My Love Teacher

My Love Teacher
Aroon Milikku ya Ibu - Ibu


__ADS_3

Malam itu Aroon pulang dari kantor polisi. Cyra sudah menunggunya di depan.


"Maaf ya kau sudah menungguku lama."


"Tidak apa - apa." Cyra membawakan tas Aroon. "Mau mandi atau makan dulu?"


"Mandi, badanku sudah capek."


"Baiklah. Nanti makannya aku bawa ke kamar saja."


"Terima kasih sayang."


Cyra segera mempersiapkan semuanya. Tak lama kemudian Aroon keluar dengan tubuh yang sudah segar. "Masak apa hari ini?"


"Tadi Gio minta udang. Jadi aku masak saja udang saos padang. Sudah aku kupas, kau tinggal makan saja."


"Hmmm dari aromanya saja sudah menggugah selera. Ini yang membuatku malas makan di luar."


"Aku tadi juga buat kue kering buat camilan Gio. Mau coba?"


"Boleh, tapi setelah makan ya."


Cyra tersenyum. Ia senang melihat suaminya makan dengan lahap.


"Duh kenyangnya." Aroon duduk bersandar sambil mengusap - usap perutnya.


"Kamu sih makannya kebanyakan." Cyra membereskan piring bekas makan suaminya dan membawanya ke dapur.


Aroon merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Cyra masuk ke dalam kamar dan duduk di sampingnya.


"Capek?"


Aroon mengangguk.


"Mau aku pijitin?"


Aroon mengangguk sambil tersenyum. Perlahan Cyra mulai memijat kaki dan kemudian naik punggung.


"Bagaimana tadi waktu jemput Gio? Nggak salah kelas kan?" Cyra membuka pembicaraan.


"Nggak. Kamu kan sudah memberi tahu letak kelasnya."


"Ketemu siapa saja di sana?"


"Nggak ketemu siapa - siapa. Aku tidak mengenal mereka."


"Hmm.. Aku dengar dari Gio mereka heboh dengan kedatangan kamu ke sekolah hari itu."


"Nggak heboh mereka cuma mau minta foto."


"Ooohh sekarang aku mengerti kenapa kamu meminta untuk antar jemput Gio. Ternyata oh ternyata buat ketemu sama ibu - ibu ganjen itu." Cyra menekan keras punggung Aroon.


"Aauuww!!! Sakit sayang."


"Salah sendiri siapa suruh meladeni ibu - ibu itu."


"Hei.. Hei.. Dengar dulu penjelasanku." Aroon bangun dari tidurnya dan duduk di sebelah Cyra. "Mereka memang minta foto tapi nggak aku ladeni seperti yang tetanggamu yang di Surabaya."


"Bohong!" Cyra cemberut. "Kata Gio mereka juga minta no handphone mu."


"Nggak aku kasih sayang."


Cyra merebahkan tubuhnya membelakangi Aroon dan menarik selimut.


"Hei jangan marah dong." Aroon mencoba membujuk istrinya.


"Besok aku yang antar jemput. Aku tidak mau kamu kepincut dengan ibu - ibu itu."


"Iya.. Iya.. Besok kamu yang jemput, tapi diantar Fahri ya." ucap Aroon. "Aku berani bersumpah aku sama sekali nggak meladeni ibu - ibu itu."


"Hmmm.. Kita buktikan besok."


"Tapi malam ini aku mau___."


"Besok." jawab Cyra memotong ucapan Aroon.


"Eh dosa lo menolak permintaan suami."


"Tidak menolak tapi menunda." jawab Cyra sambil berusaha memejamkan mata.


"Ayolah sayang. Peluk boleh?"

__ADS_1


Cyra mengangguk.


Aroon memeluknya dari belakang.


"Peluk saja, tangannya jangan kemana - mana."


"Yah mana bisa. Aku nggak bisa tidur jika tidak bermain."


"Dulu waktu kita belum menikah nyata nya bisa tidur tanpa harus main dulu."


"Sekarang kan beda sayang. Kau benar - benar candu buatku. Ayolah jangan marah oke."


Cyra tetap diam tidak berkutik. Malam ini Aroon hanya bisa memeluk istrinya. Ia harus puasa sampai besok siang setelah Cyra memberi peringatan pada ibu - ibu itu.


