
"Nona perut saya sakit sekali."
"Itu akibat yang harus kamu terima karena memberikan usul yang murahan."
"Itu kan karena kita baru saja mulai." jawab Billy. "Aauuww.." teriak Billy yang langsung berlari menuju kamar mandi.
"Dasar jorok." umpat Denisha sambil menutup hidungnya.
Cyra dan bik Tika tersenyum geli melihat itu. "Itu akibat mencari gara - gara dengan kita, ya kan bik."
"Betul nyonya. Dulu nyonya Davira hanya diam saja di perlakukan seperti itu oleh nona Denisha."
"Itu dulu bik. Tidak berlaku untuk sekarang." jawab Cyra. "Aku tidak mau diperlakukan semena - mena seperti itu."
"Harus kita lawan."
"Sepertinya malam ini kita bisa tidur nyenyak bik. Terima kasih sudah berada di pihakku."
Cyra segera kembali ke kamarnya. Aroon sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar. Mungkin saja lelah karena kegiatannya hari ini.
Cyra melihat suaminya itu meringkuk di atas sofa. Ia berjalan mendekat melihat wajah tampannya itu tampak lelah. Cyra mengulurkan tangannya dengan perlahan ia membelai kedua alis Aroon yang hitam tebal. Telunjuk Cyra menyusuri wajah Aroon hingga turun ke hidungnya yang mancung.
Cyra menatap tajam. Wajah tuannya itu sangat tampan bahkan terkadang membuat jantungnya berdebar kencang tapi kenapa ia masih ragu dengan cinta tuannya itu. Dan juga saat ini yang ada di dalam pikirannya adalah berbaikan dengan Gio lagi dan juga mengungkap kejahatan Denisha.
Cyra melamun hingga tanpa sadar telunjuknya sudah berada di atas bibir Aroon.
"Mau sampai kapan kau begini?"
"Ttuan." pekik Cyra. Ia segera menyingkirkan tangannya akan tetapi kalah cepat dengan tangan Aroon. Tangan kekar itu menangkap tangan Cyra. "Maafkan saya."
"Tidak perlu minta maaf. Aku suka."
Cyra menundukkan wajahnya karena malu. Ia bagai seorang anak kecil yang ketahuan jajan permen.
"Kau meruntuhkan pertahananku Cyra."
"Pertahanan apa?" tanyanya lirih.
"Pertahanan untuk tidak menyentuhmu."
Cyra tampak terbelalak. Ia terkejut mendengar perkataan Aroon. "Bbukankah ttuan memberi saya waktu satu tahun?"
__ADS_1
"Kalau kau seperti tadi, aku bisa berbuat nekad." jawab Aroon. "Jadi kau jangan menyalahkan aku jika sifat binatangku keluar. Aroon bangun dan mendekatkan wajahnya ke wajah Cyra yang masih menunduk. "Atau kau tadi memberi tanda kalau kau sudah siap?" bisik Aroon di telinga Cyra.
Cyra berusaha menghalau bujuk rayu tuannya. Ia berusaha kembali sadar ke tujuan awalnya. Dengan cepat ia berdiri dan menarik tangannya dari cengkeraman Aroon. "Saya.. Saya mau tidur tuan. Mengantuk." dengan cepat ia berbalik dan setengah berlari naik ke tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Aroon tersenyum melihat tingkah istrinya. Tapi lumayanlah sudah ada kemajuan. Minimal Cyra sudah mau berinteraksi tubuh dengannya. Malam ini walaupun ia tahu akan sakit pinggang setelah terbangun nanti tetap ia lakukan demi menarik perhatian Cyra. Siapa tahu setelah ini ia akan mengajakku satu tempat tidur dengannya.
🍀🍀🍀🍀
Pagi ini Cyra bangun terlambat setelah semalam ia sulit memejamkan matanya gegara Aroon. Wah kalau begini terus ia bisa melupakan tujuan awal ia mau menikah dengan tuannya itu.
Tanpa ba bi bu ia segera masuk ke dalam kamar mandi. Hingga tanpa sadar bahwa ada Aroon di dalam kamar mandi.
Cyra masih belum menyadarinya. Ia mulai melepas bajunya satu persatu. Aroon tersenyum melihat itu.
Sambil berdendang Cyra meletakkan bajunya di tempat kotor. Ia berbalik untuk menyalakan shower. Hari ia mau mencuci rambut untuk menyegarkan pikirannya gegara Aroon semalam.
"Aaccchh!!!" ia menjerit histeris mengetahui Aroon sudah ada di dalam sana. "Apa yang tuan lakukan!!!" Cyra melempar segala sesuatu yang ada di dalam.yang bisa ia lempar.
"Tunggu Cyra! Tunggu dulu!" Aroon berusaha berbicara sambil menepis barang yang di lemparkan Cyra padanya.
"Keluar! Tuan keluar! Ayo keluar!" Cyra masih terus melempar sampai ia tidak sadar bahwa tubuhnya tidak mengenakan apa - apa.
"Cyra! Cyra! Dengarkan aku dulu!"
"Hei jangan memukulku! Lihat dirimu, kamu tidak mengenakan apa - apa!" Aroon memperingatkan.
