
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk."
Cyra segera membuka pintu ruang kerja Aroon. "SelamatΒ pagi tuan, bisa saya bicara sebentar."
"Bisa, duduklah."
"Terima kasih tuan."
"Ada apa?"
Cyra menarik napas panjang sebelum memulai percakapan dengan Aroon. Ia sangat berhati - hati. "Saya mau membicarakan soal Omar dan Olif."
"Aku tidak akan merubah keputusanku Cyra."
"Saya tahu mereka bersalah karena sudah memulai perkelahian tapi itu semua di picu oleh perkataan Billy yang terkesan di sengaja."
"Kalian sudah tahu kalau Billy kadang terkesan memprovokasi tapi kenapa tetap kalian ladeni, Bahkan aku melihat sendiri yang pertama kali mendorong adalah Olif." ucap Aroon. "Maksudku baik Cyra, agar mereka bersikap lebih baik, lebih sopan karena itu semua akan menjadi contoj buat anakku. Salah jika aku merasa khawatir."
"Tuan tidak salah." jawab Cyra. "Setelah saya tahu maksud dan tujuan tuan menghukum mereka, saya rasa saya akan setuju dengan tuan."
"Biarkan mereka introspeksi. Ini baru Billy, bagaimana jika ada ratusan orang yang seperti Billy. Aku harap mereka tidak ikut dalam permainannya."
"Baik nanti akan saya sampaikan ke mereka tuan."
"Oya, katakan pada mereka pergunakan waktu satu minggu untuk merenungi sikap mereka."
"Baik tuan akan saya sampaikan. Kalau begitu saya permisi."
Cyra beranjak dari duduknya akan tetapi di tahan oleh Aroon. "Tunggu."
"Ya tuan."
"Bagaimana dengan sakit kepalamu?"
"Sudah membaik. Saya tidak merasakan pusing."
"Syukurlah."
"Darimana tuan tahu kalau saya sakit kepala? Bukankah semalam tuan pulang bersama Gio."
"Hmm.. Oh ya. Hmm dari Omar."
"Ya tuan." kecanggungan menguasai mereka. "Ada lagi yang mau tuan bicarakan?"
"Tidak ada?"
"Baiklah kalau begitu saya permisi." Cyra keluar dari ruang kerja Aroon. Ia berjalan menuju ruang belajar Gio yang mana Omar dan Olif sudah menunggunya.
"Bagaimana bu?"
"Kalian berdua tetap mendapat hukuman harus bekerja di perkebunan."
"Bu Cyra tidak membela kami?"
"Omar, Olif dengarkan aku dulu. Tuan Aroon melihat itu semua dari perdebatan kita dan berakhir dengan kalian yang mendorong Billy. Tuan itu menyayangkan sikap kalian yang babar dan tentu saja akan membawa pengaruh buruk buat Gio."
"Tapi ucapan Billy yang membuat kami emosi."
'Iya, tuan tahu itu. Tapi kalian datri awal kan sudah tahu kalau Billy suka memperovokasi. Seharusnya jangan kalian ladeni. Anggap saja angin lalu."
Omar dan Olif terdiam sepertinya mereka mengerti apa yang di sampaikan oleh Cyra. Tujuan tuan memang baik agar mereka lebih menjaga kesopanan.
"Kami akan melaksanakan hukuman ini bu Cyra."
"Hahahahhh.. Omar.. Omar.. Ini hanya hukuman biasa. Kenapa kau seolah - olah tuan akan menghukumu bertahun - tahun."
"Bagiku ini serasa bertahun - tahun bu. Tidak bertemu dengan tuan muda dan bu Cyra hari - hari terasa sangat lama."
"Heleh gombal." ucap Olif sambil menonyor kepala Omar.
"Hahahhhh.. " Cyra dan Gio tertawa melihat mereka. Pasti hari - hari mereka juga akan sepi tanpa kehadiran Omar dan Olif.
