
"Apa hubungan mereka?" gumam Cyra. Ia terus mengawasi gerak gerik mereka berdua. Bahkan Cyra sempat memvideo dan mengirimkan pada suaminya. Sekitar lima menit kemudian Asih pergi dan tampak memeluk Hasan lagi.
Setelah memastikan Asih benar - benar sudah pergi dan tidak ada di sana. Cyra segera menemui Hasan, pura - pura sedang menunggu Gio.
"Hai pak guru." sapa Cyra.
"Hai. Jemput Gio?"
"Iya. Dia baru membeli jajanan."
"Eh hati - hati kalau jajan di pinggir jalan. Suka tidak higienis."
"Tadi dia jajan di cafe sebelah." jawab Cyra berbohong. Cyra memperhatikan bungkusan di tangan Hasan. "Wah di kirim bekal makan siang kamu?" goda Cyra.
"Iya." jawab Hasan malu.
"Siapa yang buatkan?"
"Ya istriku dong. Aku kan pernah cerita kalau aku baru saja menikah."
"Oh.. Iya.. Ya. Siapa nama istrimu?"
"Namanya Asih."
Cyra sangat terkejut mendengar nama itu di sebut. Tapi ekspresi terkejut itu segera ia sembunyikan. "Asih? Hmm nama yang bagus. Pasti orangnya cantik."
"Dia itu lugu orangnya. Sebenarnya sih aku yang kurang ajar."
"Maksudmu?"
"Jadi pernikahan ini sebenarnya di jodohkan oleh orang tua kami. Waktu itu untuk mengakrabkan diri, aku mengajaknya jalan - jalan. Aku pikir biar dia pengalaman melihat keindahan kota kalau malam. Aku mengajaknya ke karaoke untuk bersenang - senang, walaupun ia sempat menolak saat itu. Entah bagaimana ceritanya mungkin aku mabuk hingga kami berakhir di tempat tidur."
"Minum berapa banyak kamu sampai tak sadarkan diri?" tanya Cyra penuh selidik.
"Nggak banyak sih. Hanya dua botol tapi entah kenapa aku langsung merasa pusing dan tak sadarkan diri."
"Karena kejadian itu kamu akhirnya bertanggung jawab?"
"Awalnya ia tidak mempermasalahkan karena ia merasa itu kesalahannya akibat tidak bisa menjaga diri. Tapi karena satu bulan kemudian dia hamil jadi mau tidak mau ya aku menikahlah dengan dia."
"Oh jadi istrimu saat ini sedang hamil? Wah selamat ya. Aku turut senang."
"Terima kasih. Asih itu orangnya baik, dia penurut dan tidak neko - neko. Makane kuwi aku seneng karo de e (Makanya itu aku suka dia). Aku juga tidak menyesal menikah dengannya walaupun awal hubungan ini dari kecelakaan."
"Kamu harus jaga istrimu yang sedang hamil itu."
"Iya dong aku kan suami siaga."
Cyra melihat Gio berlari ke arahnya. "Sepertinya anakku sudah selesai jajan. Aku pulang dulu ya." pamit Cyra. Ia menyambut Gio dengan pelukan dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Belajar apa tadi?"
"Matematika."
"Hmm.. Sulitkah?"
"Tidak dong.. Semua pelajaran itu sudah pernah di ajarkan Mae. Jadi aku tidak kesulitan."
"Good job. Ada PR dari gurumu?"
"Ada."
"Setelah makan siang tidur dan istirahat. Sore PR baru kamu kerjakan. Nanti Mae yang koreksi."
"Siap Mae." jawab Gio.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah.
Cyra membantu Gio berganti pakaian. Mereka makan siang bersama.
__ADS_1
"Bagaimana sekolahmu boy?"
"Hmm.. Menyenangkan. Pelajarannya gampang - gampang. Lebih sulit kalau aku belajar bersama Mae."
