
"Kamu tidak apa - apa?" tanya Aroon.
"Aku baik - baik saja."
"Syukurlah kita bisa berkumpul kembali."
Aroon kembali memeluk Cyra dan Gio bersamaan. Rasa gembiranya meluap setelah melihat mereka selamat.
"Aroon."
"Hmm."
"Lihat itu." tunjuk Cyra. "Kasihan Hasan."
"Oke, ayo kita kesana."
Aroon dan Cyra menghampiri Hasan yang sedang menangis di depan jasad Asih. Sedangkan Gio pergi keluar dengan Syamsudin. Di dalam gudang besi itu terdapat beberapa mayat.
"Hasan."
"Cyra." ucapnya lirih sambil mengusap air matanya. "Maafkan istriku."
"Tidak apa - apa. Kita tidak tahu apa yang terjadi ke depannya. Aku yakin ini memang sudah jalan yang terbaik."
"Aku juga tidak tahu dengan masa lalu Asih yang gelap. Jika aku tahu aku pasti akan lebih menjaga dan membimbingnya. Aku tulus mencintainya sehingga mau dia menjadi pribadi yang baik."
"Tapi kamu lihat tadi kan. Ia sudah banyak menolong ku, Gio dan juga pihak kepolisian. Itu artinya kamu berhasil, San."
"Hasan, aku pernah kehilangan orang yang aku cintai. Tapi lihatlah ini, aku mendapatkan yang lebih baik karena tuhan punya rencana di balik bencana yang menimpa kita." Aroon menepuk pundak Hasan. "Aku yakin kamu bisa melalui ini semua. Semangatlah."
"Terima kasih Cyra, Aroon. Sekali lagi aku atas nama istriku minta maaf pada keluarga kalian."
Ambulance datang. Dan segera membawa mayat Asih, Biantara dan beberapa anak buah yang tertembak. Mereka akan di bawa ke rumah sakit untuk menjalani otopsi dan pemakaman yang layak.
Aroon membawa Cyra masuk ke dalam mobil di mana Gio sudah menunggunya. Tapi entah kenapa tiba - tiba ia merasakan sakit kepala.
"Kenapa?"
"Entahlah, kepalaku tiba - tiba sakit."
"Duduklah di dalam. Setelah pamitan dengan komandan, kita langsung pulang."
"Baiklah."
"Syam, kau temani Cyra dan Gio."
"Baik tuan."
Aroon bergegas menemui komandan polisi dan menjelaskan situasinya. Mereka akan bertemu lagi untuk berita acara penangkapan ini.
"Ayo kita pulang."
Selama perjalanan Cyra bersandar di bahu suaminya.
"Masih sakit kepalanya?"
"Masih. Aku malah mau muntah."
"Mau berhenti sebentar?"
"Nggak usah. Aku mau cepat pulang."
"Oke." jawab Aroon. "Cepat sedikit Fahri."
"Baik tuan." jawab Fahri.
"Gio, maukah kau duduk di depan bersama paman Syam. Mae mu sedang sakit, biarkan ia berbaring."
"Mae sakit apa?"
"Sakit kepala."
"Baiklah." Gio pindah ke depan tapi sebelumnya ia mencium pipi Cyra. "Cepat sembuh Mae."
"Terima kasih sayang."
Setelah Gio pindah di depan, Cyra berbaring, kepalanya ada di atas pangkuan Aroon. Dengan lembut ia memijit kepala Cyra hingga istrinya tertidur.
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam mereka akhirnya sampai di perkebunan. Syamsudin membawa Gio yang tertidur dan Aroon juga menggendong istrinya yang tampak kelelahan.
Setelah membaringkan tubuh Cyra ia segera mengganti pakaian istrinya yang kotor. Membasuh tubuhnya dengan air hangat. Apa yang di lakukan oleh Aroon membangunkan Cyra.
"Dimana?"
__ADS_1
"Di kamar kita."
"Mana pakaianku?"
"Kotor? Aku menggantinya dengan yang baru sekalian membasuh tubuhmu yang kotor." jawab Aroon. "Masih sakit kepalanya?"
"Sudah tidak."
"Pakai bajunya dan istirahatlah kau pasti lelah."
"Aroon." panggil Cyra lirih. Ia menarik tangan suaminya. "Aku ingin." pintanya malu.
Aroon tersenyum mendengar permintaan istrinya.
"Whatever you want, nyonya." ucap Aroon. Tanpa menunggu lama ia memenuhi keinginan istri dan tentu saja keinginannya juga.
🍀🍀🍀🍀
Pagi itu Cyra bangun terlambat.
"Kenapa tidak membangunkan aku?" protesnya pada Aroon yang kala itu bersiap pergi ke kantor polisi.
"Aku lihat kamu pulas tidurnya. Bukankah hari ini Gio tidak masuk aekolah." jawab Aroon. "Bersantailah di rumah."
"Terima kasih sudah mengerti aku. Entah kenapa aku jadi pemalas akhir - akhir ini."
Aroon tersenyum menghampiri istrinya. Ia mengecup kening Cyra. "Sebenarnya kamu tidak pemalas sayang tapi aku yang memintamu bertempur setiap malam."
"Tapi aku suka."
Aroon kembali tersenyum. Ia membelai lembut rambut istrinya yang sedikit berantakan. "Aku ke kantor polisi dulu. Mungkin agak sore aku pulangnya. Makan yang banyak oke?"
Cyra mengangguk. Ia kembali menguap dan memilih untuk kembali menarik selimutnya dan tidur.
Hampir dua jam lamanya ia tertidur dan bangun lagi pukul sembilan pagi. Ia bangun karena perutnya lapar.
"Bik Tika, nanti badanku di kerokin yah."
"Nyonya masuk angin?"
