
Malam itu Cyra sulit sekali memejamkan matanya. Ia masih teringat bagaimana Denisha mencium bibir Aroon. Entah kenapa itu mengganggu sekali pikirannya.
Pagi ini Cyra bangun dengan sakit di kepalanya. Ia merasa pusing mungkin karena kurang tidur. Cyra memutuskan untuk jalan - jalan sebentar sambil menghirup udara pagi agar pikirannya lebih tenang. Ia duduk di Gazebo sambil memandang jauh menerawang mengingat kembali kejadian tadi malam.
Kenapa hatiku terasa sakit melihat tuan Aroon berciuman dengan nona Denisha. Apa hakku untuk cemburu. Tapi ini benar - benar sakit, dadaku terasa sesak. Cyra berperang dengan batinnya sendiri. Sambil terus memegangi dadanya. Entah kenapa kejadian yang begitu singkat itu membuatnya tidak percaya dan menganggap Aroon adalah seorang pria brengsek yang suka mempermainkan perasaan wanita. Lantas bagaimana kalau Gio tahu dan marah - marah tentu saja itu akan membuat pekerjaannya bertambah.
Ya tuhan Cyra kau tidak sedang jatuh cinta dengan tuanmu itu kan, hati kecil Cyra bertanya. Ingat perjanjianmu dengan Gio yang tidak akan mengambil perhatian dan cinta tuan Aroon. Ayo Cyra kembali lagi pada tekad awalmu yang mencari pekerjaan untuk membantu orang tuamu dan juga membuat Gio menjadi anak yang baik.
"Cyra."
Cyra menoleh dan melihat Pak Uo sudah dibelakangnya.
"Sedang apa? Kenapa matamu berkaca - kaca?"
"Aku kangen dengan ayah dan ibu." dengan cepat Cyra beralasan.
"Wah kontak batin kalian memang kuat. Nih." Syamsudin menyerahkan handphonenya. "Tadi ibumu menelepon."
"Kok bisa di handphonenya Pak Uo?"
"Bisa. HP mu mana?"
Cyra mencari di saku celana dan tidak menemukannya. "Ah iya aku lupa, HP ku sedang aku charge di kamar."
"Sudah telepon dulu ibumu sana. Dia khawatir."
"Oya Pak Uo, sebenarnya cuti bekerjaku sudah hampir dekat. Awalnya aku tidak ingin pulang dan konsentrasi untuk mengajar Gio, tapi karena aku kangen dengan ayah dan ibu sepertinya aku akan mengambil cuti itu."
"Tidak apa - apa, asalkan kau berbicara baik - baik dengan tuan pasti akan diijinkan."
Setelah berbicara dengan Syamsudin Cyra segera kembali ke kamarnya. Pertama ia ingin menangis tanpa di ganggu oleh orang lain yang kedua ia ingin meluapkan rindu pada orang tuanya di kampung.
Pikirannya masih kalut hingga ia tidak melihat siapa yang ada di lorong menunggunya.
"Hei!"
Cyra masih diam saja dan terus melangkah menuju kamarnya.
"Hei! Bodoh! kau berani mengabaikan panggilan nonaku!" dengan kasar Billy menarik tangan Cyra.
"Aaauuww! Sakit." teriak Cyra. Tampak tangan Cyra memerah akibat kuku panjang milik Billy. Walau ia gemulai pada dasarnya fisiknya masih seorang laki - laki yang kuat. Oleh sebab itu dengan sekali cengkeraman saja membuat kulit Cyra menjadi merah dan terasa perih.
"Itu karena kau mengabaikan nonaku! Rasakan!"
Dengan satu gerakan Cyra bisa membalikkan keadaan. Ia memelintir tangan Billy ke belakang.
"Aaauww.. Aaauww.. Aduh sakit! Nona tolong aku!" rengek Billy.
"Cyra lepaskan!" teriak Denisha.
"Tidak! Dia harus minta maaf padaku." jawab Cyra dengan tegas.
"Salah dia apa? Hah!"
"Dia menarik tanganku dengan tiba - tiba tanpa aku tahu permasalahannya!"
"Kenapa kau begitu emosi? Kau marah karena semalam melihat kami berciuman? Itu untuk membuktikan bahwa Aroon adalah milikku."
"Aku sama sekali tidak peduli." jawab Cyra. "Kau hanya sengaja mencari gara - gara. Apa salaku!" Cyra meninggikan suaranya.
"Kau tuli, Cyra. Kami memanggilmu tapi dengan sombongnya kau melewati kami. Ingat! Kau bukan nyonya rumah disini."