"Bagus dong. Yang sulit saja bisa kau kerjakan apalagi yang mudah." sahut Cyra.
"Oya. Tadi kenapa Mae ngobrol lama dengan pak Hasan?"
"Apa? Mae ngobrol dengan Hasan?!" Aroon melirik Cyra.
"Sayang, nanti aku jelaskan."
"Oh pantas saja tadi Mae memaksa mau menjemputmu." sindir Cyra.
"Ayolah Aroon. Alasanku mau menjemput Gio bukan karena Hasan." ingin rasanya Cyra menjelaskan tapi karena ada Gio ia tahan.
"Hmm.. Aku sudah selesai makan. Aku mau tidur." pamit Gio yang mengambil langkah seribu mencari aman daripada melihat orang tuanya salah paham gara - gara pertanyaannya.
Aroon juga ikut beranjak dari meja makan. Ia menuju ke ruang kerjanya. Cyra dengan cepat mengikutinya dari belakang.
"Aroon tunggu." ucap Cyra yang kewalahan mengimbangi langkah Aroon yang lebar. "Sayang." panggilnya dengan manja. Ia memeluk suaminya dari belakang begitu mereka di dalam ruang kerja.
"Kenapa?"
"Dengar dulu penjelasanku." Cyra menuntun suaminya untuk duduk di sofa. "Tadi aku kan memvideo Asih sedang pelukan dengan seorang pria. Nah pria itu Hasan. Memang aku mengambil dari sudut yang keliru sehingga Hasan tidak kelihatan wajahnya."
"Hasan? Apa hubungannya?"
"Ternyata Hasan itu suaminya Asih. Mereka baru menikah."
"Apa Hasan tidak tahu bagaimana sifat Asih?"
"Menurut keterangan Hasan, mereka itu di jodohkan. Tapi Hasan suka karena Asih itu gadis yang baik. Sampai akhirnya Hasan mabuk dan terjadilah hubungan suami istri. Asih hamil dan akhirnya mereka menikah."
"Hmmm.. Aneh."
"Apanya yang aneh?"
"Waktu aku tanya, awalnya mereka ke tempat karaoke. Hasan minum dua botol, tiba - tiba pusing dan ia tersadar ketika sudah di dalam hotel."
"Nah kan. Aku sebagai laki - laki sudah merasa aneh. Ingat waktu aku di suntik obat waktu kamu di culik?"
"Ingat."
"Nah, itu saja aku ingat setiap hal yang aku lakukan bersamamu walau dalam pengaruh obat yang kuat. Apalagi ini hanya mabuk. Pasti ia ingat dengan yang di lakukan. Kalau kondisi Hasan sudah pingsan atau tertidur ia tidak akan bisa melakukan apa - apa dengan Asih."
"Maksudmu Asih menjebak Hasan. Karena ia tahu bahwa saat itu ia sudah hamil?"
"Itu baru dugaan awal."
"Terus siapa sesungguhnya bapak dari bayi itu?"
"Itu yang perlu kita selidiki."
Cyra terdiam ia tampak mengingat sesuatu. "Ah ya aku ingat. Devano!"
"Hei! Hei! Kenapa kau sebut pria itu?!"
"Jangan marah dulu sayang. Aku belum selesai bicara." Cyra buru - buru menjelaskan biar tidak salah paham. "Waktu Devano mau masuk ke perkebunan bukankah ada Asih di sana. Bisa saja mereka memiliki hubungan."
"Hmm.. Bisa jadi. Tapi itu belum kuat untuk membuktikan kalau Vano ayah dari bayi itu."
Mereka berdua kembali terdiam.
"Apakah tadi Asih melihatmu?" tanya Aroon.
"Tidak, beruntung aku belum turun dari mobil. Jadi dia tidak melibatku."