Cyra langsung terdiam, matanya membelalak seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Seketika ia melihat dirinya sendiri dan "Aaacchhhh!!!" Cyra menyilangkan tangannya untuk menutupi dadanya. Tapi percuma tangan saja tidak cukup, ia langsung membalikkan badannya.
Aroon melihat istrinya yang tampak syok dengan kejadian itu. Ia tahu saat ini Cyra pasti merasa malu. Jika tidak mementingkan perasaannya sudah ia terkam dari tadi. Karena ini terlalu berharga untuk di abaikan. Aroon mengambil handuk yang di bawanya dan menutupkan di tubuh Cyra.
"Kau tadi nyelonong masuk waktu aku masih mandi di dalam. Aku masih bersabar Cyra, tapi tidak akan ada kesempatan seperti ini lagi. Jika kau seperti ini lagi di hadapanku, tidak mengenakan apa - apa sudah aku pastikan kita berdua akan bercinta. Mengerti?" bisik Aroon di telinga Cyra.
Cyra hanya mengangguk saja sambil menunduk memejamkan matanya, ia sangat malu dengan sikap bar - bar nya. Ia sendiri yang meminta waktu satu tahun untuk memastika perasaannya tapi kenapa ini baru beberapa hari ia sudah menggoda suaminya.
"Mandilah, aku akan keluar." Aroon meninggalkan Cyra sendiri di dalam kamar mandi. Ia menutup pintu agak keras. Tentu saja ia merasa kesal, sudah di goda tapi tidak mendapat apa - apa. Ia juga harus menidurkan sesuatu yang ada di bawah sana. Hal yang sulit tentunya karena sudah lama ia tidak merasakan kenikmatan itu. Aroon mengambil cangkul dan berjalan cepat menuju ke perkebunan. Dengan sekuat tenaga ia mencangkul tanah yang seharusnya tidak perlu di cangkul.
Sementara itu Cyra bernapas dengan lega. Jantungnya masih berdebar - debar. Takut jika Aroon akan melakukan sesuatu padanya. Bagaimana pertahanannya tidak goyah. Ia memperlihatkan tubuhnya tanpa sehelai benang pun. "Bagaimana nanti aku akan bertemu dengan tuan." gumamnya. "Aduh aku malu sekali."
Cyra memutuskan mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Dan mempercepat mandinya. Aku harus segera mengalihkan pikiran jorokku dari pria besar itu pikir Cyra.
Setelah selesai Cyra menuju ke meja makan. Ia tidak menemukan suaminya di sana jadi ia bergegas ke dapur untuk menanyakan ke bik Cyra. "Bik. Tuan sudah makan?"
__ADS_1
"Kayaknya belum nyonya, kata Sulaiman hari ini mau ada kunjungan studi apa gitu."
"Oh studi banding."
"Ya.. Ya.. betul."
"Studi banding dari mana?"
"Kalau tidak salah dari Universitas Padjajaran."
"Kok studi bandingnya ke sini?"
"Dosen di jurusan pertanian itu dulunya teman kuliahnya nyonya Davira. Selama beberapa tahun ini memang sering studi banding disini."
"Siapa nama dosennya." Cyra sedikit menyelidiki karena ia yakin dosen itu pasti wanita. Entah kenapa ia merasa jengkel.
"Nama bu Syarla."
"Sudah menikah?"
"Wah kalau itu saya tidak tahu nyonya." jawab bik Tika. Tapi tak lama kemudian ia tertawa.
'Kenapa tertawa bik?"
"Bilang saja nyonya cemburu."
"Eehh aku nggak cemburu ya." Cyra menyangkal.
"Nyonya tenang saja, walau orangnya cantik tuan tidak menaruh hati."
"Tahu darimana bik."
"Lah kan sudah beberapa kali ke sini ketemu sama tuan, tapi tuan biasa saja malah nyonya yang baru saja datang langsung di nikahi."
Cyra tersenyum tapi cepat - cepat ia sembunyikan. "Aku akan membawakan makanan ke sana, takutnya kalau telat makan bisa sakit. Tolong siapkan ya bik."
"Siap." dengan cekatan bik Tika menaruh nasi beseeta lauknya dalam sebuah wadah. Setelah selesai ia memberikannya pada Cyra.
"Aku pergi dulu bik." Cyra dengan hati yang berdebar berjalan menuju ke perkebunan. Pertama ia masih malu dengan kejadian tadi pagi dan yang kedua ia bingung harus bersikap bagaimana jika bertemu dengan dosen itu.
Dari kejauhan Cyra melihat beberapa mahasiswa sedang mencatat dan bahkan meneliti sesuatu di sana. Ia mengedarkan pandangan mencari Aroon siapa tahu ia berada dalam kerumunan mahasiswa itu. Cukup lama ia mencari dan akhirnya ia menemukan pria besar itu sedang mengobrol dengan seorang wanita. Tampak wanita itu memberikan handuk untuk mengelap keringatnya. Entah kenapa pemandangan yang biasa itu membuat hatinya terbakar.
__ADS_1
"Bisa - bisanya setelah melihat tubuhku bukannya minta maaf tapi malah ketawa - ketawa dengan seorang wanita." gerutu Cyra. Tangannya mengenggam erat tas berisi makanan yang ia bawa. Ia berjalan cepat menuju ke suaminya dengan hati yang terbakar cemburu
🍀🍀🍀🍀