My Love Teacher

My Love Teacher
Selamatkan Aku


__ADS_3

Pranngg! Pyaarr!


"Ada apa nyonya?" tanya bik Tika.


"Gelasnya pecah bik." jawab Cyra. "Nggak tau nih kok di pegang licin." Cyra membungkuk mau membersihkan pecahannya.


"Sudah biarkan saja nyonya, biar saya yang membersihkan." bik Tika mencegah Cyra dan membimbingnya duduk. "Nyonya duduk saja. Bisa bahaya kalau hamil besar kena pecahan kaca."


Bik Tika mengambil sapu dan segera membersihkan pecahan kaca sebelum nanti ke injak oleh orang lain.


"Bik, perasaanku kok nggak enak ya."


"Itu biasa nyonya. Orang kalau mau melahirkan suka agak tegang. Kadang malah pikirannya kemana - mana."


"Dulu bik Tika juga seperti itu?"


"Iya, malah kadang susah tidur."


Cyra terdiam lagi. Tiba - tiba ia teringat suaminya. Tapi karena terakhir telepon bilang mau ada meeting dengan klien jadi Cyra mengurungkan niatnya menelepon Aroon.


"Ini di minum nyonya, biar nggak kaget."


"Terima kasih bik." Cyra meneguk teh hangat yang di sajikan oleh bik Tika. Tapi entah kenapa perasaannya masih saja cemas.


Drrrttt.. Drrrttt.. Drrrttt. Handphone Cyra berdering. Cepat - cepat ia mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon.


"Cyra."


"Oh ibu." jawab Cyra.


"Kok sepertinya kamu kecewa. Nunggu telepon dari suamimu."


"Bukan kecewa bu. Cuma perasaanku nggak enak dari tadi."


"Memang kalau lagi hamil suka begitu apalagi kamu mau melahirkan."


"Iya. Mungkin juga bu."


"Nggak usah banyak pikiran. Kamu konsentrasi saja ke persiapan melahirkan."


"Iya bu."


"Oya, ibu sudah ijin sama Ayah kalau minggu depan ibu mau ke Bogor buat menemani kamu melahirkan."


"Ayah nggak ikut."


"Nggak, nanti kalau bayimu sudah lahir baru ayah ke Bogor. Sawahnya nggak ada yang jaga. Kalau di tinggal lama - lama bisa nggak panen nanti."


"Musim hama?"


"Tikus. Panen kali ini petani di ganggu tikus."


"Hati - hati bu. Tikus itu kan binatang kotor."


"Iya. Ibu juga sudah sering kali memperingatkan ayahmu." jawab ibu. "Ya sudah ibu tutup dulu, di luar kayaknya ada tamu."


Panggilan di akhiri. Mendengar suara ibu Cyra sedikit lega. Rasa cemasnya mulai berkurang. Cyra memutuskan untuk kembali ke kamar.

__ADS_1


"Bik, aku ke kamar dulu ya."


"Iya nyonya."


Cyra rebahan di atas tempat tidur. Perutnya yang besar membuat tidurnya menjadi kurang nyaman. Biasanya kalau ada Aroon dialah yang membuat tidur Cyra menjadi nyaman. Aroon terkadang memijit punggungnya sampai ia tertidur. Kenapa baru di tinggal sehari saja ia sudah merindukan suaminya itu.


Karena lelah Cyra akhirnya tertidur.


🍀🍀🍀🍀


Pagi ini Cyra terbangun dengan sakit kepala. Gio tidur di sebelahnya. Anak itu benar - benar menepati janji ke ayahnya kalau akan menjaga Cyra selama Aroon ke Bali.


Dengan perlahan ia beranjak dari temoat tidurnya dan mulai membuka jendela. Ia ingin merasakan udara pagi menyegarkan kamarnya.


Cyra menghirup udara dalam - dalam. Membiarkan kesegaran udara itu memenuhi paru - parunya. Tiba - tiba saja ia melihat dari kejauhan seseorang berlari - lari menghampiri Fahri yang sedang mengelap mobil. Terlihat Fahri yang panik, dan kemudian mereka berdua pergi ke arah rumah Pak Uo nya. Gelagat mereka mengundang rasa penasaran di hati Cyra.


Cyra memutuskan untuk keluar dari kamar. Di lorong ia bertemu dengan bik Tika.


"Nyonya mau ke mana pagi - pagi?"


"Temani aku ke rumah Pak Uo ku."


"Biar saya panggil saya Syamsudin nyonya. Nyonya bisa menunggu di sini." bik Tika menawarkan karena merasa kasihan jika Cyra harus berjalan jauh.


"Tidak apa - apa bik. Itung - itung olah raga."


"Baik nyonya." bik Tika menemani Cyra ke rumah Pak Uo.


Cyra berjalan agak cepat dan itu membuat bik Tika merasa khawatir.


"Pelan - pelan nyonya."


Sesampai di depan pintu Cyra tidak langsung masuk. Ia mengatur napasnya dulu. Tampak dengan jelas suara mereka bertiga sedang berbicara.


"Bagaimana ini pak Syam? Aku tidak tega menjelaskan ini pada nyonya."


"Sekarang di mana Sulaiman?"


"Terakhir ia di rumah sakit. Karena yang menelepon adalah pihak rumah sakit."


Cyra yang mendengar percakapan mereka menjadi gemetar karena ada kata rumah sakit.


"Nyonya jangan sampai tahu berita ini." Syamsudin memperingatkan Fahri dan penjaga.


