga padamu."
Gio membalas pelukan Aroon dengan erat. Omar dan Olif yang melihat itu matanya berkaca - kaca menahan haru. Sudah lama mereka tidak melihat keeratan antara Aroon dan Gio.
"Kau mau makan siang bersama - sama?"
"Mau Phoo. Hmm bagaimana kalau dengan telur masakan bu Cyra." pinta Gio dengan spontan. Hal itu membuat Aroon terhenyak.
"Kau merindukan bu Cyra?"
"Sangat." jawab Gio. "Bu Cyra tidak bersalah Phoo. Dia yang mengajarkanku tentang pria sejati tidak akan menyakiti seorang wanita dan bertanggung jawab. Bisakah dia kembali mengajarku?"
"Benar tuan, minta bu Cyra kembali mengajar tuan muda." sahut Omar.
"Iya tuan, kami sangat merindukannya." tambah Olif.
Aroon menarik napas panjang dan sepertinya ia harus kembali memikirkan permintaan Gio. "Akan aku pikirkan."
"Terima kasih Phoo."
"Oya, ini." Aroon menyerahkan coklat pemberian Sheila.
"Apa ini?"
"Coklat dari temanmu itu sebagai ucapan terima kasih."
Gio menerimanya dengan senang, ia beranjak dari tempat tidurnya. "Ayo kita makan siang Phoo, aku sudah lapar."
Aroon tersenyum dan menggendong putra berjalan menuju ruang makan.
🍀🍀🍀🍀
Syamsudin berjalan tergesa - gesa menuju gazebo di tengah perkebunan. Menurut keterangan Jono ia dipanggil oleh tuan Aroon.
"Maaf saya terlambat tuan." ucap Syamsudin. "Tuan memanggil saya?"
"Duduk." perintah Aroon. "Yah aku memang memanggilmu."
"Apa ada masalah dengan pengiriman kita?"
"Tidak ada. Ini masalah keponakanmu."
"Cyra?"
Aroon mengangguk - angguk, ia menghela napas. "Baru kali ini aku salah menuduh orang."
"Maksud tuan?"
"Kau ingat waktu kejadian Gio berkelahi dengan tamu?" Syamsudin mengangguk. Aroon meneruskan perkataannya. "Aku mengusir keponakanmu karena aku anggap lalai dan mengajarkan sesuatu yang tidak benar pada anakku. Tapi ternyata bukan seperti itu ceritanya."
"Lantas bagaimana ceritanya tuan?"
"Gio membela temannya sehingga berkelahi. Baru kali ini aku bangga dengan apa yang dilakukan Gio. Dan tentu saja itu tidak lepas dari ajaran Cyra."
"Betul tuan, saya setuju."
"Gio memintaku membawa Cyra kembali, padahal kau tahu aku tidak pernah menjilat ludahku sendiri." ucap Aroon. "Bagaimana menurutmu?"
"Maaf sebelumnya tuan. Saya melihat masalah ini dari kacamata umum. Memang pada dasarnya Cyra tidak salah. Jadi tidak masalah bukan kalau dia tetap mengajar tuan muda."
"Yah aku juga berpikir seperti itu\, baru kali ini Gio cocok dan dekat dengan seseorang. Apa yang diajarkan Cyra juga baik. Tapi____."
"Tuan malu untuk meminta maaf dan meminta Cyra kembali mengajar?" sahut Syamsudin.
"Bukan malu, tapi aku tidak pernah melakukannya. Kau tahu itu kan?"
"Jadi tuan meminta saya untuk mewakili tuan meminta Cyra kembali mengajar tuan muda?"
"Benar, kau memang tahu apa yang ada di dalam pikiranku."
Syamsudin menghela napas. "Baiklah saya akan mencoba, tapi tuan tahu kan keponakan saya itu keras kepala."
"Turuti saja apa maunya. Mau naik gaji, mau liburan atau mungkin saja mau bonus."
"Baiklah tuan akan saya coba, apapun syaratnya akan tuan turuti. Iya kan?"
"Iya, bujuklah dia."
"Baik tuan. Besok pagi saya ijin untuk menemui Cyra." jawab Syamsudin.
Aroon mengijinkan. ia tersenyum dengan lega, entah mengapa ia sangat gugup dengan hasil negosiasi Syamsudin. Gadis ini sudah mengusikku pikirnya.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