"Oya Gio, selama Omar dan Olif bekerja di perkebunan kamu harus mandiri tanpa mereka."
'Apa aku bisa?"
"Harus bisa. Kau pasti ingatkan apa saja yang mereka siapkan untuk keperluanmu setiap harinya. Dan itu harus kamu lakukan sendiri. Kita tidak bisa terus bergantung pada orang lain."
"Baiklah akan aku coba."
__ADS_1
"Bagus." Cyra membelai lembut kepala Gio. Ia tahu awal - awal Gio akan kesulitan tapi ia yakin sepenuhnya bahwa Gio bisa.
"Bu Cyra."
"Ya Omar."
"Bagaimana dengan rasa Wine? Hehehehhh." Omar meringis.
"Cukup sekali ini saja aku mencoba." jawab Cyra sambil membuka halaman buku pelajaran yang akan ia ajarkan pada Gio pagi hari ini.
"Yah memang sebaiknya satu kali saja ibu mabuk seperti itu." gumam Olif sambil menutup mulutnya.
"Memang kenapa? Apa aku berbuat sesuatu yang memalukan?" tanya Cyra. Omar dan Olif saling berpandangan. "Omar. Olif. Ayo jawab." Cyra meletakkan bukunya dan melihat ke arah mereka.
"Bu Cyra kayak anak kecil, tertawa, terus bernyanyi, berjalan kesana kemari, menari sampai tuan kewalahan."
"Tuan? Apa hubungannya dengan tuan?"
"Karena sudah malam kami bertiga pulang. Jadi tuan yang menjaga bu Cyra termasuk membereskan semuanya hingga bersih. Tuan tidak cerita?"
Mulut Cyra menganga tidak percaya. Pantas saja tadi dia menanyakan bagaimana kepalaku. Ya tuhan apa aku melakukan hal yang memalukan. Cyra tampak berpikir sangat keras.
"Bu Cyra.. Bu Cyra.. Bu Cyra." panggil Olif berkali - kali dan membuyarkan lamunan Cyra.
"Eh ya, gimana Olif?"
"Kami mau bersiap buat bekerja di perkebunan."
"Oh ya.. ya.. Hati - hati. Nanti kalau sudah selesai hukumannya kita saling berbagi cerita oke."
"Buat apa bu?"
"Biar Gio juga tahu dan banyak pengalamannya."
"Oke.. Baiklah kalau begitu." jawab mereka berdua.
ππππ
Sudah dua hari ini Cyra dan Gio melakukan kegiatan belajar tanpa Omar dan Olif walaupun suasana menjadi sepi tapi itu cukup baik untuk konsentrasi Gio. Gio pun juga sudah lebih mandiri dalam melakukan segala hal tanpa bantuan dari Omar dan Olif itu juga merupakan kemajuan yang bagus untuk perkembangan Gio.
Pagi ini seperti biasa Cyra mengajar Gio. Kebetulan Gio meminta belajar di luar.
"Gio, sudah kau selesaikan soal - soalnya."
Cyra mengambil buku Gio untuk melihat jawabannya. "Hmm bagus, cuma soal yang no tiga ini kurang komplit."
"Yang mana?"
"Ini, seharusnya___."
"Bu Cyra." belum selesai Cyra menjelaskan soal itu ke Gio ada seorang pekerja memanggilnya.
"Ya."
"Ada tamu."
"Tamu? Siapa?"
"Katanya dia teman bu Cyra di Surabaya. Namanya Aryo."
"Aryo." gumam Cyra. Tumben Aryo datang ke perkebunan, ini pasti ide ibu pikir Cyra. Bagaimana kalau tuan tidak mengijinkan aku menerima tamu.
"Bu Cyra."
"Eh ya gimana?"
"Tamunya bu."
"Oh. Aku akan menemuinya." ucap Cyra. "Tunggu sebentar ya, aku pamitan dengan Gio dulu."
