My Love Teacher

My Love Teacher
Masuk Target


__ADS_3

Pagi itu Cyra sudah sibuk di dapur, sesuai dengan janjinya ia akan membuat masakan telur untuk Gio.


"Masak buat tuan muda?"


"Iya bik Tika."


"Bukan masak buat tuan Aroon kan?"


"Hahahahhh.. Ya nggak lah bik, Mana mungkin tuan Aroon suka masakan ku."


"Tahu darimana tuan tidak suka masakanmu?"


"Beberapa waktu lalu waktu aku masak telur buat Gio, dia bilang tuan aroon hanya mengambil sedikit."


"Hah, syukurlah."


"Kenapa bersyukur bik?"


"Aku takut posisiku kau geser."


"Hahahahh.. Ya nggak mungkinlah. Basicku itu sebagai guru, seorang pengajar."


"Tapi kamu pintar memasak."


"Hanya sedikit bik Tika. Lagian kalau kreasi telus semua orang pasti bisa."


Obrolan mereka yang menyenangkan di potong oleh Jono. "Ibu harusnya khawatir. Sebenarnya tuan Aroon itu menyukaiΒ  masakan telur buatan Cyra."


"Eh anak kecil, tahu apa kamu." ucap bik Tika.


"Iya, jangan ngaco." sahut Cyra.


"Sebenarnya tuan itu mau ambil lauk lagi, tapi keburu dihabiskan oleh tuan muda. Dari ekpsresinya saja aku tahu kalau tuan terlihat kesal."


"Ah aku rasa kamu hanya asal tebak saja."


Setelah masakan itu matang Cyra segera menatanya dalam wadah dan bersiap membawanya ke meja makan. Akan tetapi datanglah Surti dengan wajah cemas.


"Ada apa Surti?" tanya bik Tika.


"Bik, kamu tahu tidak kalau orang yang memasukkan obat ke dalam masakan kita sudah tertangkap."


"Belum. Memang siapa?"


"Dia salah satu pekerja di kebun. Dia itu dulunya bekerja di kebun pak Sapto. Tapi karena perkebunan itu sudah ganti pemilik dia keluar dan bekerja diperkebunan milik tuan Aroon."


"Oh iya dari Syamsudin aku pernah dengar kalau tanah pak Sapto tidak jadi jatuh ditangan tuan karena sudah jatuh ke musuh tuan."


"Musuh tuan?" tanya Cyra yang ternyata ikut penasaran dengan cerita Surti. "Siapa?"


"Tuan Biantara."


Ah benar saja tuan Aroon itu tipe pemimpin yang keras dan disiplin mungkin dari sifat itu bisa jadi musuhnya banyak. Walaupun tidak ramah tapi ia termasuk pemimpin yang memperhatikan kesejahteraan pekerjanya pikir Cyra. Kasihan juga sih kalau punya musuh. "Oya bik kok bisa tuan punya musuh?"


"Heh panjang ceritanya." ucap bik tika. "Jadi tuan Biantara itu mantan kekasihnya nyonya Davira. Sebelum tuan ke Indonesia dan membangun usaha, nyonya Davira adalah kekasih tuan Bian. Tuan Bian itu sosok yang kasar dan suka main tangan, oleh sebab itu nyonya dengan cepat jatuh cinta dengan tuan yang sangat lembut."


Lembut? Heh pria sediingin es gitu dibilang lembut cibir Cyra dalam hati.


"Wah tuan jadi pihak ketiga dong bik?"


"Ya nggak juga sih, karena saat itu yang aku tahu nyonya sudah memutuskan hubungan dengan tuan Bian."


"Memang kalau urusan cinta, urusan hati itu sering di luar nalar. Tidak bisa dihitung kayak matematika." Jono mulai berfilsafah. "Seperti perasaanku untukmu Surti." ucapnya sambil nyengir.


"Hueekk, kamu itu anak kecil. Sekolah dulu yang pinter biar jadi orang sukses."Β Surti mencibir dan kemudian pergi meninggalkan dapur.


Cyra dan bik Tika tersenyum melihat rayuan maut Jono. Cyra kemudian lanjut untuk membawa masakannya ke meja makan. Tapi alangkah terkejutnya ketika ia melihat Gio dan Aroon sudah duduk disana.


"Loh tuan, Gio kok sudah ada disini?"


"Tidak boleh? Ini rumah kami."


"Maksud saya bukan begitu tuan, ini masih jam setengah tujuh. Tuan dan Gio biasanya makan pagi jam tujuh. Bik Tika belum selesai memasak."


"Yang kamu bawa itu masakan bukan."


"Oh ini masakan telur untuk Gio seperti janji saya."


