My Love Teacher

My Love Teacher
Penyembuhan Trauma 2


__ADS_3

Sore itu Aroon duduk di ruang keluarga. Ia memandang ke arah jendela yang memperlihatkan luas perkebunannya. Perkebunan yang ia rintis sejak tinggal di Indonesia. Hatinya sakit saat tahu ada pengorbanan di balik ini semua. Yah pengeorbanan Cyra, yang tidak tahu apa - apa. Aroon yakin Cyra di culik oleh pesaingnya atau mungkin orang yang sudah ia sakiti, karena penculik itu sama sekali tidak meminta tebusan dan hanya menjebaknya.


Aroon memijat pelipisnya karena bingung langkah apa yang harus ia ambil untuk Cyra. Gadis itu berhak mendapat keadilan. Tapi bukti - bukti sangat sedikit, bahkan Aroon tidak menemukan apa - apa karena bersih.


"Selamat sore tuan."


"Sore." jawab Aroon. "Ada apa Syam?"


"Maaf tuan atas kelancangan saya?"


"Katakan. Ada apa Syam."


"Terus terang saya sangat bingung memikirkan keponakan saya. Saya tidak tahu siksa apa yang sudah ia dapatkan di sana hingga ia sangat syok saat ini. Saya tidak mengenali lagi keponakan saya. Ia seperti orang asing dengan tatapan mata yang kosong." ucap Syamsudin panjang lebar.Β  "Apa yang sebenarnya telah Cyra alami di sana?"


Aroon sempat bingung dengan pertanyaan Syamsudin. Tidak mungkin ia akan berterus terang kalau ia sudah mengambil kesucian Cyra karena pengaruh obat. "Hmm.. aku tidak begitu tahu detailnya Syam. Yang aku tahu ia sudah terikat dengan tubuh yang lemas."


"Saya merasa sedih tuan. Awalnya saya ingin kakak saya bisa hidup yang layak. Oleh sebab itu saya menawarkan Cyra untuk bekerja disini. Di samping itu saya yakin Cyra akan membawa pengaruh baik untuk tuan muda. Dalam bekerja Cyra selalu mengutamakan kepercayaan, ia akan mengesampingkan urusan pribadinya. Akan tetapi saya merasa bersalah sudah melibatkan ia dalam masalah." Syamsudin menitikkan air mata. dengan cepat ia mengusapnya. "Ia sudah saya anggap sebagai anak sendiri tuan."


"Aku tahu kau sangat menyayanginya."


"Penculikan ini juga akibat kelalaian saya. Saya yang tidak becus menjaganya. Bagaimana saya akan bertanggung jawab pada kakak saya di Surabaya."


"Aku akan membantumu. Sebenarnya ini semua murni kesalahanku. Musuhku terlalu banyak, mungkin itu akibat sikapku yang terlalu arogan selama ini."


"Bagaimana tuan tahu itu perbuatan musuh tuan."


"Mereka tidak meminta uang tebusan atau apalah yang berhubungan dengan materi. Penculikan Cyra mungkin sebagai peringatan dari musuh - musuhku. Aku sangat merasa bersalah padanya. Aku akan bertanggung jawab Syam."


"Terima kasih tuan." jawab Syamsudin. "Tuan."


"Ya Syam."


"Tadi waktu Cyra tidur istirahat dia banyak mengigau dan ketakutan."


"Benarkah? Aku akan melihatnya?"


"Jangan tuan, kita harus memberinya ruang untuk tenang. Saya bermaksud untuk membawanya pulang bertemu orang tuanya."


"Dia yang meminta?"


"Iya tuan."


"Baiklah, aku mengijinkan." ucap Aroon, walaupun itu dirasa sangat berat untuk Aroon tapi demi kesembuhan Cyra.


"Terima kasih tuan, besok kami akan berangkat pagi." ucap Syamsudin. "Dan saya rasa, kami tidak perlu berpamitan dengan tuan muda."


"Baiklah biar aku yang menjelaskan pada Gio."


"Saya permisi."


