
Aroon membuka matanya. Ia berusaha bangun. "Aauww!" teriaknya sambil memegang punggungnya. Sial kenapa punggungku sakit, begitu juga dengan pinggang dan leherku keluh Aroon dalam hati. Ia mengusap lehernya berulang kali. Melakukan peregangan untuk mengurangi rasa sakitnya.
Aroon melihat ke arah tempat tidur. Ia melihat tempat tidur itu sudah rapi. Itu artinya Cyra sudah bangun. Dengan bersusah payah ia berjalan menuju ke kamar mandi.
Aroon tampak terkejut ketika melihat bahwa baju dan peralatan mandi untuknya sudah siap. Ia sampai lupa kalau sekarang sudah beristri, sudah empat tahun ini ia mandiri untuk segala sesuatunya.
Ia segera mandi dan menuju meja makan untuk sarapan. Dalam perjalanannya menuju meja makan ia sayup - sayup mendengar pembicaraan istrinya.
"Omar kemarin Gio mau makan kan."
"Mau bu, lahap lagi."
'Baguslah."
"Yah tuan muda kan tahunya itu masakan bik Tika."
"Nggak apa - apa. Aku tidak keberatan."
"Sebenarnya tuan muda itu, sangat merindukan bu Cyra. Dia selalu membaca buku yang bu Cyra berikan untuknya."
"Aku tahu."
"Bu Cyra tahu?"
"Tentu saja. Kau ingat pepatah yang mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya?"
"Tahu."
"Nah pepatah itu cocok untuk Gio. Dia itu keras kepalanya sama dengan suamiku."
"Siapa suami ibu?"
"Yah tuan kamu lah, tuan Aroon."
"Ya tuhan saya sampai lupa." Omar menupuk jidatnya sendiri. "Hahahahhh.. Maaf bu Cyra, saya belum terbiasa."
"Tidak apa - apa." ucap Cyra sambil tersenyum. Ya sudah minta tolong bawa ini ke kamar Gio."
"Dari bik Tika kan." Omar langsung tahu apa maksud Cyra.
"Betul."
Aroon yang mendengar percakapan mereka tersenyum bahagia. Ingin rasanya ia memeluk istri barunya itu, apalagi waktu bilang suamiku terdengar sangat menggemaskan. Sungguh sangat di sayangkan malam pertama mereka tidak ada. Aroon harus bersabar mendapatkan hatinya.
Cyra keluar membawa makanan ke meja makan. "Loh tuan ada disini? Sudah mandi?"
Aroon mengangguk. "Sudah."
"Ayo kita sarapan."
Aroon mengikuti langkah Cyra menuju ke meja makan. Alangkah terkejutnya Cyra ketika melihat di sana sudah duduk Denisha dengan baju yang sedikit terbuka. Itu membuatnya sangat kesal. Cyra tahu itu dilakukan Denisha untuk menarik perhatian suaminya.
"Pagi Aroon." sapa Denisha.
"Pagi."
__ADS_1
"Kau mau lauk apa, Aroon?" tanya cyra tiba - tiba. Untuk sepersekian detik Aroon terdiam dan hampir tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Apa?"
"Kau mau aku ambilkan lauk apa?"
"Oh, yang itu saja."
"Baiklah, makan yang banyak. Biar kuat.'
Denisha geram mendengar percakapan dan interaksi mereka di meja makan. Kurang ajar! Dia berniat memanas - manasi aku pikir Denisha. "Aku makan di kamar saja. Disini baunya busuk." ucap denisha sambil beranjakmdari duduknya dan pergi meninggalkan mereka.
Aroon tampak keheranan. "Kenapa dia tiba - tiba begitu?"
"Datang bulan mungkin." jawab Cyra cuek. Ia malah senang jika momen sarapan ini tenang tanpa danya Denisha.
Mereka berdua makan dalam diam. Aroon memulai pembicaraan. "Nanti aku tidak bisa makan siang."
"Kenapa?"
"Aku pergi ke Bandung. Ada klien yang ingin bekerja sama dengan perkebunanku."
"Syukurlah." ucap Cyra. "Tuan menginap?"
"Ya tuhan, kau memanggilku tuan. tadi kan Aroon."
"Belum terbiasa."
Aroon tersenyum mendengar jawaban Cyra. "Aku tidak menginap, mungkin sore atau malam aku usahakan sudah sampai rumah." Aroon mengelap mulutnya dan bersiap mau pergi.
"Hati - hati." ucap Cyra lirih. Ia masih terlihat malu.
"Aku mau bicara."
"Cepatlah, aku mau pergi."
"Aroon, kau berubah ketus padaku."