"Apa aku tidak boleh memakannya?"


"Oh, tentu saja boleh tuan." jawab Cyra sambil meletakkan masakannya di meja.


"Ayo bu Cyra, aku sudah lapar." pinta Gio.

__ADS_1


"Iya sebentar, ibu ambilkan nasi dulu."


Dengan cekatan Cyra mengambilkan nasi untuk Aroon dan Gio.


"Ini kurang." Gio protes.


"Gio, tidak boleh makan pagi terlalu berlebihan. Secukupnya saja sesuai dengan kebutuhan gizi kita. Ingat segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Kau bisa sakit perut, Jantung bahkan Diabetes."


"Oh, baiklah bu Cyra." tampak kecewa terlihat di wajah Gio.


"Gio turuti apa kata bu Cyra." perintah Aroon.


"Kalau begitu Phoo juga harus mengurangi porsi nasinya bukan. Dan juga lauknya jangan banyak - banyak."


"Hahahahahh..." Cyra tertawa terbahak - bahak. "Benar juga kata Gio tuan, bisa - bisa nanti tuan akan bertambah gendut."


Sialan dia mentertawakan aku, Aroon gemas dengan sikap Cyra.


"Phoo butuh tenaga buat ke kebun nanti." jawab Aroon enteng. Tanpa menghiraukan Gio dan Cyra ia mulai makan dengan lahap.


"Enak?"


"Enak." jawab Aroon. Sadar akan jawabannya yang bisa membuat Cyra besar kepala ia segera meralatnya. "Biasa saja, ini karena aku lapar."


"Iya.. Iya.." jawab Cyra.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Lapor tuan."


"Ada apa?"


"Orang kita sudah di tangkap oleh tuan Aroon."


"Apa!" Biantara terkejut hingga berdiri. "Kenapa bisa terjadi? Kenapa tidak ada satu pun yang becus mengurus masalah kecil seperti ini!"


"Maaf tuan, Syamsudin dan Sulaiman melakukan penyelidikan."


"Ah, harusnya dua orang kepercayaan Aroon itu harus kita bunuh." Biantara mengepalkan tangannya tanda geram. "Belum lagi guru sialan itu, kenapa dia selalu dikelilingi oleh orang - orang yang setia."


"Jika tuan ingin, saya bisa membunuh mereka bertiga."


"Bodoh kamu! Syamsudin dan Sulaiman adalah orang yang sudah terlatih dengan hal - hal seperti ini. Dia selalu waspada yang ada kita justru akan masuk jebakan mereka."


"Apa itu?"


"Ternyata guru yang bernama Cyra itu adalah keponakan dari Syamsudin."


"Hmmm menarik." Biantara tersenyum smirk. "Cyra, nama yang bagus." Biantara meneguk minuman yang ada di tangannya. "Dengan sekali dayung dua tiga pulau terlampaui."


"Maksud tuan?"


"Buat gadis itu tidak pergi dari perkebunan. Hal itu akan membuat Syamsudin terpukul dan juga Aroon kehilangan orang kepercayaannya. Kamu tahu maksudku kan?"


"Saya mengerti, akan segera saya laksanakan."


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Sore itu Cyra meminjam sepeda Omar. Karena ada sesuatu yang harus ia beli.


"Bu Cyra mau kemana? Biar fahri saja yang antar."


"Hush, Fahri itu sopir tuan. Tidak mungkin aku bisa memerintahkannya jika bukan tuan yang memintanya."


"Ya sudah tapi hati - hati bu. Ini sudah sore."


Cyra mengangguk ia menuntun sepeda itu keluar dari garasi. Baru sampai ditengah taman Cyra bertemu dengan Pak Uo.


"Mau kemana kamu sore - sore?"


"Mau keluar sebentar."


"Besok pagi saja."


"Hmm, anu Pak Uo." Cyra tersenyum malu.


"Anu apa? Jangan keras kepala."


"Bukannya keras kepala Pak Uo\, cuma___."


"Sudah.. sudah.. Kamu mau beli apa, biar aku yang belikan saja."


"Itu Pak Uo.. Anu.. Itu." Cyra tampak bingung mau menjawabnya.

__ADS_1


"Ayo, jangan seperti orang bingung."


"Begini Pak Uo sebenarnya barang yang mau aku beli sifatnya sangat pribadi."


"Apa?"


"Maaf Pak Uo, aku baru datang bulan. Kebetulan punyaku habis. Surti sedang pulang kampung dan Asih juga tidak ada persediaan jadi aku harus beli."


"Oh, kalau itu ya memang kamu harus beli sendiri. Aku tidak paham." Syamsudin menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu karena malu.


"Kalau begitu aku permisi dulu."


