
"Tuan bian saya ada informasi terbaru."
"Apa itu?"
"Tuan Aroon pergi ke kampung halaman gadis itu."
"Gadis siapa?"
"Gadis yang tuan perintahkan untuk menabraknya dan juga guru anak tuan Aroon."
Biantara tampak termenung. "Oh keponakan Syamsudin. Yah aku ingat."
"Bukankah ini mencurigakan."
"Maksudmu?"
"Tuan Aroon memboyong putranya ke kota kelahiran gadis itu. Mungkinkah mereka punya hubungan istimewa."
"Benar juga katamu, aku jadi penasaran seperti apa rupa gadis itu."
"Apa tuan ingin bertemu dengannya?"
"Tentu saja, aku harus menghancurkan semua yang menjadi kesayangan Aroon."
"Berdasarkan informasi hari ini mereka pulang tuan."
"Bagus kau atur sehingga gadis itu tidak tahu kalau pertemuan ini memang disengaja."
"Baik tuan."
"Panggilkan Rico, aku ingin mengorek lebih dalam mengenai gadis itu."
"Bukankah tuan sedang menghukumnya karena gagal menjalankan perintah."
"Ah aku lupa, lepaskan dan bawa kemari."
"Baik tuan."
Pria itu segera pergi dari hadapan Biantara. Sementara itu Biantara memberi makan ternak buaya. Ia sangat menyukai binatang buas. Di dalam perkebunannya terdapat beberapa binatang buas antara lain Anjing jenis American Pit Bull Terrier, Harimau, Kolam Piranha. Biantara senang dengan tantangan, sifatnya yang kejam mendukungnya melakukan beberapa bisnis kotor.
"Maaf tuan, ini Rico." ucap pria tadi yang sudah datang membawa Rico. Rico dalam keadaan sangat mengenaskan. Terdapat banyak luka sayatan ditubuhnya.
"Rico." panggil Biantara.
"Ya tuan." jawabnya lemah.
"Bukankah kekasihmu pernah bekerja diperkebunan Aroon tentu saja dia mengenal baik gadis yang sekarang menjadi guru anak Aroon."
"Benar tuan."
"Siapa nama gadis itu?"
"Cyra Hanifa, dia berasal dari Surabaya. Dia keponakan Syamsudin. Bukan orang dari kalangan atas. Hidupnya di Surabaya sangat sederhana karena kedua orang tuanya hanya seorang petani kecil."
"Punya kekasih?"
"Dulu waktu sekolah. Menurut keterangan Asih itu hanya cinta monyet, dan sampai saat ini ia belum memiliki kekasih lagi."
"Bagaimana dia bisa mendekati anak Aroon yang keras kepala itu?"
"Cyra gadis yang keras kepala. Dia termasuk tahan dengan jebakan - jebakan yang diberikan oleh Gio. Dia juga memberikan perhatian dan kasih sayang. Dari situ Gio akhirnya luluh dan mau diajar oleh Cyra."
"Hmmm, gadis yang hebat."
"Beri aku fotonya."
"Ada di handphone saya tuan. Tapi___."
"Tapi kenapa?"
"Handphone saya sudah tuan hancurkan, karena saya gagal menjalankan tugas. Dan juga sekarang saya masih dihukum oleh tuan."
"Itu peringatan untuk tidak gagal dalam menjalankan semua tugas dariku. Beruntung aku tidak membunuhmu." ucap Biantara. "Aku beri kau satu kesempatan lagi, selidiki semua kegiatan gadis itu. Dan berikan semua informasi itu padaku."
"Baik tuan."
Beberapa orang pria membawa Rico pergi dari hadapan Biantara.
__ADS_1
"Leo."
"Ya tuan."
"Awasi kerja Rico! Bunuh kalau dia tidak mampu!"
"Baik tuan."
🍀🍀🍀🍀
Pagi ini Cyra menata tasnya yang sudah penuh hingga tidak bisa ditutup. Ibu membuat jenang banyak sekali, mau ditinggal nanti dikira tidak menghargai tapi kalau dibawa Cyra hanya membawa tas kecil. Koper ia tinggal di perkebunan. Karena ia pikir pergi sendiri dan hanya tiga hari.
"Gimana sudah bisa ditutup?"
"Ini juga baru diusahakan bu." Cyra mengeluarkan lagi isi barang dalam tasnya. Ia terdiam sesaat sambil memikirkan cara terbaik agar semuanya bisa masuk.
