
"Cyra, kau yakin dengan apa yang kau ucapkan?" tanya ibu
"Jangan main - main Cyra." sahut ayah.
"Benar kata ayahmu, kemarin - kemarin kau masih bingung dan ragu."
"Pikirkan dengan matang, tuan Aroon tidak mendesakmu. Dia memberikan kamu waktu." lagi - lagi ayah memberikan saran agar Cyra tidak terburu - buru dalam mengambil keputusan.
Cyra menarik napas panjang. "Ayah, Ibu aku yakin dengan pilihanku. Aku tidak akan ragu."
"Tttapi___."
"Bapak, ibu ijinkan saya bicara berdua dengan Cyra." pinta Aroon.
Ayah dan ibu saling berpandangan. Akhirnya ayah memutuskan. "Baiklah, bicaralah kalian berdua. Pernikahan bukan hal yang main - main."
Aroon mengalihkan pandangan ke Cyra. "Ikut aku." perintahnya.
Cyra mengikuti kemana Aroon pergi. Aroon membuka pintu mobil dan mempersilahkan Cyra masuk. Mereka berdua pergi ke suatu tempat. Selama perjalanan mereka hanya diam satu sama yang lain. Cyra memainkan jari jemarinya, itu tanda bahwa dia sangat gugup.
Mobil berhenti di suatu tempat. Dan ternyata Aroon membawanya di sebuah danau yang sangat tenang. Suasana di sana sangat cocok untuk orang yang mempunyai banyak pikiran atau masalah.
"Ayo kita keluar."
"Baik tuan."
Aroon berdiri menatap air danau yang sangat tenang. Cyra berada di sampingnya.
"Apa yang ingin tuan katakan?"
"Soal persetujuanmu untuk menikah denganku. Kau yakin?"
"Kenapa sekarang tuan yang ragu?ย Jangan - jangan tawaran untuk menikah hanya main - main saja."
"Tidak Cyra, aku menyukaimu." jawab Aroon. "Bagaimana denganmu?"
Cyra terdiam. "Entahlah, saya tidak tahu dengan perasaan saya tuan."
"Kau tidak mencintaiku." tebak Aroon. "Lalu buat apa kita menikah?"
"Banyak pertimbangan di dalam hati saya. Yang pertama karena orang tua saya yang prihatin karena mahkota saya sudah hilang. Mereka berdua khawatir tidak akan ada pria yang mau menerima kondisi saya. Yang kedua demi Gio. Saya rasa alasan saya yang kedua membuat tuan senang bukan."
"Apa maksudmu?"
"Bukankah tuan ingin saya menjadi guru Gio lagi. Dan sekarang saya dengan sukarela mengajukan diri."
"Sebenarnya kau adalah wanita pertama yang bisa mengalihkanku dari Davira."
"Karena itu tuan merasa bahwa tuan memiliki perasaan lebih untuk saya?"
"Ya seperti itu, terus apa lagi."
Cyra kembali terdiam. "Bagaimana kalau kita membuat perjanjian?"
"Maksudmu?"
"Tuan ingin menikah dengan saya. Dan saya juga membutuhkan tuan. Kita jalani pernikahan ini selama satu tahun dulu. Jika perasaan saya berubah pada tuan dan juga perasaan tuan masih tetap menyukai saya maka pernikahan ini kita teruskan." Cyra memberi penawaran. "Saya juga akan bertanggung jawab merawat dan mendidik Gio entah itu dia mau atau tidak."
Aroon terdiam dengan penawaran yang diajukan oleh Cyra. Dalam hatinya ia tidak mau Cyra menjadi milik pria lain. Ia ingin melindungi gadis yang kelihatan tegar tapi sebenarnya hatinya sangat rapuh. Dalam waktu satu tahun itu aku akan membuatmu jatuh cinta padaku Cyra janji Aroon dalam hati. "Baiklah aku setuju."
Aroon mengulurkan tangannya dan Cyra menyambutnya. "Deal." ucap mereka bersamaan.
Maafkan aku tuan, ini satu - satunya cara agar aku bisa membongkar kebusukan nona Denisha. Aku akan mengumpulkan bukti - bukti kejahatannya dan berusaha melindungi tuan juga Gio, janji Cyra dalam hati.
"Cyra."
__ADS_1
"Ya tuan."
"Besok kita menikah."
"Apa tidak terlalu cepat?"
"Aku rasa tidak, mumpung bapak dan ibu masih disini."
"Bbbaiklah." ucap Cyra. Walaupun ini pernikahan diatas perjanjian Cyra tetaplah merasa sangat gugup. Pernikahan pertamanya dan semoga bisa menjadi yang terakhir. Jauh di lubuk hatinya ia merasa khawatir. Bagaimana jika seiring waktu ia benar - benar jatuh cinta dengan tuannya dan justru perasaan tuan malah tidak yakin dengannya.
Mereka kembali ke rumah Syamsudin. Dan menyampaikan apa yang sudah mereka bicarakan tadi.
"Tuan." panggil Cyra sebelum mereka turun.
"Ya."
"Jangan bilang merekaย kalau kita membuat perjanjian ini."
"Tidak. Aku tidak akan mengatakan apa - apa."
"Terima kasih tuan."