"Oh.. Siapa yang menganggap nyonya rumah disini? Tidak ada nona. Saya memang betul - betul tidak dengar." Cyra menjawab dengan masih mengunci tangan Billy ke belakang. Ia sangat emosi karena mereka menyerang fisiknya.
Plak! dengan tiba - tiba Denisha menampar Cyra.
"Hei!" Cyra sangat terkejut dengan tindakan tiba - tiba Denisha. Dengan spontan ia mendorong tubuh Denisha hanya dengan satu tangan.
__ADS_1
Denisha yang tahu kalau ada Aroon di belakang pura - pura terjatuh. Cyra sangat keheranan bagaimana bisa Denisha terjatuh ke belakang padahal ia tidak menggunakan kekuatan penuh, mustahil bisa jatuh.
"Cyra!" teriak Aroon.
Oh akhirnya aku tahu apa maksud dari semua ini. Kali ini aku kalah strategi dengannya. Oke aku ikuti permainanmu pikir Cyra berusaha tenang. Padahal darahnya mendidih karena emosi. Ia melepaskan Billy.
Aroon membantu Denisha berdiri. dengan segera Denisha melancarkan sandiwaranya. "Aroon, tubuhku sakit." rengeknya sambil memeluk tubuh Aroon. Pemandangan itu membuat Cyra semakin muak dengan mereka berdua.
"Apa yang terjadi disini?" Aroon menatap Cyra seolah meminta jawaban.
"Tanya saja pada nona Denisha tuan." jawab Cyra. Karena seberapa kerasnya ia menjelaskan hasilnya pasti ia yang salah.
Aroon beralih pada Denisha yang matanya sudah merah dan mengeluarkan air mata. "Denisha, apa yang terjadi?"
"Aroon kau tahu sendiri kan tadi dia mendorongku begitu keras hingga aku terjatuh." jelas Denisha.
"Pasti ada pemicu kenapa Cyra melakukan itu padamu."
"Aku tidak tahu, aku tadi memanggilnya karena ingin bertanya tentang kemajuan Gio. Mungkin Cyra tidak mau aku ikut campur jadi dia marah." jawab denisha dengan isak tangis. "Kau tahu kan sejak dulu aku tidak pernah diperlakukan kasar seperti ini Aroon."
"Iya tuan bahkan tangan saya juga dipelintir olehnya tuan." sahut Billy. "Lihat ini." ia memperlihatkan tangannya yang merah.
Aroon terdiam, ia berusaha mendengar penjelasan dari berbagai pihak agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi. "Cyra aku masih menunggu penjelasan darimu. Aku tidak mau salah dalam mengambil keputusan."
Cyra terdiam cukup lama, terus terang ia sangat lelah. Sejak ada Denisha apa yang dia lakukan selalu tampak salah. "Apa yang tuan lihat tadi benar."
"Aku hanya melihat kau mendorong Denisha. Aku tidak tahu kejadian sebelumnya." ucap Aroon. "Aku tahu kamu tidak mungkin berbuat seperti itu."
"Aroon! Kau tidak percaya padaku?!" pekik Denisha.
"Diam dulu Denis, aku mau mendengar dari mulut Cyra.
Cyra masih dalam diam, ia sudah malas menjelaskan panjang lebar. "Itu benar tuan." jawabnya sambil menunduk.
"Cyra tatap aku."
Cyra masih tetap menunduk. Hal itu membuat Aroon semakin penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. "Baiklah jika kamu tidak mau menjelaskan. Kau boleh pergi."
"Sudahlah Denis, urusanku banyak. Dia mungkin tidak sengaja." jawab Aroon. "Jangan terlalu membesar - besarkan urusan kecil seperti ini."
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan." pamit Denisha.
"Kau! Kau! tega padaku Aroon. Kau tidak adil padaku!" teriak Denisha histeris sambil meninggalkan Aroon karena kesal. Denisha kembali ke kamarnya.
"Billy!"
"Iya nona."
"Cepat telepon Bian."
"Tapi nona."
"Sudah lakukan perintahku! Jangan banyak membantah!"
Billy dengan cepat melakukan panggilan telepon dengan Bian.
"Halo."
"Halo tuan Bian. Ini Billy. Nonaku mau bicara denganmu." Billy menyerahkan handphonenya pada Denisha
"Ada apa Denis?"
"Dasar pembohong! Kapan kau akan menyingkirkan gadis itu?!"
"Sabar sayang, pekerjaanku sangat banyak."
"Oke, kalau kau tidak mau membantuku. Aku akan mencari orang lain yang mau melakukannya!"
__ADS_1
"Hei! Tunggu dulu Denis jangan terburu - buru." cegah Bian. "Dengarkan dulu penjelasanku."
