
"Oahhamm."
"Pagi, kau sudah bangun?"
"Sudah." pria itu turun dari tempat tidur memakai celana dan menghampiri seorang wanita yang sedang menatap keluar jendela. "Tidak dingin?" tanyanya sambil mengecup pundak seorang wanita yang hanya berbalutkan selimut.
"Tidak, bukankah ada kau yang menghangatkanku." jawab wanita itu sambil tersenyum.
Pria itu kembali dan duduk di sebuah kursi dan menyalakan rokok. "Asih."
"Ya."
"Besok aku harus kembali."
"Kenapa buru - buru Van?"
"Besok aku harus bertunangan."
"Nggak! Aku tidak mengijinkan!" teriak Asih.
"Atas dasar apa kau melarangku?"
"Hutang budi!" jawab Asih. "Kau lupa siapa yang menyelamatkanmu waktu tergeletak di jalan. Kau lupa siapa yang menampungmu dan merawatmu." Asih membalikkan badannya dan menatap Vano dengan tatapan tidak percaya.
"Aku tidak lupa dan aku akan membayar setiap jerih payah yang kau keluarkan untukku."
"Bagaimana dengan malam - malam penuh gairah yang sudah kita lalui?"
"Tunggu! Kau yang merayuku Asih." protes Vano.
"Tapi kau juga menyukainya kan?"
"Ada makanan lezat dimeja makan, sebagai pria yang normal tentu saja aku akan memakannya."
"Semua pria sama saja. Sama brengseknya!"
"Hahahahahh.. sepertinya kau salah. Kaulah yang paling brengsek, jangan menganggap dirimu suci." Vano mencibir, kemudian menghisap rokoknya dalam - dalam.
"Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali aku melihatmu di acara ulang tahun tuan muda."
"Tapi aku tidak."
"Tidak? Kau begitu menikmati kebersamaan kita."
"Aku tidak bisa memberikan hatiku untuk wanita lain, bahkan dengan tunanganku sendiri."
Asih berbalik sambil membuka selimut yang sudah membalut tubuhnya. Ia berjalan tanpa selehai benang pun. Perlahan mendekati Vano dan kemudian duduk di pangkuannya. "Bercintalah denganku sekali lagi." rayunya.
"Tidak!" jawab Vano. Ia menepis tangan Asih yang membelai pipinya.
"Benarkah kau tidak menginginkanku?" rayunya lagi.
"Kau membosankan." jawab Vano.
Asih beranjak dari pangkuan Vano. Ia segera berpakaian lagi hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendek. Wajahnya tampak kesal dengan sikap Vano yang seperti habis manis sepah dibuang.
"Siapa wanita itu? Cyra?"
Vano tersenyum licik. "Yah kau benar, aku sangat terobsesi dengannya."
"Hati - hati lawanmu tuan Aroon. Kenapa kau suka mencari masalah? Tidak kapok kau sudah babak belur ditangannya."
"Cyra itu ibarat pengasuh disana. Tidak mungkin tuan Aroon menaruh hati padanya."
"Siapa tahu. Yang aku tahu setelah nyonya Davira meninggal, wanita yang dekat dengannya hanya Cyra."
"Tidak akan kubiarkan."
"Berpakaianlah dan segera keluar dari rumahku. Aku juga sudah muak dengan mukamu itu!"
Vano segera berpakaian dan mengambil kunci mobil. "Terima kasih atas segalanya." ucapnya sambil mencubit lembut pipi Asih. Asih segera memalingkan muka.
"Jika kau ingin menghancurkan tuan Aroon yang mungkin saja penghalang kau mendapatkan Cyra, aku bisa membantumu menemui orang yang menjadi lawan sepadan tuan Aroon."
"Tidak perlu cantik. Aku yakin aku mampu merebut Cyra."
"Terserah. Kita lihat saja nanti."
🍀🍀🍀🍀
Panen sudah selesai, mereka kembali naik gerobak untuk pulang.
"Kenapa bu Cyra pakai baju Phoo?" tanya Gio.
__ADS_1
"Baju ku basah waktu di sungai kebetulan aku tidak membawa baju ganti jadi ayahmu meminjamkan bajunya. Baju yang basah bisa membuat kita sakit Gio."
"Phoo ku baik kan bu Cyra? Perhatian."
"Oh.. Iya.. Iya perhatian." jawab Cyra. Huh perhatian apa, galak dan suka melihatku sengsara ucap Cyra dalam hati.
"Jadi bu Cyra jangan menganggap Phoo ku Arogan dan egois lagi ya." ucap Gio dengan suara lantang. Hal itu membuat Cyra terkejut, karena bisa saja Aroon mendengar.