Syamsudin meninggalkan Aroon sendiri di ruang tengah. Penjelasan Syamsudin membuatnya berkaca - kaca karena ia tahu kondisi Cyra yang sekarang. Ini pasti berat untuknya. Ingin rasanya Aroon mendekapnya memberikan perlindungan untuknya, tapi itu tidak bisa ia lakukan karena Cyra menolak melihatnya apalagi disentuh olehnya. Ya tuhan kenapa aku melakukan itu padanya Aroon merasa sangat kesal dengan orang yang sudah memberinya obat.


Sementara itu...


Syamsudin yang dari minta ijin pada Aroon segera kembali ke rumah Cyra. Ia melihat keponakannya itu tengah melamun di teras sambil memandangi kolam yang ada beberapa tanaman hias hasil ia menanam. Syamsudin terdiam melihatnya dari jauh, air matanya kembali menitik dengan cepat ia mengusapnya. Ia berjalan mendekatiΒ  Cyra.


"Cyra." panggilnya.


Cyra menoleh dan menatap Syamsudin dengan pandangan kosong.


"Tuan sudah mengijinkan, besok pagi kita akan pulang ke Surabaya."


Tampak secerca sinar bahagia di mata Cyra. "Benarkah?" tanyanya lirih.


"Iya benar. Aku akan mengemasi barang - barangmu."


Cyra hanya mengangguk. Di saat yang bersamaan bik Tika masuk dengan membawa makan malam Cyra.


"Kamu mau mengemasi barang siapa Syam?"


"Kami akan pulang ke Surabaya, Tika." jawab Syamsudin. "Cyra butuh ruang dan waktu untuk memulihkan rasa traumanya."


"Kalau tuan muda mencari bagaimana?" tanya bik Tika. "Dari tadi saja maunya ke sini terus menjenguk Cyra. Tapi tuan melarang karena Cyra butuh istirahat."

__ADS_1


Wajah Cyra tampak terkejut, ia sebenarnya sedih harus meninggalkan Gio. Tapi mau bagaimana lagi ia butuh waktu untuk berani bertemu dengan Aroon lagi. Walaupun sebenarnya ia tidak bisa menyalahkan Aroon sepenuhnya karena ia melakukan itu tanpa sadar dan dalam pengaruh obat. Tapi saat ini Cyra masih belum bisa menerima.


"Ya sudah kalau kalian memang mau pulang kampung, berkemaslah. Aku akan menemani Cyra makan, pesan tuan Cyra harus makan." bik Tika menaruh nampan berisi makan malamnya.


Syamsudin meninggalkan mereka berdua dan masuk ke dalam kamar Cyra. ia mengemasi baju Cyra dan memasukkan ke dalam koper.


"Cyra ayo makan dulu."


Cyra hanya diam sambil memandangi makanan di hadapannya. Ia sama sekali tidak berselera.


"Aku suapi ya?" bik Tika dengan telaten menyuapi Cyra.


"Sudah bik."


"Kamu baru makan sedikit Cyra."


"Aku masih mual."


"Sedikit lagi ya." paksa bik Tika. "Dua suap lagi, ayo."


Cyra menggeleng dan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Wajahnya masih pucat.


"Cyra.. Aku sudah menganggapmu seperti anak sendiri. Melihatmu seperti ini dadaku terasa sakit. Aku memang tidak tahu apa yang sudah kamu alami waktu di culik. Pasti sesuatu hal yang menyakitkan hingga membuatmu berubah seperti ini." ucap bik Tika sambil menangis. Ia sangat prihatin dengan kondisi Cyra. Wajahnya lelah, pandangan matanya kosong bahkan terkesan cekung karena kurang tidur. "Aku mau kamu tahu bahwa aku akan selalu ada untuk membelamu Cyra." bik Tika membelai lembut rambut Cyra.


Perlahan air mata Cyra jatuh membasahi pipi. Ia memeluk bik Tika sambil menangis.


"Sabar.. Yang sabar ya.. Kamu harus kuat dan bangkit." bik Tika memberikan semangat.


