
Asih di bawa oleh dua orang pria berbadan besar. Matanya di tutup oleh kain. Ia di bawa ke suatu tempat yang perjalanannya lumayan jauh.
"Siapa sebenarnya kalian?"
"Nanti kau akan tahu."
"Jika aku menghilang seperti ini, suamiku pasti akan lapor polisi." ancamnya.
"Tenang, ini tidak akan lama. Sore kau sudah bisa berkumpul lagi dengan suami bodohmu itu."
Asih terdiam, ia memilih bekerjasama dengan mereka karena bisa saja nyawa taruhannya. Ia sudah lama bekerja di dunia seperti itu jadi diam dan menurut adalah solusi yang paling aman.
Mobil yang mereka kendarai berhenti, mungkin saja sudah sampai ke tempat yang di tuju. Dan benar saja, Asih di paksa turun.
"Ayo turun, kita sudah sampai."
Asih di tuntun oleh dua orang itu berjalan seperti memasuki sebuah ruangan. Kalau di rasakan dari lantainya ini pasti sebuah bangunan gedung atau semacam rumah.
Dua pria tadi melepaskan penutup mata dan ikatan di tangannya. Asih mengerjap - erjapkan matanya untuk membiasakan menerima cahaya. Setelah semuanya terlihat normal ia bisa melihat dimana sebenarnya. Ia berada di sebuah Villa.
"Hai Asih. Rindu padaku?"
"Tuan Biantara." gumam Asih.
"Bagaimana kandunganmu?"
Asih dengan spontan memegang perutnya. Ia sepertinya tidak ingin Biantara menyakiti bayinya. "Baik tuan."
"Anak siapa?"
Asih lagi - lagi terkejut dengan pertanyaan Biantara. "Anak saya dengan Hasan suami saya."
"Jangan bohong. Aku selalu mengawasimu Asih." ucap Biantara. "Atau mau aku cincang si Devano?"
"Jangan tuan!" teriak Asih spontan.
"Hahahahhh... Aku percaya kalau kau adalah bekas anak.didikku. Otakmu dalam mencari solusi di setiap masalahmu memang brilian."
Asih hanya menunduk.
"Aku minta bantuanmu."
"Aapa tuan?"
"Aku dengar anak Aroon sekolah di mana suamimu mengajar? Benarkah?"
Asih mengangguk. "Benar tuan."
"Bagus. Dewi keberuntungan memang selalu berpihak padaku." Biantara berdiri dan menghampiri Asih. Ia memegang dagu perempuan yang bersimpuh itu. "Aku mau kau menculiknya."
"Ttapi ttuann ssa.. ssaya sudah tidak bekerja seperti itu lagi. Saya hanya ingin membangun suatu keluarga kecil dengan suami saya."
"Hahahahh..." Biantara tertawa terbahak - bahak dan Plaaakkk!!!. Biantara menampar Asih. "Tidak ada yang berani menolak permintaanku! Mengerti!"
Asih menangis sambil memegangi perutnya.
"Kau mau suamimu aku jadikan makanan Buaya atau kau lebih memilih Devano kekasih gelapmu itu."
"Jangan! Jangan lakukan itu tuan! Saya mohon." Asih menangis. "Baik.. Baik.. Saya akan mengikuti perintah tuan."
"Bagus.. Hahahahhhhh.. Bagus." Biantara berputar - putar menari karena ia membayangkan betapa terpukulnya Aroon jika kehilangan anaknya. "Aku mau kau segera melakukan perintahku. Dan ingat jangan harap kau bisa lolos dari pandanganku." ancam Biantara. "Aku mengawasimu Asih."
Asih kemudian di kembalikan lagi ke rumahnya tepat bersamaan dengan Hasan yang sedang pulang dari sekolah.
"Dari mana?"
"Dari ketemu teman." jawab Asih berbohong.
"Jangan capek - capek. Ingat kemarin kamu keluar flek lagi kan."
"Iya mas."
"Ya sudah sana istirahat." perintah Hasan.
