
"Tuan memanggil saya?"
"Duduklah Syam."
Syamsudin segera duduk berhadapan dengan Aroon di ruang kerjanya.
"Lihat ini." Aroon menunjukkan rekaman CCTV tentang kejadian yang dialami Cyra. "Aku sudah memecat dua penjaga itu."
"Terima kasih tuan sudah menolong Cyra."
"Aku sangat heran bagaimana bisa pria itu masuk ke dalam perkebunanku?"
"Maksud tuan ada yang berkhianat dengan kita?"
"Betul, coba kamu perhatikan ini." Aroon memperbesar gambar pada CCTV.
"Seorang wanita?"
"Yah, itu Asih." jawab Aroon. "Dan juga kau lihat ini." Aroon memberi tanda. "Ini adalah dua penjaga itu, mereka sedang bersantai seperti membiarkan hal itu terjadi."
"Tuan benar."
"Oleh sebab itu aku langsung memecat mereka." ucap Aroon. "Syam, akhir - akhir ini perkebunanku sedang banyak kejadian. Dan aku lihat sekarang mengarah pada Cyra, apakah menurutmu aku harus memulangkan ia ke Surabaya?"
'Maksud tuan memecatnya?"
"Itu demi kebaikannya, berulang kali ia mendapat bahaya."
"Tapi Cyra butuh pekerjaan itu tuan."
"Syam, aku pun ingin dia tetap bekerja di sini. Gio banyak mengalami perubahan setelah memalui pengajarannya. Tapi aku merasa sangat bersalah atas apa yang menimpanya, aku merasa bersalah pada kedua orang tuanya."
"Yang seharusnya di salahkan adalah saya tuan. Sebagai paman saya tidak bisa menjaga keponakan saya."
"Aku meminta pendapatmu, apa yang harus aku lakukan."
Syamsudin terdiam, ia juga tampak berpikir. "Saya akan bicara dengan Cyra tentang hal ini. Saya tahu sifat keponakan saya. Ia keras kepala sama seperti tuan. Jika sudah punya keinginan ia harus mewujudkannya." ucap Syamsudin. "Jika memang dia ingin tetap bekerja disini dengan segala resikonya, maka kita tidak bisa berbuat apa -apa. Kita harus menghormati keputusannya."
"Baiklah. Kau boleh keluar."
"Saya permisi tuan."
Syamsudin keluar dari ruang kerja Aroon, tanpa perlu menunggu lama ia segera menuju ke rumah Cyra. Saat itu Cyra sedang memberi makan kelinci sebelum ia memberikannya pada Gio. Malam ini rencananya ia akan memberikannya. Mereka berempat memiliki rencana mau pesta barbeque bersama.
"Berapa harga kelincinya?"
"Eh Pak Uo mengagetkanku saja." ucap Cyra menoleh ke belakang. "Murah, ini sebagai hadiah untuk Gio karena perkembangannya sangat pesat." Cyra kembali memasukkan kelinci ke dalam keranjang. "Ada apa Pak Uo?"
Syamsudin duduk di teras. "Aku mau bicara padamu tentang kejadian hari ini."
"Oh, pasti tuan sudah memberitahu pada Pak Uo kan? Aku tidak apa - apa."
"tapi aku khawatir demikian juga dengan tuan. Ia langsung memecat dua panjaga itu."
"Dipecat? Kenapa? Mungkin saja saat itu mereka sedang makan atau istirahat."
'Mereka sengaja Cyra. Tuan sudah melihat itu di CCTV bahkan ada Asih di sana." jawab Syamsudin. "Cyra."
"Ya Pak Uo."
"Aku perhatikan akhir - akhir ini kamu sering mendapat bahaya disini. Bagaimana kalau kamu pulang saja ke Surabaya?"
"Tuan kan yang bilang seperti itu?"
"Itu pemikiranku." syamsudin mengelak.
"Pak Uo tahu keadaan ekonomiku dan pasti tidak akan memiliki oemikiran seperti itu." ucap Cyra. "Itu pasti dari tuan."
"Heh.. Kamu memang cerdas, itu pemikiran tuan karena ia tidak mau kamu terlibat dalam bahaya."
"Ada beberapa alasan aku bertahan di sini. Yang pertama janjiku pada Gio dan tuan, yang kedua tanggung jawabku sebagai seorang pengajar dan yang terakhir ekonomi."
"Jadi kau tetap.bersikukuh bekerja disini apapun resikonya?"