Mereka berdua turun dan segera menemui ayah dan Ibu. Walaupun pernikahan ini terkesan mendadak dan di paksakan, ayah dan ibu menerima niat Cyra dan Aroon membina suatu rumah tangga. Mereka yakin bahwa sesuatu yang di niatkan baik maka hasilnya juga akan baik. Jauh di lubuk
Sementara itu...
Billy melihat kedatangan Aroon dan langsung melaporkannya pada Denisha tanpa ia sadari ada sepasang mata juga yang mengawasinya.
Handphone Cyra berdering, ia segera mengangkat dan pergi keluar.
"Halo."
"Cyra ternyata dugaanmu."
"Apa itu bik?"
"Di sini."
"Iya, ia tinggal dua rumah dari rumahmu."
"Benarkah? Berarti selama ini dia mengawasiku terus."
"Iya, kamu harus hati - hati Cyra."
"Bik Tika tenang saja, aku sudah menemukan cara."
"Apa itu?"
"Nanti bik Tika akan tahu."
"Bagaimana kalau kita bilang ke Syamsudinย dan Sulaiman. Mereka pasti punya jalan keluarnya."
"Sementara ini jangan dulu bik. Nanti rencana ku bisa gagal. Bik Tika tenang saja aku akan tetap ceritakan masalah ini pada mereka tapi nanti."
"Oke."
Tiba - tiba
"Cyra." Aroon memanggil.
"Aku tutup teleponnya." bisik Cyra lirih. Ia memasukkan handphone ke dalam saku nya." Ya tuan."
'Aku pamit dulu. Sampai ketemu dua hari lagi."
๐๐๐๐
__ADS_1
Waktu dua hari itu berjalan dengan cepat, tanpa terasa pernikahan antara Cyra dan Aroon sudah tiba. Aroon datang bersama dengan Syamsudin. Petugas dari pemerintah juga sudah datang. Pernikahan ini dilaksanakan dengan sangat sederhana, karena itu memang permintaan Cyra. Tujuannya agar rencananya berjalan dengan lancar.
Awalnya Syamsudin tidak percaya tapi itu sudah menjadi keputusan tuan dan Cyra mau tidak mau dia hanya dia
m dan siap untuk menjadi saksi.
Acara pernikahan yang sederhana itu sudah selesai dilakukan. Mereka sudah resmi menjadi suami istri baik secara agama dan negara.
"Tuan."
"Ya pak."
"Boleh saya panggil dengan sebutan Nak Aroon?"
"Tentu saja boleh."
"Nak Aroon juga bisa memanggil saya ayah seperti Cyra memanggil."
"Baik Ayah."
"Ayah titip Cyra, tolong lindungi dia dengan segenap jiwa dan raga nak Aroon."
"Ayah jangan khawatir, aku akan menjaga Cyra. Ayah bisa mempercayakan Cyra padaku."
"Baiklah, ayah serahkan Cyra pada nak Aroon." ayah memeluk Aroon. Begitu juga dengan ibu. Sebelum Cyra kembali ke perkebunan mereka bertiga saling berpelukan cukup lama. "Cyra kamu sudah menjadi istri dan juga seorang ibu. Ayah mohon dedikasikan dirimu untuk suami dan anakmu. Berikan mereka cinta dan kasih sayang yang tulus dari hatimu."
"Baik ayah."
"Cyra, menikah hanya sekali dalam seumur hidup. Ibu berpesan bina rumah tanggamu dengan baik."
"Baik bu."
Setelah puas memeluk ayah dan ibu, Cyra dan Aroon pamit untuk kembali ke perkebunan. Terus terang Cyra gugup untuk mengetahui bagaimana reaksi orang - orang disana nanti.
"Gugup?"
"Sedikit tuan."
"Hei aku suamimu sekarang. Tidak bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan tuan."
"Itu karena sudah terbiasa. Butuh waktu untuk merubahnya tuan."
"Baiklah. Kenapa gugup?"
"Itu karena____."
"Karena malam pertama." goda Aroon.
"Mmmalam ppertama? Bbbukan! Bbbukan soal itu tuan." Cyra menyangkal. Padahal jauh di lubuk hatinya ia juga memikirkan itu walau sepintas.
"Jadi soal apa?"
"Hmmm.. soal tanggapan mereka mengenai saya."
"Oh kalau soal itu tenang saja nyonya Aroon, mereka semua bawahanku jadi tidak akan ada orang yang berani menolakmu."
"Bagaimana dengan Gio?"
"Gio itu sebenarnya sangat sayang padamu, dia hanya butuh waktu saja untuk membuka mata hatinya. Aku yakin kau bisa menaklukkannya." jawab Aroon. "Oya kita jangan terlalu formal, kau bisa pakai kata aku atau kamu."
Cyra tersenyum sambil mengangguk.
"Kenapa senyum? Bahagia aku panggil nyonya Aroon." goda Aroon lagi. Itu membuat Cyra menjadi malu. Ia memgalihkan pandangannya keluar jendela sambil menikmati pemandangan.
Ternyata panggilan nyonya Aroon tidak buruk juga pikir Cyra dalam hati. Entah kenapa hatinya sedikit berbunga - bunga.
__ADS_1
๐๐๐๐