"Bajumu tinggal saja."
"Aduh jangan dong bu. Bajuku cuma sedikit, aku belum sempat beli baju lagi." jawab Cyra. "Kalau jenangnya aku bawa sedikit gimana?"
"Huh, kau tidak menghargai pemberian orang tua. Ibu membuat jenang itu hampir seharian."
"Tapi tasku nggak cukup. Ibu ada tas yang lain?"
"Nggak ada Ra. Ayah sama ibu kan jarang bepergian."
"Pakai koperku saja." Aroon dari arah belakang datang dan menawarkan solusi.
"Jenangnya masuk ke koper tuan? Nanti baju tuan kotor." jawab Cyra.
"Kita bertukar tas. Aku pakai tas mu dan kau pakai koperku."
"Tapi tuan____."
"Nggak apa - apa. Ambil koperku kemari."
"Tapi____."
"Eh sudah sana ambil koper tuan Aroon, kamu ini jangan membantah perintah atasan." ucap ibu. Dengan segera Cyra mengambil koper di kamar.
"Maaf tuan, saya permisi dulu. Mau panggil ibu - ibu, biar siap - siap foto bersama tuan." pamit ibu.
Sementara di dalam kamar Cyra melihat laci di mejanya sedikit terbuka. Laci itu tempat ia menaruh buku - bukunya waktu SMA.
Apa tuan menyelidiki masa lalu ku pikir Cyra. Ah masa bodoh toh tidak ada yang menarik dari masa lalu ku. Yang ada justru kenangan buruk.
Cyra keluar sambil membawa koper milik Aroon. "Ini tuan."
Aroon mengeluarkan baju dan barang - barang miliknya yang memang tidak banyak. Ia memasukkan ke tas milik Cyra. "Kau masukkan baju dan oleh - oleh di koper."
"Baik tuan."
Cyra mulai menata pakaiannya mulai kaos, baju hingga barang - barang pribadinya.
"Ternyata kamu liar juga ya."
"Liar apa tuan?"
"Tuh barang pribadimu yang hitam dan berenda ketinggalan." jawab Aroon. "Sambil tersenyum nakal ia menyerahkannya pada Cyra. "36 C, lumayan."
Cyra terkejut dengan apa yang dipegang oleh Aroon. Dengan cepat ia mengambil dari tangan tuannya. Cyra tertunduk dan tidak berani menatap Aroon karena malu.
"Gimana Cyra sudah bisa masuk semua?" tanya ibu tiba - tiba.
Cyra bisa bernapas lega karena kedatangan ibu, ia bisa lepas dari rasa malunya. "Sudah bu." jawab Cyra singkat. Ia menutup koper dan membawanya keluar bersama tas Aroon. Ia sungguh terkejut karena banyak ibu - ibu yang berada di luar rumahnya, sekitar lima belas orang. "Bu, itu ibu - ibu di luar rumah mau apa?" tanya Cyra.
"Mau foto sama tuan Aroon, kan kemarin tuan sudah mengijinkan. Nanti kamu yang yang fotoin ya."
Heh tambah rasa maluku pada tuan pikir Cyra pasrah.
Gio, Omar dan Olif keluar dan tertawa melihat tingkah ibu - ibu yang berusaha menarik perhatian pada Aroon.
"Ayo senyum Phoo!" teriak Gio memberi semangat ayahnya.
Cyra sendiri juga geli tingkah ibu - ibu yang orang jawa bilang ganjen. Tapi sepertinya Aroon mulai menikmati foto bersama ibu - ibu, ia bahkan bergaya memperlihatkan otot - ototnya. "Sudah ya ibu - ibu semua, kalau kelamaan kita nanti bisa ketinggalan pesawat." ucap Cyra.
"Yah harus pisah sama tuan Aroon." ucap ibu - ibu dengan nada kesal. "kapan - kapan ke Surabaya lagi tuan?"
__ADS_1
Aroon hanya menjawab dengan anggukan.
Mereka segera naik ke dalam mobil menuju ke bandara. Kali ini Gio mau duduk bersama Omar dan terpaksa Cyra duduk bersebelahan dengan Aroon.
"Cyra."
"Ya tuan."
"Siapa pria yang ada di foto yang kau simpan dalam lacimu?"
