My Love Teacher

My Love Teacher
Menghasut


__ADS_3

Sepasang mata terbelalak tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya. Kenapa nyonya yang selama ini terkenal dengan kelembutannya bisa tega menyakiti seorang bayi yang tidak berdaya. Akhirnya ia memberanikan untuk keluar.


"Selamat pagi nyonya." sapa bik Tika.


"Oh, bik Tika." Davira tampak sedikit kaget dengan kehadiran bik Tika. "Ada apa?"


"Tadi saya mendengar tuan muda menangis jadi saya kesini."


"Oh, aku juga tidak tahu kenapa dia menangis. Cyra sedang masuk ke dalam. Jadi aku berusaha menenangkannya."


"Biar saya saja yang gendong nyonya. Bukankah nyonya baru saja sembuh dari sakit. Saya takut jika nyonya kecapekan."


Davira menyerahkan Arthit pada bik Tika. Dengan cepat bik Tika mengambil alih.


"Kenapa mereka lama sekali?" tanya Davira sambil melihat ke arah rumah utama.


"Kita tunggu saja nyonya." jawab bik Tika. Saat ini Arthit sudah diam.


Sementara itu..


"Cyra, tunggu sayang."


"Kau mengikutiku?"


"Iya, karena kau marah padaku."


"Aku tidak marah Aroon. Aku hanya mau mengambil topi buat Arthit."


Aroon menarik tangan Cyra dan mendekapnya dalam pelukan. "Kalau marah, katakan marah." bisik Aroon di telinga Cyra


Cyra terdiam. Ia kemudian membalas pelukan suaminya. "Aku bingung. Apakah aku harus marah atau tidak ketika melihat Davira bersandar di bahumu?"


"Aku minta maaf, aku yang tidak tegas." ucap Aroon. "Please jangan marah padaku."


"Tadi iya, sekarang sudah tidak. Karena kau memelukku."


"Cyra aku janji tidak akan terjadi hal seperti ini lagi."


"Jangan mudah berjanji, sayang. Aku takut hal seperti ini akan terjadi lagi. Ini di luar kuasamu."


"Aku akan berusaha." Aroon berusaha meyakinkan istrinya.


"Terima kasih Aroon sudah memperhatikan perasaanku. Aku juga berjanji untuk tidak cepat marah padamu."


Aroon menatap jauh ke dalam mata Cyra. Ia seperti menemukan kedamaian jika di dekat istrinya. Aroon mencium bibir Cyra bahkan memberi gigitan kecil di sana.


"Kau nakal." ucap Cyra tersipu. Wajahnya yang malu membuat Aroon bertambah gemas dengan istrinya. Tanpa menunggu lama ia kembali mencium Cyra. Lidahnya berusaha menyusup masuk dan menjelajahi mulut Cyra. Ciuman Aroon bertambah panas ia bahkan menggigit leher Cyra dan memberi tanda di sana.


"Jangan." Cyra berucap lirih.


"Kenapa?"


"Nanti kalau kelihatan yang lain, aku kan malu."


"Kenapa malu? Kau istriku. Aku berhak atas semua yang ada di tubuhmu. Semuanya milikku." Aroon kembali melakukan aksinya. Ia mulai menggendong istrinya. "Kita ke kamar."


"Aroon, kita meninggalkan Arthit sendiri di perkebunan."


Aroon seakan tersadar ia kembali menurunkan tubuh Cyra. "Iya aku lupa."


Cyra dan Aroon segera kembali ke perkebunan untuk membawa Arthit. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Arthit sudah dalam gendongan bik Tika.


"Ada apa bik?"


"Tadi saya dengar tuan muda menangis nyonya."

__ADS_1


"Mungkin haus. Bawa kemari."


Bik Tika segera memberikan Arthit pada Cyra. "Hmm.. Anakku sayang kamu haus ya?" Cyra membelai lembut bayinya. Hingga ia melihat sesuatu yang mencurigakan di bagian pahanya. "Bik kenapa paha Arthit merah?"


"Dimana nyonya?" tanya bik Tika panik.


Aroon juga memeriksa paha anaknya. "Iya merah."


"Apa mungkin di gigit serangga ya?" pikir Cyra.


"Aneh. Tadi aku lihat dia baik - baik saja. Tidak ada kemerah - merahan pada kulit Arthit, tapi setelah di gendong bik Tika kenapa jadi muncul merah - merah?" sahut Davira. "Bayi itu sangat rapuh bik, jadi kalau menggendong harus hati - hati." ucap Davira.


"Saya tidak___."


"Sudah tidak apa - apa bik. Mungkin di gigit serangga." Cyra memotong ucapan bik Tika karena ia tahu bukan bik Tika yang membuat kulit Arthit kemerahan.


"Kita bawa Arthit ke dalam, mungkin ia terkena ulat." ucap Aroon.


"Mungkin saja." jawab Cyra. Ia segera membawa bayinya masuk ke dalam. Ah seandainya tadi aku tidak meninggalkan bayiku sendiri karena amarah tentu tidak akan terjadi hal yang seperti ini pikir Cyra. Ia menciumi Arthit karena merasa bersalah. Sedangkan Aroon mendorong stroller kosong.


Sesampai di kamar Cyra segera menyusui Arthit hingga bayi itu tertidur. Cyra juga memberi minyak telon pada paha Arthit untuk mengurangi kemerahan.


"Tapi di gigit hewan apa ya?" Aroon masih tidak habis pikir.


"Sudah jangan terlalu di pikirkan, kita lihat saja kemerahannya besok pagi. Kalau sembuh berarti tidak apa - apa. Tapi kalau masih kita harus ke dokter."