"Tapi yang membuatku khawatir Hasan mengajar di sana. Dimana Gio bersekolah dan kamu rutin mengantar dan menjemputnya." ucap Aroon. Ia menggenggam tangan Cyra. "Terus terang aku khawatir."
__ADS_1
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku dan Gio." ucap Cyra. "Jadi.. Apakah kau masih marah padaku?"
"Tidak. Tapi lain kali jangan ngobrol dengan pria lain terlalu lama. Dan juga jangan sebut mantanmu itu dengan mulutmu. Ingat mulutmi ini milikku Cyra. Kau hanya boleh menyebut namaku."
"Iya.. Iya.. Aku janji." Cyra mencium tangan suaminya. "Hmm.. Tuan Aroon maukah mencoba hal yang baru?" Cyra mengerlingkan mata menggoda suaminya.
"Maksudmu, itu?"
Cyra mengangguk. "Iya di sini sayang."
"Siapa takut." Aroon segera menggendong istrinya dan membawanya ke atas meja kerja. Sesuatu yang panas sedang terjadi di sana
🍀🍀🍀🍀
Sulaiman menghentikan motornya di suatu tempat yang cukup terpencil dari pemukiman penduduk.
"Kamu yakin ini tempatnya?"
"Yakin Syam. Informanku tidak pernah salah." jawab Sulaiman.
Mereka berdua segera turun.
"Disini sepi?"
"Di balik bukit itu. Kita jalan kaki saja. Suara mesin motor pasti akan mengacaukan pengintaian kita."
"Ayo."
Sulaiman dan Syamsudin berjalan cukup jauh. Akhirnya mereka menemukan sebuah pondok yang terbuat dari kayu. Tampaknya pondok kayu itu ada penghuninya. Dan di dalamnya terdapat kegiatan entah apa.
"Nah benar kan kataku."
"Iya benar." Syamsudin menggunakan teropong. "Lihat mereka semua memiliki tatto kalajengking." ucapnya. Ia menyerahkan teropong itu pada Sulaiman.
"Mereka ada banyak Syam. Kita tidak mungkin mengatasi hal ini sendiri."
"Kita kumpulkan saja bukti - bukti. Setelah itu biar tuan koordinasi dengan pihak berwajib."
Sulaiman segera mengambil foto dan beberapa video. Di dalam pondok ada beberapa mesin entah mesin itu dipergunakan untuk apa masih belum jelas.
"Bagaimana?"
"Sepertinya ini cukup dulu." jawab Sulaiman. "Ayo kita pergi dari sini."
Sulaiman dan Syamsudin berbalik baru beberapa langkah Sulaiman menarik Syamsudin.
"Ada apa?"
"Lihat ini." Sulaiman memperlihatkan tanaman yang di injaknya. "Ini ganja."
"Iya kamu benar. Ini tanaman ganja." ucap Syamsudin. "Kalau tanaman ini ada disini itu artinya ini adalah ladang ganja. Dan mungkin mesin - mesin itu untuk mengolah ganja ini."
"Sebentar aku foto dulu." Sulaiman segera mengambil beberapa gambar ganja yang tertanam. Ia juga membawanya sebagai bukti.
Tiba - tiba..
"Nunduk." perintah Syamsudin yang dengan cepat menundukkan kepala Sulaiman.
"Ada apa?" tanyanya lirih.
"Sssttt... Lihat itu." tunjuknya pada sebuah mobil jeep warna hitam yang baru saja datang.
"Bukankah itu mobil di perkebunan tuan Biantara."
"Kita lihat dulu siapa yang turun."
Sulaiman dan Syamsudin bersembunyi dengan aman. Mereka tidak mau pengintaiannya ini jadi sia - sia.
Mereka melihat dari kejauhan bahwa Biantara memang turun dari mobil itu. Dan kesempatan itu tidak di biarkan oleh Sulaiman. Ia segera mengambil gambar Biantara yang berada di lokasi itu.
__ADS_1
"Kena kau."
🍀🍀🍀🍀