
Di ruang kerja Aroon mondar mandir seperti orang kebingungan. Kenapa anak ingusan itu bisa datang ke perkebunanku pikir Aroon. Lebih baik aku larang saja dan perkebunanku tertutup untuk orang luar ucap Aroon dalam hati.
"Aku harus bicara dengannya." gumam Aroon. "Harus." Aroon keluar dari ruang kerjanya dan berniat untuk menemui Cyra. Tapi begitu ia membuka pintu ada Denisha yang sepertinya ingin bertemu dengannya.
"Aroon aku mau bicara padamu."
"Cepatlah sedikit, aku mau menemui klien." jawab Aroon berbohong.
"Kau tahu kan akhir - akhir ini banyak kejadian yang di luar nalar terjadi di perkebunan ini."
"Terus."
"Aku harap kau bisa mengambil sikap bijaksana demi perkebunan."
"Maksudmu?"
"Seperti tadi ada tamu yang tanpa ijin bisa masuk ke perkebunan, terus beberapa waktu yang lalu aku melihat ada pekerja yang membawa temannya masuk untuk sekedar melihat - lihat perkebunan." Denisha menarik napas. "Perkebunan ini bisa seperti sekarang juga karena kakakku. Aku tidak ingin ia akan kecewa di sana karena banyak yang sudah tidak disiplin dan bisa menimbulkan masalah di sini."
"Jika yang kau maksud Cyra, aku bisa menjamin jika dia tidak akan berkhianat padaku, bukankah selama ini dia korban."
"Iya memang betul. Aku hanya mau kamu waspada. Awasi gerak geriknya."
"Itu pasti."
"Aku hanya memastikan saja." Denisha tersenyum manis karena rencananya berhasil. "Hmm, hanya itu saja yang mau aku sampaikan, perglah menemui klien."
"Baiklah aku pergi dulu." Aroon mengambil langkah cepat dan segera menuju ke rumah Cyra. Ia melihat gadis itu sedang menanam beberapa tanaman. "Cyra."
Cyra menoleh. "Tuan?"
"Kenapa? Kaget melihatku? Atau kau baru melamunkan seorang pria?"
"Tidak tuan. Saya hanya merasa kaget karena tumben siang tuan menemui saya."
"Mana dia?"
"Siapa tuan?"
"Tamu mu."
"Oh maksud tuan mas Aryo?"
"Mas?" tanya Aroon dengan nada suara tinggi. "Kau memanggilnya mas?"
"Lah kalau bukan mas saya harus panggil apa? Toh umurnya juga lebih tua dia dua tahun."
"Dia kan polisi, panggil pak lebih bagus."
"Dia itu masih muda tuan, belum menikah lagi. Lucu kalau saya panggil pak."
"Kau saja memanggilku tuan bukan mas."
"Itu karena tuan Aroon adalah atasan saya. Beda dengan mas Aryo yang nota bene nya teman."
"menurutku sama saja."
"Baiklah kalau tuan mengingnkan saya memanggil dengan sebutan pak maka akan saya panggil pak Aryo. Bagimana?"
"Bagus." jawab Aroon. Ia merasa puas. "Aku hanya berpesan."
"Pesan apa tuan."
"Jika lau membawa tamu, ijin dulu."
Cyra agak kaget mendengar perkataan Aroon. "Dia masuk juga karena diijinkan oleh panjaga."
"Itu betul, tapi tadi dia datang ketika kau mengajar Gio."
"Iya tapi sudah hampir selesai."
"Kau tahu perkebunan akhir - akhir situasinya sedang tidak kondusif, aku tidak ingin ada bahaya di sekitar ku. Kau mengertikan?"
"Iya saya sangat mengerti. Maafkan saya tuan, tidak ijin pada tuan."
"Aku maafkan tapi tidak untuk lain kali." ucap Aroon tegas. "Mau apa dia kemari?"
"Hmm,. datang menjengukku dan juga memberitahu kalau dia di pindah tugaskan Tangerang."