Cukup lama Cyra menangis dalam pelukan bik Tika, seakan ia memeluk ibu. Beban di dadanya sedikit berkurang. Setelah puas Cyra melepaskan pelukannya. "Aku mau istirahat di kamar bik."


"Mau aku temani?"


Cyra menggeleng.


"Biar aku yang menemani Cyra. Pekerjaanmu di dapur sudah melelahkanmu Tika."


"Baiklah kalau kau yang menemani Cyra. Saat - saat seperti ini ia sangat butuh teman." ucap bik Tika. "Kalau begitu aku keluar dulu."


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Pelan - pelan saja." Syamsudin mendorong koper Cyra. "Pesawatnya masih nanti jam sembilan."


Cyra menjawab dengan anggukan. Baru sampai lorong langkahnya terhenti, ia melihat sosok yang tidak ingin ia temui saat ini. Cyra kemudian menundukkan kepalanya.


"Tuan." sapa Syamsudin.


"Kalian sudah bersiap pulang?" tanya Aroon sambil melirik Cyra yang sama sekali tidak mau memandangnya.


"Iya tuan. Pesawatnya jam sembilan." jawab Syamsudin.


"Sulaiman akan mengantar kalian."


"Oh terima kasih tuan. Kalau begitu kami permisi dulu."


Syamsudin berjalan melewati Aroon, begitu juga dengan Cyra. Ketika tepat di samping Aroon dengan berbisik ia mengatakan sesuatu. "Hati - hati Cyra."


Cyra mendengar tapi entah kenapa bibirnya mengatup seakan - akan enggan memberi jawaban. Matanya terasa panas. Ia berusaha agar air matanya tidak jatuh lagi dengan cara mempercepat langkahnya dan menghiraukan rasa sakit di bawah sana. Ia bernapas lega karena sudah di dalam mobil. Sulaiman segera mengantar mereka menuju ke bandara.


Cyra menikmati perjalanannya, Ia seperti menemukan kedamaian di kampung halamannya. Mungkin karena ia akan bertemu dengan orang tua yang selama ini selalu menjaganya. Ia sangat butuh pelukan mereka saat ini.


Setelah menempuh perjalanan satu setengah jam akhirnya mereka sampai juga di Surabaya. Rencananya Syamsudin hanya menginap satu hari. Ia tidak mungkin terlalu lama meninggalkan pekerjaannya. Sedangkan Cyra diberi keleluasaan oleh Aroon untuk menenangkan di diri di rumahnya.


Sesampai di rumah ayah dan ibu menyambutnya dengan tangisan pilu karena sebelumnya Syamsudin sudah bercerita mengenai apa yang sudah dialami oleh Cyra.


Ayah dan ibu sama sekali tidak pernah mencerca Cyra dengan pertanyaan, mereka menunggu sampai Cyra mau cerita sendiri.


Ibu membawa Cyra ke dalam kamar dan meninggalkannya sendiri di sana.


"Syam, apa yang terjadi?" tanya ayah.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. ia belum mau bercerita."


"Sudah kita tunggu saja sampai ia mau cerita. Jangan di paksa - paksa." saran ibu. "Jadi kamu pulang besok?"

__ADS_1


"Iya kak, aku tidak enak dengan tuan Aroon. Ia sudah memberiku libur panjang demi merawat Cyra."


"Ya sudah istirahatlah di dalam kamar."


Syamsudin segera masuk ke dalam kamar.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Setelah Syamsudin pulang ke Bogor. Ibu mulai mendekati Cyra yang sedang bersantai di ruang tengah. Cyra sudah mulai mau makan, wajahnya sudah tidak sepucat kemarin, dan juga sudah mau bicara.


"Cyra."


"Ya bu."


"Berapa lama tuan memberimu waktu untuk cuti."


"Kata Pak Uo sampai aku sembuh."


"Ibu lihat lukamu sudah mengering dan mulai mengelupas." pancing ibu. "Itu artinya kamu sudah sembuhkan?"