"Ssssttt.. Jangan keras - keras. Ayo kita naik gerobak lagi. Sudah sore." Cyra segera mengajak mereka naik gerobak. Ia berharap Aroon tidak mendengarnya. Sejauh ini Aroon hanya diam itu artinya ia tidak mendengar. Cyra aman.
Kali ini Gio duduk bersama Omar dan Olif. Mereka bertiga bagai tak bisa dipisahkan. Dan mau tidak mau membuat Cyra harus duduk bersebelahan dengan Aroon. Gerobak terisi penuh karena ada beberapa karung yang dibawa pulang untuk kebutuhan makan sehari - hari.
"Benarkah aku Arogan?" Aroon tiba - tiba melontarkan pertanyaan yang membuat Cyra terkejut.
Waduh jangan - jangan dengar pembicaraanku dengan Gio. "Oh tidak tuan."
"Jangan bohong."
"Benar tuan saya tidak berbohong."
"Jadi kau menganggapku tuli?"
"Tuli? Tidak tuan, saya tidak menganggap tuan tuli. Kapan saya mengatakan seperti itu?"
"Aku mendengar sendiri ketika kau berbincang dengan Gio."
Waduh ketahuan, ayo Cyra cepat perpikir. Kau adalah orang yang paling bisa mengambil hati orang lain ucap Cyra pada dirinya sendiri. "Hmmm maksud Gio tadi bukan arogan tuan tapi___ Aaaaroon.. Yah maksudnya Aroon, Gio menyebut nama tuan." Cyra tersenyum kikuk. Berulang kali ia menarik napas panjang. Terus terang ia gugup.
"Benarkah?"
Cyra mengangguk mantab dan____
Clethakk!!!
"Auuuwww, sakit!" teriaknya. Ia mengusap dahinya beberapa kali. "Kalau mukul kira - kira dong." gerutunya.
"Itu hukuman karena kau berbohong padaku."
"Iya tapi kan pelan - pelan bisa tuan." gumam Cyra lirih. "Apalagi itu pendapat saya dulu waktu belum mengenal tuan."
"Setidaknya katakan yang jujur, aku tidak suka berbohong."
"Serba salah tuan bilang jujur kena pukul, bohong kena pukul."
Heh dia mau tertawa jika melihat aku menderita rupanya.
"Bagaimana dengan sekarang?"
"Yah kalau sekarang beda, tuan suupeerrr baik." Cyra mengacungkan kedua jempolnya.
"Hahahhah.. Lagi - lagi kau bisa mengambil hati orang."
"Hehehehh.. Syukurlah kalau tuan senang." Cyra bernapas lega. Hufh akhirnya.
Tangan Aroon tiba - tiba saja mengusap dahi Cyra dengan lembut. "Masih sakit?"
"Hah." Cyra terkejut dengan perlakuan Aroon. Ia belum siap menerima sikap yang aneh seperti ini. "Ssu.. Ssudah tidak tuan. Terima kasih."
Mereka berdua terdiam hanya terdengar gurauan Gio, Omar dan Olif. Menikmati pemandangan sore menjelang petang di sawah adalah hal yang indah.
Tak terasa gerobak sudah sampai di depan rumah Cyra. Beberapa tetangga membantunya menurunkan karung. Padi ini harus dijemur sampai kering baru di taruh ke penggilingan untuk menjadi beras. Rencananya ibu akan dibantu dengan tetangga untuk menjemur padi. Karena Cyra besok akan pulang ke Bogor lagi.
"Tuan Aroon terima kasih bantuannya. Kami bisa panen untuk menyambung hidup." ucap ibu.
"Sama - sama."
"Saya juga titip Cyra. Dia memang anak yang keras kepala tapi saya yakin anak saya jujur dan bertanggung jawab."
"Saya akan berusaha."
"Terima kasih tuan. Hmmm dan satu lagi permintaan saya."
"Aduh ibu, kenapa permintaannya banyak sekali." keluh Cyra. "Malu ah."
"Eh mumpung ada kesempatan. Kapan lagi ibu akan bertemu tuan Aroon."
"Apa permintaan ibu?"
"Eh itu.. Saya mau foto bersama tuan." ibunya Cyra tertunduk malu.
"Apa!" teriak.Cyra. "Ibu jangan buat aku malu."
"Kenapa malu? Permintaan ibu nggak aneh - aneh. Apalagi ibu - ibu yang lain juga memang mau ikut foto."
__ADS_1
"Apa! Sama ibu - ibu yang lain juga?" Cyra tampak syok. "Maaf tuan. Kalau tuan keberatan bisa di tolak saja."