"Terus, dia mau mengajak saya keluar kalau libur bekerja."
"Kau mau?"
"Saya belum memberikan jawaban apa - apa."
__ADS_1
"Baguslah, aku ingin kamu konsentrasi terhadap kegiatan belajar mengajar Gio. Nanti kalau Gio sudah besar kau bebas melakukan apa saja yang kau mau."
Huh itu sama saja tarik ulur tuan ucap Cyra dalam hati. Kalau begini caranya aku akan tua di perkebunan ini tanpa berhasil membina rumah tangga. Aku jawab iya saja dari pada nanti tidak kelar - kelar. "Iya tuan."
"Ya sudah lanjutkan kerja mu." Aroon segera keluar dari rumah Cyra.
🍀🍀🍀🍀
"Bagaimana? Sudah kamu dapatkan nomor teleponnya?"
"Sudah, tapi bukan HP nya."
"Kau ini gimana sih!" teriak Denisha emosi.
"Tunggu dulu, nona jangan marah dulu. Saya mendapat nomor telepon kantor dimana pria itu bekerja."
"Oh bagus. Lumayan." ucap Denisha. "Mana?"
"Ini nona."
Denisha segera melakukan panggilan ke nomor itu.
"Selamat siang. Bisa saya bicara dengan briptu Aryo."
"Bisa, mohon maaf dari siapa?"
"Saya dari perkebunan tuan Aroon di Bogor. Temannya."
"Tunggu sebentar."
Denisha menunggu beberapa waktu hingga akhirnya ia berbicara dengan Aryo.
"Cyra."
"Maaf saya bukan Cyra."
"Oh, siapa anda?"
"Saya Denisha saudara Aroon pemilik perkebunan."
"Oh nona Denisha ada yang bisa saya bantu?"
"Aku tahu kamu teman Cyra dari Surabaya. Cyra sangat baik bekerja di perkebunan kami. Selama ini tidak ada temannya yang berkunjung ke perkebunan. Jadi kami bermaksud mengajakmu makan malam di perkebunan."
"Besok jam setengah tujuh malam. Bagaimana?"
"Baiklah. Terima kasih."
"Oya satu lagi."
"Apa?"
"Tolong jangan bilang ke Cyra karena ini kejutan buatnya."
"Baiklah."
Denisha menutup teleponnya. Ia merasa puas karena sejauh ini rencananya berhasil.
"Kau siapkan semuanya Billy."
"Siap nona."
🍀🍀🍀🍀
Bik Tika datang ke rumah Cyra.
"Tumben bu main ke sini."
"Kau kan tahu sendiri aku sibuk di dapur."
"Iya, aku tahu." Cyra memeluk bik Tika seperti orang tuanya sendiri. "Ada apa bik?"
"Hari ini ada makan malam bersama. Kamu ikut mendampingi tuan muda."
"Aneh kenapa hari ini Gio tidak bercerita padaku."
"Dadakan. Makanannya saja pesan dari hotel."
"Tumben tuan tidak makan masakan bik Tika."
"Ini acaranya nona Denisha. Ia mengundang beberapa temannya dan seperti biasa tuan mengijinkan."
Huh kalau yang meminta nona Denisha saja boleh. Sedangkan aku, temanku datang saja langsung di larang pikir Cyra.
__ADS_1
"Eh jangan melamun. Sudah sana ganti baju."
"Iya.. Iya.. Aku ganti baju dulu."
"Ya sudah aku tinggal dulu."
Cyra segera melihat isi almarinya. Beberapa waktu lalu sebelum kejadian penculikan ia sempat belanja bersama dengan Olif. Ia membeli beberapa baju resmi. Kali ini Cyra mengenakan gaun panjang dengan bahan Sifon berwarna kuning dengan motif floral. Setelah memastikan penampilannya tidak memalukan di depan para tamu. Ia segera keluar menuju ke rumah utama.
