My Love Teacher

My Love Teacher
Marah


__ADS_3

Arthit sudah diperiksakan ke dokter terkait lukanya. Dokter mengatakan tidak apa - apa karena lukanya tidak terlalu dalam.


Hari ini Cyra harus kontrol lagi agar luka itu tidak menimbulkan bekas.


"Hari jadi ke dokter lagi?"


"Iya. Jadi." jawab Cyra sambil mempersiapkan barang - barang yang harus di bawa.


"Jam berapa?"


"Ini mau berangkat."


"Bagaimana kalau nanti? Aku akan mengurus perkebunan dulu sebentar."


"Hari ini dokternya hanya praktek sampai jam sembilan. Nanti bisa telat."


"Baiklah, kamu diantar Fahri."


"Iya sayang." Cyra mengecup pipi Aroon "Jangan khawatir."


"Hati - hati."


Cyra segera pergi. Setelah mengantar Gio ke sekolah dia juga pergi ke dokter. Sudah beberapa kali ini ia ke dokter karena arthit terluka. Itu menjadikannya pelajaran untuknya agar lebih waspada dan hati - hati dalam menjaga Arthit. Sementara ini ia memilih menjauh dari Davira. Kalaupun ketemu hanya di meja makan saja.


Dokter mengatakan luka itu tidak membekas jadi Cyra tidak perlu khawatir. Setelah keluar dari ruangan dokter Cyra segera menelepon Fahri.


"Maaf nyonya ban mobil bocor, ini saya baru ke bengkel."


"Kapan selesai?"


"Ini masih antri. Kira - kira sekitar satu jam."


"Baiklah aku naik taxi saja." panggilan di akhiri. Cyra duduk di sebuah kafe yang terdapat di dalam rumah sakit. Ia memesan jus sebelum menelepon taxi online.


"Cyra." panggil seseorang. Panggilan itu membuatnya menoleh ke sumber suara.


"Pak Aryo." balasnya.


"Sedang apa kamu di sini?"


"Kontrol Arthit."


"Sakit?"


"Kemarin lengannya tergores." jawab Cyra. "Kamu sendiri?"


"Kemarin itu ada kasus pembunuhan dan tersangka melarikan diri ke Bogor. Syukurlah kami bisa menangkapnya tapi karena ia melawan dan berusaha menyerang petugas mau tidak mau kami harus menembak kakinya."


"Wow.. Hidupmu penuh dengan tantangan."


"Hahahah.. Itu resiko karena aku memilih profesi ini. Tapi menurutku hidupmulah yang penuh tantangan hingga sekarang kau bisa menjadi nyonya Aroon Thanawat Siriporn."


"Iya kalau aku lihat ke belakang memang penuh perjuangan."


"Aku senang melihatmu bahagia." ucap Aryo. "Dan aku minta maaf tempo hari sudah membuat kesal dengan perkataanku."


"Tidak apa - apa. Aku hanya menjaga perasaan suamiku saja." jawab Cyra. "Oya, kemarin kalian ngobrol apa?"


"Dengan siapa?"


"Davira."

__ADS_1


"Banyak, karena sebelum pelayanmu datang dia dulu yang menerima dan mempersilahkan aku duduk. Tahu kalau aku temanmu dia sangat antusias ngobrol denganku. Memangnya dia itu siapa?"


Cyra terdiam ia bingung menjawab. "Dia.. Dia.. Keluarga Aroon."


"Oh." hanya itu yang keluar dari mulut Aryo. "Masih menunggu sopir?"


"Tidak aku naik taksi, mobilku bannya bocor. Baru saja di bawa kebengkel."


"Aku antar."


"Tidak usah. Terima kasih. Taksiku sepertinya sudah datang." Cyra memperlihatkan handphonenya yang sedang ada panggilan dari sopir taksi. "Aku permisi dulu. Terima kasih sudah menemaniku."


"Iya."


Cyra beranjak dari duduknya. Tapi tanpa sengaja kakinya tersandung kursi dan hampir terjerembab. Beruntung dengan sigap Aryo menolongnya. Apa jadinya jika ia terjatuh padahal Arthit dalam gendongannya.


Tapi kejadian Cyra yang terlihat di peluk oleh Aryo itu membuat seseorang salah paham. Aroon melihat itu bukan sebagai pertolongan tapi sebagai pelukan. Matanya menatap tajam dari kejauhan. Tangannya mengepal erat pada setir mobil.


Tadi dia di telepon oleh Fahri kalau ban mobil bocor maka Aroon dengan cepat segera menjemput istrinya. Tapi ia justru di suguhkan dengan pemandangan yang membuat darahnya mendidih.


Aroon yang tidak tahu kejadian sesungguhnya sudah tersulut emosi. Ia segera putar balik mobilnya dan kembali ke perkebunan. Sampai di perkebunan ia segera mengambil cangkul. Ia meluapkan emosinya dengan mencangkul tanah. Banyak pekerja yang bertanya - tanya. Tapi Sulaiman dan Syamsudin tahu kalau saat itu Aroon pasti sedang marah dengan seseorang.


Sementara itu Cyra yang sedang naik taksi tiba - tiba teringat jika pampers anaknya sudah habis. Ia juga janji akan membelikan buku Gio. Oleh sebab itu ia mampir untuk membeli pampers dan buku untuk Gio.


🍀🍀🍀🍀


Cyra sudah sampai di depan rumah, ia pulang agak terlambat dari biasanya.


"Bik Tika lihat suamiku?"


"Tadi pagi di perkebunan nyonya. Sampai saat ini saya belum melihatnya."


"Oh baiklah kalau begitu. Bisa titip Arthit sebentar aku akan ke perkebunan mencarinya."