"Ya, apapun resikonya. Tuhan sudah menentukan jalan hidup manusia. Aku yakin pasti ada hal baik di balik tragedi yang aku alami."
"Baiklah aku akan menemui tuan." Syamsudin segera pergi dari rumah Cyra.
🍀🍀🍀🍀
Malam itu Cyra sudah mempersiapkan segala sesuatunya, tempat untuk membakar daging, bumbu, minuman dan juga camilan.
__ADS_1
"Bu Cyraa." panggil Omar yang menenteng dua tas belanjaan.
"Wow banyak sekali belanjaannya."
"Biar kita puas barbequ nan seperti orang - orang luar itu lo bu Cyra."
"iya.. Iya.." Cyra tertawa karena Omar terlalu ekspresif. "Itu Olif bawa apa?"
"Minuman dong bu."
"Aku sudah buat es cocktail."
"Itu buat tuan muda saja, kita minum ini."
"Apa itu?"
"Ssssttt nanti ibu akan tahu."
Cyra tidak ambil pusing dengan itu semua. Ia mulai mempersiapkan semua bahan. Dengan di bantu Gio mengiris - iris dan menyusunnya menjadi seperti sate.
"Omar, oles dengan mentega dulu alatnya biar nggak lengket."
"Siap bu Cyra."
"Wah dagingnya bisa jadi banyak." Olif sibuk menghitung.
"Iya karena kita campur dengan paprika juga." ucap Cyra.
Setelah semua siap mereka siap memanggang sambil diselingi sendau gurau khas Omar dan Olif. Mungkin rumah akan terasa sepi jika tidak ada mereka berdua.
"Bu Cyra kayaknya ini sudah matang."
"Sebentar biar ibu lihat dulu Gio." Cyra melihat daging sudah berwarna kecoklatan siap untuk diangkat. "Kamu pintar, daging ini sudah bisa di konsumsi. Cepat taruh piring."
Cyra masih sibuk membolak balikkan daging sampai ia mendengar teriakan Gio. "Phoo."
"Sedang apa kalian?"
"Kami sedang membuat barbeque tuan, pesta kecil - kecilan." jawab Omar. "Tuan muda ternyata pintar memanggang."
"Jaga Gio. Jangan sampai ia terkena panas atau asapnya membuat dia batuk."
"Tenang tuan kita semua sudah mahir, di jamin aman." Omar tersenyum bangga. "Silahkan duduk tuan, sebentar lagi kami selesai memanggang."
"Bu Cyra ayo kita makan dulu. Aku sudah lapar." ucap Olif. Mau tidak mau Cyra bergabung satu meja dengan Aroon.
Omar dan Olif menuangkan minuman ke dalam gelas sebelum membawanya ke meja.
"Omar kau yakin bu Cyra mau minum itu?" tanya Olif.
"Ssssttt... Jangan keras - keras. Sekali - sekali kita kerjain bu Cyra."
"Kalau tuan marah bagaimana?"
"Tuan tidak akan marah. Dia kan juga ikut."
"Oh iya.. ya."
"Sudah cepat bawa kesana, nanti yang ada mereka curiga."
Olif meletakkan minuman di atas meja. Dia tersenyum ke arah bu Cyra. "Ini untuk tuan, Ini tuan Muda dan ini bu Cyra." Olif meletakkan minuman di depan masing - masing yang ia sebut tadi. Omar segera bergabung bersama mereka.
"Silahkan tuan Aroon berpidato." tiba - tiba Omar menyelutuk.
"Pidato? Buat apa?"
"Biasanya kalau pesta seperti ini kan ada sambutan dari tuan rumah, silahkan."
Aroon melirik ke arah Cyra sekilas, tampak ia diam saja dan sibuk menata makanan untuk Gio. "Ehem baiklah aku akan bicara sedikit." Aroon menarik napas. "Aku berharap setelah ini kondisi perkebunan kita aman dan tidak terjadi hal - hal yang tidak kita inginkan. Semua orang yang ada disini diberikan keselamatan."
"Aamiin.." jawab mereka serempak.
Cyra mengambil minuman yang tadi sudah di berikan oleh Olif, ia ingin membasahi kerongkongannya yang entah kenapa tiba - tiba kering. "Minuman apa ini?" ucapnya ketika meneguknya. Rasanya asam, manis dan pahit. Terasa panas ketika melewati tenggorokan.
Aroon terkejut dengan teriakan Cyra. Ia kemudian mencium aroma minuman yang ada di gelasnya. "Omar, ini wine?"