"Tuan membuka - buka laci saya?"
"Keberatan?"
"Tidak. Tidak ada hal yang penting di laci itu. Jadi silahkan saja kalau tuan mau melihatnya."
"Siapa pria itu? Kekasihmu?" Aroon kembali mengulang pertanyaannya.
"Di dalam foto itu ada tiga orang dan semua teman saya. Pria itu Vano dan sebelahnya lagi Sekar. Kami bertiga adalah sahabat ketika SMA. Sikap Vano terhadap saya berbeda dengan Sekar. Kami berdua lebih dekat hingga kami memutuskan untuk terikat dalam suatu hubungan. Awalnya saya pikir dalam hubungan percintaan anak sekolahan itu ya jalan bareng, makan bareng, belajar bersama, saling memberi semangat tapi ternyata tidak seperti itu. Vano menginginkan lebih dan itu ia dapat dari Sekar. Singkat cerita mereka selingkuh dan kami berdua putus." cerita Cyra.
"Sedih?"
"Saat itu lebih ke kecewa atas pengkhianatan itu, dan kenapa saya harus mengenal cinta dari pria seperti Vano." jawab Cyra. "Tapi itulah perjalanan hidup, saya belajar banyak dari kejadian ini terutama tentang kepercayaan. Saya bisa merasakan bagaimana sakitnya dikhianati jadi tuan tidak perlu khawatir, saya tidak akan berkhianat tuan bisa mempercayai saya."
Aroon terdiam dan memandang Cyra. Memang pemikiran Cyra sangat dewasa dan ia orang yang tulus, maka tidak heran kalau ia bisa menarik perhatian Gio. "Aku mempercayaimu."
"Terima kasih tuan."
Rombongan mereka sudah sampai di bandara. Setelah melalui beberapa pemeriksaan mereka siap terbang kembali ke Bogor. Tidak perlu waktu lama hanya satu jam tiga puluh menit meraka akhirnya sampai kembali ke perkebunan.
"Yeayy! Akhirnya kita sampai." teriak Omar. ia meregangkan otot - ototnya begitu sampai ke perkebunan.
Cyra tersenyum melihat tingkahnya yang selalu ceria. Cyra segera menurunkan koper dan tasnya yang berisikan pakaian tuannya.
"Saya bantu bu Cyra. Seorang wanita cantik jangan melakukan hal yang berat." goda Omar.
"Hei! Tugasmu membantu Gio. Antar dia ke kamar." perintah Aroon.
"Oh siap tuan." jawab Omar sambil memberikan hormat.
Cyra memberikan tas pada Aroon. "Ini tuan." ucap Cyra. "Kopernya akan segera saya kembalikan. Terima kasih."
Aroon menerima tas pemberian Cyra. "Kembalikan dalam keadaan bersih, jangan sampai 36 C berendamu tertinggal di koperku." bisik Aroon di telingan Cyra.
Seketika membuat wajah Cyra merah padam. "Tuaaann!" teriaknya kesal dan malu.
"Hahahahh.." Aroon pergi meminggalkan Cyra dan tertawa di sepanjang lorong.
🍀🍀🍀🍀
"Selamat sore tuan."
"Ada apa meneleponku Rico?"
"Saya mendapat informasi bahwa sore ini mereka sudah kembali dari Surabaya."
"Hanya itu saja. Dasar bodoh! Kau tidak becus menjalankan tugas dariku!"
"Sebentar tuan, ada satu lagi."
"Apa?"
"Cyra setiap minggu akan mendapatkan libur dari tuan Aroon. Biasanya waktu itu akan ia pergunakan untuk berbelanja atau sekedar jalan - jalan."
"Bagus, selidiki kemana saja ia biasa pergi."
"Baik tuan."
Panggilan diakhiri.
"Leo."
"Ya tuan."
Hari Minggu kurang tiga hari lagi. Kau atur pertemuanku dengan gadis itu."
"Baik tuan." jawab Leo. "Ini foto gadis yang bernama Cyra. Tadi Rico mengirimkan melalui handphone saya." Leo menyerahkan handphonenya pada Biantara.
__ADS_1
"Hmmm.. Gadis sederhana tapi ia memiliki mata dan senyuman yang indah." puji Biantara. "Menarik.. Sangat menarik.. Karena gadis ini berbeda dari Davira."
🍀🍀🍀🍀