"Iya sayang." Aroon mengecup kening Cyra. Kemudian berpindah ke Arthit yang sedang tertidur pulas. Arthit termasuk bayi yang jarang rewel.


"Cyra. Aku pergi ke perkebunan dulu. Hari ini kita kirim sayuran dan buah ke Bali.


"Hati - hati." ucap Cyra sambil mencium suaminya dengan lembut.


🍀🍀🍀🍀


Davira mengetuk pintu kamar Gio dengan pelan. "Gio boleh Mae masuk?"


"Tidak, aku sedang baca buku."


"Boleh Mae ikut bergabung?"


"Boleh."


"Terima kasih sayang." ucap Davira. Ia menemani putranya yang sedang membaca buku. "Buku apa yang kau baca?"


"Ini biografi Albert Einstain. Mae yang membelikannya untukku."


"Oh Cyra ternyata sangat perhatian denganmu ya."


"Iya, Mae Cyra sangat peduli dengan pendidikanku."


"Tapi aku lihat Phoo mu tidak begitu memperhatikan belajarmu. Ia lebih suka mengikuti perkembangan Arthit adikmu."


"Tentu saja diperhatikan karena ia masih bayi. Arthit memang harus lebih banyak menerima perhatian dari pada aku."


Davira diam mendengar jawaban putranya yang begitu cerdas. "Kamu tidak cemburu?"


Gio meletakkan bukunya. Ia memandang Davira dengan tatapan tidak mengerti. "Maksud Mae Davira?"


"Yah semuanya mengalihkan perhatian pada Arthit. Dulu kamu kan selalu di utamakan. Tapi sekarang kau menjadi nomor dua."


"Iya juga." gumam Gio.


"Sudah kamu tidak perlu cemburu. Kamu masih punya aku yang selalu mengutamakanmu. Jangan marah pada Phoo. Sebenarnya Mae Cyra yang harusnya berperan di sini. Ia harusnya adil antara kau dan Arthit."


Gio terdiam, ia menunduk dan tampak berpikir.

__ADS_1


Omar dan Olif yang mendengar juga merasa aneh dengan perkataan Davira. Ia seolah - olah menghasut tapi juga menenangkan Gio. Aduh mereka berdua jadi bingung.


Davira tersenyum melihat putranya. "Baiklah aku tinggal dulu. Belajarlah yang giat. Jika kamu butuh apa - apa, kamu bisa meminta bantuanku. Kasihan Mae Cyra harus terbagi perhatiannya." Davira membelai rambut Gio dan kemudian pergi meninggalkan putranya itu.


"Dia bukan Mae ku." tiba - tiba kata - kata itu keluar dari mulut Gio. Tentu saja membuat Omar dan Olif kaget.


"Kenapa tuan muda berpikir seperti itu lagi? Jika nyonya Davira mendengarnya pasti akan merasa sedih." tanya Omar.


"Ibuku tidak mungkin berkata seperti itu.'


Omar dan Olif terdiam. Memang jauh di lubuk hati mereka merasa ada yang aneh. Tapi karena mereka hanya seorang bawahan jadi mereka tidak berpikiran seperti itu.


🍀🍀🍀🍀


Cyra sudah menidurkan Arthit. Ia kemudian pergi mandi. Itu memang menjadi kebiasaannya sebelum tidur. Ia menikmati guyuran air segar yang keluar dari shower.


Ceklek.. Tiba - tiba ada yang membuka pintu kamar mandi.


Cyra berbalik. "Aroon." ucap Cyra.


Pria bertubuh kekar itu segera membuka kaos dan celana yang di kenakannya dan ikut bergabung bersama istrinya mandi di bawah shower.


"Kita lanjutkan yang tadi siang." bisiknya di telinga istrinya. Lidahnya mulai bermain di sana.


"Hei. Aku baru mandi."


"Ayolah sayang kau tahu, aku sudah menahan ini sejak dari pagi."


Cyra tersenyum mendengar perkataan suaminya. "Tuan mau dimana?" tanya Cyra sambil memegang kedua pipi Aroon.


"Disini." jawabnya langsung meraup bibir Cyra. Aroon segera mengangkat tubuh istrinya dan membenturkannya ke tembok. Cyra hanya tersenyum dan menikmati permainan dari suaminya.


Setelah saling melepas rindu, Cyra mengeringkan rambutnya. Sedangkan Aroon mengecek keadaan Arthit di box bayi. Memastikan putranya itu tidur dengan nyenyak.


"Cyra."


"Ya."


"Coba sini sebentar."


Cyra meletakkan hairdyrer di meja dan berjalan menghampiri suaminya. "Ada apa?"


"Lihat ini." Aroon menunjuk paha Arthit yang terlihat membiru. "Bukankah tadi pagi itu merah karena digigit serangga."


Cyra memeriksa paha Arthit dengan seksama. "Iya terlihat membiru, seperti lebam." jawabnya.


"Tadi di gigit serangga kan?"


"Itu baru dugaan. Aku tidak tahu kalau sekarang jadi membiru seperti ini."


"Besok coba kita ke dokter."


"Baiklah, besok aku ke dokter sekalian mengantar Gio sekolah."


"Aku antar."


"Tidak usah sayang, besok kamu bertemu klien bukan?"


"Bisa aku tunda."


"Tidak usah, aku bisa sendiri."


"Baiklah kalau itu maumu. Nanti aku jemput saja."


"Oke."

__ADS_1


Aroon dan Cyra segera ke tempat tidur. Aroon memeluk tubuh istrinya dan segera terlelap. Cyra masih belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya terus pada lebam yang berada di paha Arthit. Apa mungkin bik Tika menekan kaki Arthit terlalu keras atau jangan - jangan ini ulah Davira. Kalau memang benar lantas apa alasannya.


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2