"Hehehehh.. Iya tuan."
"Cyra tidak terbiasa minum ini."
"Maaf tuan kami pikir biar bu Cyra mendapat pengalaman baru."
__ADS_1
'Kalau mabuk bagaimana?"
"Kan cuma sedikit tuan."
Aroon menghela napas. "Kamu tidak apa - apa?"
"Tidak tuan, rasanya lumayan." Cyra mengambil dan memakan daging.
"Kalau makan daging begini memang enak kalau sama wine bu." ucap Omar.
"Oya." Cyra kemudian meneguk wine itu lagi. "Hmmm.. agak lumayan daripada yang tadi."
"Cyra sudah kau bisa mabuk."
"Tenang tuan, saya akan baik - baik saja." Cyra kembali menikmati daging sambil bersendau gurau dengan Gio, Omar dan Olif. Aroon merasa senang bisa melihat senyum Cyra kembali.
"Bu Cyra tolong ambilkan itu." pinta Gio.
"Hmmm tunggu.. tunggu. Kau minta apa Gio sayang." ucap Cyra tersenyum.
"Itu." tunjuk Gio. "Daging itu."
"Oh.. Daging ya. Sebentar." Cyra berusaha mengambil daging yang ada di piring tapi tidak berhasil. "Aneh, kenapa piringnya bisa ada dua."
"Piringnya cuma satu bu." Omar mengambil daging yang dimaksud Cyra dan menyerahkannya. "Nih."
"Hehehehh.. Omar jangan bercanda."
"Kenapa bu?"
"Gio minta satu kenapa kau beri aku dua."
"Dua bagaimana. Ini satu bu." jawab Omar.
"Ih bu Cyra mabuk ya?" tanya Olif.
"Siapa yang mabuk? Nih aku bisa berdiri." Cyra berusaha berdiri tapi terduduk lagi karena sempoyongan. "Tuh kan aku bisa."
"Bisa gimana. Wah bu Cyra benar - benar mabuk tuan. Bicaranya sudah ngaco." ucap Omar
"Apa itu mabuk?" tanya Gio.
"Mabuk itu____."
"Omar bawa Gio kembali ke kamar." perkataan Omar di potong oleh Aroon. Menurutnya anaknya masih terlalu kecil untuk tahu urusan orang dewasa.
"Tapi Phoo dagingnya belum habis."
"Tidak baik makan terlalu banyak Gio. Ini sudah malam kembalilah ke kamarmu."
"Baiklah." Gio agak kecewa. Omar dan Olif membereskan semuanya peralatan kotor.
"Sudah tinggal saja di situ. Nanti aku bersihkan."
"Baik tuan kalau begitu kami pergi dulu." pamit Omar dan Olif.
Tiba - tiba Cyra berteriak. "Eh tunggu dulu. Kalian mau kemana?" Cyra mencoba berdiri tapi masih sempoyongan. "Wow aku seperti naik perahu."
"Kamu mau beristirahat bu."
"Hmmm.. Tidak boleh pergi sebelum membawa itu."
"Apa bu?" tanya Gio.
"Itu." tunjuk Cyra lagi. "Itu di pojok situ ada kelinci buat mu."
Wajah Gio menjadi ceria ia bergegas menuju tempat yang ditinjukkan oleh Cyra. Tapi ia sepertinya harus kecewa. "Mana bu? Tidak ada."
"Hah benarkah? Jangan - jangan di curi." gumamnya ngelantur. "Hmmm.. Tuan kan yang mencurinya. Hayo ngaku." ucapnya sambil menunjuk Aroon tapi tangannya ke arah Omar.
"Gara - gara kamu, tuh bu Cyra jadi ngaco begini." bisik Olif. "Siap - siap kita terima hukuman dari tuan. Lihat saja raut wajahnya penuh emosi."
"Sudah diam. Aku juga jadi takut." gumam Omar.
Aroon menghela napas. Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan sebuah keranjang. "Gio itu kelincinya di sana." tunjuk Aroon. "Ambillah, lalu segera istirahat."
"Baik Phoo." Omar membantu Gio mengambil kelinci itu dan segera pergi dari rumah Cyra.
Cyra masih tersenyum - senyum sambil berusaha berdiri tegak dengan benar. Ia bernyanyi lagu kelinciku dengan sangat senang. Aroon yang memperhatikan tersenyum melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.
Aroon mendekati Cyra dan memegang tangannya. Dia tidak menolakku.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