Pikiran Asih sangat kalut ia bingung harus melakukan apa. Rencananya setelah menikah dengan Hasan ia ingin menata hidupnya menjadi orang yang lebih baik. Tapi ternyata ia tidak bisa lepas dari jeratan Biantara. Orang itu memang benar - benar licik.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀
Beberapa hari ini Aroon ekstra ketat dalam menjaga keluarganya. Ia meningkatkan penjagaan selama Biantara masih menjadi buron. Sementara ini Cyra tidak mengantar dan menjemput Gio. Ia hanya di rumah menunggu anak kesayangannya itu pulang.
Gio sendiri selama sekolah selalu di tunggui oleh Omar dan Olif.
"Tuan, saya minta maaf hari ini tidak bisa menjaga tuan muda karena sakit." ucap Omar.
"Baiklah nanti biar Fahri dan Olif saja yang mengantar Gio sekolah."
"Phoo." panggil Gio.
"Ya Gio."
"Phoo lupa, hari ini ada pertemuan orang tua murid."
"Ah iya. Phoo sampai lupa." jawab Aroon. "Bagaimana kalau aku telepon gurumu saja, bahwa hari ini kami tidak bisa datang."
"Kenapa?" ada raut kecewa di wajah Gio.
"Hari ini Phoo harus ke kantor polisi."
"Bagaimana kalau aku yang berangkat?" sahut Cyra yang datang membawa teh hangat untuk suaminya.
"Tapi___."
"Kan hanya sebentar." bujuk Cyra. "Lagian kan ada Fahri, ada Olif."
Aroon menarik napas panjang. Ia masih belum rela jika membiarkan anak istrinya lepas dari pengawasan. "Baiklah." putus Aroon kemudian. "Tapi ingat, jangan mampir ke mana - mana."
"Iya.. Setelah dari sekolah kami langsung pulang."
Aroon memeluk istrinya. "Hati - hati."
"Iya.. Iya sayangku." jawab Cyra. "Heran deh seperti mau pisah lama saja. Peluknya kenceng banget."
Aroon hanya diam sambil terus memeluk istrinya.
Akhirnya mereka berempat berangkat ke sekolah Gio. Sedangkan Aroon memenuhi panggilan dari kantor polisi terkait informasi mengenai Biantara. Karena di sinyalir mereka ada di sekitar kota Bandung.
🍀🍀🍀🍀
Pertemuan ini tidak lama hanya sekitar satu jam.
"Ayo masuk ke dalam mobil."
"Sebentar Mae, ada buku ku yang ketinggalan di dalam kelas."
"Baiklah Mae temani ambil." ucap Cyra. "Olif tunggu di sini saja."
"Baik bu Cyra."
Cyra menemani Gio kembali ke dalam kelasnya tapi baru sampai di halaman ia di kejutkan oleh kedatangan Asih dan tiga orang pria berbadan besar.
"Asih." gumam Cyra. Ia langsung mengerti situasinya. Dengan ada Asih dan tiga orang pria dengan senjata yang di sembunyikan di balik jaketnya.
"Kita ketemu lagi bu Cyra."
"Kau mau ketemu Hasan? Hmm kalau begitu aku permisi dulu." Cyra berusaha tenang dengan menggenggam tangan Gio.
"Jangan terburu - buru bu Cyra. Mari kita ngobrol sebentar karena sudah lama tidak bertemu."
Cyra berusaha berpikir cepat untuk bisa menghubungi suaminya. Beruntung Gio mengenakan smart watch ia bisa segera mengirim sinyal untuk suaminya.
Cyra jongkok di depan Gio seolah - olah memberikan pengertian pada anaknya. "Gio sayang, kita ngobrol sebentar dengan mbak Asih ya. Cuma sebentar kok kalau lama nanti Phoo akan mencari kita." ucap Cyra dengan menatap tajam. Ia juga mengusap - usap tangan Gio yang mengenakan jam.
Karena Gio anak yang cerdas maka ia dengan cepat menangkap maksud dari perkataan Cyra. Bahwa ini situasinya bahaya ia harus menghubungi ayahnya.
"Baiklah Mae."
"Good boy." Cyra bisa bernapas lega, karena Gio mengerti code yang di berikan olehnya.
Dua pria segera memegang tangan Cyra dan Gio.