Disana sudah ada Denisha dan beberapa temannya. Cyra berdiri di pojok, ia mencari keberadaan Gio. Kenapa Gio belum datang, apa perlu aku jemput di kamar pikir Cyra. Ia bergegas tapi baru beberapa langkah dari kejauhan datanglah Aroon bersama dengan Gio.
"Bu Cyra." panggilnya sambil berlari ke arah Cyra.
"Kau tampan sekali malam ini."
"Bu Cyra juga cantik."
"Terima kasih."
Aroon hanya melirik saja penampilan Cyra malam ini dan lanjut menyalami teman - teman Denisha.
"Bisa kita mulai?" tanya Aroon.
"Sebentar lagi. Aku masih ingin mengobrol dengan mereka."
"Baiklah."
Tiba - tiba.
"Selamat malam semua."
"Kenapa dia disini?" teriak Aroon.
Denisha segera menghampiri Aroon. "Jangan marah dulu, dia kan temannya Cyra. Kita sebagai tuan rumah harus menghormatinya."
Aroon mengdengus kesal. "Kita ke meja makan sekarang." perintahnya sambil berjalan menuju ke ruang perjamuan.
Cyra yang masih terkejut dengan kedatangan Aryo segera menghampirinya. "Kok mas eh pak Aryo bisa disini?"
"Hahahhah.. Kau sedang bercanda denganku."
"Aku serius."
"Kau memanggilku pak?"
"Disini ada aturannya, kau seorang aparat pemerintah jadi aku harys memanggilmu pak."
"Oke.. Oke.. Aku mengerti." ucap Aryo. "Aku di undang ke sini."
"Oleh siapa?"
"Katanya nona Denisha. Dia ingin memberi kejutan untukmu."
"Oh." hanya itu yang keluar dari mulut Cyra karena menurutnya ini ada yang aneh. Kejutan untuk siapa? Untuknya atau untuk tuan Aroon? Tumben dia memperhatikanku? Banyak pertanyaan bersliweran di dalam benak Cyra.
"Bu Cyra aku sudah lapar." keluhan Gio membuyarkan lamunannya.
"Ya sudah ayo." Cyra menggandeng tangan Gio, sedangkan Aryo mengikutinya dari belakang.
Di meja perjamuan Aroon duduk bersebelahan dengan Denisha tepatnya di sebelah kirinya. Ada satu kursi kosong di sebelah kanannya dan yang pasti itu bukan untuk Cyra tapi Gio. Cyra segera membawa Gio duduk di sebelah kanan Aroon.
Melihat kursi di dekat Aroon sudah penuh Cyra mengambil tempat paling ujung di barisan depannya Aroon. Di sebelahnya ada Aryo.
Denisha mulai mengangkat gelas. Ia memberikan sedikit sambutan pembukaan dan ucapan terima kasih atas kedatangan semua tamunya. Cyra memghindari minuman itu karena ia tidak mau membuat kehebohan akibat mabuk seperti tempo hari.
Selama makan malam, Cyra mengobrol beberapa hal mengenai kunjungan para bule di Surabaya kemarin itu. Terkadang ia masih geli dengan para bule yang berusaha beradaptasi dengan kebudayaan mereka. Hal itu membuat Aroon geram. Bahkan makanan yang dibuatnoleh chef khusus dari hotel sama sekali tidak ia sentuh. Ia hanya terus minum wine sambil memperhatikan interaksi antara Cyra dan Aryo.
Tiba - tiba Aroon berdiri, ia berjalan menghampiri Cyra.
"Ikut aku." perintahnya
"Tapi tuan___."
"Ikut!" paksanya.
"Maaf tuan jangan memaksa." sahut Aryo.
"Jangan ikut campur." ucapnya dengan nada penuh penekanan. Matanya menatap Aryo dengan tajam. Kemudian ia beralih ke Cyra. "Ikut." perintahnya lagi sambil menarik tangan Cyra dengan kasar.
"Tunggu tuan, saya mau di bawa kemana?"
Aroon hanya diam dan terus menarik tangan Cyra membawanya kesuatu tempat.
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1