🍀🍀🍀🍀


Siang itu Cyra bersiap menjemput Gio. Kali ini ia tampak bersemangat dan berangkat agak awal.


Aroon hanya membiarkan istrinya bersikap seperti itu. Ia justru senang dengan sikap cemburu Cyra yang artinya ia begitu di cintai.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit mereka akhirnya sampai. Dan benar saja yang dikatakan oleh Gio. Banyak juga ibu - ibu muda sudah berkumpul di sana.


"Oh ternyata mereka sudah berkumpul di sana menunggu suamiku." gumam Cyra. Aku harus menunjukkan siapa pemilik sejati dari tuan Aroon.


Cyra berjalan mendekat ke arah kerumunan ibu - ibu muda. Ia ingin mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Eh pak Aroon kenapa belum kelihatan ya?"


"Iya nih. Padahal aku sudah dandan lo."


"Eh kalau dia datang kita harus bisa dapat fotonya. Aku mau foto sama badannya yang kekar. Bikin merinding."


"Hahahahh.." ibu - ibu itu tertawa bersama - sama.


"Kalau dia nolak seperti kemarin kita paksa saja rame - rame. Mana bisa ia nolak ibu - ibu kayak kita."


"Terus no HP nya gimana?"


"Minta saja ke pihak sekolahan. Atau kita paksa anaknya buat memberi tahu."


"Yes setuju."


Cyra tampak mengepalkan tangannya ia sangat geram dengan apa yang di bicarakan oleh ibu - ibu itu. Padahal mereka sudah punya suami bisa - bisanya menggoda suami orang.


"Iya betul." jawab ibu - ibu hampir bersamaan.


"Sepertinya dia tidak bisa datang."


"Kok mbak nya tahu?"


"Tentu saja saya tahu. Karena saya istrinya."


Ibu - ibu yang di sana tampak terkejut dengan perkataan Cyra.


"Jangan bohong mbak."


Cyra memperlihatkan foto pernikahan mereka berdua. "Masih belum percaya ibu - ibu?"


Mereka langsung tertunduk.


"Tolong ya jangan ganggu suami saya atau suami - suami yang lain yang berparas tampan. Ibu - ibu harusnya bisa menghargai suami masing - masing."


"Lah ya terserah kita." celutuk salah satu ibu - ibu yang ada di sana.


"Tapi ibu sudah mengganggu ketentraman saya. Suami saya sudah menolak tapi kenapa ibu - ibu masih memaksa. Semuanya bisa saya laporkan dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan."


"Yah galak amat mbaknya."


"Maaf ibu - ibu. Saya tidak galak, saya hanya ingin melindungi milik saya, melindungi keluarga saya." ucap Cyra. "Saya harap ibu - ibu semua lebih mencintai suami ibu - ibu yang sudah bekerja keras demi memenuhi kebutuhan ibu - ibu semua demi bisa tampil cantik. Alangkah berdosanya jika kecantikan ibu - ibu semua di pertontonkan untuk laki - laki lain." Cyra menjelaskan panjang lebar.


Mereka semua tertunduk malu.


"Jika mau berkenalan dengan suami saya silahkan tapi hanya sebatas berkenalan tidak perlu memaksa untuk foto apalagi meminta no handphone. Tolong hargai saya sebagai istrinya."


Ibu - ibu itu seperti tertampar mendengar kata - kata Cyra.


"Maaf mbak."


"Iya saya maafkan. Tapi jika ini terulang lagi, saya tidak akan segan untuk bertindak." ucap Cyra. "Oya perkenalkan nama saya Cyra, anak saya bernama Gio, senang berkenalan dengan ibu - ibu semua." Cyra menyalami ibu - ibu itu satu persatu. "Maaf anak saya sudah pulang." tunjuk Cyra. "Kalau begitu saya permisi dulu." Cyra pergi menyambut kedatangan Gio dengan pelukan kemudian mereka pulang bersama.


🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


"Gio sudah pulang?" tanya Aroon di dalam kamar. Ia heran melihat Cyra menyiapkan beberapa tali.


"Sudah, setelah makan dia langsung tidur."


"Sudah klarifikasi dengan ibu - ibu itu?"


"Sudah dong. Skak mat." jawab Cyra bangga.


