
Pagi ini semua bersemangat untuk pergi ke sawah. Gio yang biasanya sulit dibangunkan malah sudah bangun lebih dahulu. Setelah sarapan mereka bersiap untuk pergi ke sawah.
"Pakai topimu Gio. Disana panas." Cyra membetulkan letak topi Gio. "Pakai juga suncreen ini biar kulitmu tidak gosong." Cyra mengoleskan ke seluruh muka dan tangan Gio. "Kalau capek istirahat oke."
"Siap bu Cyra."
"Tuan sudah pakai?"
"Tidak perlu, aku sudah terbiasa." jawab Aroon.
"Bagaimana dengan yang lainnya? Sudah pakai suncreennya? Omar? Olif?"
"Sudah bu Cyra. Coba lihat wajahku sudah rata kan?" tanya Omar.
Omar memajukan wajahnya untuk diperiksa oleh Cyra. Cyra mendekati untuk memastikan tapi baru beberapa langkah Aroon menariknya.
"Badanmu sudah hitam Omar, tidak perlu pakai suncreen." ucap Aroon. "Ayo berangkat." perintahnya.
Cyra mengikuti langkah Aroon sambil menggandeng Gio.
"Maaf tuan hari ini kita naik gerobak ke sawah."
"Tidak apa - apa."
"Yeayy kita naik gerobak." Gio berteriak kegirangan diikuti teriakan Omar dan Olif. Mereka langsung berlari berebut naik gerobak.
"Pelan - pelan!" teriak Cyra.
"Phoo ayo naikkan aku!" rengek Gio. Aroon mengangkat tubuhnya ke atas gerobak.
Cyra dengan lincah naik ke atas gerobak. Karena ini bukanlah hal baru untuknya. Ia sudah sering naik gerobak sejak kecil. Cyra duduk di sebelah Gio tujuannya agar jika Gio bertanya maka dengan mudah ia menjelaskan.
"Geser." perintah Aroon.
"Buat apa tuan?"
"Aku mau duduk di samping anakku."
"Sebelah sana kan bisa tuan."
"Gio tidak mau ditengah. Iya kan Gio?"
"Iya, aku tidak bisa melihat pemandangan." jawab Gio.
Mau tidak mau Cyra akhirnya duduk ditengah.
Heh kalau sebelah tuan jadi tidak bebas bercanda. Suasana jadi tegang terus keluh Cyra dalam hati ia merasa kesal.
"Itu apa bu?" tunjuk Gio pada sebuah rumah gubuk ditengah sawah.
"Oh itu biasanya di buat petani buat istirahat sekalian menghalau burung agar tidak memakan padi."
"Kenapa burung di halau? Kan mereka juga butuh makan."
"Kalau cuma satu atau dua sih tidak apa - apa Gio. Terkadang mereka datang ratusan bahkan ribuan. Kalau seperti itu hampir tiap pagi, kasihan juga petaninya. Bisa - bisa mereka rugi." Jawab Cyra. "Belum lagi tikus dan juga hama yang menganggung petani ketika mau panen."
"Memang tikus ada?"
"Ada dan banyak. Binatang yang merugikan manusia bisa di halau atau di basmi. Apalagi tikus yang bisa sebagai sumber penyakit."
"Xixixiii.." tiba - tiba Gio terkikik.
"Kenapa?"
"Aku jadi ingat sesuatu."
"Ingat apa?"
"Ingat seseorang yang mirip tikus, tapi tidak perlu kita basmi."
"Hah.. Memang ada?"
" Ada tuh Omar, kulitnya sehitam tikus. Apakah ia harus kita basmi juga? Tidak kan bu?"
"Hahahahahh." pecah tawa Cyra. Memang kalau dilihat Omar berkulit hitam dan mulutnya sedikit lancip, sedangkan Olif berkulit putih. Cyra sampai memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa. Ia bahkan menepuk - nepuk paha seseorang karena tidak bisa menahan tawa.
"Ehem. Jaga sikapmu dihadapan putraku."
__ADS_1
"Oh, maaf tuan." Cyra berusaha menahan tawanya. Ia menutup mulutnya "Saya benar - benar merasa lucu. Bukankah menurut tuan itu lucu. Omar dan Tikus."
Aroon hanya melihat ekspresi Cyra yang tertawa lepas. "Tidak."
Cyra mencibir kesal. "Huh tidak bisa diajak bercanda." gumam Cyra.
Mereka melanjutkan perjalanan ke sawah yang sudah mulai menguning. Banyak orang - orang yang memanen sawahnya hal itu membuat Gio semakin bersemangat.
"Kapan sampai?"
"Sebentar lagi." jawab Cyra. "Tuh yang ada motor merahnya, itu sawahku." tunjuk Cyra.
Tak berapa lama mereka sampai. Disana sudah menunggu beberapa orang yang ikut membantu mereka panen.