"Ya sudah, jangan lama - lama dan hati - hati."


Cyra segera mengayuh sepedanya menuju ke toserba terdekat. Karena ini daerah perkebunan yang rata - rata hanya ada hamparan tanah yang luas jadi Cyra harus menempuh jarang kurang lebih lima belas menit untuk sampai ke pemukiman penduduk. Setelah menemukan sebuah toko kecil yang juga menjual barang yang ia butuhkan, Cyra segera memutar balik sepedanya untuk kembali ke perkebunan.


Cyra akan menyebarang jalan jadi ia menuntun sepedanya dulu. Ia menengok kanan kiri. Di lihatnya sebuah mobil jeep warna hitam yang sedang berhenti, jadi ia memutuskan untuk menyeberang. Akan tetapi begitu ia sampai di tengah mobil itu melaju dengan cepat ke arahnya. Beruntung Cyra segera menyadarinya dan melompat ke seberang untuk menghindari tabrakan.


Ciittt!!! Braakkk!!! Braakkk!!!


Mobil itu menabrak sepeda yang ditinggalkan Cyra begitu saja demi menghindari mobil itu.


"Aaauuwww!" teriak Cyra berguling - guling.


Beberapa ibu - ibu yang sedang ngobrol di depan rumah berteriak melihat kejadian itu.


"Tolong! Tolong! Tolong! Ada yang tertabrak!" teriak mereka yang membuat warga sekitar keluar dan melihat apa yang terjadi.


Warga langsung melihat kondisi Cyra yang masih tergeletak dipinggir jalan.


"Neng! Neng! Neng!" beberapa warga berusaha membangunkan Cyra.


"Meninggal atau gimana itu neng nya. Cepet di tolong!" teriak ibu - ibu.


"Pingsan ini kayaknya, ayo kita bawa kerumah sakit." Beberapa warga membopong Cyra masuk kedalam mobil angkot yang lewat dan membawanya ke rumah sakit.


"Kasihan neng nya. Gimana nggak pingsan lihat saja sepedanya sampai remuk kayak gitu."


Sementara itu...


Sudah jam enam sore kenapa Cyra belum kembali. Dasar keras kepala, disuruh pulang cepat malah terlambat seperti ini. Bagaimana kalau tuan tahu. Pasti kena marang lagi. Cyra.. Cyra.. Syamsudin terlihat mondar mondar dan panik. Beberapa kali ia menelepon handphone keponakannya itu akan tetapi tidak diangkat. "Ayo angkat Cyra, jangan membuatku khawatir." gumam Syamsudin.


"Ada apa Syam?"


"Tttuan." Syamsudin menoleh dan tampak terkejut dengan kedatangan Aroon.


"Kenapa panik?"


"Eeeng itu tuan___."


"Itu apa? Siapa yang kau tunggu sampai aku perhatikan dari tadi kau melihat gerbang."


"Itu Cyra, tadi dia pamit keluar. Tapi sampai sekarang dia belum pulang."


"Heh paling juga pacaran dengan teman sekolahnya itu."


"Tidak tuan, keponakan saya tidak pernah berbohong. Dia keluar membeli barang pribadi."


Syamsudin kembali mencoba menelepon kembali tapi masih sama seperti tadi tidak ada tanggapan. Tiba - tiba saja dari arah gerbang tampak seorang pekerja berlari ke arah mereka.


"Pak Syam! Pak Syam! Pak Syam!"


"Kenapa lari - lari? Ada apa?"


"Itu gurunya tuan muda di rumah sakit."


"Di rumah sakit?" teriak Syamsudin dan Aroon hampir bersamaan.


"Apa yang terjadi?" tanya Syamsudin.


"Waktu mau nyebrang tiba - tiba ada mobil jeep dari arah berlawanan menabraknya?"


"Ya tuhan.. Cyra keponakanku." Syamsudin memegangi dahinya.


"Tenang Syam, aku akan mengantarmu kesana." ucap Aroon sambil berusaha menenangkan Syamsudin yang sangat syok mendengar berita itu. "Antar kami ke rumah sakit."


"Baik tuan."


Mereka bertiga mengendarai mobil untuk menuju ke rumah sakit. "Kamu harus tenang Syam, aku jamin tidak akan apa - apa dengan keponakanmu."


"Saya merasa bersalah kenapa tadi dia tidak saya antar." ucap Syamsudin. "Saya tidak sanggup jika harus kehilangan orang terdekat saya lagi, Cyra sudah saya anggap sebagai anak sendiri."


Aroon menepuk - nepuk bahu Syamsudin. Kamu harus baik - baik saja Cyra doa Aroon dalam hati.

__ADS_1


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


__ADS_2