"Entahlah, dari kemarin pusing terus."
"Wah, jelas masuk angin itu."
"Sudah nyonya, tadi bermain sama Omar dan Olif di kandang kuda." bik Tika menyiapkan koin dan minyak buat kerokan. "Di kerok sekarang nyonya."
"Yah sekarang saja." Cyra membalikkan tubuhnya menjadi tengkurap.
Bik Tika mulai mengerok tubuh Cyra satu persatu tapi tidak merah semua hanya sedikit saja. "Tidak begitu merah nyonya."
"Ya sudah nggak usah di teruskan saja bik. Nanti aku minum obat saja setelah makan."
"Baik nyonya." bik Tika segera keluar dari kamar Cyra.
Cyra kemudian berganti baju. Ia hanya gosok gigi dan membasuh mukanya. Ia berencana ikut bergabung bersama Gio di kandang kuda. Mungkin dengan menghirup udara di perkebunan ia akan merasa segar lagi.
Dan benar saja. Begitu Cyra keluar ia langsung merasa segar lagi. Ia berjalan - jalan sebentar ke taman samping sambil menengok bunga yang sudah di tanamnya. Ternyata sudah mulai keluar kuncupnya. Cyra jongkok untuk mengambil beberapa rumput liar yang tumbuh di sana.
Setelah semuanya bersiap ia bangun untuk kemudian menuju ke kandang kuda. Tapi entah mengapa ia tiba - tiba merasa pusing pandangannya kabur dan berkunang - kunang. Kemudian gelap.
🍀🍀🍀🍀
"Selamat pagi komandan."
"Selamat pagi tuan Aroon. Mari silahkan duduk."
Mereka berdua duduk bersama untuk membicarakan kasus Biantara.
"Ternyata setelah melalui penyelidikan Biantara melakukan banyak sekali kejahatan. Mulai dari black market hingga perjudian. Ia memiliki beberapa kasino di Thailand."
"Kalau ini saya baru dengar."
"Dan saya menemukan sesuatu yang aneh yang menurut saya anda harus tahu."
"Apa itu komandan?"
"Biantara ini memiliki hubungan dengan saudara ipar anda Denisha."
"Benarkah?"
"Iya, terbukti selama hampir enam tahun banyak sekali tranfer yang dilakukan oleh Biantara ke rekening pribadi saudara ipar anda. Jumlahnya tidak main - main."
"Apa mungkin Biantara saat itu melakukan pencucian uang."
__ADS_1
"Bisa jadi." jawab komandan. "Nona Denisha bisa saja di nyatakan terlibat dalam kejahatan yang di lakukan Biantara."
"Saya benar - benar tidak mengira jika semasa hidupnya Denisha dan Biantara sangat akrab."
Drrrttt... Ddrrrttt... Ddrrrttt handphone Aroon berdering.
"Maaf komandan saya angkat telepon dulu. Dari anak saya."
"Silahkan tuan."
Aroon segera keluar dan mengangkat telepon dari Gio.
"Phoo, pulang Mae pingsan. Aku sekarang perjalanan ke rumah sakit."
"Apa pingsan? Oke.. Oke.. Phoo akan ke rumah sakit sekarang."
Tanpa berpamitan Aroon segera memuju ke rumah sakit.
Sementara itu..
"Sudah berapa lama pasien pingsan?" tanya dokter.
"Mungkin sekitar tiga pukuh menit dok." jawab bik Tika.
"Baiklah, bawa masuk ke ruang IGD."
Beberapa perawat mendorong brankar Cyra masuk ke ruang IGD. Semuanya menunggu di luar. Bik Tika berusaha menenangkan Gio.
Mereka masih menunggu kabar dari dokter. Kemudian masuk lagi seorang dokter perempuan ke dalam.
"Bik, kenapa dokternya yang masuk banyak? Apa yang terjadi dengan Mae?"
"Tuan muda tenang saja dan terus berdoa. Saya yakin nyonya tidak apa - apa."
Tak lama kemudian datang Aroon bergabung bersama mereka.
"Mana Cyra?"
"Masih dalam penanganan dokter tuan?"
Aroon duduk di sebelah Gio. "Dimana tadi Mae pingsan?"
"Di taman samping."
"Tika, bukankah aku tadi menyuruhmu menjaga nyonya agar istirahat saja di kamar."
"Tadi nyonya hanya ingin menghirup udara segar saja tuan."
Aroon kembali diam, ia tidak mungkin menyalahkan bik Tika. Ia tahu bik Tika bukan orang yang lalai.
"Dengan keluarga nyonya Cyra." panggil perawat.
Dengan cepat Aroon berdiri. "Saya suaminya."
"Silahkan masuk tuan, dokter mau bicara."
"Baik." jawab Aroon. "Kalian tunggu di luar saja."
Aroon masuk ke dalam.
"Oh tuan Aroon. Mari silahkan duduk."
"Terima kasih dokter. Apa yang terjadi dengan istri saya?"
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan tuan. Istri anda baik - baik saja."
"Tapi tadi dia pingsan dok. Dan kemarin mengeluhkan sakit kepala."
"Itu wajar tuan."
"Wajar bagaimana?" Aroon bertanya dengan nada tinggi, karena ia merasa dokter rumah sakit itu meremehkan penyakit istrinya.
"Wajar jika itu menimpa ibu hamil." jawab dokter.
"Dokter jangan semb___. Apa dok? Hamil?"
"Iya tuan Aroon. Selamat istri anda hamil empat minggu."
Aroon tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Dia akan memiliki anak, buah cintanya dengan Cyra. Karena bahagia ia sampai tidak bisa berkata - kata.
Ya tuhan setelah banyaknya cobaan yang menerpa keluarga kami, akhirnya kau datangkan kebahagiaan yang sudah aku nantikan.
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1