"Nah Gio, jika memotong tangkainya harus sekitar lima atau sepuluh centimeter di atas permukaan tanah. Hmm kira - kira segini." Cyra menjelaskan. "Hati - hati jika memegang sabit. Kamu bisa kan Gio?"
"Bisa dong bu. Aku kan laki - laki."
"Pakai sabit yang kecil ini saja, yang besar biar buat ayahmu." Cyra memberikan sabit yang paling kecil. Ia memang sengaja mencari sabit yang kecil khusus buat Gio. "Kalau sudah terpotong kamu kumpulkan di atas plastik itu."
"Siap bu."
"Bu Cyra, saya pakai sabit apa bu?" tanya Omar.
"Hei! Cari sendiri, dasar manja." sahut Aroon.
"Baik tuan."
Cyra tersenyum melihat Omar yang cemberut, bibirnya mengerucut seperti tikus. "Tuan, ini sabitnya." Cyra menyerahkan sabit pada Aroon. "Sabitnya agak berat, tuan kuatkan?"
"Kau meragukanku? Jangankan sabit mengangkat tubuhmu saja mudah aku lakukan."
Jawaban Aroon membuat Cyra sedikit malu. Ia memilih menjauh dan dekat dengan Gio. Mereka mulai memanen padi. Walaupun sawah Cyra tidak luas tapi hasil panen ini bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarganya sehari - hari.
Sebenarnya dalam memanen padi bisa juga menggunakan alat yang lebih modern tapi karena sawah Cyra kecil ia memilih memakai alat tradisional saja, disamping ongkosnya murah juga tidak merusak batang padi. Batang padi biasanya bisa digunakan untuk pakan ternak, membuat pupuk, kerajinan, untuk petani jamur, makanan bahkan untuk membuat shampoo. Cyra bisa mendapatkan uang tambahan dari menjual jerami.
"Kamu capek Gio?"
"Nggak."
"Tapi wajahmu sudah memerah." ucap Cyra. "Lebih baik istirahat di gubuk itu."
"Istirahat sebentar, nanti diteruskan lagi." saran Cyra. "Omar, Olif temani Gio istirahatย sebentar di gubuk itu."
"Baik bu Cyra." jawab mereka berdua.
Setelah memastikan Gio istirahat dengan benar, Cyra melihat Aroon yang masih giat membantunya memotong padi. Tubuhnya yang kekar dengan keringat yang membasahi tubuh membuat ibu - ibu yang ada disana tambah semangat. Yah lumayan lah kehadiran Aroon banyak membantunya.
"Tuan istirahat dulu."
"Nanti saja, masih kurang sedikit."
Anak sama bapak sama keras kepalanya.
"Minum dulu tuan." Cyra menyerahkan teko berisi air putih.
"Terima kasih." Aroon langsung meneguk air pemberian Cyra. Air yang mengalir melewati leher Aroon yang sekuat tiang beton itu membuat Cyra berulang kali menelan ludahnya.
Wow tuan seksi banget pujinya dalam hati. Pantesan ibu - ibu pekerja memilih memotong padi dekat dengan Aroon. Nanti kalau aku memujinya bisa besar kepala dan tambah arogan dia.
"Jangan bengong, kau terlihat bodoh."
"Nggak bengong tuan." Cyra tertunduk malu ternyata Aroon memperhatikannya. Ia lalu memilih meneruskan pekerjaannya.
Sudah hampir setengah hari mereka memotong padi dan sudah selesai semua. Semua pekerja istirahat sambil makan nasi Jagung dengan ikan sambal kelapa dan ada juga pepes ikan.
"Bu Cyra nasi jagungnya enak." puji Omar.
"Benarkah? Mau tambah lagi."
"Boleh." Omar menyodorkan piringnya.
"Eh kamu itu makannya jangan belepotan. Kayak anak kecil." Cyra mau mengusap sisa nasi jagung di pipi Omar tapi dengan cepat Aroon menangkisnya.
"Ada apa tuan?"
"Biar dia lakukan sendiri, dia sudah besar." ucap Aroon.
__ADS_1
"Makanya kalau makan itu pelan - pelan bodoh." cibir Olif. "Eh itu tuan juga belepotan, saya bersihkan ya tuan."
"E.. E.. E jangan ganjen ya. Sudah makan saja jangan mengurusi tuan. Sudah ada bu Cyra dan tuan muda!" jawab Omar sewot.
"Suka - suka aku dong!" bantah Olif. "Kalau tuan tidak keberatan kamu mau apa?!"
"Eh tuan lihat mukamu saja mau muntah. Hueekkk!" ejek Omar sambil menjulurkan lidahnya.
"Sudah.. Sudah kok malah jadi bertengkar." Cyra berusaha melerai mereka. "Kalian itu seperti kucing dan anjing, tapi kalau ada salah satu yang nggak ada pasti saling menanyakan."
Omar dan Olif saling memalingkan muka. Hal itu membuat Gio dan Cyra tertawa geli dengan tingkah mereka.
