My Love Teacher

My Love Teacher
Penyembuhan Trauma


__ADS_3

Cyra dengan menahan kesakitan di sekujur tubuhnya berusaha turun dari tempat tidurnya. Aroon yang melihat merasa tidak tega dengan kondisi Cyra. Ingin rasanya ia menggendong tubuh rapuh Cyra tapi apa daya Cyra sama sekali tidak mau di sentuh olehnya.


"Cyra, ijinkan aku membantumu. Percayalah aku tidak akan berbuat apa - apa denganmu. Hanya membantumu."


'Jangan tuan! Aku tidak mau di sentuh oleh siapapun! Mengerti!"


Cyra terus berusaha dengan sisa - sisa kekuatannya ia terus berusaha untuk turun. Aroon segera mencariย  pakaiannya dan mengenakannya. Ia lantas membuka pintu kamar dan ternyata tidak terkunci sama sekali. Ini membuatnya heran dan menimbulkan persepsi bahwa kejadian ini memang betul - betul di terencana dengan baik. Hanya saja yang masih mengganggu benaknya adalah, siapa dalang di balik ini semua. Ia tidak akan mengampuninya karena akibat dari ini semua masa depan seorang gadis baik - baik akan hancur.


Cyra sudah berhasil turun. Ia berjalan tertatih sambil berpegangan pada tembok. Beberapa langkah ia berhenti untuk membetulkan kain yang menutupi tubuhnya. Melihat itu Aroon berlari keluar dan mencari mobilnya. Beruntung mobil itu masih ada. Aroon mencari jaket dan baju gantinya yang ada di sana. Biasanya ia gunakan jika sewaktu - waktu bajunya kotor.


"Cyra pakai ini."


"Berhenti di situ tuan!"


"Tidak.. aku tidak mendekati atau menyentuhmu. Aku hanya mau menyerahkan jaket dan baju ini untuk menutupi tubuhmu."


"Letakkan di sana." perintah Cyra dengan ketus.


Aroon tanpa membantah segera meletakkan baju itu dan segera menghindari Cyra. Ia memutuskan untuk menunggu di luar. Pikirannya benar - benar frustasi. Ia bahkan tidak mengingat apa pun. Jika melihat dari luka yang ada di tubuh Cyra ia pasti sangat brutal.


Tak lama kemudian Cyra keluar.


"Cyra, ayo kita pulang." ajak Aroon. "Jika kau tidak mau berdekatan denganku, duduklah di belakang."


Tanpa menjawab apapun Cyra segera membuka pintu mobil dan duduk di belakang. Aroon kemudian segera menyalakan mesin dan pergi dari tempat laknat itu. Sepanjang perjalanan Cyra hanya diam membisu. Ia melihat pemandangan luar dan sesekali mengusap air mata yang jatuh di pipinya tanpa di minta. Sepertinya perbuatanku membuatnya benar - benar trauma pikir Aroon dalam hati.


Aroon mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang. "Syam, aku sudah berhasil membawa Cyra pulang. Tapi kondisinya sangat lemah. Aku minta kau siaga di depan dan bawa dia segera ke kamarnya."


"Baik tuan."


Cyra hanya diam mendengarkan percakapan tuannya dengan Pak Uo. Ia tahu niat baik dari Aroon. Akan tetapi rasa trauma berdekatan dengannya masih ada.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam mereka akhirnya sampai di perkebunan. Aroon tahu kedatangan mereka akan menimbulkan kehebohan apalagi keadaan Cyra yang seperti itu pasti orang - orang akan bertanya. Ia tidak mau itu membuatnya semakin stres.


Aroon menghentikan mobilnya di depan. Disana Syamsudin dan Sulaiman sudah menunggu kedatangan mereka. Dengan cepat Syamsudin membuka pintu. Ia sangat terkejut dengan kondisi Cyra yang lemah. Tangan dan kakinya yang berdarah. Bahkan bibirnya juga terluka. Ingin rasanya hati Syamsudin menangis melihat kondisi keponakannya. Tapi ia urungkan karena ia tidak mau menambah Cyra sedih. Yang dibutuhkan adalah dukungannya saat ini.


"Ayo, aku akan membawamu ke kamar."


Wajahnya diam tanpa ekspresi hanya melihat Pak Uo nya itu. Cyra berusaha turun pelan - pelan tapi karena tubuhnya lemah yang sama sekali tidak di beri makan dan minum selama dua hari memaksa Syamsudin harus menggendongnya. Air matanya menitik ke pipinya.


"Jangan menangis nak, kamu aman. Sudah ada aku."