"Tidak apa - apa. Aku tidak keberatan."
"Tuh kan. Tuan Aroon tidak keberatan." ucap ibu bahagia. "Ternyata tuan Aroon orang yang baik, tidak seperti ceritamu kalau di telepon. Bilang tuan Aroon galak lah, terus arogan lah."
"Ibuuu!!!" teriak Cyra langsung berlari mendekati ibu agar menghentikan ucapannya. Karena itu membuatnya celaka.
Berbeda dengan Aroon yang tampak senang mendengar ucapan ibu. Kepuasan terlukis di wajahnya karena itu bisa dijadikan senjata untuk melawan Cyra karena suka membantah.
Omar dan Olif menatap Cyra dengan tatapan seolah mengatakan untuk bersabar menerima hukuman dari tuan. "Semangat bu Cyra." ucap mereka lirih.
"Kapan ibu dengan ibu - ibu yang lain mau foto?"
"Besok pagi sebelum tuan dan yang lainnya kembali ke Bogor."
"Baiklah besok pagi kita akan foto."
"Terima kasih tuan." ucap ibu. "Eh Cyra kamu kok malah murung. Ayo ucapkan terima kasih juga buat tuan Aroon." paksa ibu.
Cyra membalikkan badannya seraya menunduk. "Terima kasih tuan."
Aroon tersenyum melihat wajah Cyra yang pucat pasi dan berulang kali mengusap dahinya.
"Cyra ikut aku."
Hah akhirnya kata - kata itu keluar juga dari mulutmu tuan. Aachh sepertinya aku harus bersiap menerima hukumannya. Ayo Cyra kamu pasti bisa ucap Cyra menyemangati dirinya sendiri.
"Eh sudah sana, kamu di panggil tuan." ucap ibu.
Ach ibu, kenapa sikapmu seperti dengan rela mengantarkan anaknya di makan singa sih ucap Cyra dalam hati. Dengan langkah gontai ia mengikuti Aroon yang berjalan keluar ke teras depan rumah.
"Omar apa yang akan dilakukan Phoo terhadap bu Cyra?" bisik Gio.
"Tuan muda berdoa saja, mudah - mudahan bu Cyra baik - baik saja."
"Iya tuan muda, ayo kita berdoa bersama - sama." ucap Olif.
Sementara itu di luar rumah...
"Saya siap tuan."
"Siap apa?" tanya Aroon. Dalam hatinya ia tersenyum geli.
"Siap menerima hukumannya."
"Baiklah jika kamu meminta."
"Mau tuan gampar, cubit, pukul, cekik saya siap." ucap Cyra pura - pura tegar. Padahal dalam hatinya ia ketakutan setengah mati. Bisa saja hanya dengan sekali pukul ia bisa masuk rumah sakit. Mana badan tuan kekar lagi. Cyra mulai memejamkan matanya. "Silahkan tuan mulai."
Aroon masih tersenyum dengan sikap Cyra yang pura - pura tegar dan kuat. Padahal ia bisa melihat keringat dingin dan tangan gemetar Cyra.
"Kamu siap?"
Dengan menarik napas panjang Cyra menganggukkan kepalanya.
Aroon menarik krah baju Cyra untuk mendekat padanya. Hingga mereka tidak berjarak. Cyra bisa mendengar deguban jantung tuannya karena dada Aroon tepat di telinganya. Itu justru membuatnya semakin ketakutan.
Aroon menepuk - nepuk pipi Cyra dengan perlahan. Kemudian mengusap - usap dahi Cyra. Dan itu membuat tangan Cyra semakin gemetar.
"Sudah." hembusan napas Aroon terasa di wajah Cyra.
"Ttapi___."
"Buka dulu matamu."
Dengan perlahan Cyra membuka matanya. Ia mendongak ke atas memandang Aroon.
"Itu tadi hukumannya."
"Hah." Cyra masih belum mengerti maksud Aroon.
"Untuk apa aku memukulmu untuk sesuatu yang benar. Aku memang arogan, galak dan juga egois. Tapi aku juga memiliki sisi yang baik. Hanya saja kau belum mengenalku dengan baik."
Cyra masih terdiam dengan ketidak percayaannya.
"Ayo masuk, aku lapar."
"Hah.. Oh.. Ya baik tuan." Cyra segera masuk ke dalam membantu ibunya menyiapkan makanan.
Malam ini mereka bersiap untuk kepulangan besok ke Bogor. Ibu membuatkan jenang sebagai oleh - oleh. Cyra bisa bernapas lega karena tugasnya sudah selesai. Ia harus kembali lagi pada aktivitasnya yang semula.
☘️☘️☘️☘️
__ADS_1