"Sudah bersih?" tanya Aroon tiba - tiba.
"Bersih apa tuan?"
"Tadi kata Olif ada kotoran di wajahku." jawab Aroon sambil beberapa kali mengusap wajahnya.
Cyra meneliti wajah Aroon tapi tidak menemukan apa - apa. "Bersih tuan."
"Cek lagi siapa tahu masih ada." perintah Aroon. "Kotoran di wajah Omar saja kamu tahu."
Cyra kembali meneliti tiap inci dari wajah Aroon, bahkan sampai nekat melihatnya dengan dekat hingga hembusan napas Aroon terasa. "Oh, ketemu tuan tapi kecil." Cyra tersenyum senang karena berhasil menemukan kotoran kecil yang terletak di sudut bibirnya. Dengan berlahan Cyra mengusapnya. "Nah sudah bersih, tuan tidak perlu khawatir." ucap Cyra sambil meneruskan makannya.
Tampak senyuman tipis dari sudut bibir Aroon, ia tertunduk dalam diam dan juga meneruskan makannya.
Setelah acara makan mereka segera memisahkan padi dari tangkainya dengan alat penggilingan. Setelah di pisahkan padi segera di masukkan dalam karung dan siap untuk di jual. Di daerah Cyra sudah ada koperasi yang akan membeli padi mereka. Panen kali ini terhitung sukses tanpa hama dan tikus.
Cyra bernegosiasi pada pengurus koperasi agar padinya terjual dengan harga yang sesuai. Ia bersyukur mendapatkan uang dari jerih payah orang tuanya.
"Oya bagaimana kalau kita mandi disungai?" Cyra menawarkan.
"Memang ada sungai di sekitar sini?" tanya Gio.
"Ada dan airnya jernih sekali, tapi hati - hati batunya ada yang licin."
"Mau.. Aku mau kesana bu Cyra." teriak Olif. "Badanku sudah gatal semua."
"Baiklah aku bawa kalian ke sana." ajak Cyra. "Tuan mau ikut atau tunggu disini?"
"Pergilah kalian dulu, aku masih mau duduk santai di gubuk ini."
"Baiklah, kami pergi dulu." pamit Cyra.
Antara sawah dan sungai hanya berjarak enam ratus meter. Jadi mereka hanya berjalan kaki. Sesampainya disana Gio, Omar dan Olif dibuat terkagum - kagum.
"Wow.. airnya jernih sekali bu." Omar langsung membasuh mukanya dan melepas bajunya. Ia hanya menggunakan celana pendek. Memutuskan untuk berenang di sana. "Ayo tuan muda, airnya segar sekali."
Cyra membantu Gio melepas bajunya. "Hati - hati kalau berenang. Batunya licin dan alirannya agak deras."
"Iya bu."
"Omar jaga Gio." perintah Cyra.
"Siap bu Cyra."
"Aku tunggu disini saja." ucap Cyra sambil duduk bersantai di sebuah batu besar. Ia memperhatikan mereka bertiga mandi dan bersendau gurau dengan senang. Dari kejauhan tampak Aroon berjalan menyusul mereka.
"Eh Olif kita kerjain bu Cyra bagaimana?"
"Caranya?"
"Kita ceburkan saja ke air."
"Setuju." sahut Gio.
Olif berenang mendekati Cyra, Ia berusaha mengalihkan perhatian Cyra dengan mengajaknya mengobrol. Tujuannya agar Cyra lengah. Dan tiba - tiba Omar dan Gio mendorongnya hingga Cyra tercebur ke dalam air.
"Hahahahhhh.." mereka tertawa terbahak melihat Cyra basah kuyub. Mereka bertiga kembali berenang ketengah. Cyra berusaha naik lagi ke batu tapi beberapa kali terpeleset karena batu yang licin. Tiba - tiba ada tangan besar yang membantunya berdiri.
"Terima kasih tuan." ucap Cyra yang basah kuyub. Cyra mengusap mukanya yang basah karena air.
Aroon memandang wajah dan rambut Cyra yang basah terkena air. Dan akhirnya pandangan itu tertuju pada sesuatu. Oh sial apa itu pikir Aroon sempat terpesona, setelah sekian lama ia tidak melihat itu. Bukit kembar milik Cyra terlihat jelas karena bajunya yang basah karena air. Matanya menatap tajam tanpa berkedip.
Cyra yang melihat tatapan tajam Aroon kearahnya membuatnya sadar bahwa bajunya yang basah membuat semua yang dia sembunyikan di dalam jadi terlihat jelas. "maaf tuan." Cyra menutup dada dengan kedua tangannya dan kemudian berbalik badan.
Aroon dengan segera melepas bajunya dan menutupkannya ke tubuh Cyra yang basah. "Tutupi sebelum banyak mata melihat."
__ADS_1
"Terima kasih tuan." ucap Cyra sambil tertunduk malu. Mukanya merah padam. Aduh kenapa aku sesial ini pikirnya.
๐๐๐๐