"Tidak ada yang ketus denganmu. Itu hanya perasaanmu saja, tidak ada yang berubah."
"Baiklah mungkin itu hanya perasaanku saja. Tapi ada satu permintaanku."
"apa itu?"
"Kau tahu kan bahwa di sini aku hanya memiliki satu orang teman yaitu Billy."
"Terus."
"Aku mohon maafkan Billy, biarkan dia kembali ke perkebunan lagi untuk menemaniku. Aku berjanji akan menjaga dan mengawasi sikapnya."
Aroon menghela napas. "Bicaralah pada istriku, dia yang lebih berhak menentukan siapa yang berhak dan tidak berhak tinggal di sini."
Tangan Denisha mengepal, Giginya mengerat kuat. Ia berusaha mengeluarkan senyuman di bibirnya. "Baiklah aku akan bicara dengan Cyra. Terima kasih Aroon."
Aroon segera meninggalkan Denisha. Ia berjalan menuju ke perkebunan untuk menemui Sulaiman. Nanti Sulaiman yang akan mendampinginya untuk pergi ke Bandung. Berulang kali Aroon mengusap pinggangnya. Dan ternyata hal itu menjadi pusat perhatian para pekerja. Bahkan mereka berbisik - bisik.
__ADS_1
"Wah habis berapa ronde ya tuan semalam."
"Ronde apa?"
"Kan tadi malam adalah malam pertama tuan unboxing."
"Eh iya.. ya. Lihat itu pinggangnya sampai sakit semua." para pekerja terkikik.
"Ssssttt.. Jangan keras - keras." salah seorang memperingatkan.
'Maklumlah sudah empat tahun menduda, eh sekali nikah lagi dapat perawan."
'Mana perawannya cantik lagi."
"Hihihiii.." mereka menahan tawa bersama.
"Hei! Hei! Hei! Jangan gosip ya. Ayo kerja! Mau gaji kalian aku potong." Syamsudin membubarkan kerumunan para pekerja. Ia geleng - geleng bisa - bisa mereka bergosip soal majikannya. Syamsudin melihat dari kejauhan memang ada yang aneh dengan Aroon. Jalannya tidak seperti biasa dan terkadang memegangi pinggangnya. Ia hanya bisa tersenyum dan banyak maklum jika itu terjadi dengannya. Tuannya itu menjadi duda di usia yang masih muda, berbeda dengannya yang sudah tua. Pasti berbeda soal tenaga. Syamsudin kembali melanjutkan pekerjaannya.
Aroon bersama dengan Sulaiman pergi naik mobil. Berulang kali ia membenarkan posisi duduknya dan terlihat kurang nyaman. Kemudian tampak memijat tengkuknya.
"Tuan sakit?"
"Tidak hanya saja___."
"Hanya saja apa tuan?"
"Pinggang dan leherku sakit. Apa di mobil ada bantal?"
"Maaf tuan, tidak ada. Ini kan mobil perkebunan."
"Ah ya aku lupa." ucap Aroon. "Nanti mampir di apotik, kau beli apalah yang bisa meredakan sakit pinggangku ini." perintah Aroon. "Oya satu lagi belikan aku bantal juga. Perjalanan ini jauh."
"Baik tuan." jawab Sulaiman. Mereka kembali terdiam dan hanya menikmati pemandangan ini. Tak berapa lama mereka sampai di apotik terdekat. Setelah membeli beberapa obat dan salep pereda nyeri mereka melanjutkan perjalanan lagi.
"Sudah agak enakan tuan?"
"Sudah."
"Maaf tuan."
"Ya."
"Habis berapa ronde?"
Aroon terdiam dan kemudian tertawa terbahak - bahak. "Hahahahahh!!!" hal itu membuat Sulaiman kebingungan. Ia akhirnya tahu kenapa semua pekerja di perkebunan memperhatikannya. Ini semua karena sakit pinggang. "Menurutmu berapa ronde?"
"Hmm... dua tuan?"
"Salah.. yang benar empat."
"Wah tuan kuat juga." puji Sulaiman.
"Ingat Sulaiman, aku orang yang gagah dan tenagaku luar biasa."
"Iya.. Iya.. saya percaya tuan."
__ADS_1
Aroon tersenyum sambil mengalihkan pandangannya ke arah jendela menikmati pemandangan. Hah semuanya mengira aku sudah melakukan itu dengan Cyra. Padahal untuk meraih hatinya ia meminta waktu satu tahun. Boro - boro empat ronde satu saja tidak ada, Aroon tersenyum sendiri. Kalau digoda seperti ini, bisa - bisa pertahananku hancur. Ya tuhan luluhkan hati Cyra doa Aroon dalam hati.
🍀🍀🍀🍀