Setelah memberikan Arthit pada bik Tika, Cyra segera menuju ke perkebunan. Ia agak lama mencari suaminya. Setelah bertanya pada beberapa pekerja akhirnya ia menemukan Aroon di kebun jeruk. Tapi yang membuatnya terkejut adalah siapa yang di sampingnya.


Ia melihat Davira bersama suaminya. Bahkan ia juga sedang menyeka keringat Aroon. Saat itu Aroon sedang tidak menggunakan baju. Tentu saja bentuk badannya yang bagus, ototnya yang kekar akan membuat wanita manapun terpesona. Apalagi ini Davira yang dalam tanda kutip adalah mantan istrinya.


Cyra menarik napas panjang sebelum menghampiri mereka. Ia melakukan itu agar tidak emosi.


"Hai sayang, aku mencarimu." sapa Cyra.


"Aku sedang sibuk." jawab Aroon datar.


Cyra terdiam, ia memandang suaminya dengan tatapan aneh. Dia mengacuhkanku pikir Cyra.


"Kau marah oadaku? Maaf aku terlambat karena tadi mampir beli pampers dan buku untuk Gio." Cyra memegang tangan Aroon.


"Cyra, Aroon itu baru capek. Kau tahu kan dia kepala keluarga disini. Harusnya kamu sebagai istri jangan pulang terlambat. Dia mengkhawatirkanmu." sahut Davira. "Dia tadi seharian bekerja di perkebunan tanpa henti."


Cyra sebenarnya sangat marah dengan Davira karena ikut campur dalam masalahnya. Tapi ia tahan demi tidak memperkeruh suasana. Minta maaf pada suaminya adalah jalan terbaik saat ini.


Cyra menggelanyut di lengan Aroon. "Aku minta maaf. Jangan marah padaku. Please."


"Aku tidak marah. Kau terlambat kan untuk membeli keperluan anak - anak. Tidak karena hal yang lain kan?" pancing Aroon.


"Tidak, aku memang pergi membeli pampers dan buku."


"Oh aku kira ketemu dengan teman."


"Tidak, dari rumah sakit aku langsung pergi ke swalayan."

__ADS_1


Aroon memandang Cyra dengan tajam. "Ayo kembali ke rumah."


Mereka bertiga kembali ke rumah karena memang hari sudah sore.


Setelah acara makan malam Aroon ke kamar nya dan duduk di sofa. Ia membuka beberapa pesan dan email yang masuk. Biasanya juga dari klien.


Cyra masuk membawa potongan buah dan meletakkannya di depan Aroon.


"Sibuk apa?"


"Balas email." jawab Aroon singkat.


Cyra masih merasakan ada yang aneh dengan suaminya. Ia begitu pendiam.


"Sayang, kau masih marah padaku."


Aroon memandang Cyra dan meletakkan ipadnya di meja. "Aku tanya sekali lagi. Kenapa kau pulang terlambat?"


"Aku tadi beli pampers dan buku buat Gio, sayang."


"Kau tidak bertemu, atau mungkin pergi kencan dengan temanmu?"


"Hei, kenapa kau bertanya seperti itu? Kencan? Aku tidak pergi kencan dengan siapa - siapa sayang. Kau menuduhku pergi dengan seorang pria?"


"Aku tidak menuduh tapi melihat dengan mata kepala sendiri."


"Maksudmu?"


"Aryo. Kamu bertemu dan pergi dengan Aryo kan?!"


"Kau tadi ke rumah sakit? Kenapa tidak menemuiku?"


"Jangan balas pertanyaanku dengan pertanyaanmu itu. Ya aku memang kesana. Tapi aku kembali lagi ke perkebunan."


"Kenapa?"


"Aku melihatmu dengan si brengsek Aryo."


"Aroon sayang, kau menuduhku berbuat sesuatu yang tidak aku lakukan. Aku tadi memang bertemu dengan Aryo tapi hanya sekedar menyapa."


"Bohong, kalian berpelukan!" ucap Aroon dengan nada tinggi.


"Tidak, aku tidak berpelukan."


"Aku melihatnya Cyra! Jangan bohong!"


Cyra terdiam, pikirannya kembali saat ia dan Aryo ketemu. "Ya tuhan, dia tidak memelukku sayang. Tadi kakiku tersandung kaki meja dan dia hanya menolongku agar aku tidak jatuh terjerembab karena menggendong Arthit." Cyra menjelaskan panjang lebar agar suaminya tidak salam paham.


Aroon tersenyum simpul. "Lantas kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau kau bertemu dengannya. Padahal aku sudah memberimu kesempatan berbicara ketika di perkebunan tadi. Kau tidak jujur padaku Cyra."


Cyra terdiam, matanya berkaca - kaca. "Aku pikir pertemuanku tadi bukanlah hal penting untuk aku ceritakan, toh kami hanya menyapa dan itu tidak ada lima menit."


"Tapi kau tahu kan kalau aku tidak suka kau bertemu dengan pria itu."


"Aku tidak ada hubungan apa - apa dengannya, baik itu dulu maupun sekarang. Kau tidak percaya padaku?"


"Intinya kau tidak jujur padaku!" Aroon keluar dari kamar dan entah pergi kemana. Cyra memang sengaja tidak mengejarnya karena ia tahu mungkin Aroon butuh waktu sendiri untuk benar - benar memikirkan hal ini.


Cyra menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia menangis sebentar untuk mengeluarkan semua emosi yang ada di hatinya.


"Aku jujur padamu Aroon. Aku tidak mungkin berpaling denganmu. Kamu pria yang aku cintai." gumam Cyra dalam tangisnya.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2