Aroon melihat itu dengan mata berkaca - kaca, ia benar - benar bersalah pada Cyra.


Syamsudin bergerak dengan cepat agar seisi rumah tidak ada yang tahu kondisi Cyra. akan tetapi ketika mereka melewati lorong Gio melihat Cyra yang sedang di gendong oleh Syamsudin.


"Bu Cyra! Bu Cyra!" teriaknya berusaha mengejar.


Panggilan itu justru mempercepat langkah Syamsudin. Begitu sampai di rumah Cyra ia segera menutup pintu. Tangis Cyra bertambah keras, ia sesenggukan mendengar suara Gio yang memanggilnya.


"Bu Cyra! Bu Cyra!" Gio menggedor - gedor pintu. Omar dan Olif berhasil menyusulnya.


"Ada apa tuan muda?"

__ADS_1


"Tadi aku melihat bu Cyra."


"Dimana?" tanya Omar


"Tadi di gendong pak Syam."


"Ia ku tadi juga sekelebat melihat bu Cyra." gumam Olif. "Berarti mataku dan tuan muda masih normal."


"Oh, jadi kau mengatakan mataku tidak normal."


"Syukurlah kalau kau sadar diri. Juling." cibir Olif.


"Kalian ini kenapa bertengkar terus, ayo kita harus temukan bu Cyra."


"sebentar, saya carikan kunci cadangannya tuan muda." ucap Omar. Ia berbalik arah dan bergegas menuju buik Tika yang dipercaya memegang kunci duplikat semua ruangan.


"Tidak perlu, biarkan bu Cyra istirahat." cegah Aroon dari arah belakang.


"Phoo!!" teriak Gio yang berlari menghambur ke pelukan Aroon. "kau sudah pulang? berarti bu Cyra selamat?"


Aroon mengangguk. "Iya, bu Cyra butuh istirahat karena tubuhnya lemah." jawab Aroon. "Ayo kita pergi dari sini."


"Baik Phoo. Ayo Omar, Olif kita pergi dari sini."


Syamsudin bisa bernapas dengan lega karena Gio berhasil pergi. "Cyra, bersihkan dirimu." perintah Syamsudin. 'Aku akan memanggil dokter."


"Tidak perlu." ucapnya lirih.


"Lukamu perlu diobati, biar tidak infeksi."


"Baiklah kalau itu mau mu. Aku akan menyiapkan obat dan makan untukmu."


Cyra hanya diam tanpa menjawab, bukan karena tidak menghormati Pak Uo nya tapi lebih pada rasa traumanya yang membuatnya seperti itu. Kejadian yang mengenaskan itu seperti berputar - putar terus di kepalanya. Setelah Syamsudin keluar Cyra dengan tertatih menuju ke kamar mandi. Ia menyalakan shower dan berdiri dalam diam di bawah guyuran air.


Air matanya mengalir bersama dengan turunnya air dari shower. Cyra menggosok - gosok tubuhnya terus menerus "Aku kotor! Aku kotor!" gumamnya. Ia menggosok begitu kuat hingga kulitnya memerah. "Aaaaacchhhh!!!" jeritnya. "Ya tuhan kenapa ini terjadi padaku? Kenapa?" ia terus menangis di dalam kamar mandi. Ia sama sekali tidak mengiraukan rasa perih akibat luka yang di dapatnya. Cukup lama Cyra mengguyur tubuhnya hingga suara ketukan membuatnya tersadar.


"Bu Cyra kau di dalam." suara Gio membuatnya sedikit tersadar. 'Bu cyra, aku datang menjengukmu. Kau baik - baik saja?" suara polos Gio membuat Cyra seakan bangkit.


"Aku tidak apa - apa Gio." jawab Cyra dengan suara seraknya.


"Kau mandi begitu lama. Aku sudah menunggumu."


"Tubuhku kotor. Kalau sudah bersih aku akan keluar."


"Baiklah aku tunggu di luar." suara Gio terdengan menjauh, itu artinya ia berada dilluar kamarnya.


Cyra meraih handuk, ia mulai mengeringkan tubuhnya. Ia kemudian melihat tubuhnya di kaca wastafel di dalam kamar. Tampak bercak - bercak merah di mana - mana. Matanya berkaca - kaca lagi. Ia kemudian menarik napas panjang dan mengeluarkannya pelan - pelan. Itu ia lakukan berulang kali hingga hati dan pikirannya lebih tenang. Ya tuhan kuatkan aku.. Kuatkan aku.. Kuatkan aku doa Cyra dalam hati.