Cyra menutup buku pelajaran dan menyerahkan buku catatan pada Gio. "Aku ada tamu. Istirahatlah dulu."
"Siapa?"
"Itu pak polisi yang pernah datang ke rumahku di Surabaya."
"Oh, jodoh bu Cyra."
"Sssttt.. Jangan keras - keras. Dia bukan jodohku. Nanti kalau orang dengar di kira betulan."
"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku saja." Gio segera pergi meninghalkan Cyra sendiri.
__ADS_1
Cyra bergegas ke depan untuk menemui Aryo. Ia melihat seorang pria muda yang berkulit sawo matang dengan memakai topi.
"Mas Aryo."
"Hai Cyra."
"Kok tahu kalau bekerja diperkebunan ini?"
"Kemarin aku ke rumahmu. Aku pikir kau belum pulang. Jadi aku tanya ke ibu kamu kerja di perkebunan apa. Beliau menjawab perkebunan tuan Aroon. Pakai google, ketemu deh."
"Oh." hanya itu yang keluar dari mulut Cyra.
Mereka terdiam sejenak. Cyra bingung harus berbicara apa.
"Eh, ayo duduk di sana." tunjuk Cyra pada sebuah gazebo.
Aryo berjalan mengikuti Cyra menuju ke sebuah gazebo.
"Perkebunan milik tuan Aroon luas ya?"
"Iya. Beliau termasuk sukses."
"Kira - kira aku mengganggu jam kerjamu tidak?"
"Kebetulan aku habis mengajar. Ini istirahat sebentar nanti sore lanjut lagi."
"Kamu tidak dimarahi?"
"Soal apa?"
"Yah soal terima tamu."
"Aku tidak tahu karena belum pernah kedatangan tamu."
"Wah suatu kehormatan dong aku menjadi tamu pertama buatmu."
Cyra hanya tersenyum mendengar perkaraan Aryo.
"Cyra."
"Ya."
"Sebenarnya aku ke sini karena ingin mengenalmu lebih dekat."
"Oh."
"Kebetulan aku di pindah tugaskan ke Tangerang jadi bisa sering bertemu denganmu."
"Tapi aku harus kerja. Di perkebunan ini sangat ketat."
"Tapi kata ibu setiap minggu kau libur bekerja."
"Hmmm." Cyra kebingungan karena ternyata ibu sudah banyak cerita ke Aryo. "Kadang - kadang, jika tuan mengijinkan."
"Kalau begitu kabari aku jika kau libur. Kita bisa jalan bareng."
"Oh.. Oke." jawab Cyra. Ia sama sekalintidak persiaoan jawaban. Kedarangan Aryo saja sudah membuatnya terkejut.
Sementara itu...
Gio berjalan di lorong menuju ke kamarnya tapi begitu melewati ruang tengah di sana ada Aroon sedang mengobrol dengan Denisha.
"Kok kau sendirian. Mana bu Cyra?" tanya Aroon.
"Ada tamu."
"Tamu?"
"He eh. Teman bu Cyra dari Surabaya." jawab Gio.
Denisha yang mendengar itu merasa itu suatu peluang. "Loh kok lancang dia terima tamu. Harusnya ia ijin padamu Aroon."
"Iya betul, dia kan bukan nyonya rumah disini." tambah Billy.
Aroon hanya diam. "Pria atau wanita?" tanya Aroon pada Gio.
"Hmm.. Phoo ingat dengan jodoh bu Cyra dari Surabaya. Nah itu tamunya." jawab Gio.
Aroon tampak sangat geram mendengar laporan dari Gio. Tangannya menggenggam erat. Wajahnya mengeras dan pandangan matanya berubah tajam.
Denisha tersenyum melihat perubahan muka Aroon. Ia bisa membaca kalau Aroon tidak suka dengan teman Cyra itu. Dan ini merupakan suatu peluang untuknya.
__ADS_1
Cyra, kau akan kena batunya. Lawanmu ini bukan sembarang lawan.
ππππ