"Wow sepertinya aku tidak bisa meremehkan istriku." Aroon memeluk Cyra dari belakang. "Kekuatan istri yang sedang cemburu memang tidak main - main dahsyatnya." Aroon mencium leher Cyra. "Oya buat apa tali itu sayang?"


"Nanti kau akan tahu." Cyra berbalik dengan berjinjit ia mencium suaminya. "Ikut aku." ia menarik tangan Aroon dan membimbingnya ke atas tempat tidur. "Semua yang aku lakukan jangan protes, oke?"


"Siap sayang. Whatever you want."


Cyra mengikat kedua tangan Aroon kemudian mengaitkannya di kedua sisi tempat tidur dengan posisi terlentang.


"Sayang ini___."


"Sssttt." Cyra menutup mulut Aroon. "Jangan protes sayang."


Setelah mengikat Aroon. Ia masuk ke dalam walk in closet dan berganti baju menggunakan lingerie.


"Wow!!" teriak Aroon. Ia berusaha bangun tapi tertahan karena kedua tangannya terikat. "Cyra lepaskan tanganku sayang."


"Hmmm... Tidak. Itu hukumanmu."


"Hukuman apa? Salahku apa?"


"Siapa suruh kau memiliki wajah tampan dan tubuh yang kekar." Cyra naik ke atas tubuh Aroon. Ia mulai membuka celana suaminya. Melihat milik suaminya sudah siap, Cyra tersenyum. "Tersiksa bukan?"


Aroon mengangguk. "Please lepaskan aku."


Cyra mengeleng - geleng dan tersenyum nakal."Hmmm.. Belum saatnya."


Tangan Cyra mulai memainkan milik pribadi Aroon dengan gerakan memutar dan naik turun. Aroon memejamkan mata dan lenguhan pelan keluar dari mulutnya.


"Ssshhh.."


"Bagaimana suka dengan hukumannya?"


"Hmmm.. Sssuka sayang."


Cyra merangkak naik ke atas. Ia mulai mencium bibir Aroon. Kali ini ia yang mendominasi permainan. Gigitan - gigitan kecil ia berikan disana. Perlahan ia turun keleher dan menyapu dengan lidahnya. Mencium bukit kembar kekar milik Aroon.


Kenakalannya tidak hanya sampai disitu. Ia mulai memainkan lidahnya di area pribadi milik Aroon.


"Ssshhhh.. Aaaccchh.. Cyraaa."


Cyra bertindak lebih berani dengan memasukkan ke dalam mulutnya. Kepalanya bergerak maju mundur.


"Aaaaccchh.. Aacchhh.. Lepaskan aku sayang."


"Hmm.. Sepertinya kau sudah siap sayang."


"Apa yang kau lakukan?"


"Sssttt.. Nikmati saja permainannya." Cyra mulai melepas bajunya satu persatu. Ia mulai menyatukan dirinya dengan milk Aroon. Awalnya ia agak kesulitan tapi tak berapa lama sudah masuk dengan sempurna. Ia mulai bergerak naik turun bagaikan cinderella sedang menunggang kuda.


"Oohhh god.. Kau gila Cyra."


Cyra senang melihat suaminya menikmati permainan darinya. Ia semakin mempercepat gerakannya hingga tak terasa tubuh Aroon mulai bergetar.


"Ooohh.. Gila.. Ini gila." teriaknya.


Cyra segera turun dari atas tubuh Aroon dan tidur di samping suaminya.


"Kau menyukainya?" tanyanya dengan napas terengah - engah.


"Iya.. Hukuman darimu memang hebat. Terima kasih sayang."


"Itu bukan hukuman, tapi hadiah karena kau tidak tergoda dengan ibu - ibu itu. Terima kasih sudah menjaga kepercayaan dariku." Cyra mengecup lembut pipi Aroon. Ia segera melepaskan ikatan tangan suaminya. Karena kasihan juga jika ia terus dalam posisi terlentang.


"Cyra."


"Ya."


"Sekarang terimalah hukuman dariku. Kerena sudah berani mengikat suamimu." Aroon membalikkan tubuhnya dan menindih tubuh Cyra.


"Aroon jangan."


Sepertinya teriakan Cyra sudah terlambat. Karena Aroon sudah membungkamnya.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2