"Apa!"
"Terus terang aku kesulitan mendekati gadis itu karena penjagaan di perkebunan Aroon yang semakin ketat. Apalagi gadis itu selalu di dalam perkebunan dan tidak pernah keluar. Seandainya kau bisa membuatnya keluar dari perkebunan tentu saja aku akan dengan sangat mudah menyingkirkannya."
"Maksudmu aku harus memancingnya keluar dari perkebunan?"
"Yah seperti itu. Dan juga tidak akan ada orang yang tahu jika kita singkirkan Cyra di luar perkebunan. Tidak ada orang yang akan mencurigaimu. Melihat kalian sering bertengkar."
"Oke, aku akan berusaha memancingnya keluar."
"Bagus, dan juga bersabarlah sayang. Orang yang sabar akan mendapat banyak keuntungan." ucap Biantara yang kemudian menutup panggilan teleponnya.
Denisha melempar handphone itu di atas tempat tidur. Ia tampak memikirkan sesuatu.
"Nona."
"Apa?"
"Aku sangat takut dengan rencana nona."
"Sudah diam Billy, kau hanya boleh komentar jika aku suruh. Mengerti?!"
"Iiiya saya mengerti nona."
🍀🍀🍀🍀
Cyra duduk dengan kasar di atas tempat tidurnya. Kenapa ia tidak mendapat ketenangan. Benar yang dikatakan dengan bik Tika kehadiran Denisha membuat seisi rumah menjadi tidak tenang seperti dulu. Ada saja permasalahan yang timbul.
Cyra membuka lacinya, ia mencari obat untuk ruam merah dan sedikit luka akibat kuku Billy. "Aduh di mana sih kok nggak ada." gumamnya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk saja Gio pintunya tidak di kunci." ucap Cyra dari dalam kamar, karena yang sering datang kalau tidak Gio, Omar atau Olif.
Seseorang membuka pintu. "Mencari ini?"
"Tuan." ucap Cyra tidak percaya. "Mau apa tuan kemari?"
"Aku lihat tanganmu terluka, aku membawakanmu obat."
"Oh, terima kasih tuan." Cyra mendekat dan mau mengambil kotak obat itu dari tangan Aroon. Akan tetapi Aroon mengelak.
"Duduk, biar aku obati."
"Saya bisa tuan."
"Jangan membantah."
Cyra akhirnya menyetujui saran Aroon, Ia segera duduk di pinggir tempat tidur. Dengan telaten Aroon membersihkan luka Cyra dan kemudian memberinya obat. Aroon memandang tajam ke arah Cyra, membuat Cyra menunduk karena malu. Tangan Aroon tiba - tiba saja membelai pipi Cyra dengan lembut. "Sakit?"
Cyra tampak terkejut dengan pertanyaan Aroon, apakah sebenarnya tuannya itu melihat kejadian yang sesungguhnya. Cyra menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Denisha itu anak yang manja, dulu istriku sangat memanjakannya. Jadi ia masih seperti anak kecil."
"Tuan tahu kejadian yang sebenarnya?"
"Tidak, tapi aku bisa membaca situasinya." Aroon menarik napas sebentar. "Aku seorang laki - laki, pasti akan tahu dorongan pelan dari tanganmu tadi tidak akan membuat seseorang terjatuh bahkan anak kecil. Jadi kesimpulanku Denisha hanya pura - pura terjatuh. Denisha dulu juga pernah melakukan hal - hal seperti itu untuk menarik perhatiannya."
"Hampir saja tuan salah paham lagi." ucap Cyra sambil tersenyum. "Tapi maaf tuan saya belum bisa menjelaskan apa yang terjadi. Itu hanya masalah kecil. Jadi mari kita lupakan saja tuan."
"Terima kasih kau sudah sangat mengerti." jawab Aroon. "Dan aku minta bersabarlah dengan Denisha, ia hanya suka mencari perhatian tapi jika kau sudah mengenalnya ia tidak seburuk sikapnya saat ini."
Oh jadi tuan sengaja kesini ingin membela Denisha. Yah siapa aku ini, aku hanya seorang guru privat anaknya tidak lebih. Mana mungkin tuan mau membelaku pikir Cyra kecewa.
"Istirahatlah sebentar sebelum mulai mengajar Gio, aku pergi dulu."
__ADS_1
Cyra hanya melihat kepergiaan Aroon dengan kekecewaan. Aku butuh waktu untuk menyendiri. Sepertinya pulang kampung adalah keputusan yang tepat saat ini. Aku harus mengumpulkan kekuatan dan semangatku seperti dulu lagi, mengembalikan niat awalku bekerja.
🍀🍀🍀🍀