"Tunggu sebentar." ucap Cyra
__ADS_1
"Jangan menunda waktuku yang berharga."
"Aku tidak mau membuat anakku ketakutan. Jadi tolong biarkan aku menggandeng tangannya."
"Baiklah. Nikmati saja waktu - waktu terakhir kebersamaan kalian." Asih memerintahkan pria itu untuk melepas Gio dan membiarkan Cyra menggandeng tangan anak kesayangannya itu.
Sementara itu..
"Fahri, kenapa bu Cyra dan tuan muda lama sekali?"
"Iya.. Ya.. Sudah hampir tiga puluh menit."
"Coba kau cek ke dalam. Sepertinya murid kelas satu sudah pada pulang."
"Ah kau ini.. Sekarang aku tahu penderitaan Omar." sindir Fahri
"Eh awas kamu ya."
Fahri akhirnya turun, ia berjalan masuk ke dalam sekolah. "Aneh kemana sih nyonya sama tuan muda." gumamnya sendiri. Ia memutuskan jalan ke gerbang samping, siapa tahu tuan muda minta jajan di sana. Tapi ternyata juga sama kosong. Ia menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Eh cari siapa pak?" tanya petugas kebersihan.
"Hmmm.. Sebentar." Fahri mengambil handphonenya dan memperlihatkan foto Gio. "Bapak tahu?"
"Oh.. Iya saya lihat tadi anak ini sama dua orang perempuan dan tiga orang laki - laki jalan ke arah gerbang belakang."
"Tunggu.. Tunggu.. Dua perempuan dan tiga laki - laki? Itu nggak mungkin pak."
"Lah.. Yang saya lihat tadi begitu." petugas kebersihan yakin dengan yang di lihatnya. "O iya.. Yang perempuan satunya saya kenal."
"Siapa pak?"
"Itu istrinya pak guru Hasan."
"Iya.. Tapi namanya siapa pak?" desak Fahri.
"Mbak Asih."
"Aduhhh gawat! Mereka tadi lewat mana?" tanya Fahri buru - buru.
"Gerbang belakang."
Tanpa menunggu lama Fahri segera berlari menuju berbang belakang tapi nihil karena ia hanya melihat mobil hitam yang sudah melaju jauh.
"Aduh bagaimana ini?" Fahri kebingungan. Tapi apapun yang terjadi ia harus menghubungi tuan Aroon.
"Selamat siang tuan."
"Ada apa Fahri?"
"Nyonya dan tuan muda di culik."
"Apa?! Bagaimana bisa?"
"Mereka di culik oleh Asih tuan."
"Sial!" teriak Aroon. Ya tuhan bagaimana nasib anak dan istriku, aku tidak mau kehilangan mereka. Aroon terduduk lemas.
"Ada apa tuan?" tanya Syamsudin.
"Biantara berhasil menculik Cyra dan Gio. Ia berhasil menculik anak dan istriku, Syam. Bagaimana ini?" suara Aroon yang putus asa membuat Syamsudin berusaha menguatkan majikannya itu.
"Bagaimana kalau kita lacak handphone Cyra?"
"Ah kamu benar.. Yah kamu benar." Aroon kembali bersemangat. Ia segera melacak keberadaan handphone Cyra tapi ternyata nihil. Para penculik itu sudah memperkirakan jadi handphone itu mereka buang di area sekolah. Aroon tampak berpikir keras.
"Tuan, saya pernah melihat Cyra memberikan tuan muda hadiah karena ia diterima masuk ke sekolah. Hadiah itu berupa smart watch, setahu saya hadiah itu selalu di kenakan oleh tuan muda."
"Ah kamu benar Syam." Aroon segera mengecek dan memang dari smart watch sudah memberikan sinyal pada Aroon. Oleh sebab itu dengan mudah Aroon melacaknya.
"Ketemu."
Aroon, Syamsudin dan di bantu beberapa orang polisi segera mengikuti penculik itu karena mereka yakin bahwa mereka juga akan menemukan Biantara.
Ya tuhan aku mohon lindungi anak dan istriku. Kamu harus baik - baik saja Cyra.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