Setelah lengkap mengenakan pakaian ia segera keluar dari kamar mandi. Ia berjalan pelan - pelan karena di bawahnya masih terasa sangat sakit dan aneh.


Cyra sangat terkejut ketika ia menuju ke ruang tengah di sana sudah menunggu Gio, Omar, Olif, Bik Tika dan juga Jono.


"Kalian menungguku?" ucap Cyra lirih, ia berusaha tersenyum walaupun hatinya remuk redam.

__ADS_1


"Syukurlah kau selamat Cyra, aku mengkhawatirkanmu." bik Tika memeluk Cyra dengan erat.


"Terima kasih semuanya sudah mengkhawatirkanku."


Bik Tika menuntunnya untuk duduk di sofa. Gio sudah membawa kotak obat dan siap mengobati luka Cyra.


"Bu Cyra aku akan mengobati lukamu."


"Terima kasih Gio." Cyra membelai lembut rambut Gio. "Biar aku saja."


Omar dan Olif yang menangis sesenggukan tidak bisa berkata apa - apa melihat kondisi Cyra. "Bu Cyra apa yang mereka perbuat padamu hingga tangan dan kakimu terluka seperti itu. Mereka pasti mengikatmu dengan kuat." ucap Omar. "Kalau sampai ketemu mereka akan aku bunuh dengan tanganku sendiri."


"Sudah aku tidak apa - apa, terima kasih atas perhatiannya.'


"Cyra kamu makanlah dulu, kata tuan Aroon kamu sudah tidak makan dan minum hampir dua hari." bik Tika mendekatkan nampan yang berisi nasi dan lauk, buah dan susu. "Makanlah dulu agar tenagamu cepat pulih."


"Terima kasih bik." Cyra di bantu dengan Olif mulai menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya. Cyra hanya sanggup memakan setengahnya. "Cukup Olif."


"Bu Cyra makannya baru setengah, ini nasi dan lauknya masih ada." paksa olif.


"Sudah cukup Olif, aku masih merasa mual."


"Baiklah." Olif meletakkan pring di atas nampan. Ia kemudian mengambil kotak obat dan mulai mengobati luka di tangan dan kaki Cyra. "Ya tuhan bu Cyra, apa mereka menamparmu begitu keras hingga bibirmu berdarah begini?"


"Iya." hanya itu yang keluar dari mulut Cyra. Ia kembali teringat dengan gigitan - gigitan Aroon.


"Eh bagaimana kalau kita biarkan Cyra istirahat dulu, ia pasti lelah." saran bik Tika. "Cyra istirahatlah di kamar, biar ini aku yang bereskan. Tuan memerintahku untuk mengurus makanmu selama penyembuhan."


"Aku akan tidur di sini." ucap Gio. "Aku akan menjaga bu Cyra biar tidak di culik lagi."


Cyra hanya tersenyum mendengar perkataan Gio yang begitu polos. Ia memeluk Gio dengan lembut.


"Tuan muda lebih baik biarkan bu Cyra istirahat beberapa hari lagi tanpa kita ganggu." ucap Omar.


"Ya betul tuan muda." sahut Olif membenarkan perkataan Omar.


"Baiklah." jawab Gio dengan raut wajah kecewa. Mereka semua akhirnya keluar dari rumah Cyra meninggalkannya sendiri.


Setelah mereka keluar Cyra kembali ke kamarnya untuk istirahat. Ia berusaha memejamkan matanya tapi tidak bisa. Aku kangen dengan ayah ibu. Aku akan mencoba meminta Pak Uo untuk mengantarkanku pulang, pikir Cyra.


Karena jiwa dan raganya sangat lelah membuat Cyra tertidur.


"Tidaakkk tuan!!! Jangaaannn!!!" ia mengigau dalam tidurnya. Ia melihat Aroon yang memaksanya. "Jangannnnn!!!" teriaknya sekeras - kerasnya. Keringat membasahi tubuhnya.


"Cyra! Cyra!" seseorang menepuk - nepuk pundaknya membuatnya tersadar. ia terbangun dengan napas yang memburu.


"Pak Uo." ucapnya lirih.


"Kamu kenapa? Sebenarnya apa yang mereka lakukan hingga membuatmu trauma begini?"


Cyra hanya diam, ia kemudian menagis. Syamsudin memeluknya berusaha memberikan ketenangan. "Aku mau pulang Pak Uo. Aku butuh ayah dan ibu."


"Iya.. Iya.. Besok kita pulang."

__ADS_1


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


__ADS_2