Cyra terdiam. Kepergian Pak Uo sepertinya membuatnya lebih leluasa untuk bercerita. 'Ini yang belum sembuh bu." tunjuk Cyra pada dada nya.


"Kamu bisa cerita ke ibu dan ayah, minimal akan mengurangi bebanmu. Siapa tahu kami punya solusinya."


Cyra sempat ragu, tapi ini adalah orang tuanya. Ia tidak ingin membuat mereka khawatir, tapi kalau mereka tidak di beritahu tentu saja malah tambah khawatir. Ayah mana?"


"Kamu mau bicara dengan kami berdua?"


Cyra mengangguk.


"Sebentar ibu panggilkan ayah dulu." ibu bergegas ke belakang untuk memanggil ayah. Tak lama kemudian ayah datang dan mereka duduk bertiga di ruang keluarga.


"Ada apa Cyra?"


"Aku mau menceritakan tentang penculikan itu. Tapi aku mohon ayah dan ibu jangan marah padaku."


"Tidak Cyra, kau tahu kami akan sangat menghargai kejujuranmu walaupun itu sangatlah pedih." ucap ibu.


Cyra menarik napas panjang sebelum bercerita. Ia menguatkan mentalnya.


"Ayah ibu maafkan aku." Cyra mengawali dengan permintaan maaf. "Mungkin setelah ceritaku ini kalian akan kecewa padaku."


"Apapun yang terjadi kami akan berusaha bersikap bijak nak dan tidak akan kecewa. Karena segala sesuatu itu adalah jalan dari tuhan." ucap ayah.


"Aku di culik hampir dua hari, mereka tidak memberiku makan dan minum, mengikat tangan, kaki dan mulutku."


"Ya tuhan." mata ibu mulai berkaca - kaca. Mana ada ibu yang tega mendengar anaknya diperlakukan tidak seperti manusia.


"Di hari pertama mereka membekapku di sebuah pabrik kayu yang terbengkelai dan hari kedua membawaku ke villa."


"Villa?" gumam ayah keheranan.


"Mereka menculikku sepertinya untuk menjebak tuan Aroon." ucap Cyra. "Sesampai di villa mereka menyuruh seorang wanita tua untuk mengganti pakaianku, saat itulah aku berkesempatan untuk melarikan diri tapi di tangkap oleh mereka lagi." Cyra berhenti sejenak sebelum melanjutkan ceritanya.


"Kalau kamu siap melanjutkan, kami akan menunggu sampai kau siap. jangan dipaksakan."


"Tidak, aku tidak apa - apa ibu. Aku akan melanjutkan ceritanya." jawab Cyra. Tangannya tampak gemetar. "Karena aku sempat melarikan diri mereka akhirnya mengikat kedua tangan dan kakiku pada sebuah tiang di tempat tidur. Berulang kali mereka mengatakan bersiap untuk menjebak seseorang. Dan ternyata itu adalah tuan Aroon."


"Tuan Aroon? Jadi mereka menculikmu untuk menjebaknya?"


"Mungkin?" jawab Cyra. "Mereka menyuntik tuan obat perangsang."


Mulut ibu menganga seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya.


Cyra melanjutkan ceritanya. "Setelah tuan disuntik dia memasukkan ke dalam kamar dimana aku diikat. Mereka kemudian mengunci kami. Sepertinya tuan memang di minta datang ke villa itu. Tuan senang bisa menemukanku. Ia segera berusaha melepaskan ikatanku akan tetapi itu terlambat."


"Terlambat? Apa maksudmu? Ayah tidak mengerti."


"Pengaruh obat itu begitu cepat ayah. Tuan berusaha melawan tetapi tidak bisa. Dan hasilnya tuan yang dalam pengaruh obat merenggut kesucian yang selama ini aku pertahankan." Cyra terisak.


"Ya tuhan, tuan merenggut kesuciaanmu?!" teriak ibu histeris mendengar cerita Cyra.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€

__ADS_1


__ADS_2