"Kenapa aku tidak boleh tahu Pak Uo?" tiba - tiba Cyra membuka pintu rumah Syamsudin.


"Cyra." ucap Syamsudin yang terkejut dengan kedatangan Cyra.


"Apa yang terjadi? Berita apa?" desak Cyra. "Apa yang terjadi dengan pak Sulaiman? Apa yang terjadi dengan suamiku? Jawab?"


Syamsudin diam. Dari sorot matanya ia terlihat bingung. "Duduklah dulu Cyra."


"Tidak sebelum Pak Uo menjelaskan apa yang terjadi." Cyra menatap tajam Syamsudin.


"Aku akan bercerita. Ayo duduklah dulu."


Cyra akhirnya menuruti permintaan Syamsudin. Ia duduk di kursi tamu.

__ADS_1


"Aku harap kau tabah. Kau sedang hamil saat ini."


"Aku siap mendengar hal yang terburuk sekalipun Pak Uo. Apalagi ini menyangkut suamiku."


"Baiklah. Penjaga tadi pagi menerima telepon dari rumah sakit di Bali. Ternyata itu Sulaiman. Ia memberitahu kalau mobil yang mereka tumpangi jatuh ke jurang."


Tangan Cyra gemetar hebat. Airmatanya jatuh satu demi satu membasahi pipi. "Suamiku?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Tuan Aroon jatuh bersama mobil."


Cyra memejamkan matanya. Syamsudin tahu Cyra sangat terpukul mendengar berita itu dan berusaha untuk tabah.


"Cyra." Syamsudin menepuk pundak keponakannya itu. "Pihak kepolisian masih mencari keberadaan tuan Aroon."


"Aku akan ke sana. Tolong pesankan aku tiket."


"Jangan, kau sedang hamil tua. Biar aku dan Fahri yang ke sana."


"Ini suamiku Pak Uo! Aku harus melihat sendiri bahwa ia selamat dari kecelakaan itu!"


"Tenang nyonya." bik Tika berusaha menenangkan Cyra karena takut terjadi apa - apa dengan kandungannya.


"Cyra, kami akan melaporkan perkembangannya setiap saat padamu."


Cyra menangis tersedu - sedu. Ia tidak menyangka jika kepergian Aroon ke Bali akan membawa bencana seperti ini. Seandainya ia tahu tentu ia tidak akan mengijinkan suaminya pergi.


Ini merupakan keputusan yang sulit buat Cyra. Tapi sepertinya tetap tinggal di Bogor adalah pilihan yang terbaik saat ini. Ia juga tidak mau terjadi apa - apa dengan bayinya dan juga ia harus menjaga Gio.


"Baiklah aku akan tetap tinggal di sini. Tapi aku mohon Pak Uo benar - benar mengerahkan tenaga untuk mencari suamiku sampai ketemu apapun kondisinya. Jika sampai dua hari tidak ada kabar maka aku sendiri yang akan ke sana."


"Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membawa suamimu pulang dalam keadaan selamat."


Cyra mengangguk dan ia memiliki keyakinan bahwa suaminya akan baik - baik saja.


Pagi itu juga Syamsudin dan Fahri segera terbang ke Bali. Mereka menemui Sulaiman dulu untyk melihat kondisi dan cerita yang sebenarnya. Syukurlah Sulaiman hanya mengalami luka lecet biasa. Akhirnya mereka bertiga mencari keberadaan Aroon.


Di tebing itu terjal dan terdiri dari bebatuan yang besar. Pihak kepolisian sudah menemukan mobil yang mereka tumpangi tapi tidak menemukan keberadaan Aroon. Itu artinya ada harapan Aroon baik - baik saja.


Syamsudin dan Fahri terjun langsung ke lokasi membantu pihak kepolisian mencari keberadaan Aroon. Syamsudin setiap saat melaporkan hasil pencarian pada Cyra. Apalagi ia sudah berjanji pada keponakannya itu akan membawa pulang suaminya.


Sementara itu..


..."Sayang.. Sayang ayo bangun." suara Cyra terdengar sangat merdu. Aroon perlahan - lahan membuka matanya. Ia melihat istrinya tersenyum sangat manis kepadanya....


..."Cyra." Aroon membelai pipi Cyra yang lembut. Ia juga mengusap perut istrinya tapi ia kemudian terkejut. "Perutmu?"...


..."Aku sudah melahirkan sayang."...


..."Benarkah? Mana anak kita?"...


...Cyra hanya diam dan tersenyum memandangi Aroon. Ia kemudian beranjak menjauh....


..."Cyra.. Cyra.." panggil Aroon. Tapi Cyra tidak menjawab dan terus menjauh. "Cyra! Mana anak kita?" teriaknya...


Aroon terhenyak dari pingsannya. "Ya tuhan sudah berapa lama aku pingsan." gumamnya. Ternyata bayangan Cyra dalam mimpinya yang telah membangunkan Aroon dari pingsan.


Aroon berusaha menggerakkan tubuhnya tapi percuma. Ia terhimpit di sebuah batu besar. Aroon tetap berusaha keluar dari himpitan batu itu tapi tetap saja hasilnya nihil.

__ADS_1


"Cyra pasti cemas. Bagaimana jika itu mempengaruhi kehamilannya." gumam Aroon. Ya tuhan tolong selamatkan aku. Aku ingin bertemu dengan anak istriku doa Aroon dalam hati.


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2